Connect with us

Business

Mata Uang Digital Facebook Dianggap Berbahaya, Kenapa?

Published

on


Finroll.com   – Libra adalah mata uang digital atau cryptocurrency yang baru saja diluncurkan Facebook. Namun belum-belum, kritikan sudah berdatangan. Libra bisa saja menjadi sarana pengintaian paling berbahaya yang dimiliki Facebook.

Reputasi Facebook soal privasi pengguna memang terganggu sejak mencuatnya skandal Cambridge Analytica, di mana data pribadi jutaan pengguna Facebook bocor. Nah, Libra dicemaskan bakal dieksploitasi oleh Facebook untuk mengintip data finansial pengguna.

“Jika Anda khawatir Facebook tahu terlalu banyak atau punya akses terlalu besar pada data pribadi, Libra akan memberikan Facebook lebih banyak lagi akses langsung ke informasi finansial Anda,” klaim Phil Chen, pakar cryptocurrency yang merancang ponsel blockchain HTC.

“Bukan cuma akses pada informasi transaksi, tapi akses langsung pada kekayaan Anda. Libra adalah bentuk pengintaian paling invasif dan berbahaya yang mereka desain sejauh ini,” tandasnya seperti dikutip dari Independent.

Bersama Facebook, 27 perusahaan terlibat dalam proyek Libra dalam organisasi Libra Association, termasuk PayPal, Mastercard, Visa, Uber sampai Spotify. Libra diklaim membantu 1,7 miliar orang yang belum punya akses perbankan. Nantinya, user bisa download Calibra, dompet digital yang akan memungkinkan pengguna mengirimkan ke siapapun via smartphone.

Menurut George McDonaugh, co founder perusahaan investasi blockchain KR1, Libra sebenarnya untuk mengumpulkan lebih banyak informasi berharga. “Facebook dan perusahaan pendukung Libra melakukan hal ini untuk satu alasan dan itu adalah data,” klaimnya.

“Libra akan menjadi bank bagi yang belum punya bank, merevolusi pembayaran dan menghubungkan dunia. Tapi jangan bodoh. Langkah menuju dunia cryptocurrency ini adalah tentang data, minyak di dunia modern,” papar George.

Menurut dia, Facebook melalui Libra bisa mengetahui siapa user, apa yang mereka beli, siapa yang dibayar user dan seberapa banyak uang yang dimiliki. Belum ada tanggapan dari Facebook soal kritikan tersebut.

Business

Semenit, Festival Belanja Alibaba 11.11 Raup Rp14 Triliun

Published

on

By

Alibaba Group telah resmi memulai Festival Belanja Alibaba 11.11 pada dini hari pukul 00.00 waktu China Standard Time (GMT +8), Senin 11 November 2019. Acara ini merupakan festival belanja nonstop 24 jam yang terbesar di dunia.

Menariknya, dalam satu menit 8 detik, festival belanja ini meraih angka penjualan fantastis. Lewat rilis yang diterima VIVA, berikut ini adalah beberapa pencapaian menarik dari pembukaan 11.11:

Dalam 1 menit 8 detik sejak 11.11 dimulai, total Gross Merchandise Volume (GMV) dari transaksi yang dibayarkan dengan Alipay mencapai RMB 7 miliar atau setara Rp14 triliun. Dalam satu jam pertama, GMV dari transaksi yang dibayarkan dengan Alipay mencapai juga mencapai nilai fantastis, RMB 84 miliar (Rp168 triliun).

Dan, dalam dua jam pertama, total GMV dari transaksi yang dibayarkan dengan Alipay adalah RMB128,15 miliar. Pencapaian GMV tersebut telah melampaui catatan GMV 11.11. tahun 2015 (RMB 91,2 miliar) dan 2016 (RMB 120,7 miliar).

Pada momen puncak, total pesanan pada festival belanja 11.11 mencapai 544.000 pesanan/detik – yaitu 1.360 kali lipat lebih banyak dari jumlah pesanan pada festival belanja 11.11 yang pertama kali diadakan tahun 2009.

Pada satu jam pertama sejak 11.11 dimulai, berikut ini daftar negara dengan jumlah penjualan tertinggi ke Tiongkok dimulai dari Jepang yang menduduki peringkat nomor satu, disusul Amerika Serikat di peringkat dua, Korea di peringkat tiga, Australia perigkat keempat, disusul Jerman, Inggris,Perancis, Italia, Kanada dan Selandia Baru di peringkat 10.

Sementara 10 kategori teratas produk impor yang dibeli konsumen Tiongkok berdasarkan GMV mulai dari suplemen makanan untuk kesehatan, masker wajah, susu bayi dan balita, make-up, popok, set perawatan kulit, emulsion dari perawatan kulit, serum kulit wajah hingga nutrisi bayi dan balita juga pembersih wajah.

Beberapa jam sebelum festival belanja 11.11 dimulai, platform streaming video Alibaba, Youku, menyajikan acara gala dan countdown 11.11 untuk merayakan peluncuran resmi festival belanja tahunan ini. Pada tahun 2019, acara Gala dimeriahkan penampilan dari berbagai selebriti internasional, seperti Taylor Swift, Kana Hanazawa, Aida Garifullina, dan tim dance terkenal, The Royal Family and Kinjaz.

Dan yang menariknya lagi, bukan cuma brand terkenal luar negeri yang ikut dalam festival belanja 11.11 Tingkok, brand asal Indonesia, TANGO, juga menjadi salah satu brand internasional yang dipromosikan dalam acara Gala ini.

Continue Reading

Business

Kemendag Tetapkan Harga Referensi Produk Minyak Sawit US$571,3

Published

on

Finroll.com — Dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 85 Tahun 2019 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan harga referensi produk minyak mentah (crude palm oil/CPO) sebagai acuan Bea Keluar (BK) pada November 2019 sebesar US$571,13 per ton. Harga referensi tersebut melemah 0,65 persen dibandingkan Oktober lalu, US$574,86 per ton.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana mengatakan, “Saat ini harga referensi CPO tetap berada pada level di bawah US$750 per ton. Untuk itu, pemerintah mengenakan BK CPO sebesar US$0 per ton untuk periode November 2019,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (10/11/2019).

Wisnu mengungkapkan BK CPO untuk November 2019 tercantum pada Kolom 1 Lampiran II Huruf C Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK.010/2017 sebesar US$0 per ton.

Sementara itu, harga referensi biji kakao untuk November 2019 ditetapkan sebesar US$2.500,16 per ton atau menguat 10,01 persen dari Oktober 2019, US$2.272,74 per ton.

Hal ini berdampak pada peningkatan HPE biji kakao untuk bulan ini menjadi US$2.213 per ton, meningkat 11,2 persen dari periode sebelumnya yang ditetapkan sebesar US$1.991 per ton.

Wisnu kembali menjelaskan peningkatan harga acuan dan HPE biji kakao disebabkan oleh menguatnya harga internasional.

Kendati demikian, peningkatan tersebut tidak berdampak pada BK biji kakao yang tetap 5 persen. Hal tersebut tercantum pada kolom 2 Lampiran II Huruf B Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK.010/2017.

Lebih lanjut, untuk HPE dan BK komoditas produk kayu dan produk kulit tidak ada perubahan dari periode bulan sebelumnya. BK produk kayu dan produk kulit tercantum pada Lampiran II Huruf A Peraturan Menteri Keuangan No. 13/PMK 010/2017.(red)

Continue Reading

Komoditi

Angin Damai ‘Perang Dagang’ Angkat Harga Minyak

Published

on

By

Harga minyak mentah dunia bangkit (rebound) pada perdagangan Kamis (7/11). Penguatan terjadi setelah China memberikan sinyal positif terkait kesepakatan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Mengutip Antara, harga minyak mentah Brent menguat US$US$0,55 atau 0,9 persen ke level US$62,29 per barel. Kemudian, harga minyak AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,8 atau 1,4 persen ke level US$57,15.

Pasar merespons positif isyarat yang diberikan oleh pemerintah China terkait perang dagang. Isyarat ini menjadi harapan untuk mengakhiri konflik AS dan China yang terjadi sejak 2018 lalu.

Diketahui, perang dagang dua negara itu telah membebani ekonomi dunia beberapa waktu terakhir. Kemudian, permintaan minyak global pun ikut terseret akibat perlambatan ekonomi.

Sejumlah analis sempat menurunkan prediksi permintaan minyak dalam beberapa waktu ke depan. Akibatnya, ada kelebihan pasokan yang semakin menggunung pada 2020 mendatang.

Sebelumnya, harga minyak amblas lebih dari 1 persen pada perdagangan Rabu (6/11). Tercatat, harga minyak berjangka AS WTI melemah US$0,88 atau 1,54 persen ke level US$56,35 dan Brent merosot US$US$1,22 atau 1,94 persen ke level US$61,74 per barel.

Pelemahan ini disebabkan kekhawatiran pasar terhadap mundurnya kesepakatan perang dagang AS dan China menjadi Desember 2019 dari yang sebelumnya direncanakan diteken bulan ini.

“Hari ini dimulai dengan serangkaian berita utama yang berbeda bahwa mereka mencapai kesepakatan tentang kerangka kerja,” kata Analis Minyak di Petromatrix Olivier Jakob.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending