Minggu, 4 November 2018

Pahami CRITICAL ELEVEN Demi Keselamatan Bersama di Penerbangan Komersial


Finroll.com – Bagi para pecinta film nasional bertema drama romantis, pasti kenal dengan Critical Eleven. Film tersebut adalah hasil adaptasi dari novel terlaris karya Ika Natassa yang dibintangi oleh sederet artis papan atas seperti Adinia Wirasti, Rheza Rahardian, Slamet Rahardjo, Astrid Tiar dan Hamish Daud yang tayang perdana pada 10 Mei 2017.

Namun kali ini kita tidak akan membahas film tersebut karena topik kali ini jauh lebih penting dari sebuah film meskipun judul karya sinema tersebut diambil dari sebuah istilah penerbangan yang akan dikupas secara singkat pada tulisan ini.

Critical Eleven adalah sebutan di dunia penerbangan untuk 11 menit yang kritis dalam suatu durasi penerbangan pesawat, menit-menit yang amat krusial, karena ada risiko besar di sepanjang waktu tersebut.

Namun demikian, kita tidak perlu khawatir apalagi batal untuk bepergian dengan penerbangan komersial. Seperti disebut pada tulisan sebelumnya, penerbangan komersial terbukti dan tercatat oleh data statistik sebagai moda transportasi paling aman di dunia, sekaligus yang tercepat.

Sebagai catatan tambahan, data dari Asosiasi Transportasi Udara Internasional (International Air Transport Association/IATA) menunjukkan bahwa pada tahun 2016, ada rata-rata satu kecelakaan untuk setiap 2,86 juta penerbangan.

Salah satu sebab munculnya rasio tersebut adalah dunia penerbangan memiliki regulasi dan standar yang lebih ketat ketimbang moda transportasi lainnya. Mulai dari proses desain dan konstruksi pesawat dan mesinnya, perizinan pendirian maskapai penerbangan, perekrutan dan pendidikan awak kokpit dan kabin (air crews) serta awak persiapan dan pemeliharaan pesawat (ground handling and maintenance crews), hingga prosedur suatu penerbangan mulai dari perencanaan penerbangan (flight plan) sampai pesawat mendarat dengan selamat.

Itupun belum termasuk berbagai aturan dan prosedur keamanan, keselamatan dan kelancaran proses penerbangan di bandara yang melibatkan banyak sumber daya manusia terlatih. Seperti kita ketahui, untuk masuk ke dalam lingkungan bandara sebelum check-in saja pemeriksaan tubuh dan barang bawaan sudah sangat ketat, terlebih sejak terjadinya aksi teror 911 di New York, Amerika Serikat, pada tahun 2001.

Singkatnya, semua hal yang terkait dengan bidang penerbangan selalu dikawal dengan sederet aturan terperinci yang ketat demi keselamatan seluruh penumpang, awak, pesawat serta manusia dan properti yang berada di bawah lintasan penerbangan pesawat tersebut.

Bahkan karena begitu ketatnya, sebuah gurauan tentang bom di dalam lingkungan bandara atau kabin pesawat dapat berujung pada hukuman penjara bagi individu yang hanya ingin bercanda tersebut.

Critical Eleven
Fokus para awak kokpit harus sepenuhnya tertuju pada kendali pesawat di sepanjang Critical Eleven (sumber: Youtube)

Jadi santai saja, tidak ada yang perlu dicemaskan meskipun kini kita akan membahas Critical Eleven yang disebut pertama kali di dalam sebuah jurnal terbitan Flight Safety Foundation Vol. 25 No.1 January/February 1990 tentang Cabin Crew Safety (Keamanan Awak Kabin).

CIMB NIAGA

Critical Eleven atau Critical 11 Minutes atau Plus Three Minus Eight, adalah masa kritis dalam suatu penerbangan yang terbagi menjadi dua periode yaitu 3 menit pertama setelah lepas landas dan 8 menit terakhir sebelum mendarat.

Pada 11 menit yang kritis tersebut seluruh awak kabin dilarang untuk berkomunikasi dengan awak kokpit kecuali untuk keperluan darurat yang menyangkut penerbangan atau penumpang. Di saat yang sama para awak kokpit dilarang untuk melakukan kegiatan apapun yang tidak berkaitan dengan kendali pesawat.

Critical Eleven muncul dari fakta bahwa 80 persen kecelakaan yang melibatkan pesawat komersial terjadi pada dua periode tersebut karena saat itulah sebuah pesawat rentan terhadap banyak potensi bahaya, misalnya tergelincir saat lepas landas atau mendarat melebihi landas pacu (overshot).

Tidak ada pengumuman khusus yang dibuat untuk menginformasikan para awak kabin mengenai dua periode tersebut tetapi rentang waktu 3 menit pasca lepas landas biasanya dianggap diperpanjang sampai tanda “Dilarang Merokok” dimatikan. Sedangkan titik di mana ketinggian terbang pesawat turun ke bawah 10.000 kaki (3.048 meter) dipandang sebagai awal dari periode 8 menit yang berlanjut sampai pesawat mendarat.

Nah, meskipun kita bukanlah awak kokpit atau kabin sebuah pesawat, kini kita sudah paham tentang masa-masa kritis dalam sebuah penerbangan. Karena itu, selain memohon perlindungan Tuhan, kita juga harus ikut disiplin dalam mematuhi instruksi dan panduan yang diberikan para awak kabin karena semua aturan disusun dan diberlakukan demi keselamatan dan kenyamanan bersama, termasuk larangan berkomunikasi dengan ponsel di dalam sebuah penerbangan yang seringkali dianggap remeh oleh sebagian oknum penumpang pesawat komersial. Safe flight, guys!

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT