Senin, 19 April 2021

Mengenal Proyek Bukit Algoritma ‘Silicon Valley’ RI, Siapa di Baliknya?


Proyek Bukit Algoritma atau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pengembangan Teknologi dan Industri 4.0 di Sukabumi digadang-gadang akan menjadi pusat teknologi mutakhir Indonesia seperti Silicon Valley AS.

Silicon Valley, di wilayah selatan Teluk San Francisco California AS adalah rumah bagi banyak perusahaan teknologi baru dan global, seperti Google, Facebook dan Apple. Kawasan itu juga merupakan situs institusi yang berfokus pada pengembangan teknologi.

Bukit Algoritma direncanakan akan menjadi kawasan dengan fungsi yang sama seperti Silicon Valley AS. Rencananya, kawasan ini akan dibangun di atas lahan seluar 888 hektare, yang berlokasi di Cikidang dan Cibadak, Sukabumi.

Rencana pembangunan proyek bernilai total sekitar satu miliar euro atau setara Rp 18 triliun ini diinisiasi oleh Kiniku Bintang Raya. Perusahaan konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Amarta Karya (AMKA) (Persero) dipercaya sebagai mitra infrastruktur Bukit Algoritma pada tahap pertama selama tiga tahun ke depan.

Ketua Pelaksana PT Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko mengatakan bahwa laksana Silicon Valley, Bukit Algoritma akan menjadi pusat riset dan pengembangan dan sumberdaya manusia berbasis teknologi 4.0.

“Kawasan ini (Bukit Algoritma Sukabumi) akan menjadi salah satu pusat untuk pengembangan inovasi dan teknologi tahap lanjut, seperti misal kecerdasan buatan, robotik, drone (pesawat nirawak), hingga panel surya untuk energi yang bersih dan ramah lingkungan,” ujar Budiman.

Budiman menjelaskan, tujuan pembangunan kawasan ini yakni untuk meningkatkan kualitas ekonomi 4.0, meningkatkan pendidikan dan penciptaan pusat riset dan pengembangan, meningkatkan sektor pariwisata di kawasan setempat, serta meningkatkan infrastruktur pertumbuhan tangguh berkelanjutan dan pembangunan sumber daya manusia berbasis IPTEK.

Dalam jangka waktu tiga tahun, infrastruktur yang dibangun di kawasan itu antara lain akses jalan raya, fasilitas air bersih, pembangkit listrik, gedung konvensi dan fasilitas pendukung lainnya.

Selain itu, kawasan ini akan dekat dengan akses Tol Bocimi (Seksi 2 Cibadak) dan Pelabuhan Laut Pengumpan Regional (PLPR) Wisata dan Perdagangan Pelabuhan Ratu, Bandara Sukabumi yang akan segera dibangun, serta jalur ganda KA Sukabumi.

Siapa Saja Investornya?

Jababeka industrial Estate

Berdasarkan pengakuan Budiman, proyek yang membutuhkan dana awal Rp 18 triliun ini akan didanai sejumlah investor dari dalam dan luar negeri.

Budiman menyebut ada dua kelompok investor yang tertarik, yaitu yang ingin datang langsung ke Indonesia, ada juga yang meminta pihak KSO untuk promosi ke negara mereka. Dia membocorkan, beberapa di antaranya yakni investor dari AS, Timur Tengah, Eropa hingga China.

“China sudah kirim surat, ingin jadi kontraktor juga. Tapi kita lebih milih BUMN dalam negeri, PT Amarta Karya. Jadi kita yang mengerjakan konstruksinya, kita bawa duitnya (investor) masuk sini,” ujar politikus yang juga menjabat Komisaris Independen PTPN V itu.

Apakah Akan Bisa Dukung Perkembangan Digital Indonesia?

Kita lihat kondisi lapangan konsep Revolusi Industri 4.0. Pertanyaannya sederhana apakah ketersediaan informasi saat ini di lembaga pemerintah sudah terintegrasi? Kalau mau support startup apakah internet kita sudah cepat? Bagaimana dengan kesiapan orang-orangnya mengenai revolusi industri?

Benar sih, faktor di atas bisa terpenuhi jika proyek Bukit Algoritma terwujudkan. Tapi apakah harus menciptakan infrastruktur kawasan ekonomi khusus untuk mendukung perkembangan digital Indonesia?

Silicon Valley di Amerika sendiri diterpa beberapa masalah sosial. Menyasar pada masyarakat lokal dan pekerja startup itu sendiri. Kesenjangan sosial terjadi di Silicon Valley, California antara masyarakat lokal dan pekerja. Ditambah harga sewa kos-kosan yang mahal hingga memaksa karyawan yang sebagian besar fresh graduate tinggal di mobil karavan. Apalagi banyak bos-bos yang congkak perusahaan belum seberapa tapi gayanya sudah selangit.

Untuk industri berbasis digital sebenarnya cukup dengan infrastruktur jaringan internet yang memadai. Update terbaru Speedtest Global Index, kecepatan internet Indonesia rata-rata 17.33 mbps untuk kecepatan unduh dan 11.27 mbps untuk unggah. Hasil ini menempatkan Indonesia berada di peringkat ke-121 dunia.

Padahal perusahaan rakasa seperti Twitter, Spotify dan Dropbox malah sedang mengkaji opsi WFH selamanya untuk pegawai mereka. Startup Denmark Slack dan Butter sedang menyiapkan sistem kerja WFH permanen untuk para karyawan setelah pandemi.

Intinya jika ingin membangun ekosistem Revolusi Industri 4.0 yang baik gak harus infrastruktur gedung. Bisa saja kesiapan kebijakan seperti kemudahan startup buat IPO, internet cepat dan aturan mengenai investor.

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT