Startup Indonesia Keluhkan Sulitnya Cari Software Engineer dan Tingginya Gaji IT

  • Bagikan
Startup Indonesia Keluhkan Sulitnya Cari Software Engineer dan Tingginya Gaji IT

Finroll.com – Asosiasi E-commerce Indonesia (IdEA) mencatat, perusahaan rintisan atau startup yang ada di Indonesia kesulitan dalam memperoleh Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya dalam hal teknologi.

Menurut Ketua Umum IdEA, Ignatius Untung, posisi yang paling sulit dicari ialah software engineer. Di sebuah startup besar, berdasarkan catatannya, membutuhkan sekitar 1.000 software engineer.

“Software engineer itu bisa dibutuhkan 1.000 orang untuk 1 startup besar. Itu paling banyak dicari,” katanya saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (26/2).

Adapun software engineer paling banyak dibutuhkan yakni dikarenakan mayoritas startup berbasis teknologi informasi. Sementara posisi lainnya yang begitu dibutuhkan yakni product management dan analis data.

“Kedua yang sangat langka tapi mahal adalah product management, walaupun kebutuhannya tidak setinggi software engineer. Karena sekolahannya enggak ada, susah dicari. Ketiga analis data, itu juga sekolahnya enggak ada. Yang ada kan jurusan statistik, tapi di sana enggak diajak berpikir kreatif kan seperti startup,” beber Untung.

Dikarenakan kebutuhan banyak, saat ini banyak startup yang berani menggaji besar talenta di posisi itu. Bagi startup besar, memberi gaji yang tinggi bukan suatu masalah. Tapi hal itu menjadi persoalan bagi startup kecil.
Rencananya, menurut dia, IdEA akan membuat sebuah platform untuk mempertemukan antara pencari kerja dengan startup. Pun dalam platform itu, pihaknya akan membuat referensi gaji bagi pekerja startup.

“Jadi kalau orang mau hire, wah susah nih yang cari. Ya sudah akhirnya mereka enggak apa-apa lebih mahal. Bulan Maret, IdEA mau bikin platform buat yang mau kerja di digital economy, nanti ada referensi gaji juga yang bisa dipakai startup,” katanya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Bhinekka.com. Hendrik Tio, mengakui bahwa gaji pekerja startup di bidang teknologi begitu tinggi. Bahkan untuk merekrut lulusan luar negeri, gaji yang diminta mencapai Rp 80-90 juta.
“Misal ada talent yang bagus dari luar negeri, mereka minta salary Rp 80-90 juta. Kita dengar saja sudah bengong, itu yang terjadi,” papar Hendrik.

Pun dikarenakan jumlah SDM yang terbatas, kini startup besar berani membajak pekerja teknologi di startup lain dengan gaji yang sudah besar. Maka dari itu, gaji yang tinggi menjadi cara startup untuk mengikat pekerjanya.

(source: kumparan)
  • Bagikan
-->