Connect with us

Ekonomi Global

Jack Ma: Perang Dagang Amerika-China Adalah Hal Paling Bodoh

Published

on


Jack Ma: Perang Dagang Amerika-China Adalah Hal Paling Bodoh

Finroll.com – Kepala Alibaba Group Holding Ltd, Jack Ma mengatakan perang dagang yang saat ini terjadi antara Amerika dengan China adalah hal paling bodoh di dunia.

Kedua negara terbesar di dunia itu sudah terlibat perang dagang sejak Donald Trump menjabat sebagai presiden Amerika. Terlebih, Trump juga mengancam akan menjatuhkan tarif pada barang ekspor China senilai $500 miliar ke Amerika Serikat jika perdagangan tidak bisa di selesaikan.

“Defisit perdagangan AS dengan China yang disalahkan Trump untuk berbagai macam penyakit ekonomi, telah membantu menciptakan pekerjaan di AS. Tanpa itu, negara tersebut akan mengalami banyak masalah besar,” ujarnya dalam acara China International Import Expo (CIIE), yang dikutip dari Reuters, Selasa (6/11).

Baca Lainnya: Donald Trump Dan Xi Jinping Ingin Segera Akhiri Perang Dagang As-China, Namun Ada Syaratnya!

“Pergeseran China ke model impor memang bisa menyakitkan bagi banyak bisnis, tetapi itu juga peluang baik untuk banyak konsumen,” tambahnya.
Konglomerat kelas kakap ini juga menilai seharusnya pemerintah tidak terlalu khawatir dengan perkembangan inovasi teknologi. “Pandangan saya, jangan khawatir tentang teknologi. Orang yang khawatir tentang teknologi pertama orang tua, pemerintah, dan orang sukses yang mengkhawatirkan teknologi,” tutupnya.

Awal Mula Perang Dagang

Sebelum perang dagang berkecamuk diantara kedua negara, Trump awalnya menerapkan bea masuk atas produk milik China untuk memperbaiki inflasi di negaranya. Di tahap awal ini, Amerika hanya mengenakan bea masuk atas barang China yang paling laris di AS.

Atas kebijakan ini, China pun merespon dengan menerapkan bea masuk beberapa komoditas yang diimpor dari AS. Sehingga akhirnya kedua belah pihak saling menerapkan kebijakan yang sama. Hal ini juga sedikit-banyak berdampak pada negara lain, karena kedua negara tersebut mencari pasar baru dengan tingkat bea masuk yang lebih rendah.

“Buat kita dalam periode jangka pendek kalau soal kedelai kita. Itu jangan salah kita itu makan tempe dan tahu kedelainya dari AS. Kita enggak terpengaruh itu karena yang mengenakan bea masuk China,” ungkapnya.

Baca Lainnya: Kenaikan Pasokan dan Memanasnya Perang Dagang Menekan Harga Minyak Dunia

“China juga kesulitan ekspor baja dan alumunium panel surya, barang-barang elektronik,” sambungnya yang dikutip dari Liputan6.

Ekonomi Global

Utilitas Manufaktur Anjlok, Imbas Corona

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat wabah virus corona menekan utilitas industri manufaktur hampir 50 persen. Hal itu tercermin dari penurunan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur dari 51,9 pada Februari ke 45,3 pada Maret 2020.

“Beberapa industri mengalami penurunan kapasitas (produksi) hampir 50 persen, kecuali industri-industri alat-alat kesehatan dan obat-obatan. Kami tetap mendorong industri bisa beroperasi seperti biasanya, namun dengan protokol kesehatan yang ketat sehingga terhindar dari wabah Covid-19,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (2/4).

Tidak hanya di Indonesia, aktivitas manufaktur di Asia juga mengalami kontraksi pada Maret 2020 ini karena dampak penyebaran virus korona (Covid-19) terhadap rantai pasokan. Berdasarkan data IHS Markit yang dirilis Rabu (1/4), hampir seluruh PMI manufaktrur regional turun di bawah 50.

Indeks PMI Jepang anjlok ke level 44,8, sedangkan PMI Korea Selatan turun ke 44,2, level terburuk sejak krisis keuangan global lebih dari satu dekade lalu. Di Asia Tenggara, angka PMI Filipina turun menjadi 39,7, terendah sepanjang sejarah, sedangkan Vietnam merosot ke 41,9.

Guna menggairahkan sektor industri di dalam negeri, Agus akan mengusulkan pemberian berbagai stimulus fiskal dan nonfiskal. Upaya tersebut merupakan antisipasi dari banyaknya negara yang melakukan protokol penguncian (lockdown) yang memberikan dampak negatif bagi pasar lokal maupun global.

Stimulus yang bakal dikeluarkan, misalnya terkait upaya memperlancar arus bahan baku. Dalam hal ini, Kemenperin akan melakukan koordinasi dengan kementerian terkait. Sedangkan, dari sisi fiskal, akan ada pengurangan pajak perusahaan dan peniadaan pajak penghasilan karyawan.

“Hal tersebut untuk meringankan beban dunia usaha maupun karyawan dalam jangka waktu tertentu,” imbuhnya.

Pemerintah juga telah menerbitkan aturan yang juga terkait sektor perindustrian, antara lain Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem untuk penanangan pandemi Covid-19 dalam rangka menghadapi ancaman perekonomian nasional.

Selanjutnya, Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Corona Virus DISEASE 2019 (COVID- 19), Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 23 Tahun 2020 tentang Insentif Pajak untuk Wajib pajak terdampak wabah virus corona.

Selanjutnya, Kemenperin akan terus memantau perkembangan aktivitas industri berbagai sektor di dalam negeri, terutama terkait dengan dampak pandemi yang disebabkan oleh virus corona baru.

“Pemerintah sangat serius dalam menangani covid-19 ini, termasuk agar industri kita tidak terpuruk. Jadi, penciptaan iklim usaha yang kondusif juga diprioritaskan. Namun, hal itu perlu dukungan semua stakeholder,” ujarnya.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Negara-Negara G20 Diprediksi Bakal Masuk Resesi

Published

on

Pandemi Corona atau Covid-19 akan menyebabkan seluruh negara yang tergabung dalam G20 masuk ke jurang resesi, kata Lembaga konsultan Economist Intelligence Unit (EIU).
FINROLL.COM — Lembaga konsultan Economist Intelligence Unit (EIU) menyatakan pandemi Corona atau Covid-19 akan menyebabkan seluruh negara yang tergabung dalam G20 masuk ke jurang resesi.
EIU juga telah memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi negara-negara dunia menjadi kontraksi minus 2,2 persen dari prediksi awal sebelum terjadi pandemi yang seharusnya masih bisa tumbuh 2,3 persen. “Hasilnya kurang menunjukkan harapan positif. Di antara negara G20, semua akan mengalami resesi tahun ini kecuali tiga negara,” ucap keterangan tertulis dalam situs eiu.com dikutip Tirto, Rabu (1/4/2020).
Kabar baiknya, Indonesia masuk dalam deretan tiga negara yang belum tentu mengalami resesi akibat Corona. EIU memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa bertahan pada angka 1 persen turun dari estimasi tanpa Corona 5,1 persen. India diprediksi masih bertahan di 2,1 persen yang turun dari estimasi tanpa Corona di kisaran 6 persen.
Negara ketiga yang masih juga bertahan adalah Cina yang mampu bertahan dengan pertumbuhan 1 persen atau turun dari estimasi awal tanpa Corona di kisaran 5,9 persen. EIU menuturkan prediksi 1 persen bagi Cina itu dihitung dengan asumsi bila Corona tidak memburuk lagi. Dengan demikian perlambatan hanya terjadi di Q1 dan Q2 tahun 2020, lalu membaik mulai semester II 2020.
Nasib berbeda bagi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang diprediksi mengalami kontraksi 2,8 persen tahun 2020 dari estimasi tanpa Corona 1,7 persen. EIU menilai terpuruknya kondisi AS disebabkan karena penanganan pandemi yang buruk dan ditambah dampak anjloknya harga minyak dunia karena Rusia dan Arab Saudi.
“Respons awal pemerintah terhadap Corona sangat buruk, membiarkan penyakit menyebar sangat cepat,” ucap EIU. Sementara itu, dampak lebih berat akan diterima oleh negara di benua Eropa. EIU menyatakan selama setahun mereka akan mengalami resesi di kisaran 5,9 persen. Kontraksi, katanya, sudah membayangi Jerman dengan minus 6,8 persen, Perancis dengan minus 5 persen, dan Italia minus 7 persen.
Sejalan dengan prediksi EIU, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga telah memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2020. Dalam skenario berat, ia menyatakan ekonomi Indonesia masih tumbuh 2,3 persen dan bila keadaan masuk skenario “sangat” berat maka pertumbuhan akan kontraksi minus 0,4 persen. (Tirto.id)
Continue Reading

Ekonomi Global

Trump Sebut Arab Saudi & Rusia Segera Akhiri Perang Minyak

Trump menyebut perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia merupakan hal yang gila. Sebab, hal itu menghancurkan industri minyak global.

Published

on

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berharap Rusia dan Arab Saudi menyepakati produksi minyak dalam beberapa hari ke depan. Dengan begitu, kedua negara dapat mengakhir perang harga minyak.

Trump menyebut industri migas global telah hancur. Sebab, konflik Arab Saudi dan Rusia membuat harga minyak anjlok ke titik terendah dalam 18 tahun. “Saya pikir mereka akan menyelesaikan itu dalam beberapa hari ke depan. Keduanya tahu mereka harus melakukannya,” kata Trump dikutip dari Reuters pada Kamis (2/4).

Trump memang ingin mengembalikan industri minyak sebagaimana seharusnya. Sebab, industri minyak di AS terancam bangkrut. “Saya pikir saya tahu bagaimana menyelesaikan ini. Kami tidak ingin kehilangan perusahaan minyak besar kami,” ujarnya.

Lebih lanjut Trump menyebut perang harga minyak juga bisa berpengaruh buruk bagi Rusia dan Arab Saudi. Oleh karena itu, dia telah berbicara secara terpisah dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Rusia Vladimir Putin membahas kejatuhan harga minyak.

Selain itu, Trump juga disebut mengundang pemimpin perusahaan minyak ke Gedung Putih. Beberapa media di AS menyatakan pertemuan itu digelar untuk mencari cara membantu industri minyak yang terpukul akibat pandemi virus corona dan perang harga. Beberapa perusahaan yang disebut hadir dalam pertemuan tersebut yakni, ExxonMobil Corp, Chevron Corp, Occidental Petroleum Corp, dan Continental Resources.

Trump bakal membahas berbagai opsi untuk membantu industri. Beberapa diantaranya yaitu kemungkinan menetapkan tarif terhadap produksi minyak dari Arab Saudi. Harga minyak dunia memang anjlok sekitar dua per tiga dari nilai tertinggi tahun ini. Pandemi virus corona telah menekan harga minyak karena terpuruknya ekonomi global.

Ditambah tekanan dari Arab Saudi dan Rusia yang membanjiri pasar dengan produksi berlebih. Hal itu menciptakan perang harga minyak. Trump menyebut perang harga kedua negara merupakan hal yang gila. Untuk mengakhiri konflik tersebut, dia bahkan mengirim utusan khusus ke Riyadh agar Arab Saudi menurunkan produksi minyak.

Arab Saudi berencana meningkatkan produksi hingga 10 juta barel minyak per hari. Keputusan tersebut diambil setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak atau OPEC dan Rusia tidak sepakat memangkas produksi tahun ini.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending