Rabu, 7 Juli 2021

Melestarikan Lingkungan Hidup adalah Tugas Kita Semua Wahai Penghuni Bumi


Sebagai makhluk hidup yang tinggal di bumi, sudah menjadi kewajiban setiap manusia untuk menjaga kelestarian planet ini demi agar terhindar dari kerusakan dan bencana. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa bumi sedang berada di bawah ancaman perubahan iklim dan pemanasan global.

Menyelamatkan bumi mungkin terdengar sangat berat untuk dilakukan. Namun, pada kenyataannya usaha-usaha pelestarian lingkungan hidup memang merupakan tugas kita bersama agar bumi bisa lebih nyaman untuk dihuni.

Hal sederhana untuk menjaga lingkungan

Ada banyak hal sederhana dan mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga kelestarian lingkungan, misalnya dengan menerapkan hal-hal berikut ini:

Membuang sampah pada tempatnya

Hal yang nampak sepele tetapi terus dikampanyekan bertahun-tahun ialah jangan buang sampah sembarangan. Di mana pun kita berada, selalu buanglah sampah apapun pada tempatnya. Keberadaan sampah dapat membuat lingkungan menjadi kotor dan ini berdampak pada risiko penyakit. Maka, penting untuk menjaga kebersihan dari lingkungan sekitar terlebih dahulu.

Kurangi penggunaan plastik sekali pakai

Sebisa mungkin, hindari penggunaan plastik sekali pakai. Baik itu kantong belanja, botol minum, makanan kemasan, sedotan, dan berbagai bungkus barang-barang. Biasakan untuk membawa perlengkapan pribadi yang bisa dipakai ulang, dari tas belanja, tempat makan dan minum, dan alat makan.

Mengubah limbah menjadi kompos

Sampah organik di rumah setiap harinya bisa dikumpulkan dan dijadikan pupuk kompos organik. Kompos bisa dibuat dari dedaunan dan sisa makanan. Setelah jadi, bisa digunakan untuk menyuburkan tanah dan tanaman di rumah.

Hindari gaya hidup konsumtif

Tak hanya menghamburkan uang, kebiasan konsumtif juga bisa berujung pada banyaknya sumber daya yang terbuang dan meningkatkan jumlah sampah. Pada akhirnya, semua akan mencemari lingkungan. Mulailah dari membeli barang yang memang dibutuhkan dan bisa awet dalam jangka panjang atau mudah didaur ulang.

Donasikan barang tak terpakai

Tak bisa dimungkiri bahwa setiap orang kemungkinan besar memiliki benda-benda yang sudah tak terpakai. Bisa apapun, mulai dari pakaian, elektronik, buku, aksesori, atau perlengkapan rumah tangga. Biasakanlah untuk menyortir benda-benda di rumah dan segera donasikan agar berguna untuk orang lain.

Hemat listrik

Cara sederhana lain untuk menyelamatkan lingkungan ialah menghemat penggunaan listrik. Anda bisa mencabut kabel peralatan elektronik yang tak terpakai dan mematikan lampu saat meninggalkan ruangan.

Mengurangi kertas

Sebisa mungkin, kurangi penggunaan kertas dan mengganti dokumen seperti tiket, tagihan, dan surat-surat dengan versi elektronik. Bagi yang hobi membaca buku, pun bisa beralih ke buku elektronik atau mulai meminjam buku dari perpustakaan.

Jababeka industrial Estate

Perempuan dan Andilnya dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan Hidup

Sebagai bentuk usaha dari kaum perempuan dalam menjaga lingkungan, mereka yang tergabung dalam Women’s Earth Alliance (WEA) pun sama-sama berjuang untuk melindungi alam dan membangun komunitas yang kuat, sehat, dan adil untuk masa kini dan masa depan.

WEA adalah prakarsa global yang telah berdiri selama 15 tahun dan melatih, memberi sumber daya, dan mengkatalisasi upaya akar rumput yang dipimpin lebih dari 70,000 perempuan di 22 negara.

Mereka memiliki grassroots accelerator atau program akselerasi yang menjadi wadah untuk membantu, memperkuat, dan memperluas inisiatif para perempuan pemimpin lingkungan terpilih ini secara strategis dan lebih terarah.

Tindakan yang diambil perempuan dalam program WEA sederhana tetapi mendalam. Mulai dari menyelamatkan benih asli, menanam pohon asli, mengajar memasak dengan tenaga surya, meluncurkan pertanian berkelanjutan, menyediakan air bersih, melestarikan pengetahuan tradisional, membangun toilet pengomposan, dan melindungi hak atas tanah di sebagian besar sumber daya daerah kaya tapi terancam di bumi.

Para perempuan di lingkaran WEA menghasilkan banyak manfaat berjenjang, termasuk kondisi yang aman dan adil bagi perempuan dan anak perempuan, kemakmuran ekonomi, perlindungan sumber air, makanan, dan energi, perdamaian dan stabilitas, dan penyembuhan budaya.

Pada 3-4 Juli 2021, telah diselenggarakan Festival Kolaborasi Virtual Women’s Earth Alliance Indonesia. Nadine Chandrawinata, Florence Armein, Mama Aleta Baun, dan Tiza Mafira menjadi empat pemimpin perempuan dan aktivis lingkungan yang membuka acara tersebut.

Mereka masing-masing berbagi ilmu serta perjalanan dalam membangun inisiatif iklim mereka masing-masing, seperti Sea Soldier, the Climate Policy Initiative dan Earth Journalism Network di Indonesia.

Hal ini mereka lakukan sebagai bentuk dukungan aktif mereka terhadap 24 perempuan pejuang lingkungan dari 16 provinsi di Indonesia yang telah terpilih menjadi peserta Program Akselerasi Akar Rumput 2021.

Festival tersebut merupakan kulminasi dari program akselerasi akar rumput WEA yang dimulai sejak bulan April 2021. Kegiatan ini pun mendapatkan dukungan dari Conservation International, Kehati, WWF Indonesia, Cinta Bumi Artisan, dan Sokola Rimba.

“Sebuah langkah yang positif dalam menyemangati setiap perempuan. Apapun latar belakang perempuan tersebut, perempuan lahir dengan talenta yang berbeda, dan disini bersama-sama membantu menyadari apa talenta dalam diri kita. Jadi, saya pasti akan mendukung karena saya perempuan.” ujar Nadine.

Selama empat bulan, pemimpin lingkungan terpilih mendapatkan pendampingan dan pelatihan intensif untuk memantapkan kepemimpinan dan keterampilan dalam membangun aliansi yang berfokus pada perlindungan masyarakat dan ekosistem dari kerusakan lingkungan dan ancaman krisis iklim.

Tahun ini, ada 24 pemimpin perempuan pada Program Akselerasi WEA dengan usahanya masing-masing dalam menjaga lingkungan. Berikut daftarnya:

  1. Rhidian Yasminta Wasaraka, aktivis lingkungan dan kesetaraan gender di Papua.
  2. Farhaniza, pendiri sebuah usaha sosial di Aceh.
  3. Amanda Rafiani, ketua yayasan dari Bali Street Mums and Kids.
  4. Yune Muhrani Ismaranti, program manager dari CHIME Bali.
  5. Sri Auditya Sari, CEO dari Institut API (Aptaguna Padu Indonesia), Bali.
  6. Fikty Aprilinayati, seorang edukator, peneliti, dan juga konservasionis.
  7. M. I. Wilma Chrysanti, direktur program Kota Tanpa Sampah dan salah satu pendiri LabTanya.
  8. Linda Nursanti, aktivis dan pembuat film dokumenter menyuarakan isu lingkungan dari Blitar.
  9. Endang Widayati, ketua organisasi Wanita Tani Harapan Desa lembah, Kecamatan Babadan, Ponorogo.
  10. Irma Fatmayanti, aktivis lingkungan dan ketua dari organisasi Nyaah ke Alam, Jawa Barat.
  11. Feby Hendola Kaluara, arsitek dan kepala program Teras Kamala Jakarta.
  12. Gabrina Uduala, aktivis edukasi dan penanganan sampah di Gorontalo.
  13. Gita Noerwardhani, pendiri yayasan PARAGITA di Garut, Jawa Barat.
  14. Juli Natalia Silalahi, Dosen Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Palangka Raya dan Ketua TIM Pengabdian tentang Pelatihan Pemberdayaan Ekowisata di desa adat Bawan, Kabupaten Pulang Pisau.
  15. Pinarsita Juliana, pembuat film lingkungan dan masyarakat adat di Kalimantan Tengah.
  16. Reni Andrina Rahmawati, pemilik, pengelola sekaligus instruktur di LKP (Lembaga Kursus & Pelatihan) & LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) Bee World, Banjarbaru.
  17. Etty Rahmawati, aktivis bidang pendidikan dan lingkungan. Ia adalah seorang Manajer Pendidikan Kesehatan Planetari dari Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI).
  18. Mikaela Clarissa, lulusan graphic designer asal Maluku dan mempunyai mimpi untuk menciptakan pengembangan ekowisata di Maluku.
  19. Kris Ayu Madina, pendiri dari usaha sosial Gumi Bamboo untuk memberikan pekerjaan bagi penduduk di daerah yang tertinggal.
  20. Beatrix Yunarti Manehat, pendiri Melki and Beatrix Foundation untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak NTT yang membutuhkan.
  21. Woro Supartinah, Panitia Pengarah untuk Jaringan Kertas Global (Environmental Paper Network) dan menjadi Direktur di LPESM Riau.
  22. Mudyawati Kamaruddin, Wakil ketua dari UP2M AKTABE membangun pengembangan inovasi penelitian yang berhubungan dengan kesehatan di masyarakat.
  23. Hikmatul Fadhila, Community Organizer untuk Yayasan Citra Mandiri Mentawai.
  24. Yohana Baransano, Aktivis pemungutan sampah di Jayapura, Papua.

Sumber : goodnewsfromindonesia.id

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT