Connect with us
[adrotate group="1"]

Kuliner

Korean Garlic Bread, dari Kaki Lima sampai Viral di Indonesia

Published

on


Finroll – Jakarta, Setelah kopi dalgona, kini muncul kuliner Korea Selatan lainnya yang viral di Indonesia yakni Korean garlic cheese bread atau cream cheese garlic bread.

Jangan salah, Korean garlic cheese bread berbeda dengan garlic bread ala Eropa. Garlic bread Korea memiliki tekstur yang empuk dan creamy sedangkan garlic bread Eropa punya tekstur yang renyah dan gurih.

Sejumlah sumber menyebut Korean cheese garlic berawal dari Kota Gangneung yang berada di Provinsi Gangwon. Makanan ini awalnya merupakan kuliner kaki lima Korea atau street food.

Toko roti Pain Famille membuat olahan roti menyerupai bawang putih yang terdiri dari enam siung, dikenal juga dengan bawang putih enam sisi. Ada juga yang mengirisnya melintang seperti sosis dengan menggunakan roti yang agak panjang. Namun yang populer saat ini adalah roti bulat dengan irisan yang seperti bintang.

Dari Kota Gangneung, roti krim keju bawang putih itu dibawa ke pusat kuliner Gangnam, sebuah distrik hype dan terkenal di Seoul. Dari situ cheese garlic bread semakin diminati orang Korea dan masuk dalam daftar menu baru di banyak cafe.

“Dari tahun lalu sudah tren dan ada toko yang sampai jualan di mal-mal besar Korea. Sampai sekarang masih tren, di cafe-cafe lain juga mulai jualan,” kata salah seorang warga Korea Selatan Ryu Hanna kepada CNNIndonesia.com, Kamis (16/7).

Cream cheese garlic bread merupakan olahan roti, seperti roti burger, tapi dipotong enam sisi yang saling menyilang menyerupai siung bawang putih yang diberi keju dan dilumuri bumbu dan dipanggang. Krim keju yang meleleh dengan sensasi rasa bawang putih yang gurih memberikan sensasi yang berbeda dengan jenis roti lainnya.

Alasan Korean Garlic Cheese Bread jadi tren

Sebagai warga Korea, Hanna mengungkapkan ada beberapa alasan mengapa roti ini jadi tren di negaranya.

Alasan pertama adalah karena berbagai varian roti merupakan panganan yang sudah lama akrab dengan orang Korea Selatan. Sedangkan bawang putih adalah bumbu wajib yang tak pernah absen dalam setiap makanan baik dimakan mentah atau dipanggang.

“Roti sudah lama disukai orang Korea. Bawang putih banyak digunakan di masakan Korea jadi sudah sangat akrab, apalagi kalau panggang daging selalu ada entah dimakan mentah atau dipanggang juga.”

Begitu pula dengan keju yang kerap ditambahkan pada setiap makanan, seperti tteokbokki, ramen, dan ayam. Perpaduan roti, bawang putih, dan keju ini menciptakan rasa gurih yang nikmat.

Selain rasa yang nikmat dan bentuk yang unik, pemasaran yang tepat membuat kuliner ini semakin populer. Pemasaran yang mengandalkan media sosial seperti Instagram juga membuat panganan ini viral bahkan sampai ke Indonesia. Apalagi kini Korea tengah menjadi sorotan di dunia hiburan lewat K-Pop.

Di Indonesia, Korean cream cheese garlic banyak dijajakan di media sosial dan semakin diminati banyak orang. Selain itu Anda juga bisa membuatnya sendiri di rumah.

Proses membuatnya tak rumit, Anda hanya butuh butter, saus keju, roti bun, dan bawang putih.

Sumber : CNN Indonesia

Advertisement Valbury

Kuliner

Nikmat Group Gandeng Jovi Adhiguna Launching Gildak

Published

on

Finroll.com — Sukses dengan brand kedai kopi Lain Hati dan Street Boba, kini Nikmat Group kerja sama dengan Influencer papan atas Tanah Air, Jovi Adhiguna kembali menghadirkan brand terbarunya Gildak K – Street Snack.

Deo Cardi Nathanael, selaku Vice President of Marketing Nikmat Group mengatakan, Kali ini Nikmat Group luncurkan Brand yang berbeda, kalau sebelumnya kita buat brand dengan konsepnya jepang, kali ini kita luncurkan produk dengan konsepnya Korea,” katanya saat Grand Launching Gildak di Krekot Bundar Pasar Baru Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2020).

Deo menjelaskan bahwa Nikmat Group terus berusaha untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. “Kita tau bahwa banyak masyarakat yang suka dengan jajanan snack Korea, hanya mereka tidak tau mau belinya dimana?. Gildak adalah merupakan brand makanan dengan konsep menu Korea, dengan bumbu – bumbu rasa nasional dan Korea. Kita hadir disini,” jelasnya.

“Konsep ini berawal dari Street Boba yang sudah mencapai Store yang ke 43, dimana para pelanggan banyak yang menanyakan kenapa kok tidak ada makanan yang asin -asin, disinilah awalnya tercetus ide ini,” ungkap Jovi Adhiguna.

Saat ini lanjut Jovi, Gildak telah menyajikan 10 varian menu seperti nasi, kulit ayam, ayam goreng dengan bumbu – bumbu dari rasa nasional sampai rasa Korea, dan tingkat kepedesannya pun bisa dipilih sesuai selera.

“Sampai hari ini kita baru menghidangkan sampai 10 menu saja, mudah – mudahan kedepannya kita sudah banyak menu korea lainnya,” lanjut Jovi.

“Gildak artinya ayam jalanan, sama seperti Street Boba pinggir jalan sehingga ditempat ini lengkap sudah, kita mau makan bisa, mau minum juga bisa, tempat nongkrongnya pun enak dan banyak tempat photo – photonya,” tambahnya.

Harga yang ditawarkan dari Gildak ini mulai dari harga 18ribu hingga 30ribuan. Gildak juga mempunyai makanan favorit yaitu Itawoen cryspy chiken yaitu ayam yang diberikan bumbu dan mozarela serta menu favorit lainnya.

Khusus besok pada 12 September 2020 Gildak juga akan memberikan promo spesial dengan By One Get One, Selain itu Gildak juga melakukan promo secara online melalui Grab dan Gojek yang sudah mulai Aktif Sore ini.

Dalam waktu dekat Gildak juga akan segera membuka cabang diseluruh kota – kota besar di Indonesia dan akan membuka lapangan pekerjaan.

Selain itu dalam lima hari kedepan Gildak juga akan membuka store keduanya yang berlokasi di seputaran Rawamangun,” Pungkas Deo

Continue Reading

Kuliner

Kenangan akan Mbah Lindu Penjual Gudeg Legendaris Yogyakarta

Published

on

Finroll – Jakarta, Penjual gudeg legendaris di Yogyakarta, Setyo Utomo atau dikenal dengan Mbah Lindu berpulang pada Minggu (12/7). Mbah Lindu meninggal di usia 100 tahun.

Terhitung puluhan tahun sudah ia menjual gudeg di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Pakar kuliner, William Wongso kagum akan konsistensi Mbah Lindu menekuni kuliner gudeg.

“Aku ini sampai bilang, apa yang dilakoni Mbah Lindu itu mestinya sudah masuk ke Guinness World Records. Berarti kan kalau dia meninggal sekarang, 100 tahun, dia berarti kan sudah kira-kira 85 tahun itu masak gudeg. Nggak ada itu di dunia itu begitu, nggak pernah ada,” ungkap William kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (13/7).

Saat masih berjualan di kawasan Malioboro, Mbah Lindu memulai lapak sejak pagi. Dalam film dokumenter produksi Lumix Indonesia pada 2017, Mbah Lindu bercerita mulai berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00 WIB.

Dagangan akan ditutup sekitar pukul 9 hingga 10 pagi. Siang harinya, ia akan mulai memasak lagi untuk keesokannya. Gudeg yang biasanya sudah matang sekitar pukul 7 malam itu lantas ditutup dan didiamkan.

“Pukul dua dini hari saya mulai bangun, menanak nasi dan membuat bubur,” tutur Mbah Lindu yang saat itu ketika diwawancara berusia 97 tahun.

Dalam film dokumenter itu pula Mbah Lindu mengungkapkan, alasan mengapa ia betah berjualan gudeg hingga puluhan tahun.

“Menerima. Nerima, ya seadanya, nggak ada [keinginan] apa-apa, enggak macam-macam, nggak ada yang pengen yang gimana. Menerima milik sendiri, dan melihat anak dan cucu sehat,” kata Mbah Lindu saat diwawancara pada usia 97 tahun.

William Wongso mengaku takjub terhadap kegigihan Mbah Lindu melakoni hidup. Mbah Lindu bagi William, merupakan sosok perempuan yang mencurahkan hidup untuk keluarga.

“Aku melihat ibu itu, perempuan Jawa banget, yang menurutku prigel, tabah dan, pede. Yang memikirkan hidupnya itu bukan untuk diri sendiri, tapi selalu untuk anak dan cucu. Itu tampak ketika ngobrol, dari cerita,” kata William.

Ia pun mengingat kesempatannya bertandang ke rumah Mbah Lindu. Setiap kali mampir, William tak absen memesan bubur gudeg sebagai menu langganan.

“Kan dia bukanya pagi. Kalau aku itu, selalu beli bubur gudeg itu racikannya nggak mau pakai ayam. Hanya gudeg, sama krecek sama tahu,” William mengenang.

Makanan khas Yogyakarta bikinan Mbah Lindu menurut William, tak bisa dibandingkan dengan gudeg lain. Kata dia, masing-masing gudeg memiliki karakter dan khas sendiri-sendiri.

“Kalau Yu Djum itu kan kering, kalau Mbah Lindu itu nggak terlalu kering dan nggak terlalu basah. … Gudeg di Yogya itu tidak bisa dibandingkan satu sama lain karena masing-masing itu punya rasa,” tutur dia.

William yakin seraya berharap, usaha kuliner gudeg ini kelak diteruskan oleh anak Mbah Lindu. “Pasti ada yang meneruskan anaknya, yang perempuan itu,” sambung dia.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Kuliner

McDonald’s Sarinah Tutup: Sejuta Kenangan dan Saksi Sejarah

Published

on

Finroll – Jakarta, Restoran cepat saji McDonald’s readyviewed Sarinah bakal tutup permanen pada 10 Mei pukul 22.05 WIB. Hal ini dilakukan atas permintaan manajemen gedung Sarinah melalui surat resmi yang diterima oleh manajemen McDonald’s Indonesia pada hari Kamis, 30 April 2020. Manajemen gedung Sarinah akan melakukan renovasi dan akan melakukan perubahan strategi bisnis pada bangunan milik pemerintah tersebut.

“Kami menyadari restoran McDonald’s di Sarinah Thamrin ini merupakan salah satu restoran kami yang penting dan sangat bersejarah, tidak hanya bagi kami namun juga bagi konsumen kami. Bukan hanya karena lokasinya yang strategis, namun juga karena banyak kenangan yang tercipta di sana. Bagi kami, McDonald’s Thamrin adalah flagship store yang menjadi tonggak sejarah kehadiran McDonald’s di Indonesia.”

“Namun bagi jutaan konsumen McDonald’s yang pernah singgah di restoran kami tersebut, McDonald’s Sarinah Thamrin adalah kenangan indah yang telah menciptakan jutaan momen berharga dan tak terlupakan,” ucap Michael Hartono, Direktur Marketing Communications, Digital dan CBI McDonald’s Indonesia dalam pernyataannya kepada CNNIndonesia.com.

Sejarah McDonald’s di Indonesia

McDonald’s pertama kali berdiri di California, Amerika Serikat pada 1955 lalu. Restoran cepat saji waralaba dari Amerika ini pertama kali hadir di Indonesia saat hari Valentine, 14 Februari 1991. Gerai pertama di Indonesia ini terletak di Sarinah Thamrin, Jakarta Pusat.

Sempat meninggalkan Sarinah, Thamrin pada tahun 2009, dan digantikan oleh Tony’s Jack McDonald’s berhasil kembali lagi ke Sarinah Thamrin pada tahun 2011 melalui proses tender.

Mengutip laman resminya, restoran dengan andalan burger BicMac ini hadir di Indonesia di bawah naungan PT Rekso Nasional Food (RNF), Rekso Group.

Sampai saat ini, restoran tersebut telah membuka sekiranya lebih dari 200 gerai McDonald’s tersebar di berbagai kota di Indonesia yang didukung dengan lebih dari 14.000 karyawan di seluruh Indonesia.

Berasal dari Amerika, restoran burger dan ayam ini mendapatkan label dan sertifikat halal dari MUI pada 1994 lalu. Dan di tahun 1995, restoran ini juga menerapkan konsep drive thru pertama kali.

Sukses dengan restorannya, McDonald’s juga akhirnya memboyong konsep kafe dari restoran dengan maskot Ronald McDonald’s ini. McCafe pertama di Indonesia hadir pada Mei 2007 lalu di Kemang.

Kenangan dan Saksi Sejarah
Sarinah, mal mewah dan populer pada masanya semakin diramaikan dengan kehadiran restoran cepat saji dari Amerika ini.

Setelah 30 tahun berdiri di Indonesia, tak dimungkiri restoran ini menjadi bagian hidup dari banyak orang. Ada kenangan yang tertinggal di tiap sudut restoran 24 jam ini. Bukan cuma soal ayamnya yang renyah dan burger yang gurih serta paket sarapannya yang enak, tapi ada yang jadi cerita hidup, tempat keluh kesah, juga kongko bersama sahabat atau bahkan kekasih saat keuangan mencekik di malam minggu.

“Di tempat ini saya selalu janjian sama teman-teman, hanya sekadar untuk ngobrol atau kangen-kangen sama mereka. Murah meriah dan bisa nongkrong lama,” ucap salah satu responden CNNIndonesia.com.

“Ini tempat paling strategis yang ada di tengah-tengah.”

Hal senada juga diungkapkan oleh Ai. Area sudut jadi tempat pilihannya.

“Kalau mau kerja sambil ngerumpi sama teman-teman, sambil cerita soal bos dan kerjaan masing-masing, enak banget di situ. Selalu milih di pojok belakang di lantai bawah, karena ada colokan dan kursinya banyak jadi pas sama jumlah teman-teman.”

“Tempat ini banyak kenangannya. Dulu ketika abis pulang kerja mampir ke sini. Bahkan pernah sengaja mampir ke sini waktu abis ada acara dan ketika kehabisan kereta malam akhirnya nongkrong di sini sampai pagi dan baru bisa pulang ke rumah,” ucap Tina, responden lainnya.

Kisah soal kenangan McD Sarinah juga dialami oleh Sari. Restoran ini juga menjadi tempat ‘aman’ untuknya saat merayakan Tahun Baru.

“Restoran ini jadi tempat aman untuk rayakan Tahun Baru sama teman-teman beberapa tahun lalu. Walau rame banget tapi paling enggak, kami bisa kumpul, merayakan Tahun baru dengan proper dibanding desak-desakan di Bundaran HI. Dan sekarang salah satu teman kami itu sudah tiada. Sedih.”

Tawa, kekesalan, marah, sampai individu yang tengah dimabuk cinta dan pengejar cinta juga kerap terasa di sini.

Bukan cuma tempat kenangan, namun lokasinya di tempat strategis dan perempatan besar di pusat Jakarta, membuat McDonald’s Sarinah menjadi saksi sejarah berbagai kejadian mencekam di Indonesia. Seperti diketahui, restoran ini berada tepat di seberang gedung Bawaslu.

Salah satu yang masih teringat adalah saat Demo 22 Mei di depan Gedung Bawaslu.

Massa aksi 22 Mei mulai melempari sejumlah gedung yang terletak di pusat perbelanjaan Sarinah, Thamrin, Jakarta, Kamis (23/5) dini hari.

Saat itu massa melempari restoran cepat saji McDonald’s yang terletak di kawasan Perbelanjaan Sarinah. Akibatnya kaca restoran pecah.

Petugas keamanan Sarinah, Achmad Sanusi mengatakan massa hanya melempari restoran dengan batu dan tidak melakukan aksi penjarahan.

“Alhamdulillah enggak ada yang dicuri. Cuma kaca pecah saja. Massa melempar batu,” katanya kepada CNNIndonesia.com.

Selain itu, restoran ini juga menjadi saksi dari demo dan kericuhan hari HAM yang terjadi pada 10 Desember 2019 lalu. Kericuhan di Sarinah tersebut merupakan buntut dari bentrok antara demonstran dengan aparat kepolisian saat selesai menggelar aksi memperingati hari HAM di Istana Negara. Saat itu massa menggelar long march menuju Kampus Atma Jaya. Namun bentrokan terjadi di depan Sarinah.

“Mereka (yang diamankan) tadi tuh lempar-lempar traffic cone, batu, botol ke arah tukang ojek. Orang lain jadi terganggu,” tutur Kabag Ops Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Wiraga Dimas Tama.

Kejadian selanjutnya adalah long march mahasiswa Perppu KPK yang terjadi pada Oktober 2019 lalu.

Mahasiswa berdemo menuntut Presiden Joko Widodo menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang pencabut UU KPK. Mereka menggelar long march, jalan kaki menuju Istana Merdeka, Jakarta dari Dukuh Atas melewati Sarinah.

Namun kejadian tak terlupakan yang terjadi di area depan McDonald’s Sarinah adalah ledakan bom Thamrin. Sampai saat ini kejadian tersebut masih menciptakan trauma, khususnya bagi korban dan keluarganya.

Ledakan bom Thamrin ini terjadi di restoran ini melainkan kafe yang ada di seberang Sarinah, Starbucks Menara Cakrawala. Namun imbasnya juga terasa sampai di sana.

Saat itu polisi telah mengamankan enam buah bom yang belum sempat diledakan para pelaku teror di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1). “Pada saat clearing device, ada lagi ditemukan enam bom, lima bom kecil sebesar kepalan tangan kami sebut dengan granat tangan rakitan dan satu lagi bom yang lumayan besar sebesar kaleng biskuit. Jadi semua ada enam yang berhasil kami amankan,” ujar Tito Karnavian yang saat itu masih menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya Irjen di Istana Negara.

Media pemberitaan ISIS mengklaim, serangan bom di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, dilakukan oleh kelompok teror tersebut.

Ditutupnya McDonald’s Sarinah secara permanen yang sudah menjadi ikon bersejarah di Jakarta ini meninggalkan kesan dan kenangan khusus bagi banyak orang Indonesia.

 

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending