Connect with us

Ekonomi Global

Korban Virus Corona Bertambah, Harga Minyak Dunia Tertekan

Published

on


Finroll.com, Jakarta –  Harga minyak mentah dunia jatuh ke posisi terendah dalam tiga bulan terakhir pada perdagangan Senin (27/1), waktu Amerika Serikat (AS). Anjloknya harga minyak mentah dipicu bertambahnya korban wabah Virus Corona dari Wuhan, China.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent urun US$1,37 atau 2,3 persen menjadi US$59,32 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melemah US$1,05 atau 1,9 persen ke level US$53,14 per barel. Ini merupakan posisi terendah sejak 2 Oktober 2019 lalu.

Pasar khawatir bertambahnya korban terjangkit Virus Corona akan mengurangi aktivitas perjalanan di negara Tirai Bambu. Kondisi ini dapat memicu perlambatan permintaan minyak mentah.

Untuk diketahui, korban meninggal akibat virus corona naik menjadi 80 orang pada Senin (27/1). Pemerintah China pun memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek hingga 2 Februari 2020 dengan tujuan menjaga sebanyak mungkin penduduknya di rumah untuk mencegah penyebaran virus mematikan itu.

“Semakin banyak penutupan kota di China dan penerbangan dibatalkan mengancam pertumbuhan permintaan minyak global dari salah satu wilayah yang paling stabil,” kata RBC Capital Markets dalam sebuah laporan.

Tak hanya minyak, kinerja bursa saham global ikut merosot karena investor semakin cemas tentang krisis yang meluas. Sebaliknya, permintaan untuk aset-aset safe-haven, seperti yen Jepang dan surat utang pemerintah melonjak.

Namun demikian, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua sekutu dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencoba untuk mengecilkan dampak Virus Corona pada harga minyak mentah. Pemimpin OPEC secara de-facto mengatakan kelompok itu dapat menanggapi setiap perubahan permintaan minyak mentah.

Sementara itu, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman Al-Saud mengatakan ia meyakini Virus Corona dapat diatasi.

Sumber OPEC mengatakan ada “diskusi awal” di antara OPEC+ untuk perpanjangan pemotongan pasokan minyak di luar pengiriman Maret. Terbuka kemungkinan pemotongan pasokan lebih dalam jika penyebaran virus China berdampak pada permintaan minyak.

Sebagai informasi, OPEC+ merupakan organisasi yang terdiri dari negara anggota OPEC dan sekutunya termasuk Rusia. OPEC+ telah menahan pasokan untuk mendorong harga minyak selama hampir tiga tahun.

Pada awal tahun mereka sepakat meningkatkan pengurangan produksi sebesar 500 ribu barel per hari (bph) menjadi 1,7 juta barel per hari hingga Maret 2020.(cnnindonesia.com)

Ekonomi Global

Imbas Virus Corona, Singapura Pangkas Proyeksi Laju Ekonomi

Published

on

By

Singapura memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi kisaran -0,5 hingga 1,5 persen untuk tahun ini. Estimasi itu lebih buruk dibandingkan dengan proyeksi November lalu, di rentang 0,5 hingga 2,5 persen.

FINROLL.COM — Pemerintah Singapura mengungkapkan lesunya pertumbuhan ekonomi merupakan dampak dari penyebaran wabah virus corona. Penyebaran virus sangat mempengaruhi sektor pariwisata dan perdaganga mengingat China merupakan tujuan ekspor dan sumber utama turis mancanegara bagi Singapura.

Selain itu, konsumsi domestik juga semakin melandai. Masyarakat mulai mengurangi kebiasaan untuk berbelanja dan membeli makanan di luar rumah.

“Di Asia, wabah ini sangat mungkin mengurangi prospek pertumbuhan di China dan negara-negara terdampak lainnya untuk tahun ini,” ungkap Kementerian Perdagangan Singapura, seperti dikutip dari AFP, Selasa (18/2).

Ekonom Perbankan Swasta Song Seng Wun juga mengatakan lesunya ekonomi China dan rantai pasokan global yang saling terintegrasi berpengaruh besar pada ekonomi negara yang berorientasi pada perdagangan, seperti Singapura.

Apabila terjadi krisis global, negara seperti Singapura akan cepat terdampak. Meski begitu, jika kondisi mulai membaik, ekonomi negara mereka juga akan cepat melesat.

Menteri Pembangunan Ekonomi Singapura Lawrence Wong mengungkapkan ekonomi Singapura memang sedang mengalami kontraksi yang tajam. Kondisi ini menurutnya akan berlangsung untuk beberapa kuartal mendatang. Untuk itu, pemerintah Singapura akan mengalokasikan anggaran yang cukup besar demi menanggulangi kemerosotan ekonomi dampak wabah virus corona.

“Saya pikir dampaknya akan signifikan setidaknya dalam beberapa kuartal mendatang. Saya tidak bisa mengatakan apakah kami akan mengalami kemerosotan atau tidak, tapi yang pasti perekonomian kita akan terpukul,” kata Wong.

Hingga Senin (17/2) kemarin, Singapura menjadi negara di luar China yang memiliki kasus terbanyak, yakni 75 kasus. Di China sendiri kasus virus corona telah mencapai 71.204 kasus. Adapun jumlah korban yang meninggal akibat virus corona di seluruh dunia telah mencapai angka 1.770.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Continue Reading

Ekonomi Global

Emas Turun Pasca Ketua Fed Bilang Ekonomi AS Tangguh Hadapi Wabah Virus

Published

on

By

Jakarta, FINROLL – Emas mengalami penurunan setelah Ketua Federal Reserve Jay Powell mengatakan ekonomi Amerika Serikat cukup tangguh terhadap pandemi tersebut. Tetapi penutupan di atas level kunci $1.500 memberikan arti bahwa mayoritas level support logam kuning masih utuh.

“Virus korona mungkin tidak berefek jangka panjang dan karenanya Fed dapat melanjutkan program kerja terkininya terkait suku bunga,” kata George Gero, analis logam mulia RBC Wealth Management di New York. “Angka-angka pekerjaan positif baru-baru ini juga bisa menjaga jarak Fed dari pelonggaran. Semua ini membatasi pergerakan emas dalam kisaran perdagangannya di $1.550 – $1.600.”

Emas berjangka COMEX untuk penyerahan April di New York ditutup turun $9,40, atau sebesar 0,6%, menjadi $1,570,10 per ons.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, turun $3,59, atau sebesar 0,2%, di $1,568,31 pada pukul 03:45 PM ET (19:45 GMT).

Powell, dalam kesaksian tengah tahunan di hadapan Kongres AS, mengatakan bahwa Federal Reserve sedang memantau dengan cermat munculnya pandemi dan dampaknya terhadap Cina dan dunia, terlepas dari ketahanan ekonomi Amerika dan sektor pekerjaan.

“Kita harus menahan diri dari godaan untuk berspekulasi mengenai hal ini dan jadi kita akan mengawasinya dengan hati-hati lagi, dan pertanyaan yang akan kita tanyakan adalah‘ apakah efeknya berkelanjutan yang dapat mengarah pada peninjauan materi?” ujarnya. “Saya pikir terlalu dini untuk mengatakan itu.” (GPH/Invesnting)

Continue Reading

Ekonomi Global

Harga Emas Terus Menguat, Pasar Harap Powell Ungkap Rencana Perangi Virus

Published

on

Jakarta, FINROLL  — Emas mencapai level tertinggi satu minggu menjelang penampilan Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang dijadwalkan memberikan kesaksian Selasa dan Rabu di depan Kongres, yang seharusnya mencakup bagaimana bank sentral itu berencana untuk melindungi ekonomi AS dari krisis virus korona Cina yang meluas.

Baik emas fisik dan emas berjangka naik selama empat sesi beruntun pada Senin (10/02) waktu AS, menjelang kesaksian dua hari Powell di hadapan Kongres AS, yang dapat memberikan petunjuk apakah Fed akan mempertimbangkan langkah-langkah stimulus, atau bahkan pemotongan suku bunga lagi, sebagai tindakan pencegahan terhadap perkiraan perlambatan tajam pada pertumbuhan di Cina, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Emas Berjangka COMEX untuk penyerahan April}} di New York ditutup naik $6,10, atau sebesar 0,4%, di $1,579,50 per ons. Sebelumnya emas ini menguat ke $1.580,45, level tertinggi puncak 3 Februari di $1.592,20 untuk kontrak emas bulan April.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, menguat $5,72, atau sebesar 0,4%, di $1,575,62 pada pukul 02:48 PM ET (19:48 GMT). Puncak intraday untuk emas spot ada di – $1.577,04 – juga level tertinggi dalam seminggu.

“Emas terus membaik saat kita menunggu kesaksian dua hari dari Ketua Powell,” imbuh George Gero, analis logam mulia RBC Wealth Management di New York. “Banyak investor melihat pertanyaan apakah peluang penurunan suku bunga harus dikurangi berdasar angka pekerjaan terbaru di kala krisis virus di Cina semakin memburuk.”

AS menambah 225.000 pekerjaan pada Januari, melampaui prediksi ekonom untuk data gaji pekerja nonpertanian. Laporan pekerjaan Januari menunjukkan tanda-tanda yang lebih kuat ketimbang rata-rata kenaikan bulanan 175.000 pekerjaan pada tahun 2019.

Krisis virus korona telah menewaskan lebih dari 900 orang dan menginfeksi lebih 41.000 orang di Cina, melumpuhkan seluruh industri pada perekonomian nomor dua di dunia itu, sebelum menyebar ke setidaknya 25 negara. Goldman Sachs (NYSE:GS) memperkirakan bahwa ekonomi Cina akan mengalami penurunan pertumbuhan 1,6 persen hingga kuartal pertama.

Bank Wall Street ini juga memprediksi dampak tersebut di Cina akan mengurangi produksi AS sebesar 0,4 persen menjadi 0,5 persen, pada tingkat tahunan di kuartal pertama, dengan pertumbuhan melonjak di kuartal kedua, meninggalkan dampak minimal pada pertumbuhan setahun penuh.

The Fed memotong suku bunga sebanyak tiga kali pada tahun 2019 sebanyak 25 basis poin pada setiap rapat kebijakan sebelum mengakhiri siklus pelonggaran pada bulan Desember. (INVESTING)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending