Connect with us

Ekonomi Global

Kabar Baik dari Barat, Trump Tunda Tarif China 15 Desember!

Published

on


Jakarta –  Presiden Amerika Serikat dikabarkan sudah menekan persetujuan yang menunda pemberlakuan tarif 15 Desember barang impor China.

“Kesepakatan tersebut dipresentasikan penasehat keuangan pada Kamis (12/12/2019),” tulis BloombergNews dalam laporannya mengutip seorang sumber anonim.

Selain menunda tarif, perjanjian itu juga berisi pembelian barang pertanian AS oleh China.

“Term-nya sudah disetujui tetapi teks secara legal belum difinalisasi,” tulis media ini lagi.

Hal yang sama juga dikabarkan Reuters.

“Perjanjian tertulis sedang proses formulasi, tetapi mereka (AS-China) sudah mencapai kesepakatan secara prinsip,” kata sumber media itu.

Setidaknya ada dua poin penting yang disetujui, yakni penangguhan tarif 15 Desember dan memotong tarif yang sudah berlaku pada barang China hingga 50%.

“Ini merupakan upaya untuk mengamankan kesepakatan perdagangan Fase I,” tulis Reuters mengutip dua orang sumber yang akrab dengan pembahasan negosiasi.

Namun sayangnya belum ada konfirmasi lebih lanjut dari Gedung Putih soal ini.

Perang dagang antara AS dan China sudah terjadi selama 17 bulan. Serangan tarif dilancarkan baik Washington maupun Beijing.

Di 15 Desember, AS akan menerapkan tarif pada US$ 160 miliar impor barang China, mulai dari barang elektronik seperti laptop, hp bahkan video game.

Sebelumnya di Oktober, keduanya sepakat melakukan perdamaian parsial dengan membuat kesepakatan Fase I.

Namun sayangnya hingga kini belum ada pertemuan resmi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Sementara itu, Wall Street menghijau seiring dengan semakin optimisnya ending perang dagang kedua negara.

Ini muncul setelah Trump menuliskan bahwa AS dan China sudah sangat dekat dengan kata sepakat di Twitter pribadinya @realDonaldTrump.

“SANGAT dekat dengan KESEPAKATAN BESAR dengan China. Mereka menginginkannya, dan kita pun begitu!,” tulisnya.

Indeks Dow Jones naik 0,7% ke level 28.116,48. Sementara S& 500 dan Nasdaq, naik masing-masing 0,6% ke level 3.160,35 dan 8.701,82.

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

Ekonomi Global

Mengapa sejumlah negara menolak peralatan medis buatan China untuk penanganan Covid-19?

Ribuan alat uji dan masker medis buatan China memiliki kualitas di bawah standar, menurut pemerintah Spanyol, Turki dan Belanda.

Published

on

Ratusan ribu kasus virus corona dilaporkan terjadi Eropa.

Lebih dari 10.000 orang meninggal dunia di Italia sejak wabah terjadi.

Virus Covid-19 ini pertama kali dideteksi di China pada akhir tahun 2019. Pemerintah menerapkan langkah ‘lockdown’ atau karantina wilayah ketat untuk mengontrolnya.

Pada hari Sabtu (28/03) kementerian kesehatan Belanda mengumumkan penarikan 600 ribu masker wajah. Peralatan buatan China tersebut tiba pada tanggal 21 Maret lalu dan telah dibagikan ke tim medis garda terdepan.

Para pejabat Belanda mengatakan masker-masker tersebut tidak pas dan penyaringnya tidak bekerja dengan baik, meskipun telah memiliki sertifikasi kualitas.

“Sisa pengiriman barang segera dihentikan sementara dan tidak didistribusikan,” demikian dinyatakan pemerintah Belanda. “Sekarang telah diputuskan untuk tidak memakainya sama sekali.”

Pemerintah Spanyol menghadapi sejumlah masalah yang sama terkait dengan perangkat pengujian yang dipesan dari sebuah perusahaan China.

Spanyol menyatakan telah membeli ratusan ribu perangkat untuk mengatasi virus, tetapi mengungkapkan beberapa hari kemudian bahwa hampir 60.000 buah tidak bisa dipakai dalam memastikan apakah seseorang terkena Covid 19.

Kedutaan besar China di Spanyol lewat cuitannya menyatakan perusahaan di balik alat uji ini, Shenzhen Bioeasy Biotechnology, tidak memiliki izin resmi dari pihak kesehatan China untuk menjual produknya.

Sejumlah negara Eropa menolak peralatan buatan China yang dirancang untuk mengatasi wabah virus corona.

Continue Reading

Ekonomi Global

Bank Dunia Estimasi Pertumbuhan Asia Pasifik Bisa Anjok 0,5-3,5%

Published

on

Bank Dunia menyatakan pandemi Corona atau Covid-19 bakal memukul perekonomian Asia Timur dan Pasifik.
Bank Dunia menyatakan pandemi Corona atau Covid-19 bakal memukul perekonomian Asia Timur dan Pasifik. Estimasi pertumbuhan ekonomi regional Asia Timur dan Pasifik atau East Asia and Pacific (EAP) bakal anjlok di kisaran 2,1 persen dalam skenario normal atau baseline. Nilainya juga diperkirakan masih bisa lebih buruk hingga serendah minus 0,5 persen di tahun 2020.
Dengan demikian estimasinya semakin jauh di bawah capaian tahun 2019 yang tumbuh 5,8 persen. Di China sebagai tempat pandemi Corona bermula diestimasikan pertumbuhan ekonomi negara itu melambat di angka 1,3 persen sebagai baseline melambat dari pertumbuhan 2019 di angka 6,1 persen. Nilai itu masih bisa turun lagi dengan menyisakan pertumbuhan ekonomi Cina di angka 0,1 persen di tahun 2020.
Bagi negara EAP di luar Cina, Bank Dunia mengestimasi mereka akan melambat hingga angka 1,3 persen sebagai baseline dari pertumbuhan tahun 2019 di angka 4,7 persen. Kemungkinan terburuknya pertumbuhan ekonomi negara EAP selain Cina kontraksi atau minus 2,9 persen di tahun 2020. “Pertumbuhan ini diperkirakan akan pulih secara bertahap di tahun 2021 ketika efek virus telah diatasi,” ucap laporan Bank Dunia yang dikutip, Selasa (31/3/2020).
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Estimasi Bank Dunia bagi Indonesia masih akan tumbuh 2,1 persen dengan skenario baseline. Kemungkinan terburuknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa kontraksi di angka minus 3,5 persen. Dengan demikian jauh melambat dari capaian tahun 2019 di angka 5 persen.
Namun, skenario yang dimiliki Indonesia bisa jadi lebih baik dari estimasi bagi Malaysia yang memiliki baseline minus 0,1 persen dan terburuk di angka minus 4,6 persen. Lalu Thailand yang baseline-nya minus 3 persen dan skenario terburuk minus 5 persen. Bank Dunia pun mengingatkan agar keadaan ini harus cepat diatasi.
Lembaga itu merekomendasikan agar negara di EAP berinvestasi lebih pada sistem Kesehatan mereka. Lalu yang tidak kalah penting menerbitkan kebijakan fiscal terukur sperti subsidi bagi yang sakit dan biaya perawatan. Bank Dunia memperkirakan untuk estimasi pertumbuhan sesuai baseline saja, akan ada 24 juta orang lebih sedikit di regional EAP yang mampu keluar dari kemiskinan.
Jika keadaan berlarut-larut dan menyentuh skenario terburuk, maka kemiskinan di EAP dapat meningkat 11 juta orang. Di luar itu, Bank Dunia menyarankan agar tiap negara membuka seluas-luasnya Kerjasama internasional.
Terutama dalam menjaga pasokan alat Kesehatan dan menjaga stabilitas sektor keuangan selama krisis. Lalu yang tidak kalah penting Bank Dunia berpesan agar negara menjaga likuditas perusahaan agar dapat bertahan dan tetap membuka akses kredit demi menjaga konsumsi selama pandemi.
Sumber berita : Tirto.id
Continue Reading

Ekonomi Global

Perang Minyak : Trump Sebut Rusia & Arab Saudi Gila

Published

on

By

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut perang minyak yang terjadi sekarang memukul AS. Bahkan ia tak segan menyebut Rusia dan Arab Saudi gila karena pertarungan minyak yang dilakukan keduanya.

FINROLL.COM — Dalam wawancara dengan Fox, Trump mengatakan keberatannya atas perang harga minyak Rusia dan Arab Saudi. “Benar-benar melukai industri energi AS,” tegasnya dikutip dari AFP, Selasa (31/3/2020).

“Ini adalah pertarungan antara Arab Saudi dan Rusia … dan mereka berdua menjadi gila,” kata Trump lagi.

Meski demikian, selang beberapa waktu setelahnya Trump pun dikabarkan menelepon langsung Presiden Rusia Vladimir Putin. Dalam perbincangan itu, keduanya membahas beberapa hal, di antaranya soal harga minyak.

Dalam pernyataan pers, Gedung Putih menyampaikan pentingnya stabilitas harga minyak di pasar energi global. Trump juga mengatakan akan mengkaji sanksi yang sebelumnya diberikan ke Rusia, yang sebelumnya diberikan pada sejumlah perusahaan asal negeri Beruang Putih itu.

Sementara itu, perang harga minyak antara Rusia dan Arab Saudi diperkirakan masih akan berlangsung lama. Mengutip dari AFP, Arab Saudi mengumumkan bakal menggenjot ekspor minyak mereka menjadi 10,6 juta barel sehari mulai Mei mendatang.

“Pihak kerajaan berencana menaikkan ekspor minyak sebanyak 600 ribu barel sehari mulai Mei, sehingga total ekspor menjadi 10,6 juta barel sehari,” ujar seorang pejabat kementerian Arab Saudi.

Hal ini menunjukkan Arab Saudi bakal menjadi eksportir minyak teratas karena tak setop menggenjot ekspor mereka yang semula berlaku di April, lalu ditambah lagi untuk Mei.

Total tambahan sejak mereka mengumumkan rencana tersebut kini menjadi 3,6 juta barel sehari. Angka yang sangat signifikan mengingat kondisi pasar global saat ini dan turunnya harga minyak dunia.

Harga minyak tengah menghadapi ujian. Mengutip dari Reuters, harga minyak dunia kini berada di level terendahnya sejak 2002 lalu.

Merosot hampir 8%, dipicu oleh kebijakan shutdown atau lockdown beberapa negara. Di mana kebijakan ini diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Minyak Brent kini berada di level US$ 22,5 per barel atau merosot 65% dalam setahun ini. Turunnya harga minyak ini pun menghantam beberapa mata uang negara seperti rubel Rusia, peso Meksiko, dan rupiah Indonesia sampai 2%.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending