Connect with us

Business

‘Jauh Panggang dari Api’ Realisasi 5 Janji Ekonomi Jokowi

Published

on


Joko Widodo (Jokowi) akan kembali dilantik menjadi Presiden Indonesia untuk periode kedua pada Minggu (20/10) mendatang. Segudang janji untuk mengerek laju ekonomi sudah diucapkan, mulai dari tiga kartu sakti hingga infrastruktur langit.

Sebelum membuka lembaran baru, tak ada salahnya melihat kembali realisasi dari target di bidang ekonomi yang telah dijanjikan Presiden ketujuh Indonesia itu pada periode pertama pemerintahannya. Hasilnya, pencapaian target masih jauh panggang dari api.

Pertumbuhan Ekonomi Tak Capai Target

Pada kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 lalu, Jokowi berjanji akan membawa Indonesia mencicipi pertumbuhan ekonomi di angka 7 persen. Bahkan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) menargetkan ekonomi mencapai 8 persen. Nyatanya, realisasi target masih di bawah harapan.

Tercatat, laju ekonomi Indonesia masih terjebak di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir, meski trennya cenderung meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekonomi hanya tumbuh 4,79 persen pada 2015, jauh di bawah target yang dipatok 5,7 persen kala itu.

Pada 2016, pertumbuhan ekonomi tercatat membaik ke posisi 5,02 persen. Kemudian, naik menjadi 5,07 persen di 2017 dan 5,17 persen di 2018. Sementara per semester I 2019, ekonomi berada di angka 5,06 persen atau lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi tahun ini, 5,3 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah sulit mewujudkan janji pertumbuhan ekonomi karena kondisi global berubah di tengah jalan. Misalnya, harga komoditas di pasar dunia tidak setinggi periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kala itu masih mampu membawa Indonesia menggenggam pertumbuhan ekonomi hingga kisaran 6 persen.

Lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba-tiba melakukan proteksi terhadap perdagangan dengan sejumlah negara. Bahkan, Trump tak segan memulai perang dagang dengan China.

Selain itu, berbagai konflik geopolitik turut memberi warna pada kondisi ekonomi global. Tak ketinggalan, kebijakan moneter berbagai bank sentral di dunia ikut memberi andil pada ekonomi global yang pada akhirnya berimbas ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Situasi internasional tidak kondusif. Kalau tidak kondusif, yang terjadi negara emerging market dirugikan seperti tahun lalu,” ujar Darmin, beberapa waktu lalu.

Setumpuk masalah itu kemudian membuat ekonomi Tanah Air sulit melaju. Dampak utamanya langsung terasa ke kinerja ekspor dan investasi.

Padahal, kedua indikator itu justru ingin pemerintah tingkatkan agar konsumsi rumah tangga tak ‘kelelahan’ menopang perekonomian. Hasilnya, ketika impor meningkat, ekspor melempem, dan minim devisa masuk ke dalam negeri, maka neraca pembayaran dan transaksi berjalan jadi bermasalah.

“Kami semua tahu, di bidang perdagangan internasional, indikator neraca pembayaran saya kira menjadi titik lemah yang utama,” ucapnya.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan Jokowi gagal mewujudkan janjinya karena kebijakan reformasi struktural dan perencanaan pembangunan tidak dijalankan dengan benar. Misalnya, pembangunan infrastruktur hanya dirancang dengan masif tanpa perhitungan keekonomian yang jelas.

Hasilnya, tak jarang infrastruktur yang telah dibangun justru tidak memberi dampak ekonomi yang besar kepada Indonesia. Padahal, ketika kondisi ekonomi global tidak cukup mendukung, pemerintah seharusnya bisa melakukan pembangunan dengan realistis yang memberikan dampak ke pertumbuhan dengan cepat.

Begitu pula dengan pelaksanaan kebijakan reformasi struktural melalui penerbitan 16 paket kebijakan yang berisi soal deregulasi perizinan. “Paket kebijakan tidak dimonitor dan dievaluasi agar benar-benar efektif. Sementara kebijakan yang bisa dengan cepat memacu konsumsi dan investasi sebagai mesin utama pertumbuhan tidak banyak dilakukan,” tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah masih belum bisa benar-benar menjaga daya beli masyarakat, sehingga pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya bertahan di kisaran 5 persen. Padahal, suka tidak suka, Indonesia masih harus bergantung pada indikator tersebut. Untungnya, inflasi mampu dijaga rendah di kisaran 3 hingga 4 persen.

“Konsumsi rumah tangga seharusnya minimal 6 persen dan investasi sekitar 8 persen. Tapi konsumsi masih di kisaran 5 persen dan investasi justru menurun. Akibatnya, pertumbuhan tidak mencapai target,” ungkapnya.

Daya Saing Merosot

Jokowi sejatinya tidak memiliki target khusus dalam hal peringkat daya saing. Namun, ia ingin Indonesia memiliki daya saing yang tak kalah dari negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Hanya saja, peringkat daya saing Indonesia masih tertinggal, khususnya dengan Singapura dan Malaysia. Singapura bahkan berhasil berada di puncak peringkat negara paling berdaya saing pada tahun ini versi World Economic Forum (WEF).

Sementara, prestasi Indonesia justru turun naik. Ibu Pertiwi berada di peringkat ke-37 pada 2015, lalu turun ke-41 pada 2016. Kemudian naik ke posisi 36 pada 2017. Namun, turun lagi ke posisi 45 pada 2018 dan merosot ke peringkat 50 pada 2019.

Darmin berkilah dan menyatakan pemerintah sebenarnya sudah berhasil melakukan berbagai perbaikan pada indikator daya saing Indonesia. Misalnya, reformasi kebijakan secara struktural melalui percepatan izin investasi dengan sistem perizinan yang terintegrasi dalam jaringan (Online Single Submission/OSS).

Selain itu, melalui berbagai penyederhanaan izin, syarat, prosedur, hingga penghapusan kriteria khusus ketika dunia usaha ingin melakukan kegiatan investasi dan perdagangan. Bahkan, saat ini pemerintah tengah menyiapkan penyatuan undang-undang alias omnibus law untuk kian meningkatkan percepatan perizinan.

Sayangnya, kata Darmin, Indonesia kalah cepat dari negara-negara tetangga, sehingga peringkat daya saing cenderung turun. Di sisi lain, di saat peringkat daya saing Indonesia merosot, peringkat daya saing Vietnam tahun ini berhasil melompat 10 peringkat dari posisi 77 ke 67.

Ekonom Senior Faisal Basri menilai peringkat daya saing Indonesia wajar turun karena minimnya perbaikan yang dilakukan pemerintah. Hal ini tercermin dari beberapa indikator penilaian daya saing yang memang rendah.

Misalnya, indikator kemampuan inovasi hanya mendapat skor 37,7. Lalu, indikator transparansi hanya mendapat skor 38. Begitu pula dengan indikator pasar tenaga kerja, adopsi informatika, komputer, dan teknologi, produk pasar, hingga institusi cukup rendah.

Artinya, kata Faisal, penurunan peringkat daya saing tak semata-mata karena negara lain berhasil melaju lebih cepat dan tinggi. Toh, Indonesia seharusnya bisa mengantisipasi cepatnya langkah para negara tetangga.

Dari kondisi ini, Faisal pun memberi ‘lampu kuning’ kepada pemerintah agar segera melakukan perbaikan. Sebab bila tidak, Indonesia bisa saja disalip Vietnam.

“Perbaikan di Indonesia perlu diakselerasikan agar tidak disusul oleh Vietnam yang belakangan ini menunjukkan perbaikan pesat di berbagai bidang,” tuturnya.

Investasi

10 Tahun Bakar Uang, Startup Unicorn RI yang Mulai Kejar Profit

Published

on

By

Finroll.com, Jakarta – Startup unicorn Indonesia tak bisa selamanya membakar uang investor dengan memberikan diskon dan cashback. Pasalnya, investor pasti mengharapkan dana investasinya menghasilkan keuntungan.

Salah satu startup unicorn Indonesia yang akan fokus mengejar profitabilitas adalah e-commerce Bukalapak. Pada tahun ke-10 ini Bukalapak ingin menjadi e-commerce unicorn pertama yang meraih break even point (BEP) atau bahkan keuntungan dalam waktu dekat.

“Hingga saat ini, Bukalapak sudah memiliki modal yang cukup dari para pemegang saham untuk meraih EBITDA positif, tentunya apabila semua rencana dan program berjalan lancar tanpa halangan,” ujar Bukalapak dalam keterangan resminya seperti dikutip Kamis (14/11/2019).

Bukalapak menambahkan menjadi perusahaan e-dagang yang menghasilkan keuntungan (financially sustainable ecommerce) penting bagi Bukalapak yang memasuki tahun ke-10 dan siap menghasilkan kenaikan dalam monetisasi produk/program serta memperkuat profitabilitas.

“Laba kotor Bukalapak di pertengahan 2019 juga naik 3 kali lipat dibandingkan pertengahan 2018 dan berhasil mengurangi setengah kerugian dari EBITDA selama 8 bulan terakhir ini,” jelasnya.

Tokopedia juga akan mengejar profitabilitas tahun depan setelah 10 tahun beroperasi laporan keuangannya merah alias rugi.

“Secara komitmen tahun depan kita sudah profitable. Menghadapi persaingan apapun ayo. Strateginya tahun depan harus profit,” William seperti dikutip dari CNNIndonesia.

William menekankan, persaingan yang harus dilakukan yakni dengan inovasi. Bukan hanya dengan bakar uang.

“Beberapa tahun lalu dengan lebih kecil kita berhadapan dengan eBay dan Rakuten. Kini kita punya uang lebih tapi persaingan sekarang berhadapan dengan Amazon yang punya modal setara ekonomi Indonesia. Jadi Tidak pernah ada habisnya kalau kita melakukan persaingan uang. Tapi harus dengan persaingan inovasi,” jelasnya.

Asal tahu saja, unicorn merupakan predikat bagi startup yang memiliki valuasi di atas US$1 miliar. Manajemen Bukalapak mengklaim sekarang memiliki valuasi US$2,5 miliar setelah disuntik sekelompok investor yang dipimpin Shinhan Financial. Adapun menurut CB Insights, valuasi Tokopedia mencapai US$7 miliar.
Sumber Berita : CNBCIndonesia.com
Continue Reading

Business

iSeller – ASRI Permudah Pembayaran Dengan Digital Payment Poin of Sale (POS)

Published

on

Finroll.com — iSeller, platform bisnis digital berbasis omni-channel pertama di Indonesia, kerjasama dengan Agung Sedayu Retail Indonesia (ASRI), menyediakan layanan pembayaran dengan sistem digital payment Point of Sale (POS), serta untuk memberikan solusi point of sale dan pembayaran digital yang komprehensif bagi pelaku usaha di mall.

Selain POS, iSeller juga menyediakan teknologi dan inovasi terbaru untuk Agung Sedayu Group, salah satunya adalah digital payment yang sudah komplit.

“Digital payment iSeller sudah berkerja sama dengan Gopay, OVO dan Dana. iSeller juga sudah meluounching POS yang sudah terintegrasi dengan banyak partner sehingga iSeller menjadi One stop solution, yaitu memudahkan para merchant untuk mengembangkan bisnisnya,” ungkap Jimmy Petrus selaku CEO dari iSeller dalam pameran International, SIAL InterFood 2019 du Jiexpo Kemayoran Jakarta Kamis (14/11/2019).

Jimmy menjelaskan, iSeller sangat excited bekerjasama dengan ASRI, Visi kami membuat pengalaman bertransaksi semakin mudah dan simpel, yang tadinya butuh beberapa perangkat sekarang hanya perlu satuperangkat saja.

Kami juga sudah terhubung dengan berbagai top platform SaaS untuk memberikan solusi end-to-end kepada business owner, mulai dari accounting, payroll, CRM, hingga sistem loyalty.

Beberapa pemain retail besar yang sudah onboard ke iSeller termasuk PasarMOI, Dotonburi, Ixobox, Sour Sally, Mama Roz, Yogurtland, FoodHub, dan HopHop, dengan total lebih dari ribuan outlet,” jelas Jimmy.

ASRI sebagai salah satu group property dari retail yang mengelola beberapa mall di jakarta maupun diluar Jakarta, fokus terhadap perkembangan teknologi dalam disert experiant segala mall.

“Kerjasama dengan iSeller merupakan langkah strategis kami menuju transformasi digital yang tentunya akan memberikan kemudahan, kenyamanan, dan user experience yang lebih baik lagi bagi pengunjung mall ASRI,” ujar Senior Marcomm Manager ASRI, Lady Samantha.

Tahap pertama dari kerjasama ini lanjut Lady, iSeller telah dipakai di 40 tenant PasarMOI yang merupakan flagship foodcourt dari Mall of Indonesia. Selain itu, tenant bazaar dan program event yang berjalan di seluruh mall ASRI juga telah merasakan manfaat dan kemudahan yang diberikan iSeller, seperti penerimaan pembayaran digital dari raksasa fintech seperti GoPay, OVO, dan DANA,” lanjutnya.

Sistem multi-payment dari iSeller sangat mudah digunakan dengan konsep pembayaran digital yang sudah terintegrasi dengan baik. Tenant juga merasa lebih nyaman karena tidak perlu lagi menggunakan berbagai macam EDC untuk pembayaran yang berbeda-beda”, tambah Lady.

Dalam waktu dekat, ASRI berencana mengimplementasi sistem iSeller di seluruh tenant dan mall ASRI secara bertahap.

Lady berharap, kerjasama ini dapat memberikan sebuah experience kepada costumer yang mengutamakan kenyamanan dengan sentuhan teknologi. Kami yakin berkolaborasi dengan iSeller dapat sama – sama mencapai harapan yang diinginkan,” harapnya.

Sementara Kevin Ventura, CCO iSeller menambahkan, pertumbuhan akusisi merchant kami di kuartal tiga tahun ini cukup fantastis, yaitu peningkatan hampir 300% year-on-year. Kami juga telah memproses lebih dari 10 juta transaksi dan saat ini merupakan top contributor untuk kategori digital payment,” tambahnya.

Dalam proses pengembangannya iSeller yang juga kerap disebut “Shopify of Indonesia” ini telah menjalin kerjasama dengan berbagai platform SaaS terkemuka untuk memberikan satu sistem komprehensif bagi pelaku usaha di berbagai lini.

Kevin berharap semoga para merchant sudah mulai terbuka bahwa pentingnya masuk era digitalisasi industri 4.0. untuk inves sistem agar bisnisnya bisa makin berkembang dan makin besar dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,” tutup Kevin.(red)

Continue Reading

Makro Ekonomi

BTP Akan Terima Gaji Rp.3.2M Jika Jadi Bos Pertamina

Published

on

Jakarta – Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dikabarkan akan duduk sebagai pejabat tinggi di pelat merah raksasa RI. Kabar paling kuat sampai saat ini, Ahok diperkirakan akan menjadi komisaris utama atau bahkan direktur utama di PT Pertamina (Persero).

Belum ada keterangan eksplisit dari Menteri BUMN Erick Thohir maupun Presiden Joko Widodo soal BUMN yang akan dikawal oleh Ahok. Namun keduanya kompak dan memastikan bahwa Ahok pasti akan ditunjuk untuk memberesi salah satu BUMN strategis.

“Kita harapkan ada perwakilan yang memang punya track record pendobrak. Untuk mempercepat dari pada hal-hal yang sesuai diarahkan, yaitu satu bagaimana menekan daripada energi juga bersama membuka lapangan kerja dengan cara berpartner.”

Soal apakah itu tanda Ahok akan ditempatkan di sektor energi, Erick menjawab, “Belum tahu, nanti kita lihat.”

Ahok dipastikan akan bergabung ke BUMN pada Desember mendatang, jika benar akan masuk Pertamina. Berikut adalah kisaran gaji dan tunjangan yang akan diterima Ahok.

Mengutip laporan keuangan Pertamina untuk kinerja 2018, dapat diintip besaran gaji yang diberikan perusahaan migas terbesar ini ke jajaran direksi dan komisarisnya.

Dalam laporan keuangan tertulis kompensasi untuk manajemen yang berupa gaji dan imbalannya mencapai US$ 47,23 juta atau setara Rp 661 miliar dengan kurs atau nilai tukar saat ini.

Namun, besaran gaji direksi dan komisaris berbeda. Untuk gaji Direktur Utama ditetapkan dengan menggunakan pedoman internal yang ditetapkan oleh Menteri BUMN selaku RUPS PT Pertamina (Persero).

Sementara, gaji anggota Direksi lainnya ditetapkan dengan komposisi Faktor Jabatan, yaitu sebesar 85% dari gaji Direktur Utama. Honorarium Komisaris Utama adalah sebesar 45% dari gaji Direktur Utama. Honorarium Wakil Komisaris Utama adalah sebesar 42,5% dari Direktur Utama. Honorarium Anggota Dewan Komisaris adalah 90% dari honorarium Komisaris Utama.

Direksi dan komisaris Pertamina juga menerima tunjangan. Untuk direksi, tunjangan yang diterima meliputi tunjangan hari raya, tunjangan perumahan, dan asuransi purna jabatan.

Sedangkan untuk Dewan Komisaris, tunjangan yang diterima meliputi tunjangan hari raya, tunjangan transportasi, dan asuransi purna jabatan.

Terdapat juga fasilitas seperti fasilitas kendaraan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas bantuan hukum untuk direksi. Sedangkan untuk dewa komisaris adalah fasilitas kesehatan dan bantuan hukum.

Adapun susunan direksi Pertamina saat ini adalah 11 orang, sementara untuk komisaris di 2018 mencapai 6 orang. Artinya jika dibagi rata ke 17 orang, masing-masing bisa mengantongi hingga Rp 38 miliar setahun atau Rp 3,2 miliar per bulan!

Sumber Berita : CNBCIndonesia.com

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending