Connect with us

Citizen Journalism

Jangan Bercanda Soal Janda!

Published

on


Menyandang status sebagai seorang janda adalah perjuangan tersendiri bagi perempuan di Indonesia. Budaya patriaki membuat status janda masih dianggap aib di masyarakat. Penilaian buruk seakan melekat dan menempatkannya lebih rendah dibanding perempuan berstatus gadis (belum menikah) dan perempuan bertatus istri (bersuami). Sedangkan lelaki berstatus duda tidak pernah dinilai lebih rendah dari perjaka, malah seringkali kata keren disematkan dibelakangnya.

Selentingan negatif memang mudah sekali bertebaran mengelilingi hidup seorang janda bahkan tanpa mereka melakukan apa-apa. Ramah sedikit salah. Senyum sedikit lebar saja bisa jadi masalah. Serba salah. Lagi-lagi, ini tidak dihadapi oleh mereka yang berstatus duda.

Seringkali orang menggunakan status janda sebagai tema untuk bercanda. Dulu ini biasa terjadi dalam pembicaraan para lelaki di pertemuan langsung. Tapi dengan kemajuan teknologi perilaku itu semakin terfasilitasi. Dulu bercanda soal janda hanya jadi bahan obrolan atau hiasan di belakang bak truk. Sedangkan sekarang gambar-gambar (meme), video, lirik lagu, kalimat-kalimat (caption) dan percakapan dengan konten yang tidak sopan sampai nyinyir tentang janda sudah biasa dibagikan dan menghiasi grup wa atau akun sosial media banyak orang.

Kebanyakan lelaki mengganggap bercanda soal janda sebagai senda gurau biasa dan bukan hal penting. Mereka tak sadar sedang berurusan dengan perasaan wanita, makhluk yang melahirkannya ke dunia. Efek candaan ini juga tidak sesepele yang dibayangkan. Sudah terbukti, gara-gara candaan soal janda seorang suami dengan teman-temannya di media sosial, yang kemudian dibaca istri hampir saja membuat rumah tangganya berantakan. Yang lebih menyedihkan lagi, sekarang para istri pun banyak yang berbagi meme nyeleneh berisi kalimat meremehkan atau merasa terancam akan keberadaan janda. Sungguh itu perilaku miskin empati yang dilakukan oleh sesama perempuan. Tega.

Padahal bagi banyak janda (karena belum tentu semua) perilaku diatas adalah suatu bentuk olok-olok yang menggoreskan luka. Terkadang juga merasa terhina. Candaan soal janda hampir selalu menggunakan kata atau kalimat yang tidak patut dan memosisikan janda sebagai seseorang yang tak berdaya, kurang kasih sayang hingga dianggap sebagai penggoda laki-laki.

Karena itu juga banyak istri merasa tidak aman (insecure) saat tahu di lingkungan tempat tinggal atau tempat kerja suaminya ada perempuan berstatus janda. Sedangkan para lelaki yang tidak punya hati banyak mendekati karena menganggap janda itu mudah digoda dan dimanfaatkan. Atau sebaliknya beberapa lelaki langsung jaga jarak saat tahu temannya ada yang baru saja menjanda karena khawatir dicurigai istri.

Tidak dipungkiri mungkin memang ada segelintir janda yang berniat atau terjerumus hal-hal yang negatif. Padahal, begitu pula, pasti ada gadis atau perempuan berstatus istri yang menjadi penggoda bahkan perusak rumah tangga orang. Tapi kenapa label penggoda itu hanya melekat pada janda? Jelas ini bukan sekedar karena personal, ini soal stigma atas statusnya. Lalu siapa yang turut melanggengkan stigma negatif janda itu? Ya para lelaki, salah satunya lewat konten candaan yang temanya tidak peka dan kebablasan.

Justru di kehidupan nyata lebih banyak janda baik-baik yang berjuang menjaga muruahnya sebagai perempuan. Berjuang menjunjung tinggi martabatnya dan menolak dipandang sebelah mata oleh lingkungan. Kenapa disebut berjuang? Karena menjadi janda itu sulit, Sayang.

Perpisahan dalam rumah tangga, baik disebabkan oleh perceraian apalagi kematian tidak pernah menjadi keinginan setiap perempuan. Dan takdir itulah yang membuat ia mau tak mau harus menyandang status janda. Tapi kehidupan harus terus dilanjutkan, maka seorang janda harus berdamai dengan keadaan dan menerima kenyataan. Status baru itu pula yang akan membuat banyak hal berubah dalam hidupnya.

Seorang janda biasanya menanggung beban lebih berat daripada duda, apalagi jika telah memiliki anak. Karena perasaan keibuan yang kuat, biasanya anak akan ikut ibunya setelah orang tuanya bercerai. Ini seringkali membuat Si Ayah tidak menafkahi anaknya karena merasa itu sudah kewajiban mantan istrinya. Apalagi jika berpisahnya tidak baik-baik, hal itu semakin mungkin terjadi. Tentu tidak semua kasus begini.

Sedangkan untuk kasus cerai meninggal, Si Ibu harus bertanggung jawab penuh menafkahi diri dan anaknya. Kenyataan semakin menantang jika sebelumnya Si Ibu adalah seorang Ibu Rumah Tangga biasa. Ia harus berubah dari tulang rusuk menjadi tulang punggung. Padahal dalam hukum waris Islam (agama yang saya anut) tanggung jawab itu seharusnya bukan berada di pundaknya. Tapi tak ada alasan, kehidupan terbaik untuk anaknya harus diperjuangkan.

Menjadi janda artinya harus siap menjadi penanggung jawab utama pendidikan anak-anaknya. Mengisi peran ibu sekaligus ayah untuk mereka dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu waktu sulit yang harus dilewati ialah saat harus mengurus anak-anaknya yang sakit. Ia harus menguatkan fisik dan hati untuk melalui masa itu tanpa teman untuk berbagi beban. Selain itu, ia juga mau tak mau harus melakukan pekerjaan rumah yang sebelumnya dilakukan oleh laki-laki/suaminya. Jelas tidak mudah menjalankan peran dan tanggung jawab yang tiba-tiba berlipat ganda dan harus dilakukan bersamaan.

Selain peran diatas seorang janda juga harus berhadapan dengan dirinya sendiri. Ia harus berjuang keluar dari rasa kehilangan yang seringkali membuatnya gamang. Ia harus berusaha menghalau rasa kesepian karena kesendirian. Ia harus berhasil menyembuhkan hatinya sambil menguatkan hati anak-anaknya. Ia harus keluar dari rasa trauma kehilangan.

Bagaimana pun buruknya perpisahan yang sudah dilalui, perasaan kehilangan dan kesepian tetap akan mendera karena pasti ada kenangan bersama mantan pasangan yang diputar ulang dalam ingatan. Merindukan perasaan diayomi, dilindungi atau ditemani seperti sebelumnya. Apalagi jika perpisahan disebabkan oleh takdir Tuhan, bangkit dari perasaan kehilangan adalah perjuangan yang butuh waktu cukup panjang. Mengisi kesepian setelah ditinggalkan adalah masa-masa berat yang menyita kewarasan. Para janda cerai meninggal itu terus berusaha berserah dan mengimani takdir sambil memulihkan kondisi psikisnya masing-masing.

Janda juga harus menghadapi tekanan sosial lainnya. Misalnya suatu saat hatinya sudah mulai membaik dan ingin membuka lembaran baru, Ia lalu bertemu dengan seorang lelaki dan jatuh cinta. Sayangnya ternyata Si Janda terlahir lebih dulu alias lebih tua dari si laki-laki. Maka biasanya penilaian buruk dan penolakan akan langsung muncul dari keluarga pihak lelaki. Sudahlah janda, lebih tua pula.

Padahal cinta dan kecocokan tidak mengenal umur dan status, tapi fikiran buruk penolakan sudah datang duluan di kepala banyak orang termasuk Si Janda. Ia merasa khawatir dan tidak pantas. Ia juga menghadapi pergulatan batin yang sulit akibat memikirkan penilaian orang atas dirinya jika menikah dengan lelaki lebih muda itu. Repot memang, tapi itulah yang terjadi. Tidak semua janda mengalami, tapi banyak yang menjalani lalu akhirnya memilih mundur.

Lebih rumit lagi jika si janda jatuh cinta pada laki-laki yang sudah beristri. Hanya jatuh cinta saja, tapi entah penilaian buruk macam apa yang akan ia terima dari masyarakat. Tidak melakukan apa-apa saja sudah dituduh genit dan mengganggu rumah tangga orang. Apalagi sampai jatuh cinta. Padahal harus dibedakan antara hanya menyimpan rasa dan menjadi pelakor. Karena itu, seorang janda harus pintar-pintar mengatur perasaannya jika tidak ingin hidupnya semakin pelik. Ia juga harus memegang prinsipnya kuat-kuat agar tidak terlibat masalah.

Dengan semua kesulitan yang harus dihadapi itu, apakah terlalu berlebihan jika para janda ini mengharapkan sedikit saja pengendalian diri dari pihak lain dengan tidak menggunakan statusnya sebagai bahan bercanda atau nyinyir?

Mereka sadar jika statusnya rawan fitnah, maka bantulah agar tidak dianggap rendah. Terbayang tidak? menjalani peran itu saja sudah menguras kesabaran, maka tolong jangan tambah lagi dengan rasa sakit di hati karena mendengar atau melihat candaan soal status yang tidak pernah mereka impikan itu. Berempatilah sedikit saja, tahan lisan dan jari, pikirkan sebelum berbagi, karena bahkan status janda itu juga mulia di dalam kitab suci.

Terakhir, rasanya pas sekali jika tulisan ini ditutup dengan mengutip status salah satu teman fesbuk saya di akhir Oktober lalu:

Kalau Bapakmu meninggal, maka Ibumu akan jadi janda. Pun ketika anak perempuanmu ditinggal meninggal menantu lelakimu, ia akan jadi janda. Kalau dirimu yang meninggal, istrimu juga akan jadi janda. Jadi STOP ya bercanda soal janda, karena itu bisa jadi sembilu di hati mereka.

Salam.
Ibu satu anak, seorang janda yang bersuara.

Advertisement Valbury

Citizen Journalism

Balada Kader Tarbiyah Kurang Ilmu Tapi Giat Menebar Ilmu. Patutkah?!

Published

on

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman mengajak saya untuk mengikuti sekolah tahsin bergenre (baca: rasmul) Ustmani. Tujuannya tentu saja untuk memperbaiki bacaan dan khat Alqur’an kami.

Beliau mendahului saya mengikuti test masuk yang dipandu langsung oleh salah satu Qiyadah kami. Hasil test menunjukan beliau bisa memulai kelas dari level 4. Ustadzah penguji memujinya dengan mengatakan:

“kamu pasti rajin liqo yaaa, bacaannya sudah bagus, tapi butuh perbaikan lagi di bla..bla…bla.”

Saya pun tak sabar ingin mengikuti test. Saya ingin tahu kira-kira saya dapat level berapa. Kawan-kawan yang saya kenal di tarbiyah hampir semuanya masuk level 4. Saya tambah penasaran. Hehehe.

Fyi, waktu itu saya sudah memegang beberapa gerbong kajian non partisan. Satu grup pengajian ibu-ibu, satu grup pengajian remaja dan satu grup pengajian anak-anak. Semuanya free tanpa iuran. Dan tak pernah sekalipun saya masukin unsur-unsur politik dalam pengajian kami. Meski mereka tahu saya orang Partai Kesayangan Semua, tak sekalipun saya ajak mereka masuk partai tersebut.

Kata “belum waktunya” menjadi alasan saya ketika struktur menanyakan mengapa mereka belum kunjung saya “tarik” ke dalam. Namun dalam hati, saya memang ingin semua berjalan alami. Mengalir apa adanya. (Piss, bos!)

Dalam hati saya menyakini. Mereka kan sudah tahu kalau saya kader partai keren sekali itu. Jika mereka lihat ada kebaikan dari menjadi kader partai seperti saya bagi diri mereka, saya yakin mereka akan mengikuti tanpa diminta. Kenapa? Karena saya yakin sekali bahwa menjadi PKS (yah kesebut. Maafin yaa. Capek nyari singkatan 😅) adalah sebuah jalan kebaikan yang menebar kebaikan. Jadi tinggal tunggu Allah yang membukakan pintu hati dan jalan bagi mereka untuk bergabung.

Begitu pula dengan kawan sepermainan. Di dunia nyata, tak satupun ada yang secara frontal saya ajak masuk PKS. Kalo pilih PKS sih iya. Hahaha. Biarlah semua mengalir, apa adanya. Mereka punya mata, punya hati. Bisa menilai sendiri betapa bocor, ceroboh, cekakakan dan awut-awutannya saya. Loh koq?! 😅

Oke, kembali ke masalah tahsin.

Sebenarnya pendaftaran kelas sudah ditutup, namun lewat rekomendasi seorang teman, saya masih diperbolehkan untuk mengikuti ujian masuk. Saya diuji langsung oleh Ustadzah kabir yang namanya sudah sering sekali saya dengar bahkan pernah saya ikuti beberapa kajiannya. Beliau rupanya juga pemilik lembaga pendidikan tahsin yang mau saya ikuti. Ada perasaan grogi saat berkenalan. Merindingggg. Tapi saya mencoba santai. Hingga keluarlah hasil test saya.

Masya Allah. Ustadzah bilang saya harus mengulang dari level 1. 😱 Bacaan saya banyak salah, berantakan. Mengucap “Basmallah” pun belum benar. Tentu saya cukup kaget dan terpukul mendengarnya. Kawan-kawan yang saya beritahu pun merasa heran. “Koq bisa, Ra?!” Yaaa, manaa ku tahu 😥.

Saya pun mulai menimbang-nimbang untuk jadi mengikuti kelas atau tidak. Saya kesal, namun kebesaran nama sang Ustadzah disamping beliau pemegang sertifikat rasm Ustmani yang menjadi pemilik rumah tahsin tersebut membuat saya gentar untuk meragukan penilaian beliau.

Akhirnya saya mendapat kelas yang dimulai pukul 6 pagi. Tak boleh terlambat. Ada denda yang harus dibayar setiap menit jika datang terlambat. Sabtu pagi ba’da shubuh saya langsung menggeber sepeda motor saya ke arah Rawajati. Saya ingin datang lebih awal, selain karena tak ingin terlambat saya juga tak mau kelas lambat memulai yang akhirnya lambat juga selesai. Karena setelah tahsin, saya masih berkewajiban untuk hadir di liqo-an. Sungguh embuhhh. Kadang bantal di hari libur lebih menggoda…😓

Hal yang tak saya duga dari penghuni kelas tersebut rata-rata bacaannya sudah bagus-bagus. Khat-nya juga Masya Allah. Rata-rata dapat nilai sempurna dalam menulis. Banyak juga yang seumuran dengan saya waktu itu. Bahkan ada juga yang lebih muda. Saya yang tadinya mau songong jadi minder. Kalau kayak mereka-mereka ini dapat level 1. Apalah saya ini.😵

Dari 12x pertemuan yang diwajibkan, kami hanya boleh izin 3x. Lebih dari itu tak diperkenankan untuk ikut ujian kenaikan tingkat. Saya sukses hanya hadir 6x. Hahaha. Ada acara dan tugas-tugas lain yang tidak bisa (baca: mau) saya hindari. Saya pun pasrah. Saya yakin tak boleh ikut ujian dan harus mengulang kelas dari awal lagi. Biarlah.

H-1, saya pastikan ke guru kelas kalau saya tak akan hadir di ujian. Beliau bilang akan coba ditanyakan dulu ke Ustadzah. Saya bilang: “Gak usah repot-repot, Mbak. Palingan suruh ngulang. Tapi boleh juga deh ditanyain dulu, saya tunggu kabarnya. Hehehe.” *masih ngarep.

Dan ternyata saya boleh hadir ujiaaannnn. Padahal di kelas lain yang 4x izin aja sudah dapat ketetapan gak boleh ikut ujian. Saya yang 6x koq bolehhh. Canggih kannn. Saya pun senyum-senyum.

Saya datang ke tempat ujian dengan cengengesan karena yakin tak akan diluluskan. Wong, jarang masuk. Banyak materi yang ketinggalan dan guru kelas pun geleng-geleng setiap kali datang, saya bilang “maaf, aku belum ngerjain PR, Mbak. Boleh ngerjain disini gak?” Hehe.

Kami diuji satu per satu. Saya perhatikan wajah-wajah kawan yang keluar dari ruangan ujian rata-rata pingin nangis. Mengeluh susah banget soalnya dan menebak score berapa. Karena score tertinggi itu 80 dan untuk dinyatakan lulus butuh 77. Edan kata saya. Salah 3 ajah gak lulus. Pliss deh 😑

Saya masuk ruang ujian dengan gontai. Soal pertama, salah… soal kedua dan ketiga saya yakin juga salah. Ke empat dan kelima saya sudah gak pake mikir bacanya. Sama seperti saya baca sehari-hari saja. Bodo amatlah. Soal keenam, ketujuh dan seterusnya sampai soal ke 15, kepala saya sudah muter-muter. Saya putus asa karena yang saya dengar dari mulut Ustadzah hanya kata “ulang, ulang, dan ulang”. Oh iya, di masing-masing soal kami diberi kesempatan 3x untuk mengulang bacaan sampai benar. Jika sudah 3x mengulang dan tetap salah, maka score hilang.

Selesai ujian, saya keluar ruangan dan langsung tancap gas. Pulanggggg. Minum air segelas, ambil napas panjang dan cabut lagi ke tempat liqo. Disana kawan-kawan liqoan yang dari semalam rame doain saya biar lulus langsung nanya-nanya hasil ujian. Saya ceritakan “kebodohan” saya dan mereka semua tertawa. Eman benar. Bukannya dihibur malah pada ngetawain. Sungguh terlalu. Huh! 😥

Beberapa hari kemudian saya diminta datang untuk mengambil hasil ujian. Waktu itu sekalian ada kajian dari Ustadzah yang sudah melanglang buana ke luar negeri karena bacaan Alqur’annya yang bagus banget. Hafizah 30 juz. Masya Allah….

Saya buka lembar hasil ujian saya. Saya pun bingung. Saya hubungi guru kelas, mungkin hasilnya tertukar sama si anu. Dia bilang dia gak lulus, harusnya saya yang gak lulus. Bu guru bilang, itu sudah betul hasilnya. Saya ngotot ini salah. Beliau lebih ngotot lagi bilang kalau itu sudah benar. Saya pun bengong, nilai yang tertera di lembaran nyaris sempurna. Apa iya?!

Saya pun gamang. Dulu pertama kali datang kesini, saya merasa sudah jago bener mengaji dan ternyata dapat pukulan telak ditempatkan di level 1. Sekarang saat saya merasa paling “bodoh” dan malas koq malah dapat nilai sangat bagus kayak gini. Ah, duniaaa…. oh, prasangkaaaa….

Kemudian saya mendengarkan ceramah Ustadzah keren nan jelita di hadapan saya. Beliau mengatakan tentang pentingnya menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu-ilmu yang kita peroleh di rumah tahsin ini ke masyarakat sekitar. Saat tiba waktu sesi tanya jawab. Saya pun bertanya dan mengeluarkan uneg-uneg saya selama ini.

” Assalammualaikum, Ya, Ustadzah. Perkenalkan saya, bla..bls..bla… Sungguh selama ini saya galau dan tertekan. Selama ini saya diminta oleh kawan-kawan dan pejabat masyarakat untuk mengajar ngaji. Ada grup Ibu-ibu, remaja dan anak-anak yang tinggal di pinggiran kali ciliwung. Saya malu Ustadzah, saya mulai berpikir bahwa tak cukup ilmu saya untuk mengajari mereka ini-itu. Tak pantas saya menjadi guru mereka. Ustadzah tahu sendiri, saya baru level 1. Ini naik ke level 2 juga atas belas kasihan kayaknya. Hahaha. Jadi bagaimana Ustadzah? Apakah tindakan saya membubarkan pengajian yang saya pegang tersebut dapat dibenarkan? Sungguh saya tak enak hati, saya mencari berbagai alasan kayak band malaysia exist untuk berhenti mengajar. Saya pun berusaha mencari pengganti yang sekiranya lebih pantas dan lebih berilmu dari saya. Tapi belum juga dapat. Akhirnya ya kelas gak jalan-jalan. Sekalian juga saya bilang disini kalau ada kawan-kawan dan para guru yang berkenan mengajar di lingkungan saya, sungguh saya sangat berterimakasih. Tapi mohon maaf kalau belum ada kompensasinya. Bagaimana menurut Ustadzah?”

Sang Ustadzah pun menjawab:

“Saya panggil kamu “Mbak” saja ya bukan “Ibu” karena sepertinya masih muda sekali. (*uhuyyy dalam hatiku).

Begini ya, Mbak. Kamu harus banyak-banyak bersyukur karena diperkenalkan dengan rumah tahsin disini. Tempat dimana kamu bisa menempa ilmu yang selama ini kamu dipandang lemah. Dari sekian banyak akhwat dan guru, Allah memilih kamu, Mbak. Kamu yang dipilih Allah untuk hadir ditengah-tengah masyarakat, mengajar kalam-Nya. Adalah sebuah kesalahan besar ketika kamu malah memutuskan untuk berhenti lalu membubarkan pengajian yang kamu bina. Hayoo istighfar duluuu.

Ilmu bisa dicari sambil diamalkan. Kamu dapat dan pahami sedikit dari sini, kamu bisa langsung sampaikan disana. Begitu seterusnya. Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Artinya sampaikanlah apa-apa saja yang sudah kamu bisa dan pahami.

Kalau makhroj hurufmu baru sempurna sampai huruf “kho” ya ajarkan saja sampai huruf “kho”. Sambil kamu terus belajar disini. Jangan pernah melepaskan kesempatan ini atau memberikannya kepada orang lain. Allah itu sudah memilih kamu.

Mungkin banyak yang lebih pintar dari kamu, tapi karena satu atau lain hal Allah urung memilihnya. Mungkin karena ia sudah sibuk mengajar di tempat lain, mungkin tak mau mengajar di tempat-tempat yang kamu ceritakan, atau mungkin banyak kerjaan lain atau apalah. Maka dari itu, tetaplah kamu genggam kesempatan untuk beramal baik yang datang kepadamu. Terus asah dirimu untuk menjadi lebih baik di tempat ini. Dan berbagilah pengetahuan dengan mereka-mereka yag sudah Allah pilihkan ada dalam hidupmu.

Mbak, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang brlajar dan mengajarkan Alqur’an.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Jangan karena merasa kurang ilmu, lalu kamu lepaskan kesempatan untuk beramal baik, kamu berhenti untuk menyampaikan kebaikan, dan menunggu orang lain melakukannya dengan bersembunyi dibalik alasan keterbatasan diri bahkan dalil fardhu kifayah.

Jangan juga merasa inferior melihat orang yang ilmunya banyak dan lebih pantas dijadikan guru dibanding kamu sehingga kamu melipir. Berhenti menebar manfaat dengan alasan mau nyari ilmu dulu yang banyak. Padahal yang banyak ilmunya belum tentu juga mau mengamalkan. Dan belum tentu juga kamu punya kesempatan untuk mengamalkan ilmu nanti disaat kamu sudah merasa berilmu. Lah, kalau umurmu tak panjang bagaimana? Jangan sampai di akhirat kamu malah menyesal nantinya.”

Habislah saya disadarkan (baca: diomelin) oleh sang Ustadzah dengan logat jawanya yang kental sekali.

Tuh yaa, dengerinnn. Jangan sampai harus diomelin dulu kayak saya baru sadar. Jangan sampe nyesel deh kawan-kawan. Berbuat kebaikan ke orang laen jangan diberhentiin sampe bab niat doang. Belajar mah kudu. Seumur hidup kalo bisa. Nah menyebarkan ilmu juga harus. Biar sedikit asal manfaat kan gak masalah. Gak harus nungguin gelar, nanti malah bendera kuning yang duluan berkibar. Ih, ngeriiii 😭

Continue Reading

Citizen Journalism

Kisah Cinta Presiden RI yang Bikin Meleleh

Published

on

By

Kisah cinta presiden RI dengan pasangannya selalu saja jadi topik yang menarik. Di balik sepak terjangnya menjadi pemimpin negara, kita tahu ada sosok yang mendampingi dari belum jadi siapa-siapa, jatuh bangun, dan akhirnya menjadi presiden.

Dari 7 Presiden Republik Indonesia setidak ada 3 orang jalinan asmaranya menjadi sorotan nasional. Yang pertama adalah Soekarno dengan Fatmawati.

Soekarno bertemu Fatmawati saat dibuang ke Bengkulu di tahun 1938. Kala itu, ia memiliki Inggit Garnasih sebagai istri dan dua orang anak angkat.

Suatu saat, ia bertemu ayah Fatma yang merupakan salah satu tokoh di Bengkulu. Fatma diajaknya serta.

Soekarno langsung jatuh hati. Mengetahui Fatma putus sekolah, ia menyekolahkan Fatma yang dekat dengan anak angkatnya. Fatma pun dititipkan ayahnya di rumah Soekarno.

Lama-kelamaan, Inggit dan anak angkatnya mulai curiga dengan kedekatan Fatma dan Soekarno. Pertengkaran kerap terjadi sampai Fatma pindah ke rumah neneknya.

Namun, Soekarno masih curi waktu menjadi guru Bahasa Inggris Fatma. Sempat berpisah sewaktu Soekarno dipulangkan ke Jawa, Soekarno curi waktu untuk bertemu lagi. Tekadnya sudah bulat untuk memiliki anak dari Fatmawati.

Setelah bercerai dengan Inggit pasca rumah tangga yang kian tidak kondusif, ia pun meminang Fatmawati.

Lalu ada B.J Habibie dan Ainun. Kisah lama Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dengan sang istri, Ainun, masih memikat untuk disimak.

Siapa sih yang tak tahu kisah cinta Habibie dan Ainun?

Hasri Ainun Besari atau yang akrab disapa Ainun merupakan istri dari mantan Presiden Indonesia, B.J. Habibie. Eyang Habibie, yang merupakan ahli dalam bidang pesawat terbang ini, dikenal sangat romantis dan mencintai istrinya yang juga merupakan seorang dokter

Selama lebih dari 40 tahun, keduanya hidup bersama dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tak heran, kisah cinta keduanya juga diabadikan dalam sebuah film berjudul “Habibie dan Ainun”.

Pada tahun 2010, saat Ainun meninggal dunia karena kanker ovarium yang dideritanya, Habibie begitu berduka karena kehilangan orang yang sangat dikasihinya tersebut. Kisah cinta mereka tentu memberikan beberapa pelajaran berharga bagi kita semua.

Terakhir ada SBY dan Ani Yudhoyono. Sudah kurang lebih satu bulan, Ani Yudhoyono menjalani perawatan di Singapura. Ya, sejak awal bulan Februari silam, istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mendapat pengobatan di rumah sakit National University Singapura lantaran penyakit kanker darah yang dideritanya.

Kesetiaan Susilo Bambang Yudhoyono pada istrinya, Ani Yudhoyono yang sedang sakit menjadi sorotan.Pasalnya, SBY terlihat selalu menemani istrinya yang saat ini tengah berjuang melawan penyakit kanker.Ia pun juga rela meninggalkan segudang aktivitasnya demi untuk selalu berada di sisi sang istri tercinta.

Menilik kembali kisah asmara Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono rupanya ada cerita menarik. Susilo Bambang Yudhoyono dan Kristiani Herrawati (nama muda Ani Yudhoyono) pertama kali bertemu di awal tahun 1973 di Magelang, Jawa Tengah.

Keduanya bertemu di lingkungan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Kristiani Herrawati adalah putri ke-3 Sarwo Edhie Wibowo yang merupakan gubernur AKABRI pada masa itu. Sedangkan SBY merupakan pemuda asal Pacitan, Jawa Timur yang dikenal sebagai taruna cerdas dan berprestasi.

Continue Reading

Citizen Journalism

Mensyukuri Cuka Menerbitkan Suka Cita

Published

on

Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah hadis riwayat Imam Muslim yang terdapat dalam Kitab Riyadhus Shalihin Bab 101 tentang Larangan Mencela Makanan dan Sunnah Memujinya.

Dari Jabir Ra, Rasulullah Saw menanyakan lauk pauk kepada keluarganya dan mereka menjawab: “Tidak ada lauk pauk kita kecuali cuka”. Maka Nabi Saw meminta cuka itu untuk dimakan bersama roti yang disajikan sambil berkata: “Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka, sebaik-baik lauk pauk adalah cuka”.

Ada banyak pelajaran yang dapat kita gali dari sepenggal kisah singkat di atas. Umpamanya kita mulai dengan menyodorkan pertanyaan pembuka: Manakah yang sejatinya Sunnah Rasul itu? Apakah kita memahaminya hanya secara tekstual-literal sehinga sunnah makan dengan cuka itu hanya menyentuh tataran teknis aplikatif berupa makan dengan cuka? Atau kita memahaminya secara substantif-kontekstual berupa moral ethic menerima apapun karunia Allah dengan penuh rasa syukur walaupun hanya beberapa tetes cuka?

Lalu, manakah yang sejatinya disebut perbuatan menyelisihi sunnah itu? Makan tidak dengan cuka atau makan tidak dengan rasa syukur?

Sampai di sini, kita dapat membuat semacam komparasi sederhana untuk menarik mana yang lebih seiring-senafas dengan ajaran Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi moralitas: Makan dengan penuh rasa syukur sekalipun bukan dengan cuka atau gak apa-apa tidak bersyukur yang penting tetap makan dengan cuka?

Itu satu.

Yang kedua, Nabi Muhammad Saw sedang mengajarkan kepada kita suatu kemampuan yang disebut oleh pakar psikologi modern ini dengan istilah reframing skill, yaitu kemampuan untuk dapat menata ulang sudut pandang kita dalam menyikapi persoalan hidup yang tengah dihadapi, terutama persoalan-persoalan yang tidak sesuai dengan selera hati kita. Reframing ini tidak otomatis mengubah nasib buruk manjadi baik, tapi jelas menata suasana hati agar tetap adem, tenang, dan gembira dalam menyikapi nasib buruk itu.

Cuka tidak lantas berubah menjadi kari kambing dengan mengatakan “Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka”. Cuka tetap saja cuka. Akan tetapi, dengan mengatakan demikian, Nabi Saw tengah mengatur suasana hatinya dan menata ulang sudut pandang dirinya terhadap cuka. Karena yang ada hanya cuka, ya sudah… disyukuri, dinikmati dan dibuat indah saja cuka itu. Tokh, mencaci maki cuka juga tidak otomatis mambuat cuka menjadi rendang.

Selain itu, Nabi Saw sedang memberi kita pengajaran untuk menemukan rasa syukur dalam keadaan apapun yang kita terima dari kehidupan. Ada roti, syukuri roti; ada cuka, syukuri cuka; ada rendang, ya syukuri; yang ada hanya bakwan, ya tetap juga disyukuri. Dapat gaji 10 juta, ya syukuri 10 juta itu, dapatnya hanya satu juta, syukuri juga. Temukan kebahagiaan dalam berapapun nominal uang yang Allah berikan. Jangan dikasih satu juta, hati kita terus menerus melamunkan 10 juta. Akhirnya satu juta tak nikmat, yang 10 juta tak didapat.

“Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka” adalah ungkapan yang membuktikan bahwa Nabi Saw memiliki kemerdekaan seutuhnya untuk meraih kebahagiaan tanpa terpengaruh hal-hal lain di luar dirinya. Seperti kita, Nabi Saw juga tidak bisa mengendalikan pagi ini atau sore ini makan dengan apa dan rasanya bagaimana, tapi beliau berdaulat sepenuhnya untuk tetap bersyukur menerima apapun yang Allah karunikan. Intinya, apapun yang dialami, beliau tidak membiarkannya berlalu begitu saja tanpa disyukuri. Karena rasa syukur itu menerbitkan kegembiraan yang sejati di dalam hati.

Hal ini terdengar sederhana, tapi banyak orang menderita dalam hidupnya karena tidak memiliki kemampuan reframing ini. Ketika dilahirkan dengan memiliki hidung pesek, dia terus saja mengutuki hidung itu, kenapa tidak mancung seperti orang lain. Setiap kali menatap cermin, dia kecewa. Setiap melihat hidung orang lain yang mancung, dia nelangsa.

Sesungguhnya, kita menderita bukan karena hidung yang pesek, tapi karena letih menjangkau-jangkau alam khayal berisi fragmen hidung mancung yang terus menerus diekspektasikan. Kita tidak memiliki kemandirian untuk menentukan perasasan hati. Kita tidak mempunyai kedaulatan untuk sesegera mungkin menukar, mengganti atau menghijrahkan selera hati dari alam khayali ke wilayah nyata yang ada di depan mata.

Kita tidak memiliki kemampuan itu, karena memang sekolah-sekolah juga tidak pernah mengajarkannya. Di sekolah kita dijejali ilmu aritmatika adiluhung 2 ditambah 8 sama dengan 10. Tapi matematika itu tidak mengajari kita untuk tetap bersyukur ketika hanya mendapat dua padahal yang diinginkan adalah delapan.

Tapi sudahlah, syukuri saja apa yang ada. Tinggal kita reframing hati, membuat formulasi dalam hati bahwa sekolah paling ideal itu, ya memang begitu.

Kesimpulannya, kita harus memiliki kedaulatan untuk menciptakan kegembiraan dalam hati. Mandiri dalam kebahagiaan. Jika tidak bisa, maka marahlah pada diri sendiri kenapa tidak mempunyai independensi dalam menentukan suasana hati!

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending