Connect with us

Pasar Modal

Jadi Pendatang Baru di BEI, 2 Emiten Ini Kompak Menguat

Published

on


Finroll.com – Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini menyambut kedatangan dua tamu baru yang melakukan Penawaran Umum Perdana (PUP) atau Initial Public Offering (IPO), yakni PT Inocycle Technology Group Tbk dan PT Arkha Jayanti Persada Tbk. Keduanya menjadi perusahaan tercatat ke-29 dan 30 pada 2019.

Dalam pembukaan sesi perdagangan Rabu (10/7/2019) pukul 09.00 WIB, saham kedua emiten tersebut kompak menghijau atau bergerak menguat.

Seperti harga saham PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV) yang menghijau 49,6 persen atau naik 124 poin dari harga Penawaran Umum Perdana sebesar Rp 250 per lembar saham, menjadi Rp 374 per lembar saham.

Adapun jumlah saham INOV yang ditawarkan dalam IPO ini adalah sebanyak 608 juta saham baru, atau setara dengan 33,624 persen dari modal disetor dan ditempatkan perseroan. Jumlah seluruh nilai penawaran umum mencapai Rp 152 miliar.

Pergerakan serupa diikuti PT Arkha Jayanti Persada Tbk (ARKA), yang menguat 50 persen atau meningkat 118 poin menjadi Rp 354 per lembar saham dari harga penawaran Rp 236 per lembar saham.

Selama masa Penawaran Umum Perdana ini, emiten melepas sebanyak 500 juta saham baru ke publik, atau setara dengan 25 persen modal disetor dan ditempatkan perseroan

Jumlah seluruh nilai penawaran umum yang diberikan ARKA pada sesi IPO kali ini mencapai sekitar Rp 118 miliar.

Pasar saham kembali kedatangan calon emiten baru pada pekan ini di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (10/7/2019).

Perusahaan pertama yang akan melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) ialah PT Arkha Jayanti Persada Tbk.

Perseroan diketahui bergerak di bidang industri manufaktur dan fabrikasi komponen alat-alat berat, karoseri body dump truck, konstruksi baja, fabrikasi oil & gas equipment dan jasa pengangkutan batu bara.

Pada aksi IPO, Perseroan akan menawarkan saham sebanyak 500 miliar. Adapun harga penawaran saham ditetapkan sebesar Rp236 per saham.

Manajemen mengungkapkan, seluruh dana yang diperoleh dari IPO setelah dikurangi biaya-biaya emisi, sebesar 70 persen akan digunakan untuk modal kerja berupa bahan baku dan bahan pembantu.

Sementara itu, 30 persen lainnya akan digunakan untuk pembayaran utang bank dan utang kepada supplier. Penjamin pelaksana emisi efek dan penjamin emisi efek PT UOB Kay Hian Sekuritas.

PT Inocycle Technology Group Tbk

Calon emiten kedua ialah PT Inocycle Technology Group Tbk. Rentang harga saham perdana Perseroan antara Rp240 –Rp380 per lembar.

Adapun jumlah saham yang diterbitkan sebanyak 800 juta lembar setara dengan 39,996 persen saham baru. Sementara itu, jumlah modal yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan adalah Rp100 per lembar.

Dengan demikian, dana yang akan dihimpun perseroan dari aksi IPO tersebut ditaksir akan mencapai Rp192 miliar hingga Rp304 miliar.

Direktur PT Inocycle Technology Group Tbk Suhendra Setiadi mengatakan, seluruh dana hasil IPO tersebut akan digunakan sekitar 40 persen untuk pembayaran hutang kepada PT Putra Kary International, 30 persen untuk pengembangan bisnis baru melalui anak perusahaan baru dalam bentuk usaha patungan.

Sementara sekitar 30 persen akan digunakan untuk menambah modal kerja perseroan guna mendukung kegiatan operasional, diantaranya untuk pembelian baku.

Pasar Modal

Bahaya! IHSG Keluar dari 6.000, Pertama Kali Sejak Mei 2019

Published

on

By

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan hari ini, Kamis (3/10/2019), dengan koreksi sebesar 0,37% ke level 6.033,03. IHSG kemudian berangsur-angsur memperlebar kekalahannya hingga sempat meninggalkan level psikologis 6.000. Titik terendah IHSG pada hari ini berada di level 5.997,69. Untuk diketahui, kali terakhir IHSG menutup perdagangan di bawah level 6.000 adalah pada 22 Mei silam.

Pada pukul 09:20 WIB, indeks saham acuan di Indonesia tersebut terkoreksi 0,63% ke level 6.017,34.

Kinerja IHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang sedang kompak ditransaksikan di zona merah: indeks Nikkei turun 2,2%, indeks Hang Seng jatuh 0,75%, dan indeks Straits Times melemah 0,85%.

Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham China diliburkan guna memperingati 70 tahun lahirnya Republik Rakyat China, sementara perdagangan di bursa saham Korea Selatan diliburkan guna memperingati National Foundation Day.

Perang dagang AS-Uni Eropa menjadi faktor yang memantik aksi jual di bursa saham Benua Kuning. Kemarin (2/10/2019), Kantor Perwakilan Dagang AS merilis daftar produk impor asal Uni Eropa yang akan dikenakan bea masuk baru. Pesawat terbang, kopi, daging babi, hingga mentega termasuk ke dalam daftar produk yang disasar AS.

Daftar produk tersebut dirilis pasca AS memenangkan gugatan di World Trade Organization (WTO). AS menggugat Uni Eropa ke WTO lantaran Uni Eropa dianggap telah memberikan subsidi secara ilegal kepada Airbus, pabrikan pesawat terbang asal Benua Biru. Dampak dari subsidi ilegal tersebut adalah pabrikan pesawat asal AS, Boeing, menjadi kurang kompetitif.

WTO memberikan hak kepada pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengenakan bea masuk baru terhadap produk impor asal China senilai US$ 7,5 miliar. Melansir CNBC International, hingga kini belum jelas berapa nilai dari produk impor asal Uni Eropa yang akan dikenakan bea masuk baru oleh AS, apakah itu US$ 7,5 miliar atau kurang dari itu.

Dengan langkah pemerintah AS yang galak terhadap Uni Eropa, peluang terjadinya resesi di AS tentu bertambah besar. Sebelumnya, kekhawatiran bahwa AS akan masuk ke jurang resesi telah sangat terasa seiring dengan rilis data ekonominya yang begitu mengecewakan.

Pada hari Selasa (1/10/2019), Manufacturing PMI AS periode September 2019 versi Institute for Supply Management (ISM) diumumkan di level 47,8, jauh di bawah konsensus yang sebesar 50,4, seperti dilansir dari Forex Factory.

Sebagai informasi, angka di atas 50 berarti aktivitas manufaktur membukukan ekspansi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara angka di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi.

Kontraksi yang terjadi pada bulan September merupakan kontraksi terburuk yang dibukukan oleh sektor manufaktur AS dalam satu dekade terakhir. Perang dagang dengan China terbukti telah sangat menyakiti perekonomian AS.

Continue Reading

Pasar Modal

Terimbas Sentimen Perang Dagang, IHSG Melemah ke 6.228,43

Published

on

By

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG tercatat melemah usai dibuka pada pukul 10.15 WIB ke level 6.228,425 pada perdagangan pekan pertama Senin, 23 September 2019. Tercatat indeks acuan melemah sebesar 0,05 persen, meski sempat dibuka menguat pada awal perdagangan.

Berdasarkan RTI, sebanyak 192 emiten mencatatkan pelemahan, 152 saham tak bergerak dan 143 saham menguat. Sebanyak 151.468 kali transaksi terjadi dengan volume saham mencapai 5,5 miliar lembar saham. Dengan jumlah ini, RTI mencatat total saham yang diperdagangkan senilai Rp 2,29 triliun.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan pada perdagangan pekan ini pasar saham masih akan fokus pada perkembangan negosiasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Pertemuan ini bakal memberikan gambaran perkembangan negosiasi dagang kedua negara ke depan.

“Pasar nampaknya akan fokus kepada perkembangan negosiasi perang dagang antara AS dan China. Pasar menanti hasil pertemuan awal para negosiator kedua negara yang sudah di mulai dari kamis pekan lalu,” kata Hans dalam keterangannya di Jakarta, Senin 23 September 2019.

Menurut Hans, sejumlah data ekonomi dari beberapa negara yang keluar pekan lalu menunjukkan kondisi data yang bercampur. Sebagian diantaranya, menunjukkan adanya indikasi perlambatan ekonomi. Meski begitu, pasar juga mulai mempertimbangkan akselarasi ekonomi dunia menyusul pelonggaran kebijakan moneter oleh beberapa bank sentral.

Hans memperkirakan, pasar pekan ini akan bergerak cukup mix atau bercampur, dengan potensi positif. Adapun, support di level IHSG akan berada pada rentang 6.193 sampai 6.022 dan resistance level 6.282 sampai 6.318.

Senada, laporan dari EBS Market mencatat bahwa pekan ini, perang dagang Amerika Serikat dengan Cina, masih akan menjadi perhatian pasar keuangan global dan regional. Selain itu, rilis data kredit perbankan serta penjualan motor dalam negeri juga akan menjadi salah satu sentimen pelaku pasar dalam memantau kekuatan daya beli masyarakat.

Continue Reading

Pasar Modal

Debut Perdana, Saham Bhakti Agung Propertindo Naik 20 Persen

Published

on

By

Bursa Saham Kawasan Asia di Buka Zona Hijau Pada Perdagangan Hari Ini

PT Bhakti Agung Propertindo Tbk (BAPI) resmi mencatatkan sahamnya di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Perseroan menerbitkan sebanyak 1,67 miliar saham ke masyarakat. Dengan Harga penawaran umum Rp 150 per lembar saham, BAPI mendapatkan dana sebesar Rp 251,62 miliar.

Dalam debut perdananya, saham BAPI naik 20 persen atau 30 poin ke Rp 180 per saham dari harga penawaran perdana.

Direktur Utama Agung Hadi Tjahjanto mengatakan, hasil dari dana IPO tersebut sebesar 80 persen akan digunakan untuk modal kerja, sisanya yang 20 persen untuk pembayaran utang kami ke bank.

“Dengan Bertambahnya modal kerja membuat perseroan optimistis mampu mendongkrak kinerja pada tahun 2020,” ujarnya di gedung BEI Jakarta, Senin (16/9/2019).

Untuk memuluskan rencananya perseroan menunjuk Penjamin Pelaksana Emisi Efek adalah MNC Sekuritas dan NH Korindo. Sedangkan Penjamin Emisi Efek atau Sindikasi adalah Valbury Sekuritas.

Menurutnya, pendapatan maupun laba usaha akan meningkat dibandingkan 2019. Dirinya optimistis hal itu juga ditopang oleh pasar properti yang akan mulai pulih pada 2020.

Sementara itu, masuknya perseroan ke pasar modal sekaligus untuk meningkatkan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG).

“Kami menjadi lebih transparan dan profesional sehingga lebih kompetitif dalam bisnis properti,” tuturnya.

Sebagai informasi, PT. Bhakti Agung Propertindo Tbk saat ini, sedang mengembangkan proyek Green Cleosa Apartment and Condotel. Proyek yang berdiri di Ciledug, Kota Tangerang tersebut mencakup dua tahap pembangunan, yakni tahap pertama, Tower Berosa dan STIKES. Lalu, tahap kedua, Tower Arcleo dan kondominium hotel (kondotel).

Apartment Green Cleosa merupakan apartemen yang berada di dekat pusat bisnis Kota Tangerang yang berlokasi strategis dekat dengan pusat perbelanjaan dan transportasi umum yang beroperasi 24 jam.

Permintaan apartemen di kawasan itu dinilai masih cukup tinggi dimana hal itu dapat terlihat dari penjualan menara pertama Cleosa yang sudah mencapai separuh dari total unit yang ditawarkan. Untuk tahap ke 2, Perseroan juga telah bekerjasama dengan Horison yang akan menjadi operator hotel, sehingga dapat menjadi Recurring Income bagi perusahaan.

Selain Menerbitkan Saham, BAPI juga menerbitkan Warant Seri 1 sebanyak 1.342.017.600 dengan Harga Pelaksanaan Rp155,- per Lembar yang dapat dilakukan selama masa pelaksanaan, dan dimulai setelah 6 (enam) bulan sejak Waran Seri I diterbitkan, yaitu mulai tanggal 16 Maret 2020 sampai dengan 16 September 2022.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending