Connect with us

MotoGP

Jorge Lorenzo Mengakui Sebuah Kesalahan Tinggalkan Yamaha Tahun 2016

Published

on


Pembalap Repsol Honda, Jorge Lorenzo, memutuskan pensiun dan menjalani balapan terakhirnya di MotoGP yang berlangsung di Sirkuit Ricardo Tormo, Minggu (17/11/2019) malam WIB. (AFP/PIERRE-PHILIPPE MARCOU)

Finroll.com, Jakarta – Jorge Lorenzo adalah seorang juara dunia MotoGP tiga kali yang merasakan semua titel ketika mengendarai motor Yamaha YZR-M1.

Namun usai juara tahun 2010, 2012, dan 2015, Lorenzo membuat kejutan besar dengan meninggalkan Yamaha penghujung musim 2016 dan memilih Ducati pada MotoGP 2017.

Dua musim di Ducati, Lorenzo bisa dibilang gagal lantaran hanya merasakan tiga kemenangan dengan hasil terbaik hanya finis ketujuh di klasemen.

Urung merasakan titel juara dunia bersama Ducati, Lorenzo pun hengkang ke Repsol Honda musim 2019. Kali ini, ia bahkan gagal untuk sekadar merasakan finis 10 besar.

Muaranya ia pensiun penghujung MotoGP 2019 dan awal tahun ini, ia menerima tawaran Yamaha sebagai test rider atau pembalap penguji.

Menyesal Tinggalkan Yamaha

Keberadana Jorge Lorenzo sebagai pembalap penguji Yamaha akan membantu Maverick Vinales dan Valentino Rossi (Twitter/Yamaha)

Usai menuntaskan tugasnya sebagai pembalap penguji Yamaha pada sesi tes pramusim di Sirkuit Sepang, Malaysia, Minggu (09/02) lalu, Jorge Lorenzo pun kembali menceritakan penyesalan meninggalkan Yamaha pada tahun 2016.

“Saya bukan tipe orang yang mengeluhkan soal keputusan yang telah dibuat pada masa lalu. Karena hidup tapa kesalahan hampir tidak mungkin,” jawab Lorenzo ketika ditanya apakah menyesal meninggalkan Yamaha.

“Kami harus membuat keputusan. Persentasenya 50 persen bisa berhasil dan sisanya sebuah kesalahan,” tambahnya.

Lorenzo pun menegaskan meski gagal merasakan titel juara dunia bersama Honda dan Ducati, pengalamannya berlomba untuk dua pabrikan itu tetap meninggalkan kesan baik.

“Pengalaman bersama Ducati sangat intens dan bersama Honda tidak berjalan baik. Tapi kami masih membuat beberapa momen baik,” tegas Lorenzo.(bola.com)

Sumber: gpone.com

MotoGP

Marquez Bukan Bintang MotoGP

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Bos Honda, Alberto Puig menilai sosok Marc Marquez tak layak disebut bintang di MotoGP karena lebih cocok sebagai anti-hero.

Puig menganggap sosok Marquez tidak menyerupai sosok bintang-bintang MotoGP. Puig menganggap Marquez hanya seorang yang punya hasrat besar setiap memacu motor di lintasan.

“Dia adalah pria biasa yang kemudian berubah seperti binatang ketika memacu motor. Sesederhana itu.”

“Marquez adalah anti-hero. Dia bukan super star, namun orang biasa yang bersikap normal kepada lainnya. Dia bukan bintang, namun ketika balapan, ia berubah jadi binatang,” kata Puig dikutip dari Tuttomotoriweb.

Bos Honda: Marquez Bukan Bintang MotoGPMarc Marquez sudah mengoleksi enam gelar juara dunia MotoGP. ( CNN Indonesia/Haryanto Tri Wibowo)
Anti hero adalah sebutan yang disematkan pada sosok tokoh utama dalam cerita yang tidak sepenuhnya memiliki ciri-ciri yang biasanya hadir dalam sosok pahlawan.

Puig juga tak lupa menekankan sukses Marquez di dunia MotoGP tak lepas dari dukungan lingkungan sekitar yang membuat Marquez bisa menarik seluruh potensi yang ada dalam dirinya.

“Tentu saja semua juga berkat kerja orang-orang di sekitarnya, para mekanik, manajer tim, pelath, dan bahkan Honda juga mendapat keuntungan dari hal itu.”

“Kami tahu bahwa kami bekerja dengan salah satu pebalap terbaik di dunia jadi kami harus berusaha tampil maksimal,” kata Puig.
Bos Honda: Marquez Bukan Bintang MotoGP
Marc Marquez memang jadi sorotan utama di MotoGP saat ini. Sejak naik kelas ke MotoGP pada 2013, Marquez sudah berhasil sudah berhasil enam kali juara dunia di kelas elite balap motor.

Satu-satunya kegagalan Marquez jadi juara dunia adalah pada MotoGP 2015 saat Jorge Lorenzo memenangkan persaingan lawan Valentino Rossi di seri terakhir balapan di Valencia.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

MotoGP

Rossi Disebut Bakal Kepayahan di MotoGP 2020

Published

on

By

Valentino Rossi disebut bakal kepayahan menjalani MotoGP 2020 bahkan bila seri musim ini dipangkas lebih singkat.

Rossi bakal menjalani MotoGP 2020 sebagai musim penentuan kelanjutan kariernya di dunia balap motor. Bila bisa tampil kompetitif, Rossi dinilai bakal memilih melanjutkan karier meskipun musim depan sudah tak lagi di tim pabrikan Yamaha.

Namun manajer Avintia, Ruben Xaus menganggap Rossi bakal kesulitan menjalani MotoGP 2020 yang bakal berlangsung lebih padat di paruh akhir tahun 2020 meski jumlah seri kemungkinan bakal berkurang.

“Berbicara dari sudut pandang DNA, setiap tahun berlalu, tentu Rossi bertambah tua, seperti saya. Saya bisa dalam kondisi bagus namun ketika saya berlatih, saya butuh dua hari untuk pemulihan. Sedangkan 20 tahun lalu, saya bisa berlatih tiga kali sehari, tujuh hari seminggu, dan 365 hari setahun tanpa pernah menyadari itu.”

“Meski Rossi fit, dia bakal mengalami kesulitan. Saya bukan meremehkan Rossi karena dia tetap mampu melakukan hal yang tidak bisa saya lakukan, namun saya merasa Rossi bakal lebih kesulitan tahun ini,” ucap Xaus seperti dikutip dari Tuttomotoriweb.

MotoGP 2020 belum bisa dimulai sebagai bentuk pencegahan penyebaran pandemi Corona. Sejumlah seri telah dijadwal ulang ke akhir tahun sedangkan sejumlah seri lainnya terancam batal. Kondisi tersebut membuat MotoGP 2020 terancam hanya berlangsung selama beberapa seri namun dengan jadwal yang lebih padat.

“Bahkan pada tahun lalu dengan dua seri beruntun, Rossi terlihat lebih lelah di seri kedua. Bila ada tiga seri setiap bulan selama empat bulan, saya rasa itu akan berat.”

“Saya tak tahu bagaimana Rossi bakal menghadapi hal itu namun musim ini bakal jadi musim yang sangat menguras fisik,” kata Xaus.

Xaus menganggap pebalap-pebalap muda bakal lebih diuntungkan bila jadwal MotoGP 2020 berlangsung padat.
Rossi Disebut Bakal Kepayahan di MotoGP 2020

“Marquez adalah favorit bersama Quartararo. Vinales juga bakal tampil kuat. Menarik untuk melihat seorang pebalap bisa bangkit setelah tampil buruk di seri pekan sebelumnya. Marquez dan Quartararo selalu jadi pebalap yang bisa bangkit dengan cepat, mereka adalah yang terkuat,” tutur Xaus. (CNNINDONESIA)

Continue Reading

E-Sports

Hadapi MotoGP eSport 2020, Yamaha Perpanjang Kontrak Lorenzo Daretti

Published

on

By

Monster Energy Yamaha MotoGP salah satu tim pabrikan papan atas kelas tertinggi Kejuaraan Dunia Balap Motor menunjukkan keseriusan untuk tampil kompetitif di ajang MotoGP eSport Championship 2020.

FINROLL.COM — Pasalnya Yamaha telah mengumumkan perpanjangan kontrak gamer andalan mereka, Lorenzo Daretti. Untuk diketahui, Daretti adalah juara dunia MotoGP eSport sebanyak dua kali.

Dia merasakan gelar juara dunia pada edisi 2017 dan 2018. Sayangnya musim lalu, ia hanya jadi runner-up. Namun gamer dengan nama Trastevere73 atau Trast73 kembali membuktikan sebagai salah satu pemain yang konsisten.

Dia hanya kalah dua poin dari juara dunia eSport MotoGP 2019 dan Trast73 berstatus sebagai runner-up kompetisi.

Gamer berusia 20 tahun ini tentu memiliki target besar untuk kembali jadi juara dunia MotoGP eSport 2020 dengan statusnya sebagai ‘gamer’ tim pabrikan.

“Saya sangat senang mengetahuinya, bahwa tahun 2020, saya akan kembali memperkuat Yamaha. Tim ini sudah seperti keluarga buat saya,” kata Lorenzo.

Profesionalisme

Dalam keterangan resminya, Lin Jarvis selaku Managing Director Yamaha Motor Racing membeberkan alasannya memperpanjang kontrak Lorenzo.

Menurutnya sosok Lorenzo menunjukkan profesionalisme sepanjang musim 2019. Jarvis juga memuji gamer ini sebagai sosok yang memiliki talenta spesial.

“Dia juga menunjukkan hasrat besar terkait eSport dan balap motor secara keseluruhan. Ini sangat mewakili brand Yamaha,” Jarvis menerangkan.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending