Sabtu, 30 Januari 2021

Perusahaan Game Klaim Kerjakan Proyek Teknologi Pembaca Otak untuk Main Game


Perusahaan game Valve Coorporation mengklaim sedang mengerjakan proyek software yang memungkinkan hardware seperti helm VR untuk menafsirkan sinyal otak manusia

Perangkat lunak brain computer interface (BCI) itu diharapkan dapat membuat orang mendapat pengalaman saat bermain game sesuai dengan yang ada dipikirannya.

Melansir cnnindonesia.com-teknologi, pimpinan Valve Coorporation Gabe Newell mengatakan telah melakukan pengembangan perangkat lunak itu sejak beberapa tahun. Dia meyakini idenya tersebut akan diikuti oleh pengembang game yang lain.

Valve diketahui berkolaborasi dengan OpenBCI dalam mengembangkan teknologi itu. Bahkan, OpenBCI telah meluncurkan desain headset yang disebut Galea pada bulan November 2020. Perangkat itu dirancang untuk bekerja bersama headset VR seperti Valve Index.

“Jika Anda seorang pengembang perangkat lunak pada tahun 2022 yang tidak memiliki salah satu dari ini di lab pengujian Anda, Anda membuat kesalahan konyol,” kata Newell.

Newell membayangkan perangkat yang mendeteksi emosi pemain dan kemudian menyesuaikan pengaturan untuk mengubah suasana hati mereka, seperti meningkatkan kesulitan saat mereka bosan dalam sebuah permainan game.

Selain itu, dia juga membayangkan perangkat itu bisa diterapkan pada aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari meningkatkan fokus hingga mengubah pola tidur melalui sebuah aplikasi.

Newell tidak menampik BCI penuh dengan risiko, terutama dari peretasan. Namun, dia menilai proyek ini sangat menarik selama kekosongan inspirasi di tengah kehidupan pandemi.

Dilansir Psychology Today, bermain game mengaktifkan banyak bagian dalam otak, termasuk bagian yang berhubungan dengan proses visual, pengelolaan perhatian, fungsi motorik, dan integrasi sensomotorik.

Sirkuit otak yang mengaktifkan kesenangan juga ikut terangsang saat bermain game, temasuk nucleus accumbens (bagian otak yang memroses penghargaan), amygdala (bagian otak yang memroses respon emosional), dan orbitofrontal cortex (bagian otak yang memroses aktivitas visual).

Baik laki-laki maupun perempuan menunjukkan reaksi yang sama, tapi efek tersebut secara signifikan lebih kentara pada laki-laki.

Jababeka industrial Estate
game

Aspek paling provokatif dari bermain game adalah pemenuhan kebutuhan untuk mendapat rewards (penghargaan) yang mengaktifkan bagian kesenangan hingga tingkat tertentu. Game memenuhi kepuasan dengan menerapkan pemenuhan tujuan (goal) yang akan diberi hadiah jika tujuan tersebut terpenuhi.

Game memiliki efek yang sama dengan rokok bagi perokok. Kepuasan yang dihasilkan memicu seseorang untuk bermain game menjadi sebuah kegiatan nyata, tidak hanya sekedar hiburan tapi bagian dari hidup.

BACAAN TERKAIT