Connect with us

Pasar Modal

Lion Air Tunda IPO $500 Juta Gara-Gara Bursa Global Anjlok

Published

on


Lion Air Indonesia telah menunda rencana penawaran umum perdana (IPO) lantaran terjadi pelemahan tajam bursa global, sumber mengatakan pada Jumat (28/02), di kala penyebaran virus covid-19 memicu kekhawatiran pandemi global.

FINROLL.COM —Dilansir Reuters Jumat (28/02) petang, keputusan IPO senilai $500 juta dari salah satu maskapai bertarif rendah terbesar di Asia ini diharapkan bakal diketahui nasibnya pada akhir Februari setelah bank-bank terkait menyelesaikan pemaparan rencana kepada investor di pusat keuangan global awal bulan ini.

Dua sumber mengatakan Lion Air, yang akan meluncurkan IPO pada awal Maret, akan mempertimbangkannya kembali hanya ketika pasar dalam keadaan stabil.

Maskapai penerbangan ini telah merencanakan IPO selama sekitar lima tahun.

Minggu ini, harga saham global anjlok parah di tengah kekhawatiran dampak ekonomi global yang berkelanjutan ketika virus covid-19 menyebar ke luar Cina. Sekitar 12 negara melaporkan kasus virus pertama dalam 24 jam terakhir.

Maskapai ini telah memangkas kapasitas penerbangan karena lemahnya permintaan diterpa gangguan virus pada pembatasan perjalanan internasional yang menghambat sektor ini.

Lion Air adalah bagian dari Lion Air Group, yang memiliki perusahaan patungan maskapai penerbangan di Malaysia dan Thailand, fasilitas pemeliharaan pesawat dan bisnis pengiriman. (INVENSTING.COM)

Advertisement Valbury

Pasar Modal

Corona, Dana Investor Asing Kabur Rp104,39 T Sejak Awal Maret

Published

on

By

 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investor non residen (asing) melarikan modal mereka dari pasar Indonesia akibat penyebaran virus corona (covid-19). Total dana asing yang mengalir keluar (capital outflow) mencapai Rp104,39 triliun pada periode awal Maret hingga 24 Maret 2020.

FINROLL.COM — Deputi Komisioner Humas dan Logistik Anto Prabowo mengungkapkan sebagian besar dana asing yang keluar berasal dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) yaitu 98,28 triliun. Sementara, Rp6,11 triliun sisanya dari pasar saham.

Imbasnya, pasar saham melemah signifikan 27,79 persen sejak awal Maret atau 37,49 sejak awal tahun (year to date/ytd). Serupa, imbal hasil (yield) rata-rata naik sebesar 118,8 basis poin (bps) sejak awal bulan atau 95 bps secara ytd.

“Pelemahan ini disebabkan pada kekhawatiran investor terhadap virus corona yang akan berdampak pada kinerja emiten di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (27/3).

Guna meredam volatilitas di pasar modal, wasit industri jasa keuangan ini telah mengeluarkan sejumlah kebijakan. Pertama, pelarangan short selling.

Kedua, assymmetric auto rejection. Ketiga, trading halt 30 menit untuk penurunan indek 5 persen. Keempat, pembelian saham kembali (buyback) tanpa melalui RUPS. Terakhir, perpanjangan penggunaan laporan keuangan untuk IPO dari 6 bulan menjadi 9 bulan.

Selain itu, mempertimbangkan kondisi terkini, OJK juga telah mengeluarkan kebijakan sebagai berikut: relaksasi batas waktu penyampaian laporan keuangan dan penyelenggaraan RUPS, memperkenankan emiten untuk dapat melakukan RUPS melalui sistem elektronik (e-RUPS), relaksasi berlakunya Laporan Keuangan dan Laporan Penilaian di Pasar Modal; dan relaksasi terkait masa penawaran awal dan penawaran umum.

Otoritas juga mengeluarkan kebijakan relaksasi nilai haircut untuk perhitungan collateral dan Modal Kerja Bersih Disesuaikan (MKBD) kepada industri pengelolaan investasi, penyingkatan jam perdagangan di bursa efek, di penyelenggara pasar alternatif, dan waktu operasional penerima laporan transaksi efek, serta penyesuaian waktu penyelesaian transaksi perdagangan efek. (CNN/GPH)

Continue Reading

Pasar Modal

Saham & Rupiah Bergejolak, Sri Mulyani: Bukan Kondisi Biasa

Published

on

By

Kementerian Keuangan bersama otoritas terkait yang terhimpun dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memonitor pergerakan pasar saham dan nilai tukar rupiah yang kemarin sempat bergejolak.

FINROLL.COM — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, di Jakarta, mengakui, kondisi pasar saham dan nilai tukar pada perdagangan awal pekan ini, Senin (9/3/2020) terkoreksi tajam dan bergerak di luar kewajaran atau extraordinary terimbas sentimen negatif meluasnya virus Corona di berbagai negara dan kejatuhan harga minyak dunia.

“Kita betul-betul mengamati perkembangan yang terjadi sekarang ini. Perkembangan di pasar saham dan pasar nilai tukar, forex dan surat berharga negara itu semua menjadi perhatian kita perlu untuk yang terus kita ikuti dan waspadai, karena memang pergerakannya ini diakui seluruh dunia extra-ordinary, di luar kebiasaan,” terang Bendahara Negara, Selasa (10/3/2020).

Sri mengakui, jatuhnya pasar saham domestik sebesar 6,6% ke posisi 5.136,81 kemarin, Senin (9/3/2020), senada dengan penurunan bursa saham Wall Street, London, Jerman, Australia dan bursa saham regional. “Semua memberikan warning kepada kita bahwa ini bukan kondisi biasa,” tegasnya.

Kementerian, kata Sri Mulyani bersama-sama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), terus melakukan pemantauan pengaruh pergerakan di pasar keuangan ini terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia.

Mantan Direktur Eksekutif Bank Dunia ini menyebutkan, OJK telah menempuh kebijakan pengamanan meredam pelemahan IHSG lebih dalam melalaui kebijakan auto rejection asimetris. Artinya, saham yang volatilitasnya di atas 10% langsung terkena auto reject.

“Kemudian relaskasasi buyback saham tanpa ada RUPS, ini untuk mengembalikan rasionalitas pasar,” ujarnya.

“Sekarang ada ketidakamanan dan ketidaknyamanan karena virus atau kemudian perang minyak antara Saudi dan Rusia, mereka memunculkan ketidakamanan dan kenyamananan itu dengan mengalihkan investasi ke instrumen yang dianggap paling aman,” tandasnya.

Sumber Berita : CNBC INDONESIA

Continue Reading

Business

Pasar Saham Diramal Bangkit Juli 2020 Usai Terjangkit Corona

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Pasar saham diramal pulih kembali usai lunglai akibat ‘infeksi’ virus corona pada semester kedua 2020. Bangkitnya pasar saham akan ditopang stimulus, baik dari sisi fiskal dan moneter yang digenjot pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Deputy Chief Investment Officer (CIO) Mandiri Manajemen Investasi Aldo Perkasa memprediksi dampak negatif penyebaran virus corona hanya berlangsung secara temporer.

“Dampak virus corona ini paling parah kuartal pertama dan masih ada potensi carry over (berlanjut) di kuartal kedua. Tapi kalau belajar dari pattern (pola) SARS, makin summer (musim panas) itu makin mereda. Jadi aktivitas bisnis semua akan mulai berjalan lagi, jadi low base (lesu) di kuartal kedua, dan mungkin kuartal ketiga akan mulai naik,” ucapnya, Kamis (5/3).

Untuk diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani telah menyiapkan berbagai kebijakan untuk menghalau dampak virus corona kepada ekonomi Indonesia. Stimulus itu meliputi tambahan anggaran Kartu Sembako sebesar Rp50.000 dan diskon tarif tiket pesawat. Bahkan, bendahara negara tengah mengkaji opsi penundaan pungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 demi menekan dampak meluasnya wabah virus corona di Indonesia.

Sejalan dengan itu, bank sentral menurunkan tingkat suku bunga acuan sebesar 2 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen. BI juga menurunkan rasio giro wajib minimum (GWM) valuta asing (valas) bank umum konvensional, dari 8 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK) menjadi menjadi hanya 4 persen. Lalu, GWM rupiah turun sebesar 50 bps dari 5,5 persen menjadi 5 persen bagi perbankan yang menyalurkan pembiayaan ekspor dan impor.

Aldo menilai stimulus tersebut mampu menahan kejatuhan ekonomi akibat virus corona. Namun, pada periode kuartal I dan II ini, ia meramal pasar saham masih bergerak fluktuatif.

“Harapannya ekonomi mulai hike-up (membaik) lagi paling tidak di semester kedua 2020,” ujarnya.

Lihat juga: Pemerintah Akan Bebaskan Pajak Industri di Indonesia Timur
Selain dorongan stimulus, ia meyakini virus corona mulai mereda. Kondisi ini ditandai dengan tingkat penyembuhan (recovery) pasien positif corona cukup tinggi yakni lebih dari 50 persen. Hingga Kamis (5/3) pasien yang dinyatakan sembuh di seluruh dunia mencapai 51.171 orang. Sementara korban meninggal akibat virus corona mencapai 3.254 orang. Fakta ini diharapkan dapat mengurangi kekhawatiran investor di pasar.

“Dalam tiga hari terakhir sudah mulai ada tanda-tanda kekhawatiran pasar mereda, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai hike-up,” ujarnya.

Saat ini, Mandiri Manajemen Investasi sendiri belum merevisi target IHSG yakni di rentang 6.900-7.000. Namun demikian, mereka akan merevisi indeks saham setelah melihat perkembangan di kuartal I 2020.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending