Connect with us

Property

Jangan Lakukan Hal Ini, Jika Anda Membeli Rumah Yang Diinginkan Dengan Harga Yang Pas

Published

on


Membeli Rumah

Siapa yang tak ingin punya rumah baru? Hampir semua orang ingin membeli rumah, termasuk Anda.

Finroll.com – Berbagai macam cara dilakukan untuk membeli rumah baru. Salah satunya ialah meminjam uang ke bank. Namun, Anda sering kali melanggar aturan peminjaman uang.

Menurut beberapa pakar ekonomi, cicilan pinjaman tidak boleh lebih dari 30 persen dari total gaji. Jika jumlahnya lebih dari 30 persen, Anda akan kesulitan untuk membayar cicilan tersebut.

Namun apa daya, tawaran berupa cicilan rendah dari bank sering kali membuat Anda tergiur. Anda pun dengan mudah menyetujui tawaran kredit tersebut. Padahal, jika diteliti lagi, ada beberapa kesalahan yang membuat Anda rugi.

Kesalahan seperti apakah itu? Simak poin-poinnya berikut ini :
  1. DP Pas-Pasan Akibatnya Pinjaman Terlalu Banyak

Memang benar jika Anda membutuhkan uang yang banyak ketika hendak membeli rumah. Namun, jangan sampai semua uang yang dibutuhkan berasal dari pinjaman bank. Hal ini akan berdampak besar pada kesehatan finansial Anda. Jika memiliki tabungan, coba ambil sebagian dari tabungan tersebut. Meskipun bank menawarkan bunga yang rendah, tetap sesuaikan dengan kemampuan Anda untuk membayar pinjaman tersebut. Jika Anda tidak mampu membayar cicilannya, alangkah baiknya jika meminjam sesuai jumlah yang dibutuhkan saja.

  1. Tidak Menghitung Biaya Tambahan

Semua masalah tidak langsung selesai saat Anda telah membeli rumah. Mengapa? Sebab Anda memerlukan biaya lain-lain, seperti biaya notaris, pajak, dan biaya agen. Biaya ini terbilang lumayan mahal. Terlebih jika nilai properti yang Anda miliki termasuk mahal. Ketika Anda memutuskan membeli rumah lewat fasilitas KPR, jangan lupakan premi asuransi. Selain itu, pikirkan juga biaya bunganya. Semakin teliti menghitung semua biaya, semakin Anda matang untuk menentukan keputusan. Semua biaya tambahan harus dibayarkan ketika rumah sudah di tangan. Namun, tidak untuk biaya pajak. Sebab pajak adalah kewajiban yang Anda bayarkan setiap tahunnya.

  1. Ceroboh Saat Membeli Properti

Siapa saja pernah bersikap ceroboh, termasuk saat membeli properti. Membeli properti secara langsung itu wajib hukumnya. Jika tidak, Anda tidak akan dapat melihat bagaimana kondisi sebenarnya dari properti tersebut. Ketika ingin melihat properti secara langsung, lakukan beberapa kali kunjungan pada waktu yang berbeda. Tujuannya untuk melihat kondisi bangunan. Apakah tetap sama walaupun waktunya berbeda atau berubah-ubah. Penting bagi Anda untuk teliti dalam melihat kondisi bangunan. Kalau tidak, Anda membutuhkan biaya tambahan untuk perbaikan rumah yang biayanya terbilang lumayan besar.

  1. Asal Beli Tanpa Membandingkan Harga

Harga properti yang satu berbeda dengan yang lainnya. Hal ini tergantung pada tipe dan lokasi bangunan tersebut. Jika berada di pusat kota, sudah pasti harganya mahal dan sebaliknya. Namun, Anda sering kali asal beli rumah tanpa membandingkan harga lebih dulu. Perlu Anda ketahui, harga yang ditawarkan satu developer berbeda dengan developer lainnya. Karena itu, Anda perlu melakukan sedikit pencarian untuk mendapatkan harga terbaik. Lagi pula, siapa yang tidak ingin punya rumah besar dan mewah dengan harga terjangkau?

  1. Tidak Menghiraukan Fasilitas yang Ditawarkan

Membeli rumah tentu saja berbeda dengan membeli apartemen. Untuk itu, Anda harus selalu memperhitungkan fasilitas apa yang akan diterima. Apakah akses gym gratis, kolam renang gratis, atau biaya parkir gratis. Semua fasilitas yang ditawarkan perlu diperjelas sebelum akhirnya membeli sebuah properti. Jika fasilitas yang ditawarkan lengkap, jangan heran apabila harga rumahnya mahal. Namun, kalau fasilitasnya biasa saja, jangan mau membelinya dengan harga yang tinggi. Sebab ini membuat Anda rugi secara finansial.

  1. Tidak Memperhitungkan Investasi pada Rumah Tersebut

Rumah bukan sekadar tempat tinggal. Sebab rumah juga dapat sebagai aset investasi yang menjanjikan. Sebelum memutuskan membeli rumah, coba perhitungkan berapa lama akan tinggal di rumah tersebut. Jika kurun waktunya kurang dari 5 tahun, lebih baik Anda mengontrak saja ketimbang membeli rumah. Tapi, kalau Anda tinggal untuk waktu yang cukup lama, lebih baik beli rumah.

      7. Lakukan Pertimbangan Matang Sebelum Membeli Rumah

Sebuah pertimbangan selalu dibutuhkan sebelum mengambil sebuah keputusan. Namun, alangkah baiknya bila pertimbangan tesebut dipikirkan secara matang. Dengan begitu, penyesalan dapat diminimalkan atau bahkan tidak terjadi di kemudian hari. (Cermati.com)

Advertisement

Property

Cara Membuat Sertifikat Tanah Gratis, Ini Syarat dan Prosedurnya

Published

on

By

Sertifikat Tanah wajib dimiliki setiap orang yang memiliki hak atas tanahnya. Lantas, bagaimana cara membuat sertifikat tanah secara lengkap? Yuk simak.

Ada dua cara membuat sertifikat tanah, yakni melalui notaris dan melalui program Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) milik Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Kementerian ATR.

Adapun, cara membuat sertifikat tanah lewat notaris membutuhkan biaya. Sementara, cara membuat sertifikat di BPN tak dipungut biaya alias gratis.

Berikut cara membuat sertifikat tanah gratis yang dirangkum detikcom:

1. Persyaratan

Langkah pertama cara membuat sertifikat tanah, yakni dengan menyiapkan dokumen. Hanya saja, dokumen untuk tanah negara dan tanah adat atau perorangan berbeda. Berikut rinciannya:

Dokumen untuk tanah negara:

1. KTP asli dan fotokopi yang sudah dilegalisir oleh pejabat yang berwenang,
2. Kartu Keluarga,
3. Bukti pembayaran pajak bumi bangunan (PBB) tahun berjalan,
4. Kartu kavling,
5. Advis planing,
6. Izin mendirikan bangunan (IMB),
7. Akta jual beli,
8. Surat Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
9. Pajak Penghasilan (PPH).

Sementara, kelengkapan dokumen untuk tanan girik milik adat yang mesti dipersiapkan adalah:

1. KTP asli dan fotokopi yang sudah dilegalisir oleh pejabat yang berwenang,
2. Kartu keluarga,
3. Bukti pembayaran pajak bumi bangunan (PBB) tahun berjalan,
4. Surat riwayat tanah,
5. Leter C atau girik,
6. Surat pernyataan tidak sengketa,
7. Akta jual beli,
8. Surat Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
9. Pajak Penghasilan (PPH).

2. Prosedur Pembuatan Sertifikat Tanah

Cara membuat sertifikat tanah selanjutnya, pemohon bisa mengikuti agenda penyuluhan dari petugas BPN di wilayah desa atau kelurahan. Selanjutnya, pemohon menjadi peserta dan petugas BPN akan mendata riwayat kepemilikan tanah.

Kemudian, petugas akan melakukan pengukuran dan meneliti batas kepemilikan lahan. Prosedur dilakukan bersama pemohon dengan menunjukkan letak, bentuk bidang, luas tanah, serta batas bidang tanah.

Setelah itu, dari cara membuat sertifikat tanah petugas akan meneliti data yuridis. Sedangkan anggota BPN yang lain akan mencatat sanggahan, kesimpulan, serta keterangan dari petugas desa.

Terakhir, pemohon harus menunggu selama 14 hari untuk mendapatkan pengumuman persetujuan pengajuan sertifikat tanah. Bila diterima, maka pemohon bisa menerima sertifikat yang akan dibagikan langsung oleh petugas BPN.

Continue Reading

Property

Waskita Karya Tbk Bukukan Nilai Kontrak Baru Rp 15 Triliun Pada September 2019

Published

on

Finroll.com — PT Waskita Karya Tbk (WSKT) membukukan nilai kontrak baru per September 2019 sebesar Rp 15 triliun. Dari perolehan tersebut, nilai kontrak terbesar berasal dari Tol Trans Sumatra sebesar Rp 5 triliun.

Shastia Hadiarti selaku Sekretaris Perusahaan PT Waskita Karya Tbk menjelaskan hingga akhir tahun perusahaan berharap bisa mencapai target nilai kontrak baru sekitar Rp 40 triliun hingga Rp 44 triliun.

Oleh karenanya, apabila target kontrak baru tercapai, maka Waskita mencatatkan pertumbuhan kontrak baru 62,96% dari tahun 2018 yang tercatat Rp 27 triliun.

Sebagai informasi saja, target kontrak baru Waskita sudah melalui penyesuaian dari target awal Rp 55 triliun menjadi Rp 44 triliun.

“Saat ini Waskita sedang mengikuti beberapa tender proyek di Kalimantan dan di luar negeri,” jelas Shastia yang dilansir dari Kontan.co.id, Selasa (15/10/2019).

Sementara Waskita menyebutkan beberapa proyek bisa mendorong perusahaan untuk mencapai target kontrak baru.

Antara lain pembangunan jalan tol 20%, pekerjaan sipil lain 21%, precast 17%, gedung 15%, LRT dan jalur kereta api 13%, energi dan transmisi 4%, bendungan 4% dan irigasi 1%.

Selain itu di lain sisi, per September 2019 Waskita telah menerima pembayaran proyek sebesar Rp 15 triliun.

Dana tersebut berasal dari pembayaran turnkey sekitar Rp 3 triliun dan proyek konvensional sekitar Rp 10 triliun.

“Salah satunya dari pembayaran proyek LRT Palembang sebesar Rp 2,3 triliun,” jelas dia.

Sepanjang 2019, Waskita menargetkan penerimaan pembayaran proyek sebesar Rp 40 triliun. Di mana sebesar Rp 26 triliun berasal dari proyek turnkey dan sebesar Rp 14 triliun berasal dari proyek konvensional. Dus, Waskita masih menunggu pencairan proyek Rp 35 triliun lagi.

“Perolehan dana tersebut akan digunakan untuk mendanai belanja modal tahun ini yang sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan jalan tol,” jelas Shastia.

Selain itu, dana tersebut juga akan digunakan untuk meningkatkan posisi rasio keuangan Waskita.

Sampai Juni 2019 serapan belanja modal Waskita tercatat sebesar Rp 8 triliun dari anggaran tahun ini sebesar Rp 22 triliun.(red)

Continue Reading

Property

Begini Awal Mula Terbongkarnya Mafia Tanah Triliunan Rupiah

Published

on

By

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) bersama Polri mengungkap keberadaan mafia tanah triliunan rupiah.

Direktur Jenderal Penanganan Masalah Agraria Pemanfaatan Ruang dan Tanah Raden Bagus Agus Widjayanto mengatakan, awal mula kasus mafia tanah terungkap pada tahun 2018. Pengungkapan ini berawal dari pengaduan seorang pemilik tanah.

Ia bercerita, bahwa ada seorang pemilik tanah tidak merasa menjadikan tanah tersebut sebagai jaminan utang.

“Berawal dari pengaduan pemilik tanah. Dia tidak pernah menjadikan tanahnya itu sebagai jaminan hutang, tiba-tiba kok itu menjadi jaminan utang. Itu ditagih ke pemilik tanah,” tutur Raden saat dihubungi detikcom, Sabtu (12/10/2019).

Raden bilang, bahwa oknum mafia tanah ini bekerja secara berkelompok dan sangat sistematis. Ada yang pura-pura menjadi calon pembeli tanah, hingga seorang notaris beserta kantornya yang diatur sedemikian rupa.

Awal kronologinya, ada pembeli palsu dari oknum mafia tersebut yang pura-pura membeli tanah dari pemiliknya. Kemudian, pembeli palsu tersebut memberikan uang muka agar si pemilik tanah tidak curiga.

Setelah itu, pemilik tanah diajak ke kantor notaris dengan membawa sertifikat tanah. Di sanalah sertifikat tanah tersebut dipalsukan oleh oknum mafia.

“Jadi ada orang yang menanyakan dia mau menjual tanah atau tidak, kemudian ada calon pembeli gitu kan, kemudian beri uang muka dibawa ke kantor notaris ya dia percaya kalau itu notaris. Ditinggal sertifikatnya, ternyata sertifikatnya dipalsu,” kata dia.

Diserahkan sertifikat aslinya ke pembeli tanah kemudian ini dijadikan jaminan dengan nilai yang lumayan besar,” kata Raden saat menjelaskan kronologinya.

Setelah di cek sertifikatnya di kantor pertanahan, barulah si pemilik tanah menyadari bahwa pembeli tanah miliknya adalah penipu. Hal itu dilihat dari kantor notaris yang tidak terdaftar.

“Notarisnya itu pura-pura, tidak terdaftar,” ungkap Raden.

Untuk diketahui, akibat kasus ini baik perusahaan maupun masyarakat umum yang menjadi korban mengalami kerugian hingga Rp 200 miliar

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending