Connect with us

International

Kenapa China Banyak Lahirkan Miliarder? Begini Sistem Kerjanya

Published

on


Vietnam Pemenang Perang Dagang Amerika-China

Finroll.com  – China adalah negara urutan kedua yang memiliki miliarder terbanyak dunia. Berdasarkan data yang didapat, China memiliki 338 miliarder di tahun ini. Karyawan di negara tersebut memiliki kinerja yang berbeda dari negara lainnya.

Mengutip dari Global Times, China menjabarkan kinerja karyawannya yang bekerja dengan sistem 996, yakni bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam dalam seminggu.

China menyindir negara India yang katanya ingin mengejar sektor manufaktur negara tersebut. Mereka bilang, setiap karyawan harus memiliki sifat kerja keras. Sistem kerja 996 telah lama membudaya di China, dan belum lama ini, Jack Ma selaku pendiri Alibaba juga mendukungnya.

“Mengadopsi 996 bisa membantu India mengembangkan lingkungan bisnisnya, menarik investasi asing dan pada akhirnya meningkatkan peluang India di sektor manufaktur,” tulis Global Times.

Produk buatan China unggul di berbagai negara karena rakyatnya pekerja keras. Mereka juga menjadi pusat manufaktur global terkait alasan itu. Bahkan para miliarder pun masih bekerja begitu giat.

“Prestasi ini sebagian dikarenakan karena semangat kerja keras karyawan China di industri padat karya, serta pekerja riset dan pengembangan serta para entrepreneur,” papar mereka.

“Tantangan besar berada di hadapan India. Tanpa jadwal 996 dan semangat kerja keras, India akan kesusahan mengejar China,” pungkas Global Times.

Advertisement Valbury

International

Sumpah Xi Jinping: China Siap Sebar Vaksin ke Dunia!

Published

on

Presiden China Xi Jinping buka suara merespons sederet tudingan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dalam sejumlah kesempatan, Trump menuding China gagal menangani virus corona baru penyebab Covid-19 sehingga menjadi pandemi.

FINROLL.COM — Dalam pidato untuk Majelis Kesehatan Dunia (WHA), Xi mengatakan China sudah sangat transparan terkait Covid-19. Ia bahkan menyebut Negeri Tirai Bambu sudah melakukan berbagai cara menolong negara lain.

“China selalu memiliki sikap terbuka, transparan dan bertanggung jawab,” ujarnya sebagaimana dikutip AFP, Senin (18/5/2020).

Xi menambahkan China juga mendukung evaluasi komprehensif terhadap pandemi. Tapi, ia meminta penyelidikan harus dipimpin oleh WHO dan memegang prinsip objektivitas.

Di kesempatan yang sama, dia menjanjikan bakal membagikan vaksin segera setelah ditemukan. Vaksin, kata dia, ketika sukses dibuat akan menjadi barang umum milik global. “Ini akan menjadi kontribusi China untuk memastikan aksesibilitas dan keterjangkauan vaksin di negara-negara berkembang,” katanya sebagaimana ditulis juga oleh The Strait Times, Selasa (19/5/2020)

Xi pun akan memberi bantuan pada WHO hingga US$ 2 miliar.

Sebelumnya Trump menuding China gagal membendung Covid-19. Ia pun sempat berujar memiliki bukti, yang bisa mengaitkan awal COVID-19 dengan sebuah laboratoriun virologi di Wuhan. Wuhan sendiri adalah ibu kota provinsi Hubei, di China tengah. Kota itu menjadi pusat pertama penyebaran virus corona baru itu di akhir 2019.

Trump pun sempat berujar enggan berkomunikasi dengan Xi. Ia bahkan mengancam memutus hubungan dengan China. Hal itu membuat global khawatir akan ancaman babak baru perang dagang.

Hingga kini, berdasarkan data Worldometers, total kasus Covid-19 global mencapai 4,8 juta jiwa. Di mana sebanyak 212 negara dan teritori terinfeksi. (CNBCIndonesia.com)

Continue Reading

International

India Perpanjang Lockdown, dalam 24 Jam Ada 4.987 Kasus Corona

Published

on

Finroll – Jakarta, Pemerintah India menyatakan lockdown atau penguncian masih berlanjut hingga 31 Mei mendatang. Kementerian Dalam Negeri India mengatakan, perpanjangan ini menyusul kasus infeksi virus corona yang masih tinggi.

Hingga Minggu (17/5), dilaporkan terjadi lonjakan terbesar kasus infeksi dengan rekor 4.987 kasus hanya dalam 24 jam terakhir.

Di bawah pedoman baru yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri, pemerintah India memberikan kepada negara-negara bagian dan wilayah untuk membuat keputusan dalam fase keempat penguncian India.

Pergerakan kendaraan penumpang dan bus di seluruh negara akan diizinkan di daerah-daerah yang tidak terkontaminasi virus, tentu dengan persetujuan bersama dari negara bagian dan wilayah serikat pekerja.

Pun demikian dengan daerah zona merah, hijau, dan oranye keputusannya diambil oleh masing-masing pemerintah negara bagian dan wilayah serikat pekerja berdasarkan pedemoan dari Kementerian Kesehatan India.

Pedoman baru yang dikeluarkan oleh Departemen Dalam Negeri pada hari Minggu juga mengimbau agar masyarakat bekerja dari rumah.

Menurut perintah Kementerian sebelumnya, perpindahan orang akan tetap dilarang keras sejak pukul 19.00 hingga 07.00 pagi, kecuali untuk kegiatan penting.

Sekolah dan perguruan tinggi akan tetap ditutup dengan dialihkan ke belajar online.

Pemerintah juga menutup perjalanan jalur udara untuk domestik dan internasional, kecuali jika diizinkan oleh Departemen Kesehatan.

Juga layanan kereta api, bioskop, pusat perbelanjaan akan tetap ditutup. Termasuk tempat pertemuan sosial, politik, olahraga, agama dan budaya juga tetap dilarang di India.

India telah melakukan lockdwon di seluruh negeri sejak akhir Maret.

India juga menjadi negara tertinggi kedua kasus infeksi corona di Asia, melampaui China. Dengan tambahan 4.987 kasus pada Minggu (17/5), maka total kasus infeksi di India tembus 90.927 kasus.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

International

Dunia vs China, 62 Negara Desak Penyelidikan Asal Usul Corona

Published

on

Sebuah koalisi yang terdiri dari 62 negara telah menyampaikan dukungan terhadap Australia dan Uni Eropa (UE) untuk melakukan penyelidikan independen terhadap asal-usul wabah virus corona (COVID-19).

FINROLL.COM —

Dukungan itu disampaikan menjelang diadakannya pertemuan Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly/ WHA) yang penting di Jenewa, Swiss, pada hari Senin (18/5/2020).

Penyelidikan independen terhadap asal-usul COVID-19 pertama kali dicetuskan oleh Australia. Pemerintah Negeri Kanguru telah meminta penyelidikan begitu wabah ini menjangkau negaranya dan merebak di ratusan negara lainnya di dunia.

Namun, ide itu telah membuat China marah. Negara asal munculnya wabah ini mengecam keras Australia, menganggapnya telah sengaja melancarkan serangan politik. Sayangnya, apa yang disampaikan China seolah tidak ada artinya. Sebab kini dukungan internasional untuk Australia melakukan penyelidikan, semakin banyak.

Di sisi lain, UE juga telah menyatakan dukungannya untuk melakukan penyelidikan. Meskipun kelompok itu meminta agar penyelidikan dijalankan sembari mengambil jalur yang lebih berdamai dengan China.

Bersama-sama, negara-negara Eropa dan Australia, kemudian menggalang dukungan untuk membuat mosi yang diketuai UE. Mosi itu menyerukan dilakukannya “evaluasi yang tidak memihak, independen dan komprehensif” dari “respons kesehatan internasional terkoordinasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk COVID-19”.

“Ada dukungan positif untuk peninjauan independen terhadap pandemi untuk membantu dunia mempelajari pelajaran yang diperlukan untuk melindungi kesehatan global.” kata Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne dalam sebuah pernyataan.

“Australia dan sejumlah besar negara sedang bersama-sama mensponsori resolusi yang dipimpin Uni Eropa, yang mencakup seruan untuk evaluasi yang tidak memihak, independen dan komprehensif. Ini tentang berkolaborasi untuk memperlengkapi komunitas internasional untuk mencegah atau melawan pandemi berikutnya dengan lebih baik dan menjaga warga kita tetap aman.”

Menurut ABC News, 62 negara yang mendukung mosi tersebut di antaranya yaitu Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Turki, Rusia, Afrika Selatan dan Inggris.

Meski demikian, mosi itu tidak secara khusus menyebutkan China atau Wuhan, kota yang diyakini sebagai tempat wabah pertama kali ditemukan. Mosi itu hanya meminta WHO untuk bekerja sama dengan Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan untuk melakukan “misi lapangan ilmiah dan kolaboratif” dan “mengidentifikasi sumber zoonosis virus dan rute penyebaran ke populasi manusia, termasuk kemungkinan peran inang perantara.”

Sumber-sumber Pemerintah Australia mengatakan bahasa itu cukup kuat untuk memastikan bahwa penyelidikan yang tepat dan menyeluruh dapat dilaksanakan, meskipun mereka masih menyebut ini sebagai “langkah pertama” untuk memastikan transparansi.

Pada tahap ini, mosi ini belum mendapat dukungan dari China dan juga Amerika Serikat (AS), negara yang memiliki kasus corona terbanyak di dunia saat ini. Diplomat UE dan Australia pada hari Minggu masih berupaya untuk meyakinkan kedua kekuatan utama itu untuk memberikan dukungan mereka.

Menurut juru bicara Uni Eropa untuk urusan luar negeri, Virginie Battu-Henriksson, dukungan dari setiap negara, termasuk China adalah hal penting untuk memulai penyelidikan. Ia juga mengatakan organisasi itu fokus pada mencapai konsensus untuk penyelidikan.

“Tentu saja, kami perlu mendapat dukungan dari semua pemain utama, dan China adalah salah satunya,” katanya kepada ABC.

Sementara itu AS, meski negara yang dipimpin Presiden Donald Trump ini belum memberikan dukungan, AS sebelumnya telah secara frontal mengatakan akan melakukan penyelidikan pada China soal asal-usul virus corona.

Pejabat AS termasuk Menteri Luar Negeri Mike Pompeo bahkan telah secara gamblang mencurigai asal virus corona adalah dari sebuah laboratorium virologi yang ada di Wuhan.

Trump juga telah menyatakan dirinya telah melihat sesuatu yang membuatnya sangat percaya bahwa Institut Virologi Wuhan adalah tempat asal wabah. “Ya, ya saya lihat,” tegasnya dikutip dari AFP akhir bulan lalu. (CnbcIndonesia)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending