Connect with us

Ragam

Lakukan 4 Hal Ini Untuk Mengatasi Insomnia

Published

on


Lakukan 4 Hal Ini Untuk Mengatasi Insomnia

Finroll.com – Kurang tidur merupakan penyebab dari berbagai menurunnya fungsi tubuh, mulai dari konsentrasi yang rendah hingga daya tahan tubuh melemah. Walau demikian, bukan berarti kita harus mengandalkan obat tidur ketika susah tidur alias insomnia menyerang.

Penyebab insomnia yang paling umum adalah kecemasan, stres, dan kebiasaan tidur yang buruk. ” Insomnia kronis memengaruhi sekitar 6-7 persen pria berusia 20-40 tahun,” kata Hrayr Attarian, Direktur Medis Sleep Gorders Center, AS.

Banyak pria mengonsumsi obat tidur untuk tidur. Namun, hal ini tak direkomendasikan sebagai pertolongan pertama pada insomnia. Obat tidur juga tergolong obat keras yang harus diresepkan oleh dokter. Sebelum tergoda untuk mencoba obat tidur, ketahui cara-cara sederhana tapi efektif untuk mengatasi insomnia:

1. Membaca buku

Beberapa kali terbangun dari tidur malam dan sulit tidur kembali adalah hal yang sering dialami penderita insomnia. Daripada hanya berbaring di kasur dengan mata yang tak mampu terpejam, cobalah untuk membaca buku. “Jika kita tidak dapat tidur setelah 20-30 menit, bangkitlah dari tempat tidur dan beralih ke tempat lain, lalu lakukan aktivitas santai,” kata Attarian. Ia juga menyarankan kita untuk melakukan aktivtias lain yang tak terkait dengan pekerjaan. Misalnya, membaca atau mendengar musik. Jauhi gadget karena cahaya biru yang dipancarkan dari alat ini justru mengganggu produksi hormon melatonin. Baca juga: Demi Kesehatan Fisik dan Mental, Jangan Malas Membaca Buku

2. Kasur hanya untuk tidur dan seks

Menurut Vikas Jain, dokter pengobatan tidur, insomnia timbul karena faktor kebiasaan. Ketika beranjak ke tempat tidur, kita ingin otak memiliki keputusan sederhana, yaitu untuk tertidur atau berhubungan seks. “Jika kita menggunakan tempat tidur untuk melakukan 30 hal yang berbeda, otak harus mencari tahu apa yang ingin kita lakukan dan itu membuat kita susah tidur,” kata Jain.

3. Coba teknik relaksasi

Tubuh yang rileks adalah kunci untuk tidur nyenyak. Oleh karena itu, Attarian menyarankan kita untuk menghindari melakukan perkerjaan yang merangsang aktivitas mental 20 hingga 30 menit sebelum tidur. Sebaiknya, kita menggunakan waktu tersebut untuk kegiatan santai. “Latihan pernapasan, mindfulness, meditasi, dan relaksasi otot membantu untuk tidur nyenyak,” paparnya. Baca juga: Serupa tapi Tak Sama, Ini Beda Meditasi dan Mindfulness

4. Makan malam lebih awal

Kondisi seperti koma makanan juga menentukan kualitas tidur. Koma makanan ini merupakan kondisi tidur atau kelesuan ekstrem yang disebabkan konsumsi makanan dalam jumlah besar, dan membuat kita sering terbangun di tengah malam. “Cobalah untuk makan malam 3-4 jam sebelum tidur,” kata Attarian. Menurutnya, jika kita perut kita terisi banyak makanan saat tidur, terutama makanan yang penuh lemak, bisa menyebabkan refluks atau naiknya asam lambung yang menganggu tidur.

Source: Kompas
Advertisement Valbury

Ragam

ILO: 1 dari 6 Pemuda Jadi Pengangguran Gara-gara Covid-19

Published

on

Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyatakan satu dari enam kaum muda berhenti bekerja akibat merebaknya pandemi virus corona (covid-19). Sementara, bagi yang masih bekerja mengalami pemotongan jam kerja sebesar 23 persen.

Hal itu tercantum dalam laporan analisis terbaru dampak virus covid-19 terhadap pasar tenaga kerja “Monitor ILO: Covid-19 dan Dunia Kerja – edisi ke-4”.

ILO menyebut, pesatnya pengangguran muda baru sejak covid-19 merebak pada Februari lalu juga lebih banyak mempengaruhi perempuan dibandingkan laki-laki.

“Jika kita tidak mengambil aksi yang signifikan dan segera untuk memperbaiki situasi mereka, imbas virus ini dapat kita rasakan beberapa dasawarsa ke depan,” kata Direktur Jenderal ILO, Guy Ryder dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Kamis (28/5).

Pandemi covid-19, lanjutnya, tak hanya menghancurkan pekerjaan mereka. Namun, pandemi juga mengganggu pendidikan dan pelatihan serta memberikan hambatan besar bagi mereka yang sedang berupaya memasuki pasar kerja atau berpindah pekerjaan.

Tingkat pengangguran muda pada 2019 sendiri mencapai 13,6 persen dan terbilang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. Artinya, ada sekitar 267 juta kaum muda yang tidak dalam pekerjaan, pendidikan atau pelatihan (NEET) di seluruh dunia.

Mereka yang berusia 15-24 tahun dan bekerja umumnya berada dalam bentuk pekerjaan rentan seperti pekerjaan berupah rendah, pekerjaan di sektor informal atau sebagai pekerja migran.

“Jika bakat dan energi mereka tidak termanfaatkan dengan baik akibat kurangnya peluang atau keterampilan ini akan membahayakan masa depan kita semua dan akan semakin sulit untuk membangun kembali perekonomian yang lebih baik pasca COVID,” jelas Ryder.

Lihat juga: Menaker Sebut 18 Persen Pekerja Formal DKI Terdampak Corona
ILO juga memperbarui perkiraan penurunan dalam jam kerja di kuartal pertama dan kedua pada 2020, dibandingkan dengan kuartal keempat 2019.

Diperkirakan ada 4,8 persen jam kerja hilang selama kuartal pertama 2020 (setara dengan perkiraan 135 juta pekerjaan penuh waktu, dengan asumsi 48 jam kerja per minggu).

Dari perspektif regional, Amerika (13,1 persen) serta Eropa dan Asia Tengah (12,9 persen) mewakili kehilangan terbesar dalam jadwal kerja dalam kuartal kedua.

Karenanya, ILO menyerukan diambilnya kebijakan besar untuk mendukung kaum muda, termasuk program yang memastikan lapangan kerja/pelatihan yang luas di negara-negara berkembang serta di negara dengan pendapatan ekonomi rendah dan menengah.

Continue Reading

Ragam

Ini yang Diwaspadai Jokowi Saat New Normal Pariwisata

Published

on

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai gencar mewacanakan hidup new normal kepada masyarakat. Khusus di sektor pariwisata, Jokowi pun telah menyampaikan sebuah standar baru yang nantinya akan menjadi landasan industri pariwisata menjalankan bisnisnya di tengah pandemi Covid-19.

“Betul-betul harus disiapkan sebuah standar baru menjadi sebuah kultur baru, kebiasaan baru di sektor pariwisata dan perlunya sosialisasi masif diikuti uji coba, simulasi dan pengawasan,” kata Jokowi, Kamis (28/5/2020).

Jokowi menegaskan protokol baru perlu diterapkan untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan. Jika tidak dijalankan, maka bukan tidak mungkin citra pariwisata di Indonesia menjadi buruk. Sehingga risiko ini harus benar-benar harus diwaspadai.

“Begitu ada imported case, kemudian ada dampak kesehatan maka citra pariwisata yang buruk itu akan bisa melekat dan akan menyulitkan kita untuk memperbaikinya lagi karena itu betul-betul harus dihitung, dikalkulasi betul, di lapangan manajemen pengawasannya dilaksanakan,” kata Jokowi.

Protokol kesehatan yang dimaksud Jokowi mulai dari sisi transportasi, penginapan atau hotel, restoran, hingga sejumlah area-area di lokasi pariwisata. Menurut Jokowi, sejumlah negara lain pun sudah melakukan hal serupa.

“Saya minta lihat benchmark di negara lain yang sudah saya lihat menyiapkan ini dengan kondisi new normal di sektor pariwisata,” katanya.

Continue Reading

Ragam

Imbas Corona, Pembangunan MRT Fase 2 Diundur Juni 2020

Published

on

By

PT MRT Jakarta menyatakan pembangunan proyek mass rapid transportation (MRT) Fase 2A dari Bundaran HI hingga Stasiun Kota ditunda hingga Juni 2020. Penundaan ini tak lepas dari wabah virus corona yang semakin meluas di Jakarta.

“Betul, ada penundaan,” kata Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Muhammad Kamaludin saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Kamis (30/4).

Pembangunan proyek MRT Fase 2A sedianya dikerjakan pada Maret 2020 dan ditargetkan rampung pada Desember 2024. Namun, karena penundaan, proyek ini diperkirakan baru akan rampung sekitar Maret 2025.

Namun begitu, Kamaludin mengatakan saat ini beberapa pekerjaan masih ada yang berjalan dengan aturan physical distancing. Namun, akibat pandemi virus corona beberapa pekerjaan lainnya mesti ditunda.

Salah satu alasan penundaan pengerjaan MRT Fase 2A yakni karena sebagian tenaga kerja didatangkan dari Jepang. Sementara itu, Jakarta saat ini tengah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga tidak memungkinkan untuk mendatangkan pekerja dari Jepang.

Penundaan proyek MRT ini, lanjut Kamal, berimbas pada rencana operasional MRT. “Operasional fase 2A baru pada Maret 2026,” kata dia.

Fase 2A dimulai dari Stasiun Bundaran HI hingga Stasiun Kota dengan total panjang jalur 6 kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yakni Stasiun Thamrin, Stasiun Monas, Stasiun Harmoni, Stasiun Sawah Besar, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Glodok, dan Stasiun Kota.

Pembangunan Fase 2A dibagi ke dalam tiga paket kontrak sipil, terdiri dari paket kontrak CP 201, CP 202 dan CP 203. Periode konstruksi Fase 2A akan dimulai pada Maret 2020 dan direncanakan selesai pada Desember 2024.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending