Connect with us

Ekonomi Global

Maaf Pak Jokowi, tapi Pasar Saham Vietnam juga Lebih Seksi!

Published

on


Finroll.com – Vietnam menjadi perbincangan hangat di kalangan pemerintah dalam beberapa waktu terakhir. Pasalnya, Indonesia sama sekali tak menjadi tujuan relokasi dari pabrik-pabrik yang sebelumnya beroperasi di China.

Untuk diketahui, belakangan pabrik-pabrik yang sebelumnya beroperasi di China banyak melakukan relokasi guna menghindari bea masuk nan-mencekik yang dikenakan oleh AS. Perang dagang antardua negara dengan nilai perekonomian terbesar di planet bumi ini sudah berlangsung selama lebih dari satu setengah tahun.

Kekesalan terkait hal tersebut diungkapkan sendiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Dari investor-investor yang kita temui, dan catatan yang disampaikan Bank Dunia (World Bank) kepada kita, dua bulan yang lalu ada 33 perusahaan di Tiongkok keluar, 23 memilih Vietnam, 10 lainnya pergi ke Malaysia, Thailand, Kamboja. Nggak ada yang ke kita,” tegas Jokowi belum lama ini di hadapan para menteri Kabinet Kerja kala membuka rapat terbatas mengenai perkembangan ekonomi dunia.

Berbagai faktor menjadi penghambat yang membuat Indonesia harus kalah telak dari Vietnam dalam urusan menarik minat investor asing untuk menanamkan modalnya secara riil (membangun pabrik), seperti tingkat pajak korporasi yang relatif tinggi dan proses perizinan yang memakan waktu sangat lama.

Tak hanya tahun ini, sudah sedari tahun 2017 Indonesia kalah telak dari Vietnam untuk urusan tarik-menarik dana investor asing ke sektor riil.

Pada tahun 2017, Jokowi menyebut bahwa ada sekitar 73 perusahaan Jepang yang akan merelokasi bisnisnya ke sejumlah negara-negara berkembang. Namun, porsi yang bisa diraup oleh Indonesia sangatlah kecil.

“Jadi 73 perusahaan, 43 ke Vietnam, 11 ke Thailand, ke Filipina, berikutnya 10 ke Indonesia. Sekali lagi masalah itu ada di internal kita sendiri. Agar kunci kita keluar dari perlambatan ekonomi global itu ada di situ,” tegasnya.

Ternyata, bukan hanya dalam urusan tarik-menarik investor asing ke sektor riil Indonesia kalah seksi dari Vietnam. Berbicara mengenai pasar saham pun, Indonesia juga kalah seksi dari Vietnam.

Melansir data yang dipublikasikan oleh Ho Chi Minh City Securities Trading Center, sepanjang tahun 2019 (hingga penutupan perdagangan tanggal 5 September), investor asing mencatatkan beli bersih senilai VND 365,4 juta (dong vietnam) di pasar saham Vietnam atau setara dengan Rp 222 juta (asumsi kurs VND = 0,61 rupiah).

Kecil sih, tapi coba tengok dulu dengan yang terjadi di Indonesia. Memang, dalam periode yang sama pasar saham Indonesia berhasil menarik dana investor asing senilai Rp 57,3 triliun, melansir data yang dipublikasikan RTI.

Namun, aksi beli investor asing tersebut banyak didominasi oleh transaksi di pasar negosiasi, seiring dengan aksi akuisisi dengan nilai jumbo yang dilakukan oleh perusahaan asing terhadap perusahaan-perusahaan terbuka di Tanah Air.

Pada awal tahun ini, Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) selaku bank kedua terbesar di Jepang merampungkan akuisisi atas saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN), yakni dengan mengambil alih 3,33 miliar unit saham BTPN atau setara dengan 56,92% dari total saham BTPN yang tercatat. Nilai dari transaksi yang dieksekusi di pasar negosiasi ini mencapai Rp 14,28 triliun dan kemudian tercatat sebagai beli bersih investor asing di pasar saham Indonesia.

Lebih jumbo lagi, pada April 2019 ada akuisisi PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dan PT Bank Nasional Parahyangan Tbk (BBNP) oleh Mitsubishi UFJ Financial Group selaku bank terbesar di Jepang yang nilainya mencapai lebih dari Rp 52 triliun. Transaksi tersebut kembali dieksekusi di pasar negosiasi dan dicatat sebagai beli bersih investor asing di pasar saham Indonesia.

Nah, guna mengeliminasi transaksi investor asing di pasar negosiasi tersebut, kita bisa menggunakan data transaksi investor asing di pasar reguler. Hasilnya, sepanjang tahun ini investor asing membukukan jual bersih senilai Rp 10,5 triliun.

Lantas, walau hanya mencatatkan beli bersih dari investor asing sekitar Rp 200 juta, pasar saham Vietnam jelas dianggap lebih seksi ketimbang Indonesia.

Ingat, transaksi di pasar negosiasi tak mempengaruhi harga saham yang terlibat dalam transaksi tersebut, sehingga kinerja indeks saham juga tidak akan terpengaruh. Oleh karena itu, walau investor asing mencatatkan beli bersih yang begitu besar di pasar negosiasi, kinerja IHSG cenderung loyo di sepanjang tahun 2019.

Sepanjang tahun 2019, seiring dengan kehadiran aliran modal investor asing yang masuk ke Vietnam, VN-Index selaku indeks saham utama di sana membukukan imbal hasil sebesar 9,44%, kedua tertinggi jika dibandingkan dengan imbal hasil dari indeks saham utama negara-negara kawasan Asia lainnya. VN-Index hanya kalah dari indeks Shanghai yang merupakan indeks saham utama di China.

Sementara itu, seiring dengan aksi jual investor asing di pasar reguler (yang mempengaruhi harga saham), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selaku indeks saham utama di Indonesia hanya membukukan penguatan tipis sebesar 1,81% pada tahun ini.

Bahkan, IHSG sempat memberikan imbal hasil negatif (secara kumulatif) pada tahun 2019, salah satunya dalam periode 13 Mei hingga 30 Mei. Sementara untuk VN-Index, walau sempat tergelincir pada awal tahun, kinerjanya selepas itu terbilang sangat-sangat oke.

Ekonomi Global

Jokowi : Indonesia Perlu “Payung” Untuk Antisipasi Kemungkinan Dunia Alami Resesi

Published

on

Finroll.com — Indonesia harus menyiapkan “payung” mengantisipasi perkembangan ekonomi global yang telah mengalami perlambatan dan makin besarnya kemungkinan dunia mengalami resesi,” ungkap Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan.

“Kalau hujannya besar, kita nggak kehujanan. Kalau gerimis kita ya nggak kehujanan, syukur nggak ada hujan dan nggak ada gerimis, tapi angka-angka menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi global sudah mengalami perlambatan dan kemungkinan resesi akan semakin besar,” kata Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas (ratas) membahas antisipasi perkembangan perekonomian dunia di Kantor Presiden Jakarta, Selasa (4/9/2019).

Jokowi mencontohkan depresiasi mata uang Yuan China dan Peso Philipina sudah terjadi akibat perlambatan ekonomi global.

Seperti dilansir dari Antara, “Tantangan itu harus kita antisipasi, kita hadapi, dan kita harapkan langkah-langkah antisipatif sudah benar-benar secara konkret,” kata Presiden Jokowi.

Presiden berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia terhindar dari resesi yang potensinya semakin besar ini.

Lebih lanjut Presiden Jokowi mengatakan jalan yang paling cepat menghadapi perlambatan ekonomi global adalah investasi. “Kuncinya hanya ada di situ nggak ada yang lain,” katanya.

Untuk itu Presiden Jokowi minta seluruh kementerian yang berkaitan dengan ekonomi menginventarisir regulasi-regulasi yang menghambat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

“Regulasi-regulasi yang membuat kita lamban itu betul-betul mulai diinventarisir dan nanti seminggu lagi kita akan bicara mengenai masalah bagaimana segera menyederhanakan peraturan-peraturan yang menghambat dan memperlambat itu,” katanya.

Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa informasi dari investor-investor yang ditemui dan catatan yang disampaikan oleh Bank dunia ada masalah internal dalam negeri yang menghambat investasi Indonesia.

Presiden mencontohkan pada dua bulan yang lalu ada 33 perusahaan di China keluar dan 23 memilih di Vietnam dan10 lainnya perginya ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja.

“Nggak ada yang ke kita, tolong ini digarisbawahi. Ini berarti kita memiliki persoalan yang harus kita selesaikan,” katanya.

Jokowi mengungkapkan kekalahan dari Vietnam karena negara tersebut hanya butuh dua bulan untuk mengurus investasi yang masuk dan ini berbeda dengan di Indonesia yang butuh waktu bertahun-tahun.

“Kalau mau pindah ke Vietnam itu hanya butuh waktu dua bulan rampung semuanya, kita bisa bertahun-tahun. Penyebabnya itu nggak ada yang lain,” jelasnya.

Untuk itu, Presiden meminta mengumpulkan regulasi-regulasi itu arahnya untuk mempersingkat waktu izin investasi masuk.

“Sekali lagi, masalah itu ada di internal kita sendiri, ada kunci kita keluar dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global ada di situ.

Dan itu bisa memayungi kita dari kemungkinan resesi yang global yang semakin besar, itu juga ada di situ,” kata Presiden Jokowi.(red)

Continue Reading

Ekonomi Global

Layanan Untuk Pelanggan, Blibli Bakal Buka Kanal Baru Melalui WhatsApp

Published

on

Finroll.com — Mall online, Blibli.com berbagi mengenal empat tren besar layanan konsumen di industri e-commerce. Keempat hal tersebut adalah, fleksibilitas waktu, layanan concierge, layanan selama 24 jam setiap hari melalui berbagai kanal, dan pengembangan sumber daya manusia untuk layanan pelanggan.

Lisa Widodo SVP of Operations and Product Management Blibli.com menjabarkan empat tren layanan tersebut di paparan acara bertajuk Trends in Customer Care: High Tech and High Touch Personalized Customer Care in E-Commerce 4.0.” Jelasnya melalui keterangan resmi, Rabu (4/9/2019).

Lebih lanjut Lisa menjelaskan bahwa tren pertama, yaitu fleksibilitas waktu, menghilangkan batasan waktu dalam melayani seorang pelanggan, khususnya yang menggunakan telpon.

“Pelanggan e-commerce yang baru berbelanja online membutuhkan bimbingan lebih saat mereka mengontak layanan pelanggan. Karena itu, Blibli.com tidak memberi batasan waktu untuk agen dalam menjawab telpon.

Saat rata-rata industri untuk waktu penanganan konsumen via customer service sepanjang 5 menit, Blibli.com meluangkan lebih dari 10 menit. Sementara untuk chat adalah 52% dan setidaknya 5 menit untuk 33% panggilan telpon yang masuk,” ujar Lisa.

Tren berikutnya adalah layanan concierge di mana para pelanggan mendapatkan layanan individual sesuai dengan kebutuhan mereka.

Selaras dengan hal tersebut, Blibli.com memberi panduan kepada agen layanan pelanggan untuk mencari tantangan yang dihadapi pelanggan. Kemudian, mengambil keputusan yang tepat sebagai solusi.

Sementara itu, tren menghadirkan layanan selama 24jam/7hari melalui berbagai kanal, dinilai Lisa, menjadi keharusan bagi bisnis e-commerce yang beroperasi tanpa henti.

Saat ini layanan pelanggan Blibli.com, berupa kanal chat merupakan layanan terpopuler, yakni menampung hingga 42% dari seluruh traffic di Customer Care dari Januari hingga Juni 2019.

Tren industri terakhir adalah pengembangan sumber daya manusia yang menjalankan layanan pelanggan.

Ke depannya, Blibli.com akan terus mengembangkan CLARA (Chat Live and Recommendation Assistant), chatbot berbasis artificial intelligence (AI) yang akan membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar dari para pelanggan.

Selain itu, Blibli.com juga akan membuka kanal baru untuk layanan pelanggan, yaitu melalui WhatsApp serta penambahan Pusat Resolusi pada aplikasi Blibli.com.

“CLARA akan digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat panduan penggunaan. Namun, agen layanan pelanggan, yang kami namakan Blibli Loyalty Team Service (BLITS), tetap akan diturunkan untuk menjawab pertanyaan yang lebih kompleks dan karena itu, memerlukan sentuhan manusia untuk memberi resolusi sepenuhnya,” tutup Lisa.(red)

 

Continue Reading

Ekonomi Global

Warren Buffett Timbun Kas Rp 1.732 T, Sinyal Pasar Mau Jatuh?

Published

on

By

Finroll.com – Berkshire Hathaway Inc., perusahaan induk milik investor ternama di pasar saham dunia, Warren Buffett, membukukan total kas hingga US$ 122 miliar atau setara dengan Rp 1.732,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.200/US$) hingga akhir Juni 2019.

Tingginya likuiditas perusahaan berkode saham BRK di New York Stock Exchange (NYSE) ini patut menjadi ‘peringatan’ bagi pelaku pasar karena secara tidak langsung investasi di pasar saham dinilai terlalu mahal dan bisa juga menjadi indikasi kesulitan keuangan dalam waktu dekat.

Pasalnya jumlah kas yang luar biasa besar tersebut sejatinya dapat digunakan untuk meningkatkan porsi kepemilikan atas saham Apple, Amazon, Bank of America atau bisa juga dimanfaatkan mengakuisisi perusahaan sebagaimana yang dilakukan Buffet sebelumnya.

Akan tetapi, Buffet memilih untuk tidak menggunakannya. Situs resmi BRK mencatat, perusahaan ini membawahi sekitar 66 perusahaan di antaranya General Re, Duracell, Helzberg Diamonds, Benjamin Moore & Co, Berkshire Hathaway Automotive, dan Justin Brands.

Untuk diketahui, posisi kas BRK pada semester I-2019 setara dengan 60% dari total portofolio perusahaan dengan nilai mencapai US$ 208 miliar.

Bloomberg mencatat bahwa dalam 32 tahun terakhir, jumlah kas yang mendominasi portofolio BRK hanya tercatat pada tahun-tahun menjelang krisis, seperti krisis keuangan 2008, dikutip dari Market Insiders.

Lebih lanjut, dalam surat kepada pemegang saham baru-baru ini Buffet mengatakan dirinya lebih memilih menempatkan uang tunai dari BRK untuk mengakuisisi perusahaan dibandingkan untuk membeli saham karena nilainya sudah overvalued alias kemahalan.

Akan tetapi, bahkan nilai bisnis yang ditawarkan terbilang tinggi dengan prospek pertumbuhan yang ditawarkan.

“Kami berharap dapat menyalurkan kelebihan likuiditas (kas) kami ke bisnis yang dapat dimiliki secara permanen oleh Berkshire,” ujar Buffett dilansir Market Insiders.

“Prospek langsung untuk itu, bagaimanapun, tidak terlalu baik. Harga sangat tinggi untuk bisnis yang memiliki prospek cukup pada jangka panjang,” tambahnya.

Buffet mungkin hanya menunggu kesepakatan atau nilai yang layak, tetapi mencermati sejarah di masa lalu, penimbunan uang tersebut bisa menandakan aksi jual akan segera menimpa pasar keuangan dunia.

Hmm kita lihat saja nanti.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending