Selasa, 23 Februari 2021

Pemanasan Global Menyebabkan Katak Tidak Bisa Melompat?


Perubahan iklim yang terjadi saat ini membuat suhu panas di Bumi dari hari ke hari terus meningkat. Tentunya kondisi ini membuat populasi katak ikut terancam, hal ini dikarenakan ketika katak mengalami dehidrasi, kemampuannya untuk melompat ikut menurun drastis.

Berdasarkan jurnal Proceedings of the Royal Society B, penelitian tersebut menemukan fakta baru bahwa saat katak kehilangan air, mereka tidak dapat melompat jauh. Fakta yang ditemukan ini memperlihatkan gambaran yang mengkhawatirkan bagi kehidupan katak di bumi yang terus memanas ini.

Penelitian Difokuskan Pada 3 Jenis katak

Ketiga jenis katak yang diteliti memiliki habitat yang berbeda, yuk simak penjelasan dibawah ini :

1. katak ekor pantai (Ascaphus Truei)

Katak ekor pantai dengan nama ilmiah Ascaphus Truei ini lebih menyukai habitat aliran air.

2. katak kaki sekop (Spea Intermontana)

Sedangkan katak kaki sekop dengan nama ilmiah Spea Intermontana ini lebih menyukai habitat gurun.

3. katak pohon Pasifik (Pseudacris Regilla)

Dan yang terakhir yaitu katak pohon pasifik dengan nama ilmiah Pseudacris Regilla ini merupakan jenis katak pengembara.

Saat proses penelitian, ketiga katak ini ditempatkan ke dalam tangki dengan kondisi terkontrol sehingga para peneliti dapat menentukan suhu tubuh amfibi dan tingkat dehidrasi mereka. Secara keseluruhan, ketiga katak ini pada awalnya mampu mempertahankan mobilitas mereka.

Namun, beberapa saat kemudian terjadi penurunan drastis ketika mereka kehilangan sekitar 20 persen berat badan karena dehidrasi. Pada titik ini, ketiga katak tersebut mulai melompat dalam jarak yang lebih pendek dibandingkan saat mereka basah terkena air.

Titik kritis karena tidak mampu melompat sama sekali adalah saat kehilangan 30 persen untuk katak ekor pantai & katak pohon pasifik, dan 45 persen untuk katak kaki sekop. Yang lebih parah saat katak ditempatkan di lingkungan yang lebih hangat dan mengalami dehidrasi dengan kondisi kontrol berkisar antara 15 hingga 30 derajat celcius, dalam kondisi ini katak sama sekali tidak bisa melompat.

Diteliti bahwa menurunnya kemampuan katak untuk melompat disebabkan oleh gangguan dalam pertukaran ion dalam sel yang disebabkan oleh kehilangan air. Namun, bisa juga karena darah mengental karena dehidrasi, hal itu membuat jantung katak menjadi tegang dan aktivitas fisik yang dilakukan melelahkan.

Jababeka industrial Estate

Penemuan mengenai katak ini tentunya sangat berpengaruh dalam menghadapi perubahan iklim di bumi. Tidak hanya bagi katak, tetapi juga hewan “berdarah dingin” lainnya yang mengandalkan kondisi lingkungan yang stabil untuk dapat mempertahankan kondisi fisik yang mendukung fungsi tubuh yang dikenal sebagai homeostasis.

Terdapat hewan yang dapat mengikuti perubahan iklim, namun juga ada yang tidak dapat mengikuti lajunya perubahan iklim. Hewan lain yang mobilitasnya mungkin juga terhambat oleh kondisi dehidrasi termasuk serangga dan reptil. “Segera setelah suhu naik sedikit, katak pohon akan berjongkok seolah-olah mereka berpikir kondisi ini tidak baik untuk mereka,” kata penulis studi Dan Greenberg dari Simon Fraser University, Kanada, kepada New Scientist.

BACAAN TERKAIT