Connect with us

Citizen Journalism

Kisah-Kisah Perlawanan: Dari Mencuci Bendera Sampai Mogok Seks

Published

on


Banyak dari kita barangkali beranggapan bahwa, perubahan sosial hanya bisa dilakukan melalui tindakan-tindakan revolusioner dengan skala besar dan luas. Padahal, ada begitu banyak contoh perubahan-perubahan besar pada mulanya hanya dilakukan dengan tindakan-tindakan sederhana oleh hanya beberapa orang saja dan bahkan oleh satu orang saja.

Perubahan sosial tidak mesti menunggu lahirnya pergerakan dengan pengerahan massa secara besar-besaran. Gerakan sosial juga tidak selalu harus melalui jalur politik dan legislasi, ia juga bisa hadir melalui jalur kebudayaan dan bahkan praktik-praktik hidup keseharian. Lebih jauh, menukil Roem Topatimasang, “Perubahan sosial juga bukan hanya soal mengganti rezim yang berkuasa, melainkan juga soal keberanian dan ketegaran mempertahankan ruang dan cara-cara kehidupan yang mampu membendung segala bentuk kerakusan dan kepongahan kekuasaan”.

Di bawah ancaman risiko disiksa, dipenjarakan bahkan dihilangkan nyawanya karena bersuara lantang, orang-orang yang terlibat dalam beberapa kisah perlawanan ini –diringkas dari buku Small Acts of Resistance: How Courage, Tenacity and Ingenuity Can Change the World–membuktikan kepada kita semua bahwa, setiap perubahan harus melibatkan keberanian yang luar biasa. Kisah ini menjadi penting untuk diceritakan ulang karena mereka yang terlibat dalam berbagai perlawanan dan pembangkangan ini mengatakan bahwa, mereka melakukan karena memang sudah seharusnya setiap orang melakukannya. Seolah mereka ingin menegaskan bahwa apa yang mereka perbuat semata-mata hanya ingin mempertahankan apa-apa yang mereka yakini.

Mencuci Bendera

Di Amerika Latin, Peru, tepatnya. Bulan Mei tahun 2000, pada setiap Jumat, sedari siang sampai pukul 3 sore, ribuan orang berkumpul di Plaza Mayor, Lima. Kegiatan mereka hanya satu: mencuci bendera nasional! Khalayak itu ingin menunjukkan bahwa Peru dan bendera nasionalnya perlu dicuci karena sudah sangat kotor dan mirip kain gombal. Aksi massa mencuci beramai-ramai itulah yang justru menjadi satu unsur penting dalam melengserkan Presiden Peru, Alberto Fujimori, yang kejam, korupsi, dan tidak merakyat.

Vladimiro Lenin Montesinos, Kepala Polisi Rahasia, menyebut aksi itu sebagai ‘kanker’ dan mengusulkan agar para pelaku pencucian bendera tersebut ditindak sebagai pelaku teroris. Aksi cuci bendera ini kemudian meluas, menjalar ke seluruh antero negeri. Ratusan ribu warga ikut ambil bagian. Lima bulan setelah aksi itu dimulai, Presiden Peru, Fujimori, akhirnya turun tahta (pengumuman pengunduran dirinya dinyatakan melalui faksimil ketika sedang berada di Jepang). Dia dijatuhi hukuman penjara selama 25 tahun atas semua pembunuhan yang terjadi sepanjang masa kekuasaannya.

Aksi rakyat Peru ini dikenal dengan ‘lava la bandera’, “suatu ritual yang kami, rakyat Peru, tak akan pernah melupakannya”, tulis harian La Republica.

Televisi dan Kereta Bayi

13 Desember 1981, rezim komunis Polandia membuat barisan tank lapis baja untuk menghentikan laju gerakan solidaritas. Ratusan orang ditangkap, beberapa bahkan dilenyapkan. Mengabaikan ancaman dari tank-tank tersebut, warga Polandia mengorganisir unjukrasa menentang pemberangusan, termasuk memboikot siaran televisi pemerintah.

Swidnik, satu kota kecil di bagian timur Polandia, para warga menemukan caranya sendiri begitu televisi mulai menyiarkan berita-berita resmi pemerintah selama setengah jam. Semua warga Swidnik keluar rumah memenuhi jalan-jalan, bercengkrama satu sama lain. Sebelumnya mereka meletakkan televisi yang sudah dimatikan di jendela, menghadap keluar sehingga semua orang melihat layar gelap tanpa suara. Beberapa bahkan bertindak lebih jauh, mereka menggelandang pesawat televisi di dalam kereta dorong bayi itu di jalan-jalan sepanjang malam.

Taktik membawa televisi dan keluar rumah untuk jalan-jalan itu kemudian menyebar dan dicontoh di kota-kota lain, membuat pemerintah muntab. Tetapi mereka tidak berdaya karena keluar untuk jalan-jalan dan bercengkrama bersama tetangga jelaslah bukan tindak kejahatan. Lagipula menangkap seluruh penduduk Polandia jelas tindakan yang nyaris mustahil.

Lagu Kebangsaan

Uruguay pada tahun 1973 dikuasai oleh junta militer yang terkenal keji, para pembangkang politik digelandang masuk ke ‘hotel prodeo’. Penyiksaan atas mereka adalah hal wajib. Bahkan, Pertunjukan musik sekalipun bisa dianggap sebagai tindakan makar. Pertunjukan music klasik Piano Concerto for Left Hand yang digubah oleh Ravel harus dibatalkan hanya karena judulnya berbau kiri sehingga dianggap berbahaya oleh pihak penguasa, sampai ketika unjukrasa sederhana di suatu pertandingan sepakbola mengubah segalanya.

Ketika barisan pemusik mengumandangkan lagu kebangsaan sebelum pertandingan dimulai, ribuan warga Uruguay yang hadir di stadion tidak bersemangat untuk bernyanyi. Tindakan keras kepala macam ini saja sudah cukup untuk dicap sebagai pemberontakan. Pemerintahan junta militer ini sama sekali tak mengira bahwa akan terjadi sesuatu yang lebih buruk.

Pada saat lagu kebangsaan sampai pada lirik “Tiranos temblad” – “Gemetarlah dikau, para tiran” – ribuan penonton itu tiba-tiba berdiri dan bernyanyi bersama sekencang-kencangnya, “Tiranos temblad”, seraya mengibar-ngibarkan bendera-bendera yang mereka bawa. Pihak penguasa tentu saja tak bisa menangkap semua penonton, mereka juga tidak bisa menghentikan pertandingan yang akan segera dimulai. Pihak junta militer pun bingung oleh gagasan untuk menghapus lirik “Tiranos temblad” dalam lagu kebangsaan, karena hal tersebut jelas-jelas akan mempermalukan mereka sendiri. Apa pula alasan para petinggi militer ingin menghapuskan selarik lirik lagu kebangsaan yang sangat dicintai rakyat, kecuali jika para jenderal itu sendiri merasa bahwa merekalah para tiran?

Para penguasa militer tersebut harus menelan pil pahit hujatan nasional itu sampai tahun 1985, ketika mereka akhirnya tumbang kehilangan kekuatan. Demokrasi menang!

Menolak Wajib Militer

Musim semi 1967, nama Muhammad Ali masuk dalam daftar wajib militer, Ali diminta untuk meninggalkan ring tinju selama menjalani kewajibannya tersebut. Baginya, persoalannya bukanlah pada rasa takut, masalahnya jauh lebih mendasar. Merujuk pada kenyataan di kota kelahirannya, Louisville, Kentucky, ia menanyakan, “Mengapa mereka meminta saya memakai seragam dan pergi puluhan ribu kilometer dari rumah untuk menjatuhkan bom dan menembakkan peluru kepada orang-orang berkulit coklat di Vietnam, padahal orang-orang yang mereka sebut negro di Louisville diperlakukan seperti anjing dan disangkali hak-haknya yang paling mendasar? Tidak, saya tidak akan pergi puluhan ribu kilometer dari rumah untuk membantu pembunuhan dan pembakaran satu bangsa hanya untuk melanggengkan  para juragan kulit putih atas orang-orang berkulit gelap di dunia ini”.

Ali tahu benar akan dipenjarakan karena pembangkangannya itu, namun ia juga sadar betul bahwa dia sedang merintis satu teladan sikap. Para pendukungnya di luar barak berteriak, “kalau dia tak mau pergi, kami pun tak mau pergi !”. Akibat dari pembangkangannya, Ali dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dan denda 10.000 USD. Dalam penjara Ali memeluk Islam.

Seiring perjalanan waktu citra Ali semakin memudar namun kekuatan kepribadian, pernyataan yang mencabar juga keputusan yang kontroversial sebagai seorang anak muda benar-benar telah menantang masyarakat Amerika. Aktor kawakan, Richard Harris, menyimpulkannya dengan kalimat sederhana, “Setiap petinju selama ini selalu berusaha dan bersedia menjual jiwa mereka demi mencapai gelar juara dunia tinju kelas berat. Apa yang Ali lakukan? Dia justru menemukan kembali jiwanya dengan melepaskan gelar juara dunia itu”.

Hak Milik

Di banyak negara dengan budaya patriarki yang kelewat brengsek, banyak kaum perempuan yang dinafikan hak-haknya semisal, memiliki lahan sendiri atau mewarisi harta gono-gini dari almarhum suaminya sendiri. Di kota kecil Mubende, Uganda, seorang janda menemukan cara menentang diskriminasi ini.

Pada suatu Minggu pagi yang cerah, di tahun 1996, ketika bersiap-siap hendak berangkat ke rumah ibadah, Noerina Mubiru, terlibat cekcok menghadapi kerabat keluarga almarhum suaminya yang belum lama meninggal dunia. Sepuluh orang kerabat mendiang suaminya menyerahkan daftar barang-barang yang akan mereka angkut dari rumahnya.

Tak tinggal diam, dia masuk ke kamar sebentar, menanggalkan seluruh pakaian yang ia kenakan sampai bugil, lalu kembali ke ruang tamu. Di sana, para kerabat mendiang suaminya menunggunya. Noerina kemudian menunjuk ke arah selangkangannya sambil berkata, “kalian lihat, inilah salah satu barang yang paling dicintai oleh suami saya”. Sambil menepuk bokongnya, dia melanjutkan, “Dan ini barang kedua yang paling disukainya. Kalau kalian ingin mengambil barang-barang peninggalannya, silakan mulai dengan dua barang ini, lalu saya akan menunjukkan barang sisa yang lain kepada kalian”.

Bapak mertuanya yang juga ada di ruangan itu tersipu, semua kerabat yang lain segera berhamburan keluar rumah, kabur.

Mogok Seks

Aristophanes pada abad ke V sebelum masehi pernah menulis sebuah naskah drama yang berisi sindiran untuk menekan dan mengakhiri kerusakan akibat Perang Peloponnesia yang berkepanjangan. Ceritanya ini didasarkan atas gagasan yang brilian: kaum perempuan bisa menghentikan konflik dengan cara menolak berhubungan seksual dengan para suami mereka !

Dua ribu tahun kemudian, naskah sandiwara ini ditafsirkan secara harfiah oleh perempuan dari Sudan. Samira Ahmed, guru besar di satu universitas, punya satu rencana untuk memberdayakan para perempuan. Ia bekerja dengan kaum perempuan dari kedua etnis yang bertikai, ia melancarkan aksi yang dinamakannya “penelantaran seksual”.

Para perempuan itu menyimpulkan bahwa dengan menolak berhubungan seks dengan suaminya, mereka dapat menekan para lelaki untuk bertekad mengusahakan perdamaian. Dan taktik tersebut berhasil.

Tahun 2009 di Kenya, ketika hubungan antara Perdana Menteri Raile Odinga dan Presiden Mwai Kibaki berada dalam titik perseteruan yang berbahaya, organisasi-organisasi perempuan yang khawatir akan terjadinya tindak kekerasan mendesak kedua orang tersebut untuk menyelesaikan perbedaan di antara mereka. Untuk memperkuat desakannya tersebut, kaum perempuan melancarkan aksi ‘mogok seks’.

Aksi yang digerakkan oleh Rukia Subow dan Patricia Nyaundi ini bukan tanpa tentangan, seorang laki-laki, James Kimondo, mengatakan kepada wartawan bahwa ia akan mengajukan tuntutan kepada organisasi-organisasi perempuan yang memelopori aksi tersebut. Kimondo mengatakan bahwa aksi mogok seks itu membuatnya menderita tekanan mental dan kegelisahan luar biasa.

Seruan aksi mogok seks tersebut bukannya kendor malahan mendapatkan tambahan dukungan dari istri Perdana Menteri, Ida Olinga. Organisasi perempuan itu bahkan bertindak lebih jauh dengan mengajak para pekerja seksual untuk ikut dalam aksi mereka. Kedua lelaki tersebut, Sang Perdana Menteri dan Sang Presiden pun akhirnya sepakat untuk berunding.

Di belahan benua yang lain, di kota Pereira, Kolombia, yang sejak lama dikenal dengan kota yang tak pernah sepi dari kekerasan. Sebagian besar biang keroknya adalah laki-laki muda, banyak dari tindak kekerasan itu berkaitan dengan geng-geng kejahatan. Ada banyak pula alasan untuk bergabung dengan geng-geng kejahatan, dan yang paling menonjol adalah karena para lelaki muda di sana merasa bahwa menjadi anggota geng akan membuat mereka tampak keren dan menarik secara seksual oleh para perempuan.

Mengetahui hal itu, pada tahun 2006, para gadis pacar dan istri dari para laki-laki muda biang kerok kekerasan melancarkan aksi menolak berhubungan seksual dengan masing-masing pasangannya. Aksi itu kemudian dikenal luas sebagai ‘huelga de piernas cruzadas’ (mogok dengan menyilangkan kaki). Aksi kaum perempuan ini dengan cepat menjadi pola gerakan yang ditiru secara nasional. Gerakan ini membantu memuluskan jalan bagi maraknya gerakan menentang kekerasan di seluruh negeri. Paro sexual ! Mogok seks !

Kisah-kisah di atas barangkali bisa menjadi pengingat buat kita bahwa pembangkangan dapat mengalahkan apa yang tak terkalahkan sebelumnya, dapat mengubah apa yang sebelumnya tak pernah bisa berubah. Seperti kata-kata dari Oscar Wilde, “Pembangkangan, bagi mereka yang membaca sejarah, adalah kualitas terbaik manusia. Melalui pembangkanganlah kemajuan dicapai, melalui ketidakpatuhan dan pemberontakan”.

 

Advertisement Valbury

Citizen Journalism

Balada Kader Tarbiyah Kurang Ilmu Tapi Giat Menebar Ilmu. Patutkah?!

Published

on

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman mengajak saya untuk mengikuti sekolah tahsin bergenre (baca: rasmul) Ustmani. Tujuannya tentu saja untuk memperbaiki bacaan dan khat Alqur’an kami.

Beliau mendahului saya mengikuti test masuk yang dipandu langsung oleh salah satu Qiyadah kami. Hasil test menunjukan beliau bisa memulai kelas dari level 4. Ustadzah penguji memujinya dengan mengatakan:

“kamu pasti rajin liqo yaaa, bacaannya sudah bagus, tapi butuh perbaikan lagi di bla..bla…bla.”

Saya pun tak sabar ingin mengikuti test. Saya ingin tahu kira-kira saya dapat level berapa. Kawan-kawan yang saya kenal di tarbiyah hampir semuanya masuk level 4. Saya tambah penasaran. Hehehe.

Fyi, waktu itu saya sudah memegang beberapa gerbong kajian non partisan. Satu grup pengajian ibu-ibu, satu grup pengajian remaja dan satu grup pengajian anak-anak. Semuanya free tanpa iuran. Dan tak pernah sekalipun saya masukin unsur-unsur politik dalam pengajian kami. Meski mereka tahu saya orang Partai Kesayangan Semua, tak sekalipun saya ajak mereka masuk partai tersebut.

Kata “belum waktunya” menjadi alasan saya ketika struktur menanyakan mengapa mereka belum kunjung saya “tarik” ke dalam. Namun dalam hati, saya memang ingin semua berjalan alami. Mengalir apa adanya. (Piss, bos!)

Dalam hati saya menyakini. Mereka kan sudah tahu kalau saya kader partai keren sekali itu. Jika mereka lihat ada kebaikan dari menjadi kader partai seperti saya bagi diri mereka, saya yakin mereka akan mengikuti tanpa diminta. Kenapa? Karena saya yakin sekali bahwa menjadi PKS (yah kesebut. Maafin yaa. Capek nyari singkatan 😅) adalah sebuah jalan kebaikan yang menebar kebaikan. Jadi tinggal tunggu Allah yang membukakan pintu hati dan jalan bagi mereka untuk bergabung.

Begitu pula dengan kawan sepermainan. Di dunia nyata, tak satupun ada yang secara frontal saya ajak masuk PKS. Kalo pilih PKS sih iya. Hahaha. Biarlah semua mengalir, apa adanya. Mereka punya mata, punya hati. Bisa menilai sendiri betapa bocor, ceroboh, cekakakan dan awut-awutannya saya. Loh koq?! 😅

Oke, kembali ke masalah tahsin.

Sebenarnya pendaftaran kelas sudah ditutup, namun lewat rekomendasi seorang teman, saya masih diperbolehkan untuk mengikuti ujian masuk. Saya diuji langsung oleh Ustadzah kabir yang namanya sudah sering sekali saya dengar bahkan pernah saya ikuti beberapa kajiannya. Beliau rupanya juga pemilik lembaga pendidikan tahsin yang mau saya ikuti. Ada perasaan grogi saat berkenalan. Merindingggg. Tapi saya mencoba santai. Hingga keluarlah hasil test saya.

Masya Allah. Ustadzah bilang saya harus mengulang dari level 1. 😱 Bacaan saya banyak salah, berantakan. Mengucap “Basmallah” pun belum benar. Tentu saya cukup kaget dan terpukul mendengarnya. Kawan-kawan yang saya beritahu pun merasa heran. “Koq bisa, Ra?!” Yaaa, manaa ku tahu 😥.

Saya pun mulai menimbang-nimbang untuk jadi mengikuti kelas atau tidak. Saya kesal, namun kebesaran nama sang Ustadzah disamping beliau pemegang sertifikat rasm Ustmani yang menjadi pemilik rumah tahsin tersebut membuat saya gentar untuk meragukan penilaian beliau.

Akhirnya saya mendapat kelas yang dimulai pukul 6 pagi. Tak boleh terlambat. Ada denda yang harus dibayar setiap menit jika datang terlambat. Sabtu pagi ba’da shubuh saya langsung menggeber sepeda motor saya ke arah Rawajati. Saya ingin datang lebih awal, selain karena tak ingin terlambat saya juga tak mau kelas lambat memulai yang akhirnya lambat juga selesai. Karena setelah tahsin, saya masih berkewajiban untuk hadir di liqo-an. Sungguh embuhhh. Kadang bantal di hari libur lebih menggoda…😓

Hal yang tak saya duga dari penghuni kelas tersebut rata-rata bacaannya sudah bagus-bagus. Khat-nya juga Masya Allah. Rata-rata dapat nilai sempurna dalam menulis. Banyak juga yang seumuran dengan saya waktu itu. Bahkan ada juga yang lebih muda. Saya yang tadinya mau songong jadi minder. Kalau kayak mereka-mereka ini dapat level 1. Apalah saya ini.😵

Dari 12x pertemuan yang diwajibkan, kami hanya boleh izin 3x. Lebih dari itu tak diperkenankan untuk ikut ujian kenaikan tingkat. Saya sukses hanya hadir 6x. Hahaha. Ada acara dan tugas-tugas lain yang tidak bisa (baca: mau) saya hindari. Saya pun pasrah. Saya yakin tak boleh ikut ujian dan harus mengulang kelas dari awal lagi. Biarlah.

H-1, saya pastikan ke guru kelas kalau saya tak akan hadir di ujian. Beliau bilang akan coba ditanyakan dulu ke Ustadzah. Saya bilang: “Gak usah repot-repot, Mbak. Palingan suruh ngulang. Tapi boleh juga deh ditanyain dulu, saya tunggu kabarnya. Hehehe.” *masih ngarep.

Dan ternyata saya boleh hadir ujiaaannnn. Padahal di kelas lain yang 4x izin aja sudah dapat ketetapan gak boleh ikut ujian. Saya yang 6x koq bolehhh. Canggih kannn. Saya pun senyum-senyum.

Saya datang ke tempat ujian dengan cengengesan karena yakin tak akan diluluskan. Wong, jarang masuk. Banyak materi yang ketinggalan dan guru kelas pun geleng-geleng setiap kali datang, saya bilang “maaf, aku belum ngerjain PR, Mbak. Boleh ngerjain disini gak?” Hehe.

Kami diuji satu per satu. Saya perhatikan wajah-wajah kawan yang keluar dari ruangan ujian rata-rata pingin nangis. Mengeluh susah banget soalnya dan menebak score berapa. Karena score tertinggi itu 80 dan untuk dinyatakan lulus butuh 77. Edan kata saya. Salah 3 ajah gak lulus. Pliss deh 😑

Saya masuk ruang ujian dengan gontai. Soal pertama, salah… soal kedua dan ketiga saya yakin juga salah. Ke empat dan kelima saya sudah gak pake mikir bacanya. Sama seperti saya baca sehari-hari saja. Bodo amatlah. Soal keenam, ketujuh dan seterusnya sampai soal ke 15, kepala saya sudah muter-muter. Saya putus asa karena yang saya dengar dari mulut Ustadzah hanya kata “ulang, ulang, dan ulang”. Oh iya, di masing-masing soal kami diberi kesempatan 3x untuk mengulang bacaan sampai benar. Jika sudah 3x mengulang dan tetap salah, maka score hilang.

Selesai ujian, saya keluar ruangan dan langsung tancap gas. Pulanggggg. Minum air segelas, ambil napas panjang dan cabut lagi ke tempat liqo. Disana kawan-kawan liqoan yang dari semalam rame doain saya biar lulus langsung nanya-nanya hasil ujian. Saya ceritakan “kebodohan” saya dan mereka semua tertawa. Eman benar. Bukannya dihibur malah pada ngetawain. Sungguh terlalu. Huh! 😥

Beberapa hari kemudian saya diminta datang untuk mengambil hasil ujian. Waktu itu sekalian ada kajian dari Ustadzah yang sudah melanglang buana ke luar negeri karena bacaan Alqur’annya yang bagus banget. Hafizah 30 juz. Masya Allah….

Saya buka lembar hasil ujian saya. Saya pun bingung. Saya hubungi guru kelas, mungkin hasilnya tertukar sama si anu. Dia bilang dia gak lulus, harusnya saya yang gak lulus. Bu guru bilang, itu sudah betul hasilnya. Saya ngotot ini salah. Beliau lebih ngotot lagi bilang kalau itu sudah benar. Saya pun bengong, nilai yang tertera di lembaran nyaris sempurna. Apa iya?!

Saya pun gamang. Dulu pertama kali datang kesini, saya merasa sudah jago bener mengaji dan ternyata dapat pukulan telak ditempatkan di level 1. Sekarang saat saya merasa paling “bodoh” dan malas koq malah dapat nilai sangat bagus kayak gini. Ah, duniaaa…. oh, prasangkaaaa….

Kemudian saya mendengarkan ceramah Ustadzah keren nan jelita di hadapan saya. Beliau mengatakan tentang pentingnya menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu-ilmu yang kita peroleh di rumah tahsin ini ke masyarakat sekitar. Saat tiba waktu sesi tanya jawab. Saya pun bertanya dan mengeluarkan uneg-uneg saya selama ini.

” Assalammualaikum, Ya, Ustadzah. Perkenalkan saya, bla..bls..bla… Sungguh selama ini saya galau dan tertekan. Selama ini saya diminta oleh kawan-kawan dan pejabat masyarakat untuk mengajar ngaji. Ada grup Ibu-ibu, remaja dan anak-anak yang tinggal di pinggiran kali ciliwung. Saya malu Ustadzah, saya mulai berpikir bahwa tak cukup ilmu saya untuk mengajari mereka ini-itu. Tak pantas saya menjadi guru mereka. Ustadzah tahu sendiri, saya baru level 1. Ini naik ke level 2 juga atas belas kasihan kayaknya. Hahaha. Jadi bagaimana Ustadzah? Apakah tindakan saya membubarkan pengajian yang saya pegang tersebut dapat dibenarkan? Sungguh saya tak enak hati, saya mencari berbagai alasan kayak band malaysia exist untuk berhenti mengajar. Saya pun berusaha mencari pengganti yang sekiranya lebih pantas dan lebih berilmu dari saya. Tapi belum juga dapat. Akhirnya ya kelas gak jalan-jalan. Sekalian juga saya bilang disini kalau ada kawan-kawan dan para guru yang berkenan mengajar di lingkungan saya, sungguh saya sangat berterimakasih. Tapi mohon maaf kalau belum ada kompensasinya. Bagaimana menurut Ustadzah?”

Sang Ustadzah pun menjawab:

“Saya panggil kamu “Mbak” saja ya bukan “Ibu” karena sepertinya masih muda sekali. (*uhuyyy dalam hatiku).

Begini ya, Mbak. Kamu harus banyak-banyak bersyukur karena diperkenalkan dengan rumah tahsin disini. Tempat dimana kamu bisa menempa ilmu yang selama ini kamu dipandang lemah. Dari sekian banyak akhwat dan guru, Allah memilih kamu, Mbak. Kamu yang dipilih Allah untuk hadir ditengah-tengah masyarakat, mengajar kalam-Nya. Adalah sebuah kesalahan besar ketika kamu malah memutuskan untuk berhenti lalu membubarkan pengajian yang kamu bina. Hayoo istighfar duluuu.

Ilmu bisa dicari sambil diamalkan. Kamu dapat dan pahami sedikit dari sini, kamu bisa langsung sampaikan disana. Begitu seterusnya. Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Artinya sampaikanlah apa-apa saja yang sudah kamu bisa dan pahami.

Kalau makhroj hurufmu baru sempurna sampai huruf “kho” ya ajarkan saja sampai huruf “kho”. Sambil kamu terus belajar disini. Jangan pernah melepaskan kesempatan ini atau memberikannya kepada orang lain. Allah itu sudah memilih kamu.

Mungkin banyak yang lebih pintar dari kamu, tapi karena satu atau lain hal Allah urung memilihnya. Mungkin karena ia sudah sibuk mengajar di tempat lain, mungkin tak mau mengajar di tempat-tempat yang kamu ceritakan, atau mungkin banyak kerjaan lain atau apalah. Maka dari itu, tetaplah kamu genggam kesempatan untuk beramal baik yang datang kepadamu. Terus asah dirimu untuk menjadi lebih baik di tempat ini. Dan berbagilah pengetahuan dengan mereka-mereka yag sudah Allah pilihkan ada dalam hidupmu.

Mbak, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang brlajar dan mengajarkan Alqur’an.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Jangan karena merasa kurang ilmu, lalu kamu lepaskan kesempatan untuk beramal baik, kamu berhenti untuk menyampaikan kebaikan, dan menunggu orang lain melakukannya dengan bersembunyi dibalik alasan keterbatasan diri bahkan dalil fardhu kifayah.

Jangan juga merasa inferior melihat orang yang ilmunya banyak dan lebih pantas dijadikan guru dibanding kamu sehingga kamu melipir. Berhenti menebar manfaat dengan alasan mau nyari ilmu dulu yang banyak. Padahal yang banyak ilmunya belum tentu juga mau mengamalkan. Dan belum tentu juga kamu punya kesempatan untuk mengamalkan ilmu nanti disaat kamu sudah merasa berilmu. Lah, kalau umurmu tak panjang bagaimana? Jangan sampai di akhirat kamu malah menyesal nantinya.”

Habislah saya disadarkan (baca: diomelin) oleh sang Ustadzah dengan logat jawanya yang kental sekali.

Tuh yaa, dengerinnn. Jangan sampai harus diomelin dulu kayak saya baru sadar. Jangan sampe nyesel deh kawan-kawan. Berbuat kebaikan ke orang laen jangan diberhentiin sampe bab niat doang. Belajar mah kudu. Seumur hidup kalo bisa. Nah menyebarkan ilmu juga harus. Biar sedikit asal manfaat kan gak masalah. Gak harus nungguin gelar, nanti malah bendera kuning yang duluan berkibar. Ih, ngeriiii 😭

Continue Reading

Citizen Journalism

Kisah Cinta Presiden RI yang Bikin Meleleh

Published

on

By

Kisah cinta presiden RI dengan pasangannya selalu saja jadi topik yang menarik. Di balik sepak terjangnya menjadi pemimpin negara, kita tahu ada sosok yang mendampingi dari belum jadi siapa-siapa, jatuh bangun, dan akhirnya menjadi presiden.

Dari 7 Presiden Republik Indonesia setidak ada 3 orang jalinan asmaranya menjadi sorotan nasional. Yang pertama adalah Soekarno dengan Fatmawati.

Soekarno bertemu Fatmawati saat dibuang ke Bengkulu di tahun 1938. Kala itu, ia memiliki Inggit Garnasih sebagai istri dan dua orang anak angkat.

Suatu saat, ia bertemu ayah Fatma yang merupakan salah satu tokoh di Bengkulu. Fatma diajaknya serta.

Soekarno langsung jatuh hati. Mengetahui Fatma putus sekolah, ia menyekolahkan Fatma yang dekat dengan anak angkatnya. Fatma pun dititipkan ayahnya di rumah Soekarno.

Lama-kelamaan, Inggit dan anak angkatnya mulai curiga dengan kedekatan Fatma dan Soekarno. Pertengkaran kerap terjadi sampai Fatma pindah ke rumah neneknya.

Namun, Soekarno masih curi waktu menjadi guru Bahasa Inggris Fatma. Sempat berpisah sewaktu Soekarno dipulangkan ke Jawa, Soekarno curi waktu untuk bertemu lagi. Tekadnya sudah bulat untuk memiliki anak dari Fatmawati.

Setelah bercerai dengan Inggit pasca rumah tangga yang kian tidak kondusif, ia pun meminang Fatmawati.

Lalu ada B.J Habibie dan Ainun. Kisah lama Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dengan sang istri, Ainun, masih memikat untuk disimak.

Siapa sih yang tak tahu kisah cinta Habibie dan Ainun?

Hasri Ainun Besari atau yang akrab disapa Ainun merupakan istri dari mantan Presiden Indonesia, B.J. Habibie. Eyang Habibie, yang merupakan ahli dalam bidang pesawat terbang ini, dikenal sangat romantis dan mencintai istrinya yang juga merupakan seorang dokter

Selama lebih dari 40 tahun, keduanya hidup bersama dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tak heran, kisah cinta keduanya juga diabadikan dalam sebuah film berjudul “Habibie dan Ainun”.

Pada tahun 2010, saat Ainun meninggal dunia karena kanker ovarium yang dideritanya, Habibie begitu berduka karena kehilangan orang yang sangat dikasihinya tersebut. Kisah cinta mereka tentu memberikan beberapa pelajaran berharga bagi kita semua.

Terakhir ada SBY dan Ani Yudhoyono. Sudah kurang lebih satu bulan, Ani Yudhoyono menjalani perawatan di Singapura. Ya, sejak awal bulan Februari silam, istri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu mendapat pengobatan di rumah sakit National University Singapura lantaran penyakit kanker darah yang dideritanya.

Kesetiaan Susilo Bambang Yudhoyono pada istrinya, Ani Yudhoyono yang sedang sakit menjadi sorotan.Pasalnya, SBY terlihat selalu menemani istrinya yang saat ini tengah berjuang melawan penyakit kanker.Ia pun juga rela meninggalkan segudang aktivitasnya demi untuk selalu berada di sisi sang istri tercinta.

Menilik kembali kisah asmara Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani Yudhoyono rupanya ada cerita menarik. Susilo Bambang Yudhoyono dan Kristiani Herrawati (nama muda Ani Yudhoyono) pertama kali bertemu di awal tahun 1973 di Magelang, Jawa Tengah.

Keduanya bertemu di lingkungan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Kristiani Herrawati adalah putri ke-3 Sarwo Edhie Wibowo yang merupakan gubernur AKABRI pada masa itu. Sedangkan SBY merupakan pemuda asal Pacitan, Jawa Timur yang dikenal sebagai taruna cerdas dan berprestasi.

Continue Reading

Citizen Journalism

Mensyukuri Cuka Menerbitkan Suka Cita

Published

on

Tulisan ini akan saya awali dengan sebuah hadis riwayat Imam Muslim yang terdapat dalam Kitab Riyadhus Shalihin Bab 101 tentang Larangan Mencela Makanan dan Sunnah Memujinya.

Dari Jabir Ra, Rasulullah Saw menanyakan lauk pauk kepada keluarganya dan mereka menjawab: “Tidak ada lauk pauk kita kecuali cuka”. Maka Nabi Saw meminta cuka itu untuk dimakan bersama roti yang disajikan sambil berkata: “Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka, sebaik-baik lauk pauk adalah cuka”.

Ada banyak pelajaran yang dapat kita gali dari sepenggal kisah singkat di atas. Umpamanya kita mulai dengan menyodorkan pertanyaan pembuka: Manakah yang sejatinya Sunnah Rasul itu? Apakah kita memahaminya hanya secara tekstual-literal sehinga sunnah makan dengan cuka itu hanya menyentuh tataran teknis aplikatif berupa makan dengan cuka? Atau kita memahaminya secara substantif-kontekstual berupa moral ethic menerima apapun karunia Allah dengan penuh rasa syukur walaupun hanya beberapa tetes cuka?

Lalu, manakah yang sejatinya disebut perbuatan menyelisihi sunnah itu? Makan tidak dengan cuka atau makan tidak dengan rasa syukur?

Sampai di sini, kita dapat membuat semacam komparasi sederhana untuk menarik mana yang lebih seiring-senafas dengan ajaran Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi moralitas: Makan dengan penuh rasa syukur sekalipun bukan dengan cuka atau gak apa-apa tidak bersyukur yang penting tetap makan dengan cuka?

Itu satu.

Yang kedua, Nabi Muhammad Saw sedang mengajarkan kepada kita suatu kemampuan yang disebut oleh pakar psikologi modern ini dengan istilah reframing skill, yaitu kemampuan untuk dapat menata ulang sudut pandang kita dalam menyikapi persoalan hidup yang tengah dihadapi, terutama persoalan-persoalan yang tidak sesuai dengan selera hati kita. Reframing ini tidak otomatis mengubah nasib buruk manjadi baik, tapi jelas menata suasana hati agar tetap adem, tenang, dan gembira dalam menyikapi nasib buruk itu.

Cuka tidak lantas berubah menjadi kari kambing dengan mengatakan “Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka. Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka”. Cuka tetap saja cuka. Akan tetapi, dengan mengatakan demikian, Nabi Saw tengah mengatur suasana hatinya dan menata ulang sudut pandang dirinya terhadap cuka. Karena yang ada hanya cuka, ya sudah… disyukuri, dinikmati dan dibuat indah saja cuka itu. Tokh, mencaci maki cuka juga tidak otomatis mambuat cuka menjadi rendang.

Selain itu, Nabi Saw sedang memberi kita pengajaran untuk menemukan rasa syukur dalam keadaan apapun yang kita terima dari kehidupan. Ada roti, syukuri roti; ada cuka, syukuri cuka; ada rendang, ya syukuri; yang ada hanya bakwan, ya tetap juga disyukuri. Dapat gaji 10 juta, ya syukuri 10 juta itu, dapatnya hanya satu juta, syukuri juga. Temukan kebahagiaan dalam berapapun nominal uang yang Allah berikan. Jangan dikasih satu juta, hati kita terus menerus melamunkan 10 juta. Akhirnya satu juta tak nikmat, yang 10 juta tak didapat.

“Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka” adalah ungkapan yang membuktikan bahwa Nabi Saw memiliki kemerdekaan seutuhnya untuk meraih kebahagiaan tanpa terpengaruh hal-hal lain di luar dirinya. Seperti kita, Nabi Saw juga tidak bisa mengendalikan pagi ini atau sore ini makan dengan apa dan rasanya bagaimana, tapi beliau berdaulat sepenuhnya untuk tetap bersyukur menerima apapun yang Allah karunikan. Intinya, apapun yang dialami, beliau tidak membiarkannya berlalu begitu saja tanpa disyukuri. Karena rasa syukur itu menerbitkan kegembiraan yang sejati di dalam hati.

Hal ini terdengar sederhana, tapi banyak orang menderita dalam hidupnya karena tidak memiliki kemampuan reframing ini. Ketika dilahirkan dengan memiliki hidung pesek, dia terus saja mengutuki hidung itu, kenapa tidak mancung seperti orang lain. Setiap kali menatap cermin, dia kecewa. Setiap melihat hidung orang lain yang mancung, dia nelangsa.

Sesungguhnya, kita menderita bukan karena hidung yang pesek, tapi karena letih menjangkau-jangkau alam khayal berisi fragmen hidung mancung yang terus menerus diekspektasikan. Kita tidak memiliki kemandirian untuk menentukan perasasan hati. Kita tidak mempunyai kedaulatan untuk sesegera mungkin menukar, mengganti atau menghijrahkan selera hati dari alam khayali ke wilayah nyata yang ada di depan mata.

Kita tidak memiliki kemampuan itu, karena memang sekolah-sekolah juga tidak pernah mengajarkannya. Di sekolah kita dijejali ilmu aritmatika adiluhung 2 ditambah 8 sama dengan 10. Tapi matematika itu tidak mengajari kita untuk tetap bersyukur ketika hanya mendapat dua padahal yang diinginkan adalah delapan.

Tapi sudahlah, syukuri saja apa yang ada. Tinggal kita reframing hati, membuat formulasi dalam hati bahwa sekolah paling ideal itu, ya memang begitu.

Kesimpulannya, kita harus memiliki kedaulatan untuk menciptakan kegembiraan dalam hati. Mandiri dalam kebahagiaan. Jika tidak bisa, maka marahlah pada diri sendiri kenapa tidak mempunyai independensi dalam menentukan suasana hati!

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending