Connect with us

Pasar Modal

Karena Fluktuasi Rupiah IHSG Diproyeksi Kurang Bertenaga

Published

on


Finroll – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melaju di zona merah pada perdagangan Senin (20/7). Hal ini dikarenakan nilai tukar rupiah yang bergerak fluktuatif pekan lalu.

Director Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan mayoritas investor asing juga masih melakukan transaksi jual. Dengan demikian, asing tercatat jual bersih (net sell) beberapa waktu terakhir.

Mengutip RTI Infokom, rupiah ditutup melemah 0,77 persen ke level Rp14.725 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu. Jika dilihat dalam satu pekan terakhir, rupiah terkoreksi 2,08 persen.

Sementara, investor asing di seluruh pasar (all market) tercatat jual bersih (net sell) sebesar Rp400,68 miliar dan pasar reguler net sell Rp519,14 miliar pada Jumat lalu. Asing juga terlihat net sell sepanjang pekan lalu mencapai Rp1,13 triliun dan pasar reguler Rp1,18 triliun.

“Pergerakan IHSG terlihat masih betah berada dalam rentang konsolidasi wajar. Hari ini IHSG berpotensi bergerak melemah,” ungkap William dalam risetnya.

Ia bilang IHSG masih sulit menembus area 5.200. Diproyeksikan, indeks bergerak dalam rentang support 4.988 dan resistance 5.123.

Senada, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memprediksi IHSG bergerak di teritori negatif pada hari ini hingga empat hari ke depan. Menurutnya, indeks akan berada dalam rentang support 4.985-5.069 dan resistance 5.116-5.139 pada pekan ini.

“Pekan ini kami perkirakan IHSG berpeluang konsolidasi melemah,” ucap Hans dalam risetnya.

“Pasar saham masih akan dipengaruhi peningkatan kasus infeksi virus corona di berbagai negara bagian AS, potensi semi-lockdown, dan penundaan pembukaan ekonomi,” terang Hans.

Hans menjelaskan terdapat beberapa sentimen negatif yang berasal dari eksternal. Salah satunya soal peningkatan kasus virus corona di dunia.

Selain itu, pelaku pasar juga menanti keputusan pemerintah AS terkait stimulus fiskal baru yang akan dikucurkan di tengah pandemi virus corona. Hal ini dibutuhkan untuk memompa perekonomian di AS.

Kemudian, memanasnya hubungan AS dan China juga masih menjadi sentimen negatif untuk pasar saham. Hubungan kedua negara kembali memburuk karena AS mempermasalahkan klaim kepemilikan China terhadap sumber daya di Laut China Selatan.

“Pembahasan stimulus baru di AS akan menjadi perhatian pelaku pasar menyusul berakhirnya beberapa stimulus fiskal di AS pada 31 Juli 2020,” terang Hans.

Dari internal, Hans menambahkan pelaku pasar sedang menunggu laporan keuangan emiten periode kuartal II 2020. Jika mayoritas hasilnya negatif, maka pasar saham akan semakin melemah.

Sumber : CNN Indonesia

Pasar Modal

Bursa Asia Mayoritas Naik, Pasar Soroti Komentar Calon Menkeu AS

Published

on

JAKARTA – Bursa saham Asia Pasifik mayoritas beranjak naik pada Selasa (19/01) pagi. Calon Menteri Keuangan AS Janet Yellen akan menyampaikan pandangan tentang langkah-langkah stimulus AS dan nilai mata uang dolar.

Investor terus mengolah data ekonomi positif dari China dan ada harapan bahwa hal itu dapat mendukung pertumbuhan di kawasan di tengah ancaman tindakan pembatasan COVID-19 yang memperpanjang jalan menuju pemulihan ekonomi di kawasan lain.

Nikkei 225 Jepang menguat 1,31% di 28.611,50 pukul 10.12 WIB menurut data Investing.com, KOSPI Korea Selatan melonjak 2,25% di 3.081,67. Di Australia, ASX 200 naik 1,16% di 6,740.00.

Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah 1,02% di 6.324,38. Indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 2,30% di 29.526,00. Panel penasihat pemerintah yang beranggotakan 12 orang pada hari Senin dengan suara bulat merekomendasikan persetujuan COMIRNATY, vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh Pfizer Inc (NYSE:PFE) dan BioNTech SE (F:22UAy), untuk penggunaan darurat di kota tersebut.

Rekomendasi, yang membutuhkan waktu tiga jam untuk dicapai, akan diberikan kepada Sekretaris Pangan dan Kesehatan Sophia Chan untuk menyampaikan keputusan akhir. Program peluncuran vaksin kota ini ditargetkan dimulai pada pertengahan Februari, setelah liburan Tahun Baru Imlek.

Shanghai Composite China turun 0,19% di 3,589.55 pukul 10.18 WIB dan Shenzhen Component melemah 0,79% di 15,149.19. Data Biro Statistik Nasional China hari Senin menunjukkan bahwa produksi industri tumbuh 7,3% setahun di bulan Desember. Departemen juga menunjukkan bahwa PDB naik 6,5% setahun di kuartal IV tetapi tumbuh 2,6% kuartal ke kuartal.

Yellen akan bersaksi di depan Komite Keuangan Senat AS sebagai bagian dari sidang konfirmasi Senatnya. Sidang kemungkinan akan mengungkap topik mulai dari kebijakan valuta asing hingga pajak dan berfungsi sebagai forum kongres pertama di mana anggota parlemen akan memeriksa rencana bantuan COVID-19 senilai $1,9 triliun yang diumumkan oleh Presiden terpilih AS Joe Biden selama seminggu terakhir.

Dalam kesaksiannya, Yellen diharapkan akan menegaskan komitmen AS terhadap nilai tukar dolar yang ditentukan pasar dan menunjukkan bahwa negara tidak menginginkan dolar yang lebih lemah untuk mencapai keunggulan kompetitif.

“Diskusi lanjutan yang ekstensif tentang pandangan Yellen dari nominasi Menteri Keuangan AS tentang dolar menunjukkan bahwa ia tidak ingin rapat dengar pendapat pencalonannya menjadi penggerak pasar,” kepala strategi makro Amerika Utara Standard Chartered Plc Steven Englander mengatakan dalam catatan, yang menambahkan bahwa “meyakinkannya adalah kemungkinan dilihat sebagai sikap yang disukai.”

Saham global kehilangan tenaga setelah memulai 2021 dengan catatan kuat, di mana investor akan terus memantau musim laporan laba yang akan datang. Proposal Biden juga diperkirakan akan menghadapi penentangan di Kongres dari Partai Republik AS dan dapat menyebabkan beberapa item pajak naik.

Biden dan pemerintahannya akan dilantik pada hari Rabu dan investor juga akan terus mengikuti perkembangan hari terakhir Presiden petahana AS Donald Trump di Gedung Putih.

Dari sisi bank sentral, Bank of Japan dan Bank Sentral Eropa (ECB) akan mengumumkan keputusan kebijakannya pada hari Kamis.

Sumber Berita : Investing.com

Continue Reading

Pasar Modal

Harga bergerak tak wajar, saham BRI Syariah (BRIS) masuk UMA

Published

on

Bursa Efek Indonesia (BEI) menginformasikan telah terjadi peningkatan harga saham PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS) di luar kebiasaan (Unusual Market Activity).

Sehubungan dengan hal tersebut, “Bursa saat ini sedang mencermati perkembangan transaksi saham BRIS,” jelas Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI Lidia Panjaitan dan Kepala Divisi Pengaturan & Operasional Perdagangan Irvan Susandy dalam pengumuman Selasa (12/1).

Sebagai catatan, pada Selasa (11/1), harga saham BRIS ada di Rp 3.760, naik 23,68% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 3.040.

Pada penutupan perdagangan Rabu (13/1) harga saham BRIS kembali naik 0,26% ke level Rp 3.770 per saham.

Bila menghitung sejak akhir tahun 2020, saham BRIS sudah naik 67,56%.

BEI menjelaskan, pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Meski begitu, pihak bursa mengharapkan para investor tetap memperhatikan jawaban perusahaan atas permintaan konfirmasi bursa.

Selain itu, bursa juga berharap investor tetap mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya, mengkaji kembali rencana corporate action BRIS apabila rencana tersebut belum mendapat persetujuan RUPS.

Sebagai catatan, pada 6 Januari 20121, BRIS memberikan jawaban atas permintaan penjelasan bursa dan laporan informasi fakta material perubahan Anggaran Dasar BRIS.

Dalam surat jawaban yang menanggapi surat BEI No.S-00061/BEI.PP1/01-2021, BRIS menyatakan bahwa dalam tiga bulan terakhir perseroan tidak bekerjasama dengan media maupun influencer dalam melakukan promosi saham BRIS.

BRIS juga menyatakan bahwa perseroan tidak memiliki hubungan afiliasi dengan figur publik.

“Sebagai perusahaan tercatat, perseroan akan tetap mematuhi ketentuan peraturan pasar modal Indonesia mengenai keterbukaan informasi,” jelas Mulyatno Rachmanto, Kepala Divisi Corporate Secretary BRI Syariah dalam suratnya ke BEI.

Sumber Berita : Kontan.co.id

Continue Reading

Pasar Modal

Komodo Bond Rp 5,4 T Jatuh Tempo Bulan Ini, Wijaya Karya: Dana Sudah Siap

Published

on

Jakarta – Emiten kontraktor pelat merah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. siap melunasi obligasi global bertajuk Komodo Bond yang akan jatuh tempo pada akhir bulan ini.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya mengatakan pihaknya telah menyiapkan dana pelunasan Komodo Bond senilai Rp5,4 triliun pada akhir bulan ini.

“Terkait pelunasan global bond yang jatuh tempo, kami sudah siapkan dananya dari penerbitan obligasi dan sukuk tahap satu, bridging loan, dan dari kas perusahaan sendiri,” jelas Mahendra kepada Bisnis, Rabu 13 Januari 2021.

Perinciannya, emiten dengan kode saham WIKA ini telah menerbitkan surat utang pada tahun lalu senilai total Rp2 triliun. Selanjutnya, perseroan juga mendapatkan bridging loan senilai total Rp3 triliun.

Sisa Rp400 miliar disebut Mahendra akan diambil dari kas operasional perseroan. Selanjutnya, pada semester kedua tahun ini WIKA juga berencana menerbitkan obligasi tahap kedua dengan dana yang diincar sekitar Rp3 triliun.

Mahendra mengatakan dana yang didapatkan dari penerbitan surat utang itu akan digunakan WIKA untuk mengembalikan uang yang dipakai untuk pelunasan Komodo Bond.

Adapun, WIKA menerbitkan komodo bond yang dicatatkan di London Stock Exchange pada 29 Januari 2018. Dari penerbitan tersebut, WIKA mengantongi dana segar senilai US$405 juta atau setara dengan Rp5,4 triliun.

Sumber Berita : Tempo.co

Continue Reading

Trending