Connect with us

Komoditi

Ketua Karateker KNPI : Mestinya Sejak Dulu Maluku Ditetapkan Sebagai Lumbung Ikan Nasional

Published

on


Finroll.com — Menyikapi dinamika dan polemik “Perang” yang disampaikan Gubernur Maluku Irjen.Pol (Purn) Murad Ismail terkait lambannya kebijakan pusat dalam hal ini Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti merespon sikap dan protes Pemerintahan Maluku terkait Kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan potensi Perikanan Maluku menurut Ketua DPD KNPI Maluku merupakan bukti nyata Menteri Perikanan tidak peka terhadap aspirasi Rakyat Maluku.

Menurut  Ketua Karateker KNPI Maluku, Abudssalam Hehanussa, Maluku semestinya sejak dulu harus ditetapkan sebagai Lumbung Ikan Nasional, tahun 2017 saat menghadiri peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan mengunjungi Pelabuhan Yos Sudarso di Kota Ambon, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menangkap aspirasi dan berjanji menjadikan Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN). Tapi dua tahun setelah komitmen tesebut disampaikan sejauh ini masih menjadi wacana karena lambannya kementrian terkait untuk menindak lanjuti visi tersebut.

Maluku diketahui memiliki Produksi Ikan yang melimpah, Produksi Tahun 2016 saja menurut data BPS ada sekitar 567 137.60 Ton, dalam catatan hasil tangkap yang disampaikan Gubernur Maluku pada acara pelantikan Pj. Sekda Maluku di Lantai VII Kantor Gubernur Maluku, Senin 2 September, jika setiap bulan sebanyak 400 kontainer ikan diambil dari Laut Arafura, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku.

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Alan ini juga menambahkan, bahwa produksi Ikan Maluku selama ini belum memberi multiplier effect, khususnya secara eknomi bagi kesejahteraan nelayan dan rakyat Maluku.

Hal ini karena hampir semua proses pasca penangkapan ikan keluar dari wilayah Maluku, implikasinya tidak ada nilai tambah bagi nelayan dan rakyat Maluku, ratusan bahkan ribuan kontainer ikan keluar dari Kepulauan Arafura setiap bulannya dan kita hanya jadi penonton,

“ Sungguh ironis sekali,daerah yang kaya Sumber Daya Alam sektor Kelautan dan Perikanan hanya menjadi terminal dagang bisnis perikanan-kelautan, dan seolah-olah kita semua puas dengan adanya retribusi pajak seperti yang selama ini berjalan. Padahal dengan potensi perikanan yang melimpah itu, Rakat Maluku semestinya mendapatkan multiplier efect yang akan memberikan sumbangsih peningkatan PAD dan Peningkatan Ekonomi Nelayan.

Karena itu kedepannya Kebijakan (policy) Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam Kelautan dan Perikanan di Prov Maluku sudah sangat tepat sejalan dengan apa yang menjadi Impian dan Harapan Rakyat Maluku yang disampaikan oleh Gubernur Prov. Maluku Irjend Pol (Purn) Murad Ismail terkait Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (M-LIN)

Provinsi Maluku dengan semua kesiapan Sumber Daya Alam Perikanan dan Kelautan yang membentang dari Laut Seram (Batas Utara) hingga ke Laut Arafuru (Batas Selatan) merupakan Potensi bahari yang sangat strategis karena kekayaan Sumber Daya Alam Perikanan dan Kelautan dan sangat tepat untuk dijadikan sebagai Provinsi Lumbung Ikan Nasional (LIN),

“Praktek Pengelolaan dan Pemanfaatan Potensi Perikanan Kelautan yang selama ini keliru dan tidak memberikan dampak signifikan bagi Rakyat Maluku harus dirubah.

Kebijakan Lumbung Ikan Nasional (LIN) di Maluku sangat refresentatif untuk kepentingan Produksi Ikan Nasional dan Tata Kelola Produksi Perikanan dan Kelautan yang berpihak pada Rakyat, dengan Kebijakan Maluku sebagai Lumbung Eknonomi Nasional (M-LIN) maka Alokasi Kebijakan dan Anggaran akan lebih terkelola secara efektif untuk peningkatan Produksi Nelayan.

Hal ini akan diikuti oleh berdirinya sentra-sentra produksi Perikana Kelautan dan pabrik industry pengolahan Ikan dan Hasil Laut Lainnya yang akan akan menyerap tenaga kerja lokal, hal itu akan memberikan efek ekonomi yang berantai dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejateraan bagi warga Maluku, untuk itu menurutnya, Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Kelautan harus Segera menindaklanjuti aspirasi Rakyat dan Pemerintah Provinsi Maluku dalam bentuk Policy .

Menjadi aneh jika departemen terkait seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Ibu Susi Pujiastuti terkesan menghalang-halangi Kebijakan menjadikan Maluku Sebagai Lumbung Ikan Nasional (M-LIN) karena sampai saat ini rekomendasi dan Keputusan Kementerian kelautan dan Perikanan belum juga ditandatangani oleh beliau untuk diajukan ke Presiden. Pungkas Abdussalam Hehanusa

“Loh, saya mau Tanya, Katanya Selama ini Ibu Susi Pro Kesejahteraan Nelayan, Pro Rakyat, tapi kok ini untuk kepentingan Kesejahteraan Nelayan dan Rakyat Maluku kok terkesan abai dan low respon, jangan-jangan rumor yang selama ini berkembang itu benar, bahwa Bisnis Perikanan di Maluku dikuasai oleh kepentingan Bisnis Mafia Illegal Fishing dan Pengusaha Perikanan yang memeras keringat nelayan demi keuntungan perut mereka, semoga rumor tersebut hanya sekedar rumor tambah Alan

Bagi Kami Generasi Muda Maluku yang terhimpun di Komite Nasional Pemuda Indonesia Prov Maluku (KNPI DPD Prov. Maluku). Perjuanga Kebijakan Untuk Kepentingan Kesejahateraan Nelayan dan Rakyat Maluku merupakan Prinsip dan Nilai yang harus kami perjuangkan apapun konsekwensinya.

Maluku sebagai Sentra Lumbung Ikan Nasional harus terwujud, Kita kawal dan Siap berjuang bersama-sama dengan apa yang telah diprakarsai oleh Pak Gubernur Murad Ismail yang bekerja nyata demi dan untuk kepentingan Rakyat Maluku, Ujar Mantan Ketua Umum BADKO HMI Malmalut ini.(red)

Advertisement Valbury

Business

Data Ekonomi Asia dan Eropa Cungkil Harga Minyak Dunia

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia naik hingga 3,1 persen pada penutupan perdagangan Senin (30/6). Penguatan harga minyak ini ditopang oleh data ekonomi di Asia dan Eropa.
Mengutip Antara, Selasa (30/6), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik 69 sen atau 1,7 persen menjadi US$41,71 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus menguat US$1,21 atau 3,1 persen menjadi US$39,7 per barel di New York Mercantile Exchange.

Data Komisi Eropa menunjukkan ada perbaikan di seluruh sektor pada Juni 2020. Dari segi sentimen, posisinya naik dari 67,5 pada Mei 2020 menjadi 75,7 pada Juni 2020.

Sementara, keuntungan industri di China meningkat untuk pertama kalinya setelah enam bulan terus menurun. Realisasi ini menunjukkan pemulihan ekonomi sedang terjadi di China.

Ditambah, bursa saham Amerika Serikat (AS) juga menguat pada Senin (29/6). Hal itu menambah sentimen positif bagi harga minyak mentah dunia.

Namun demikian, kenaikan harga minyak mentah dunia terbilang tipis karena pasar masih khawatir dengan gelombang kedua pandemi virus corona. Pasalnya, pasien yang meninggal akibat pandemi itu telah melampaui setengah juta orang di dunia.

Oleh karena itu, beberapa negara bagian di AS memutuskan untuk kembali menerapkan pembatasan di ruang publik setelah ada lonjakan kasus. Salah satunya adalah Pemerintah California yang menutup operasional bar mulai Minggu (28/6).

Hal yang sama juga dilakukan Texas dan Florida usai pemerintah Texas mengeluarkan kebijakan penutupan bar pada akhir pekan lalu. Lalu, Washington dan San Fransisco telah menghentikan rencana pelonggaran pembatasan di ruang publik.

 

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Komoditi

Harga Cabai Terus Merangkak Hingga Rp37.500 per Kg

Published

on

Finroll – Jakarta, Rata-rata harga pangan tercatat melonjak. Lonjakan terbesar terjadi pada harga cabai merah keriting sebesar 20,39 persen dalam sepekan terakhir.

Rata-rata harga cabai merah keriting di pasar tradisional tercatat Rp37.500 per Kilogram (Kg) pada Senin (29/6). Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) pada pukul 10.18 WIB, harga tertinggi cabai merah keriting terjadi di Kota Tual, Maluku sebesar Rp80.000.

Sementara, harga terendah tercatat di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah sebesar Rp11.650 per Kg.

Selain cabai merah keriting, lonjakan juga terjadi pada harga cabai rawit hijau sebesar 16,56 persen menjadi Rp36.250 per Kg. Harga tertinggi Rp85.000 per Kg tercatat di Kota Ternate, Maluku Utara sebesar Rp95.000 per Kg, dan harga terendah Rp10.250 per Kg di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Sementara, harga cabai rawit merah naik sebesar 12,68 persen menjadi Rp40.000 per Kg dalam sepekan. Harga cabai rawit merah tertinggi terdapat di Kota Jayapura, Papua, sebesar Rp111.650 per Kg. Harga terendah tercatat di Kabupaten Jember, Jawa Timur sebesar Rp13.500 per Kg.

Tak hanya cabai, harga komoditas telur ayam ras segar juga ikut melonjak. Rata-rata harga telur ayam ras segar naik 11,78 persen menjadi Rp28.950 per Kg. Harga tertinggi tercatat Rp56.000 ribu per Kg terjadi di Kabupaten Merauke, Papua dan harga terendah Rp22.600 per Kg di Kota Meulaboh, Aceh.

Pekan ini, hanya sedikit harga komoditas yang turun tipis. Harga beras kualitas medium II turun 5,15 persen menjadi Rp11.050, harga ayam ras segar turun 4,14 persen menjadi Rp35.850 dan bawang putih sedang turun 3,81 persen menjadi Rp30.300.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Komoditi

Senin 22 Juni, Emas Antam Menguat ke Rp905 Ribu per Gram

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp907 ribu per gram pada Senin (22/6). Posisi itu naik Rp2.000 dari Rp905 ribu per gram pada Minggu (21/6).

Sementara harga pembelian kembali (buyback) naik Rp3.000 per gram dari Rp794 ribu menjadi Rp797 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp483,5 ribu, 2 gram Rp1,75 juta, 3 gram Rp2,6 juta, 5 gram Rp4,31 juta, 10 gram Rp8,56 juta, 25 gram Rp21,28 juta, dan 50 gram Rp42,49 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp84,91 juta, 250 gram Rp212,01 juta, 500 gram Rp423,82 juta, dan 1 kilogram Rp847,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.771,8 per troy ons atau menguat 1,07 persen. Sedangkan harga emas di perdagangan spot meningkat 0,76 persen ke US$1.757,16 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan harga emas memiliki prospek yang bagus pada awal pekan ini. Sebab, sentimen kekhawatiran ekonomi akibat tekanan pandemi virus corona atau covid-19 kembali merebak di pelaku pasar keuangan.

Kekhawatiran muncul karena jumlah kasus virus corona kembali meningkat di beberapa negara setelah pembukaan aktivitas ekonomi. Hal ini memberi risiko terjadinya tekanan ekonomi yang lebih dalam lagi ke depan.

“Kekhawatiran ini mendorong harga emas spot naik ke atas US$1.750 per troy ons pagi ini, level yang tidak pernah tersentuh sejak 20 Mei 2020,” ungkap Ariston kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/6).

Selain itu, kenaikan harga emas juga terdorong kebijakan stimulus dari bank sentral AS, The Federal Reserve. Stimulus ini memberi tekanan ke dolar AS sehingga memicu penguatan harga emas.

Lebih lanjut, Ariston memperkirakan harga emas akan bergerak di kisaran US$1.708 sampai US$1.753 per troy ons.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending