Connect with us

Ekonomi Global

Mendag Beberkan Strategi Tahan Pelemahan Ekspor Tahun Ini

Published

on


Finroll – Jakarta, Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto membeberkan strategi untuk mengantisipasi penurunan kinerja ekspor yang lebih dalam pada paruh kedua tahun ini.
Pertama, memaksimalkan keberadaan perwakilan perdagangan di luar negeri untuk mengawal berjalannya ekspor ke negara akreditasi. Caranya, dengan memonitor dan melaporkan perkembangan kondisi negara tujuan ekspor sehingga diperoleh info mengenai peluang dan hambatan ekspor secara cepat dan real time.

Kedua, melakukan promosi, business matching maupun one on one meeting antara eksportir dengan buyer di luar negeri secara virtual. Salah satu contohnya adalah pada 20 Mei 2020 lalu, ITPC Sydney memfasilitasi perjanjian kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Australia dengan total transaksi sebesar sekitar US$1,4 juta.

Seluruh kantor Atase Perdagangan dan ITPC akan digerakkan untuk terus mendorong promosi ekspor Indonesia secara virtual di masa pandemi covid-19 ini. Kemudian, mendorong pelaku usaha ekspor segera memanfaatkan akses pasar ke negara mitra FTA, seperti Indonesia-Australia CEPA (IA-CEPA) yang akan berlaku mulai 5 Juli 2020.

Ketiga, dalam jangka pendek, Kemendag terus mendorong pelaku usaha untuk pengembangan ekspor yang difokuskan pada sektor yang tumbuh positif di dalam negeri selama covid-19 seperti makanan dan minuman olahan, alat-alat kesehatan, produk pertanian, produk perikanan, produk agroindustri, dll.

Keempat, ekspor difokuskan pada negara yang kondisi penanganan pandemi covid-19 nya sudah pulih atau mulai pulih seperti Tiongkok, Australia, Selandia Baru, Jepang, Korea Selatan dan beberapa negara tujuan ekspor lainnya.

Agus tak memungkiri terjadi perubahan tren pasar di tengah pandemi. Karenanya, strategi peningkatan ekspor dibagi ke dalam 3 (tiga) fokus produk, yaitu produk yang tumbuh positif selama pandemi covid-19, produk yang kembali pulih pasca pandemi covid-19, dan produk baru yang muncul akibat pandemi covid-19.

Agus menyebut selama penanganan covid 19 hingga masuk tahap era normal baru, peningkatan ekspor fokus pada sektor yang tumbuh positif selama pandemi, seperti makanan dan minuman olahan, alat-alat kesehatan, produk pertanian, produk perikanan, serta produk agroindustri.

Berikutnya, fokus ke produk yang kembali pulih pasca pandemi covid-19, seperti otomotif, TPT, alas kaki, elektronik, besi baja dll. Strategi berikutnya yang akan dijalankan akan fokus pada produk baru yang muncul akibat covid-19, seperti produk farmasi dan produk-produk ekspor baru yang merupakan hasil relokasi industri dari beberapa negara ke Indonesia.

Kemendag juga memastikan terus melakukan pemetaan pasar, produk dan pelaku usaha/eksportir di setiap negara tujuan ekspor yang disertai dengan melakukan market intelligence dan business inteligence oleh perwakilan perdagangan di seluruh negara akreditasi.

Saat ini, Kemendag juga sedang memutakhirkan help desk ekspor dengan data dan informasi yang valid, lebih detail dan dipercaya masyarakat agar bisa membantu pelaku usaha termasuk UKM ekspor dalam memanfaatkan peluang ekspor saat ini maupun ke depannya.

“Kami terus membangun sinergi dengan semua stakeholder terkait dalam mempertahankan maupun memulihkan ekspor pasca pandemi covid 19,” ujar Agus dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (24/6).

Adapun terkait stimulus untuk mendorong ekspor, Kemendag telah mengusulkan kepada Menteri Keuangan agar Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dapat memberikan stimulus berupa trade financing bagi para eksportir yang terdampak covid 19 dan mengalami kesulitan keuangan.

Hingga 19 Juni 2020, total dana yang akan diajukan sejumlah pengusaha lebih dari Rp165 Miliar dengan interest rate rata-rata yang diinginkan adalah 5 persen per tahun.

Disamping itu, Kemendag juga terus mendorong pemberian fasilitasi para pelaku ekspor khususnya UKM ekspor untuk keikutsertaannya dalam beberapa kegiatan promosi secara virtual termasuk membantu pembiayaan promosi tersebut. Misalnya, Promosi Virtual Future Tea & Coffee Summit and Expo 2020 tgl 24 – 26 Juni 2020 oleh Atdag RI di Singapura.

Selain itu, Promosi Virtual negara ASEAN (ASEAN Online Day Sale) yang akan dilaksanakan pada 8 Agustus 2020 juga digelar untuk mendorong dan memfasilitasi cross border e-commerce di ASEAN serta sebagai upaya mendorong pemulihan perekonomian pasca covid-19.

“Kemendag juga melakukan penguatan daya saing UKM melalui pendampingan dan konsultasi desain, bantuan sertifikasi (GMP dan Halal), rebranding, dan pendampingan eksportir baru (Export Coaching Program),” ujar Agus.

Agus sendiri menilai kinerja ekspor impor masih cukup baik. Ini ditandai, sesuai dengan data BPS di mana neraca perdagangan luar negeri Indonesia pada Mei 2020 surplus US$2,1 miliar. Sehingga secara kumulatif, periode Januari – Mei 2020, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$4,3 miliar.

“Capaian kinerja perdagangan ini cukup menggembirakan, mengingat banyaknya pihak yang memprediksi penurunan kinerja perdagangan akibat pandemi,” ujarnya.

Adapun produk-produk ekspor non-migas yang masih tumbuh pada periode Januari-Mei 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu antara lain lemak dan minyak hewan/nabati, besi dan baja, logam mulia, perhiasan/permata, dan alas kaki. Sementara, beberapa negara tujuan ekspor non-migas yang masih mengalami peningkatan pada periode tersebut adalah Singapura, Tiongkok, dan Australia.

Kendati demikian, ia mengajak semua pihak untuk waspada dan memusatkan perhatian pada kinerja perdagangan secara keseluruhan. Pasalnya, surplus yang dinikmati tersebut bersumber dari penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan ekspor, di mana selama Mei 2020 impor anjlok 42 persen dan ekspor merosot 29 persen secara tahunan.

 

 

Sumber : CNN Indonesia

Ekonomi Global

Ditopang Perbaikan Data Ekonomi Harga Minyak Menguat

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah global menguat tipis pada akhir perdagangan Jumat (24/7) lalu. Kenaikan harga minyak ditopang perbaikan data ekonomi.

Mengutip Antara, Senin (27/7), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September naik tiga sen menjadi US$43,34 per barel. Sedangkan, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan September bertambah 22 sen menjadi US$41,29 per barel.

Dalam sepekan, minyak Brent naik 0,5 persen, sedangkan minyak mentah AS, WTI naik 1,7 persen.

Berdasarkan Indeks Manajer Pembelian (PMI) IHS Markit, aktivitas bisnis di zona Euro tumbuh pada Juli untuk pertama kalinya sejak pandemi virus corona. Kondisi ini menjadi katalis positif di pasar.

“Data ekonomi di Eropa jauh lebih baik daripada yang diperkirakan, menunjukkan bahwa kehancuran permintaan dalam beberapa bulan terakhir karena Covid-19 mungkin tidak seburuk yang dipikirkan orang,” kata Analis Senior Price Futures Phil Flynn.

Sementara itu, aktivitas bisnis AS meningkat ke level tertinggi dalam enam bulan pada Juli. Namun, perusahaan-perusahaan AS melaporkan penurunan pesanan baru karena kasus baru Covid-19 masih meningkat.

Tambahan kasus baru telah membuat suram prospek ekonomi AS. Beberapa negara bagian memberlakukan kembali pembatasan sosial sehingga mengurangi konsumsi bahan bakar.

Di sisi lain, jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran mencapai 1,416 juta pada minggu lalu. Jumlah ini naik tidak terduga naik untuk pertama kalinya dalam hampir empat bulan.

Namun, penguatan harga minyak dibayangi sentimen perseteruan AS-China. Seperti diketahui, China memerintahkan AS untuk menutup konsulatnya di kota Chengdu, sebagai respons permintaan AS minggu bahwa bahwa China harus menutup konsulatnya di Houston.

Ketegangan terbaru dua konsumen minyak terbesar dunia itu memicu kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar.

“Hubungan perdagangan internasional yang lancar diperlukan agar permintaan minyak tetap tidak terganggu dalam jangka panjang, sehingga ketegangan antara AS dan China bukan merupakan pertanda baik,” kata Kepala Pasar Minyak Rystad Energy Bjornar Tonhaugen.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Harga Minyak Dunia Melemah Akibat Lonjakan Kasus Baru Covid-19

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan akhir pekan lalu. Hal ini terjadi karena peningkatan jumlah kasus baru virus corona (covid-19) di dunia.

Dikutip dari Antara, Senin (20/7), minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun 26 sen menjadi US$40,59 per barel.

Sementara, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September turun 23 sen menjadi US$43,14 per barel.

Lonjakan jumlah kasus virus corona membuat pasar khawatir akan permintaan minyak dunia kembali turun. Pemerintah AS mencatatkan ada 75 ribu kasus penularan virus corona baru pada Kamis (16/7). Ini merupakan rekor baru di AS.

Sementara, Australia dan Spanyol melaporkan kenaikan penularan virus corona secara harian yang cukup signifikan. Peningkatan jumlah kasus corona juga terus terjadi di India dan Brazil.

Hal ini membuat pembelian bahan bakar kembali turun. Anggota parlemen di Amerika Serikat dan Uni Eropa akan membahas sejumlah stimulus lebih banyak dalam beberapa hari mendatang.

Sebelumnya, harga minyak mentah dunia turun satu persen pada perdagangan Kamis (16/7). Pelemahan terjadi setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya yang dikenal dengan OPEC+ memutuskan mengurangi pemangkasan pasokan mulai Agustus.

Tercatat, minyak mentah berjangka WTI untuk pengiriman Agustus turun 45 sen atau 1,1 persen ke US$40,75 per barel.

Sementara minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September turun 42 sen atau 1,0 persen ke US$43,37 per barel.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Di Tengah Proyeksi Penurunan Konsumsi BBM, Harga Minyak Jatuh

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak merosot pada akhir perdagangan Kamis (9/7), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan sekitar US$1 per barel itu terjadi karena investor khawatir konsumsi BBM merosot apabila AS kembali mengunci wilayah untuk mencegah penyebaran wabah corona.

Harga Minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun 94 sen atau 2,2 persen menjad US$42,35 per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus tergelincir US$1,28 dolar AS atau 3,1 persen menjadi US$39,62 per barel.

“Karena AS, Brazil dan negara-negara lain terus dihantam oleh COVID-19, permintaan dipertaruhkan,” kata Analis Pasar Minyak Rystad Energy Louise Dickson, dikutip dari Antara, Jumat (10/7).

Saat ini, AS masih berupaya untuk mengerem penyebaran pandemi. Pada Rabu (8/7) lalu, lebih dari 60 ribu kasus baru corona dilaporkan. Peningkatan itu merupakan peningkatan harian terbesar yang dialami satu negara.

Tak ayal, sejumlah negara bagian AS kembali menerapkan pembatasan di antaranya California dan Texas. Konsekuensinya, pemulihan permintaan bahan bakal akan tertahan.

Sebagai catatan, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok bensin AS turun 4,8 juta barel pekan lalu, jauh lebih besar dari perkiraan para analis, ketika permintaan mencapai level tertinggi sejak 20 Maret.

Kemudian, Genscape melaporkan stok minyak mentah naik sekitar 2 juta barel di pusat penyimpanan Cushing, Oklahoma dalam sepekan hingga Selasa (7/7).

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh permintaan bahan bakar di India yang turun 7,9 persen pada Juni dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Angka permintaan India mengecewakan,” kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group di Chicago. “Itu tidak sesuai dengan narasi yang kami dengar bahwa ekonomi India bangkit kembali.”

Kendati demikian, harga minyak berjangka masih bertengger di kisaran US$40 dolar per barel. Sejumlah analis memproyeksi harga akan tetap bertahan dalam kisaran itu menjelang pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya pada 15 Juli mendatang.

Lebih lanjut, ketidakpastian masih dialami pasokan minyak Libyar. Sebagai pengingat, pelabuhan Libya sempat diblokir sejak Januari. Kegiatan ekspor minyak rencananya akan kembali dilakukan usai perusahaan minyak negara tersebut mencabut kondisi force majeure di terminal minyak Es Sider-nya pada Rabu (8/7). Namun, sebuah kapal tanker dicegah untuk memuat dan kapal tanker kedua saat ini sedang menuju pelabuhan.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending