Connect with us

Business

Kantar Brand Footprint : Mie Instan Jadi Merek Terlaris Di Indonesia

Published

on


Keterangan foto : Jejeran mie instan di supermarket

 

Finroll.com – Perusahaan konsultan data bernama Kantar merilis daftar merek terlaris di Indonesia lewat Brand Footprint 2019. Hasil riset itu dirangkum dalam 10 merek terlaris, sejak tujuh tahun terakhir hingga tahun ini, Indomie masih menduduki tingkat pertama.

 

Direktur Pemasaran Kantar Indonesia, Fanny Murhayati mengatakan, riset ini merupakan tolak ukur kekuatan merek Fast Moving Consumer Goods (FMCG) sebagai merek yang paling dipilih oleh konsumen di seluruh Indonesia.

 

“Riset ini dilakukan pada seluruh kota besar di Indonesia. Partisipan yang terlibat ada sekitar 7 ribu rumah tangga,” kata Fanny dalam peluncuran Brand Footprint 2019 di Jakarta.

 

Menurutnya, Brand Footprint adalah penelitian yang dilakukan oleh Kantar setiap tahun, di mana dasar pengukurannya dilakukan dengan menggunakan perhitungan Consumer Reach Point (CRP) yang menganalisa penetrasi pasar atau seberapa banyak rumah tangga membeli sebuah merek dan seberapa sering frekuesi dari merek tersebut dibeli oleh konsumen.

 

Dalam setiap riset, total merek yang diamati adalah sebanyak 400 merek. Brand Footprint ini meliputi beberapa kategori FMCG seperti makanan, minuman, kebutuhan rumah tangga dan kesehatan serta kecantikan.

 

Berdasar riset itu, didapati bahwa 10 merek FMCG yang paling diminati, 50 persennya adalah merek lokal. Menurutnya, hal ini sekaligus menunjukan kemampuan pemain lokal untuk mengadopsi tren konsumen dengan cepat.

 

Menurutnya, penelitian ini melibatkan panelis yang setiap pekan mencatat belanjaan para partisipan. Dari hasil riset itu, Indomie menduduki peringkat pertama karena hampir seluruh rumah tangga di kota besar telah membeli produk Indomie. Bahkan, mayoritas rumah tangga membeli produk itu tiga hingga empat kali dalam sebulan.

 

Setelah Indomie, beberapa brand pada peringkat berikutnya adalah So Klin, Kapal Api, Royco, Mie Sedap, Frisian Flag dan Indofood. Kemudian, peringkat selanjutnya ditempati oleh Molto, Masako dan Lifebuoy.

 

General Manager Kantar Indonesia, Venu Madhav mengatakan, demi mencapai pertumbuhan bisnis, suatu brand harus mampu mendapat lebih banyak pembeli dan membuat konsumen lebih sering untuk membeli produk itu.

 

“Artinya, suatu merek harus terus relevan dengan kebutuhan konsumen yang dinamis dan selalu membaca peluang baru untuk bertumbuh,” kata Venu.

 

Selain di Indoensia, Kantar pun juga melakukan riset serupa pada skala global. Untuk tingkat global, urutan pertama diduduki oleh Coca-cola.

 

Karena Indomie menduduki peringkat pertama di Indonesia, otomatis mampu masuk pada peringkat sepuluh pada skala global.

 

Untuk skala global, riset ini dilakukan di lima benua demgan melibatkan 49 negara.(red)

Advertisement

Business

Semenit, Festival Belanja Alibaba 11.11 Raup Rp14 Triliun

Published

on

By

Alibaba Group telah resmi memulai Festival Belanja Alibaba 11.11 pada dini hari pukul 00.00 waktu China Standard Time (GMT +8), Senin 11 November 2019. Acara ini merupakan festival belanja nonstop 24 jam yang terbesar di dunia.

Menariknya, dalam satu menit 8 detik, festival belanja ini meraih angka penjualan fantastis. Lewat rilis yang diterima VIVA, berikut ini adalah beberapa pencapaian menarik dari pembukaan 11.11:

Dalam 1 menit 8 detik sejak 11.11 dimulai, total Gross Merchandise Volume (GMV) dari transaksi yang dibayarkan dengan Alipay mencapai RMB 7 miliar atau setara Rp14 triliun. Dalam satu jam pertama, GMV dari transaksi yang dibayarkan dengan Alipay mencapai juga mencapai nilai fantastis, RMB 84 miliar (Rp168 triliun).

Dan, dalam dua jam pertama, total GMV dari transaksi yang dibayarkan dengan Alipay adalah RMB128,15 miliar. Pencapaian GMV tersebut telah melampaui catatan GMV 11.11. tahun 2015 (RMB 91,2 miliar) dan 2016 (RMB 120,7 miliar).

Pada momen puncak, total pesanan pada festival belanja 11.11 mencapai 544.000 pesanan/detik – yaitu 1.360 kali lipat lebih banyak dari jumlah pesanan pada festival belanja 11.11 yang pertama kali diadakan tahun 2009.

Pada satu jam pertama sejak 11.11 dimulai, berikut ini daftar negara dengan jumlah penjualan tertinggi ke Tiongkok dimulai dari Jepang yang menduduki peringkat nomor satu, disusul Amerika Serikat di peringkat dua, Korea di peringkat tiga, Australia perigkat keempat, disusul Jerman, Inggris,Perancis, Italia, Kanada dan Selandia Baru di peringkat 10.

Sementara 10 kategori teratas produk impor yang dibeli konsumen Tiongkok berdasarkan GMV mulai dari suplemen makanan untuk kesehatan, masker wajah, susu bayi dan balita, make-up, popok, set perawatan kulit, emulsion dari perawatan kulit, serum kulit wajah hingga nutrisi bayi dan balita juga pembersih wajah.

Beberapa jam sebelum festival belanja 11.11 dimulai, platform streaming video Alibaba, Youku, menyajikan acara gala dan countdown 11.11 untuk merayakan peluncuran resmi festival belanja tahunan ini. Pada tahun 2019, acara Gala dimeriahkan penampilan dari berbagai selebriti internasional, seperti Taylor Swift, Kana Hanazawa, Aida Garifullina, dan tim dance terkenal, The Royal Family and Kinjaz.

Dan yang menariknya lagi, bukan cuma brand terkenal luar negeri yang ikut dalam festival belanja 11.11 Tingkok, brand asal Indonesia, TANGO, juga menjadi salah satu brand internasional yang dipromosikan dalam acara Gala ini.

Continue Reading

Business

Kemendag Tetapkan Harga Referensi Produk Minyak Sawit US$571,3

Published

on

Finroll.com — Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 85 Tahun 2019 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan harga referensi produk minyak mentah (crude palm oil/CPO) sebagai acuan Bea Keluar (BK) pada November 2019 sebesar US$571,13 per ton. Harga referensi tersebut melemah 0,65 persen dibandingkan Oktober lalu, US$574,86 per ton.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana mengatakan, “Saat ini harga referensi CPO tetap berada pada level di bawah US$750 per ton. Untuk itu, pemerintah mengenakan BK CPO sebesar US$0 per ton untuk periode November 2019,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (10/11/2019).

Wisnu mengungkapkan BK CPO untuk November 2019 tercantum pada Kolom 1 Lampiran II Huruf C Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK.010/2017 sebesar US$0 per ton.

Sementara itu, harga referensi biji kakao untuk November 2019 ditetapkan sebesar US$2.500,16 per ton atau menguat 10,01 persen dari Oktober 2019, US$2.272,74 per ton.

Hal ini berdampak pada peningkatan HPE biji kakao untuk bulan ini menjadi US$2.213 per ton, meningkat 11,2 persen dari periode sebelumnya yang ditetapkan sebesar US$1.991 per ton.

Wisnu kembali menjelaskan peningkatan harga acuan dan HPE biji kakao disebabkan oleh menguatnya harga internasional.

Kendati demikian, peningkatan tersebut tidak berdampak pada BK biji kakao yang tetap 5 persen. Hal tersebut tercantum pada kolom 2 Lampiran II Huruf B Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK.010/2017.

Lebih lanjut, untuk HPE dan BK komoditas produk kayu dan produk kulit tidak ada perubahan dari periode bulan sebelumnya. BK produk kayu dan produk kulit tercantum pada Lampiran II Huruf A Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK 010/2017.(red)

Continue Reading

Komoditi

Angin Damai ‘Perang Dagang’ Angkat Harga Minyak

Published

on

By

Harga minyak mentah dunia bangkit (rebound) pada perdagangan Kamis (7/11). Penguatan terjadi setelah China memberikan sinyal positif terkait kesepakatan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Mengutip Antara, harga minyak mentah Brent menguat US$US$0,55 atau 0,9 persen ke level US$62,29 per barel. Kemudian, harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,8 atau 1,4 persen ke level US$57,15.

Pasar merespons positif isyarat yang diberikan oleh pemerintah China terkait perang dagang. Isyarat ini menjadi harapan untuk mengakhiri konflik AS dan China yang terjadi sejak 2018 lalu.

Diketahui, perang dagang dua negara itu telah membebani ekonomi dunia beberapa waktu terakhir. Kemudian, permintaan minyak global pun ikut terseret akibat perlambatan ekonomi.

Sejumlah analis sempat menurunkan prediksi permintaan minyak dalam beberapa waktu ke depan. Akibatnya, ada kelebihan pasokan yang semakin menggunung pada 2020 mendatang.

Sebelumnya, harga minyak amblas lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (6/11). Tercatat, harga minyak berjangka AS WTI melemah US$0,88 atau 1,54 persen ke level US$56,35 dan Brent merosot US$US$1,22 atau 1,94 persen ke level US$61,74 per barel.

Pelemahan ini disebabkan kekhawatiran pasar terhadap mundurnya kesepakatan perang dagang AS dan China menjadi Desember 2019 dari yang sebelumnya direncanakan diteken bulan ini.

“Hari ini dimulai dengan serangkaian berita utama yang berbeda bahwa mereka mencapai kesepakatan tentang kerangka kerja,” kata Analis Minyak di Petromatrix Olivier Jakob.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending