Connect with us

Cryptocurrency

Melonjak, Harga Satu Bitcoin Rp164 Juta Kala Pandemi Covid-19

Published

on


Bitcoin (iStockphoto/Jirapong Manustrong)

Finroll.com, Jakarta –  Mata uang kripto Bitcoin melonjak ke angka US$11,2 ribu atau sekitar Rp163,9 juta atau nyaris menyentuh Rp164 juta per satu bitcoin.

Bitcoin melonjak US$1,2 ribu Selasa, (28/7) lalu di tengah pandemi Covid-19 atau naik 12,73 persen dalam sehari.

Peningkatan merupakan angka tertinggi Bitcoin dalam enam bulan terakhir. Hal ini juga mengindikasikan kebangkitan minat investor terhadap Bitcoin dan kepercayaan baru dalam prospek jangka panjang kepada Bitcoin.

Kepercayaan ini muncul setelah Bitcoin mengalami pengawasan disertai peraturan ketat yang menyebabkan penurunan nilai mata uang kripto itu.

Investor mata uang kripto dari Mantis VC, Alyse Killeen mengatakan, kenaikan harga Bitcoin mencerminkan peningkatan stabilitas infrastruktur yang mendukung Bitcoin secara khusus.

“Bitcoin memiliki nilai intrinsik yang jauh lebih banyak hari ini daripada tahun lalu hanya dari sudut pandang infrastruktur. Jaringan Lightning bekerja dan dengan demikian Anda dapat melakukan lebih banyak dengan Bitcoin hari ini daripada tahun lalu,” ujar Killeen.

Jaringan Lightning adalah teknologi lapisan kedua untuk Bitcoin yang meningkatkan kemampuan blockchain untuk melakukan transaksi.

Jaringan lebih dari sekadar peningkatan kapasitas yang mendorong lonjakan minat dan harga investor. Killeen mengatakan ada juga penurunan pasokan bitcoin yang tersedia.

“Selain itu, lembaga keuangan sekarang memegang cryptocurrency sehingga memberikan investor lebih percaya diri dalam keamanan aset,” ujar Killeen.

Dilansir dari TechCrunch, Killeen juga memperkirakan pasar akan meningkat pada kuartal ketiga atau awal kuartal keempat berkat meningkatnya infrastruktur untuk mendukung transaksi dan aktivitas di blockchain.

Sementara itu, dilansir dari The Next Web, pada 27 Juli, Bitcoin menutup pasar dengan harga US$10,9 ribu. Angka tersebut meningkat 10,96 persen atau US$1 ribu dalam kurun waktu 24 jam.

Angka tersebut masih 45 persen di bawah harga Bitcoin tertinggi dengan angka US$20 ribu pada 17 Desember 2017 lalu.

Sumber : CNN Indonesia

Cryptocurrency

Saingi Bitcoin, Harga Aset Kripto Stellar Melesat 600 Persen

Published

on

JAKARTA – Harga aset kripto, Stellar Lumens (XLM) melonjak dalam setahun terakhir, menyaingi Bitcoin. Jika diakumulasi, persentase kenaikannya lebih dari 600 persen secara tahunan (year on year/yoy).

CEO Indodax Oscar Darmawan mengungkapkan kenaikan harga Stellar Lumens dipicu tingginya permintaan. Investor mulai melirik Stellar Lumens sebagai alternatif pembelian aset kripto lain.

“Stellar menjadi pilihan bagi pegiat aset kripto yang mengalami kendala karena biaya transfer Ethereum yang lebih mahal. Jadi, orang lebih memilih Stellar karena biaya transfer yang lebih murah,” ungkap Oscar dikutip dari rilis resminya, Rabu (20/1).

Faktor lain, kata dia, Amerika Serikat memperbolehkan bank melakukan pengelolaan cryptocurrency atau mata uang kripto . Kebijakan itu dikeluarkan The Office Comptroller Currency (OCC) pada tahun lalu.

Selain itu, aset kripto mendapatkan peluang dari kekhawatiran investor terhadap volatilitas ekonomi berkelanjutan akibat covid-19. Dampaknya, banyak investor di dunia akhirnya memilih aset kripto sebagai instrumen investasi mereka karena dinilai sebagai aset safe haven dan lebih likuid.

“Faktor-faktor tersebut juga mendongkrak harga aset kripto, tidak terkecuali Stellar,” jelasnya.

Untuk diketahui, Stellar merupakan aset kripto yang didirikan oleh Jad McCaleb. Selain Stellar, ia juga mendirikan aset kripto lainnya, Ripple (XRP). Stellar yang merupakan cabang dari Ripple memiliki utilitas menghubungkan sistem pembayaran seperti dari bank dan lembaga keuangan lainnya di seluruh dunia.
Lihat juga: Setelah Meroket, Harga Bitcoin Anjlok 20 Persen

Oscar menambahkan kenaikan harga Stellar terjadi karena inovasi yang dilakukan oleh Stellar Development Foundation. Perseroan menjelaskan bahwa inovasi kripto terus berkembang.

Menariknya, kehadiran cryptocurrency disambut oleh perusahaan lain, bahkan perusahaan di luar blockchain. Pada tahun lalu, perusahaan keuangan seperti Paypal dan Square telah melayani penukaran mata uang kripto.

Baru-baru ini, perusahaan penjualan tiket pesawat dan hotel, Booking.com juga menerima pemesanan tiket pesawat dan hotel menggunakan mata uang kripto. Dalam hal ini, Booking.com bekerja sama dengan platform exchanges Crypto.com.

Dengan kerja sama itu, pelanggan bisa memesan tiket pesawat atau kamar hotel dengan mata uang kripto. Menurut Oscar, kerja sama ini akan lebih mempopulerkan penggunaan kripto sebagai alat tukar dan juga investasi.

“Kerja sama crypto.com dan Booking.com merupakan suatu inovasi yang akan membuat aset kripto lebih populer di mata orang-orang. Bisa jadi akan semakin banyak orang beralih ke kripto karena inovasi seperti itu,” katanya.

Melansir crypto.com, harga Stellar pada perdagangan hari ini dipatok sebesar US$0,29 per koin, setara Rp4.078 (kurs Rp24.065 per dolar AS). Sejak awal tahun 2021, aset kripto ini naik 134,98 persen dari sebelumnya di harga US$0,12 per koin pada 1 Januari 2021.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Continue Reading

Cryptocurrency

Akhirnya! Warren Buffett Buka Suara soal Bitcoin yang Menggila, Apa Katanya?

Published

on

Miliarder investor kawakan, Warren Buffett telah lama menentang Bitcoin. Baru-baru ini bahkan Buffett menyebut aset Bitcoin seperti ‘racun tikus’ dan mengatakan tak akan pernah berinvestasi pada Bitcoin.

Dilansir dari The Motley Fool di Jakarta, Selasa (19/1/21) ini bukanlah kali pertama Buffett mengkritik mata uang kripto. Tetapi pernyataannya kali ini menjadi pernyataannya yang paling tajam.

Warren Buffett dengan mitranya, Charlie Munger telah mencela kripto selama bertahun-tahun. Munger sangat kritis dengan melihat semua aset kripto sebagai penipuan.

Tetapi tetap saja, kita tak bisa membantah return yang didapatkan dari Bitcoin. Sejak 2011, cryptocurrency terbesar di dunia telah tumbuh sebesar 293% per tahun. Return-nya bahkan lebih dari 4.000.000%.

Pada Desember 2020, dalam laporan Cointelegraph dikatakan bahwa Bitcoin memiliki return hingga 8.900.000% dari sejak awal debutnya. Bitcoin dianggap menjadi aset terbaik dalam sejarah peradaban dan akan terus berlanjut tahun ini.

Adapun ‘racun tikus’ dari maksud Warren Buffett adalah aset “gelembung” tanpa nilai intrinsik. Buffett bahkan mengatakan bahwa sebagian besar aset ini akan runtuh nilainya secara besar-besaran.

Sementara itu, The Motley Fool membandingkan Bitcoin dengan gelembung masa lalu yang runtuh yaitu Tulipmania dan South Sea Bubble. Keduanya menjadi contoh klasik dalam sejarah maniak keuangan dan sering dibandingkan dengan Bitcoin itu sendiri.

Tulipmania hanya bertahan dalam waktu satu tahun yaitu pada tahun 1636 dan 1637. Sementara South Sea Bubble, bertahan selama sembilan tahun sejak tahun 1711 hingga 1720, dengan ayunan harga paling jelas terjadi pada 1720.

Bitcoin sendiri telah naik selama 11 tahun, berbeda dengan yang lain berumur jauh lebih pendek. Keruntuhan South Sea Bubble pun dianggap sebagai gelembung ‘sebenarnya’. Karena itulah, menurut The Motley Fool, Bitcoin bukan aset ‘gelembung’ seperti yang dipikirkan oleh Warren Buffett.

Kenaikan aset jangka panjang Bitcoin tidak memenuhi satu dari kriteria jangka pendek. Pasalnya, Bitcoin telah berlangsung terlalu lama untuk menjadi gelembung biasa.

Sumber Berita : Wartaekonomi.com

Continue Reading

Cryptocurrency

Harga Bitcoin Naik, Tembus Rp500 Juta per Koin

Published

on

Jakarta – Harga aset kripto bitcoin (BTC) kembali naik hingga menembus rekor tertingginya, yaitu Rp500 juta per koin.
Berdasarkan catatan Indodax, secara tahunan (year on year), harga cryptocurrency populer itu sudah melonjak 400 persen. Sebagai catatan, harga Bitcoin hanya sekitar Rp90 jutaan pada awal 2020.

CEO Indodax Oscar Darmawan menuturkan harga Bitcoin terus menanjak sejak akhir 2020 lalu dan menjadi kabar baik bagi para investor maupun trader aset kripto.

“Sekarang 2 BTC sudah setara Rp1 miliar,” kata Oscar dalam keterangan resminya, Kamis (7/1).

Menurut Oscar, alasan kenaikan bitcoin kali ini, masih sama dengan sentimen-sentimen sebelumnya. Permintaan yang masif menjadi faktor utama karena orang mulai percaya bitcoin sebagai aset safe haven serta beberapa pembelian dari perusahaan-perusahaan besar di Amerika Serikat dan seluruh dunia, seperti Tudor Investment Corp, Square Inc, Microstrategy, dan lain-lain.

Ada pula perusahaan keuangan seperti Paypal, juga menyediakan fitur pembayaran dengan aset kripto.

“Tingginya permintaan membuat harga bitcoin terus meningkat. Karena salah satu faktor peningkatan harga bitcoin adalah permintaan atau demand and supply atau pasokan,” sebut Oscar Darmawan.

Menurut Oscar, harga bitcoin juga belum mencapai titik maksimalnya. Hal ini disebabkan pembatasan supply di mana bitcoin telah melewati halving day atau pembatasan pasokan di tingkat penambang pada tahun lalu.

Dampaknya baru akan terjadi pada 2021 ini. “Meski nantinya ada sedikit penurunan karena pasar jenuh dan aksi taking profit. Saya kira tidak pernah terlambat untuk membeli bitcoin saat ini apalagi kalau tujuannya untuk investasi jangka panjang,” tegas Oscar.

Kendati demikian perlu diingat beberapa hal yang perlu diperhatikan saat akan mengoleksi aset bitcoin. Salah satunya adalah fluktuasi harga yang tinggi sebab transaksinya yang juga tinggi. Sehingga, harganya bisa naik tajam, tapi ancaman jatuh dalam juga ada.

Business Manager Indosukses Futures Suluh Adil Wicaksono menuturkan risiko fluktuasi bitcoin juga lebih tinggi dibandingkan instrumen pasar uang lainnya. Belum lagi, tidak ada aturan suspensi atau pemberhentian perdagangan sementara, layaknya di pasar saham, apabila terjadi kenaikan atau penurunan tajam.

“Kalau saham masih ada yang namanya Unusual Market Activity (UMA), jadi kalau ada gerak tidak wajar, turun atau naik tajam, ada otoritas yang stop dulu, artinya ada aturan yang jelas, kalau di bitcoin ini tidak,” ucapnya.

Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah tidak adanya legalitas. Hal ini membedakan dengan jelas antara bitcoin dengan mata uang fiat lainnya.

Bank Indonesia (BI) hingga saat ini juga belum mengakui mata uang digital, termasuk bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah. Imbasnya, pemerintah atau otoritas terkait tidak bisa ikut campur terhadap naik turunnya nilai bitcoin.

Terakhir yang perlu diperhatikan adalah kerawanan atas peretasan. Seperti diketahui teknologi yang ditawarkan bitcoin memiliki 2 sisi mata uang, yakni kemudahan bagi penggunanya dalam bertransaksi, tetapi juga rawan terhadap peretas atau hacker.

Jika terjadi tindakan hacker, penggunanya pun tidak bisa membuat laporan kepada otoritas terkait karena bitcoin tidak berada di bawah pengawasan bank sentral.

Sumber Berita : CNN Indonesia

Continue Reading

Trending