Connect with us

Makro Ekonomi

Mengubah Haluan Perekonomian Dunia Dengan Ekonomi Kreatif

Published

on


Mengubah Haluan Perekonomian Dunia Dengan Ekonomi Kreatif

Finroll.com – Sebagai tuan rumah Konferensi Dunia Ekonomi Kreatif (WCCE), yang pertama kali diadakan di Nusa Dua Bali, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf mengatakan, hal ini bisa menjadi inisiator untuk mengubah haluan perekenomian dunia dengan ekonomi kreatif.
“Jadi sumber daya ekonomi kreatif berasal dari ide dan gagasan yang tak akan pernah habis selama manusia tetap eksis,” Ujar Triawan Munaf, di Bali, Selasa (6/11).

WCCE (World Conference on Creative Economy) merupakan konferensi tingkat dunia pertama yang membahas ekonomi kreatif. Ajang ini diikuti oleh lebih dari 50 delegasi negara, dan 2.000 peserta.

Baca Lainnya: China Akan Meningkatkan Impor Dalam Kurun Waktu 15 Tahun Kedepan

“WCCE pertama ini mengusung tema Inclusively Creative, karena kami ingin ada pemahaman bersama dan landasan bersama untuk mengembangkan ekonomi secara global,” lanjut Triawan.

Sementara itu, acara yang dilaksanakan dari 6-8 November ini dimuai dengan Friends of Creative Economy (FCE) oleh beberapa delegasi negara, akademisi, pelaku kreatif, komunitas, dan media untuk membahas dan merumuskan Deklarasi Bali. Hasilnya akan dibawa ke Sidang Umum PBB tahun depan.

Ada Apa Saja di WCCE 2018?

Konferensi WCCE juga menghadirkan lebih dari 20 tokoh dunia kreatif yang menjadi pembicara. Misalnya, pemenang Sutradara Terbaik Emmy Awards Lisa Russel, CEO and Co-founder Moonton (Mobile Legend) Justin Yuan, CEO and Co-founder Net TV Wishnutama, Presiden China Film Group Corporation Le Kexi, CEO Tokopedia William Tanuwijaya, dan tokoh lainnya.

Baca Lainnya: Kemendes PDTT Berdayakan UMKM Daerah Lewat E-Commerce

Tidak hanya itu, sejumlah produk kreatif dunia seperti Disney, Grab, TikTok, Shopee, Potato Head, Bukalapak, dan Mobile Legend juga ikut memeriahkan di kegiatan Creativillage. Ditambah, ada program unggulan dari Bekraf sebagai upaya mengembangkan dan menguatkan ekosistem ekonomi nasional.

Advertisement Valbury

Makro Ekonomi

Pertamina Gandeng Korea Bangun Kilang Dumai Senilai Rp22 T

Published

on

PT Pertamina (Persero), PT Nindya Karya (Persero), dan konsorsium perusahaan Korea menandatangani pengembangan proyek RDMP Unit Pengolahan II Dumai. Proyek kilang Dumai tersebut bernilai US$1,5 miliar atau setara Rp22 triliun (kurs Rp14.660 per dolar AS).

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan kilang Dumai dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak dan bahan bakar minyak dalam negeri.

“Sehingga, akan mengurangi ketergantungan impor minyak Indonesia yang diharapkan mampu mengatasi defisit transaksi berjalan ke depan,” ujarnya mengutip Antara, Jumat (22/5).

Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina Ignatius Tallulembang, Direktur Utama Nindya Karya Haedar Karim, dan konsorsium Korea diwakili oleh Chairman DH Global Holdings Co. Ltd. Jung Sam Seung, serta disaksikan secara virtual oleh Bahlil.

Menurut Bahlil, inisiatif kerja sama diprakarsai dari kunjungannya ke Korea Selatan pada akhir tahun lalu. Ia menyebut mengawinkan ketiga pihak dalam proyek kilang Dumai. “Saya harap investasi dapat memiliki makna strategis, di mana harga minyak mentah saat ini lagi turun,” imbuh dia.

Bahlil menilai proyek RDMP Unit Pengolahan II Dumai penting karena merupakan salah satu kilang prioritas Pertamina.

“Semoga dapat berjalan dengan baik serta dapat memberikan multiplier effect (dampak ganda) terhadap pemerataan pembangunan di Indonesia secara keseluruhan,” jelasnya.

Penandatanganan nota kesepahaman sejalan dengan upaya mendukung percepatan pelaksanaan megaproyek tersebut, yang menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Peraturan Presiden No. 56 Tahun 2018 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.

BKPM mendorong terciptanya kemitraan strategis antara perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) dan perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) untuk menjalankan proyek tersebut.

“Begitu penandatanganan dilakukan, kami bisa langsung masuk masa percepatan. Kami akan libatkan juga pengusaha nasional yang ada di daerah, sehingga terjadi kolaborasi. Kami juga akan bantu terkait insentif fiskal dan perizinannya. Tidak perlu ada keraguan. BKPM akan bantu proyek ini,” terang Bahlil.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Ignatius Tallulembang membenarkan kilang Dumai menjadi prioritas untuk segera diselesaikan.

“Dengan penandatanganan nota kesepahaman ini, Nindya Karya dan konsorsium Korea telah menjadi strategic partner bersama Pertamina dan akan melakukan kajian upgrading kilang Dumai. Pertamina berharap Desember 2020 ada milestone penting yang dapat dicapai,” jelasnya.

Continue Reading

Makro Ekonomi

Pendaftaran Kartu Prakerja Akan Dibuka Sampai November

Published

on

Finroll – Jakarta, Pemerintah membuka pendaftaran program kartu prakerja sebanyak 34 batch atau 34 gelombang pada tahun ini. Pendaftaran telah dimulai sejak 11 April 2020 lalu hingga November nanti.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah menargetkan peserta program kartu prakerja sebanyak 5,6 juta. Untuk setiap gelombang pendaftaran ditargetkan setidaknya 164 ribu peserta.

“Pendaftaran akan dibuka per batch setiap minggu dimulai 11 April hingga November 2020. Total akan ada 34 batch,” ujar Ani, sapaan akrabnya, belum lama ini.

Kendati begitu, pelaksanaan tetap menyesuaikan dinamika di lapangan. Pelaksanaan pun dipantau langsung oleh Manager Pelaksana (Project Manager Officer/PMO). “Verifikasi dan seleksi oleh PMO,” imbuhnya.

Saat ini, kartu prakerja sudah membuka tiga gelombang pendaftaran. Dari gelombang pertama dan kedua, setidaknya ada 456.265 peserta yang terjaring.

Sementara, untuk gelombang ketiga masih dibuka saat ini dengan jumlah peserta sudah mencapai 224.667 peserta per Senin (11/5). Sedangkan, gelombang keempat baru akan dibuka bila kuota gelombang ketiga mencapai 300 ribu peserta sudah terpenuhi.

Dari gelombang pertama dan kedua, ada 360.650 peserta yang menyelesaikan setidaknya satu kelas pelatihan. Totalnya, dana pelatihan yang sudah digunakan mencapai Rp195,2 miliar per Senin (11/5).

Kendati begitu, baru sekitar 51.255 peserta yang sudah menerima insentif sebesar Rp600 ribu per peserta per bulan. Jumlahnya sangat sedikit dibandingkan jumlah peserta karena ada beberapa tahapan administrasi dan verifikasi yang harus dipenuhi.

Secara total, pemerintah menyiapkan anggaran Rp20 triliun untuk program kartu prakerja. Program ini diharapkan dapat menjaring para korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di tengah pandemi virus corona atau covid-19.

Masing-masing peserta akan mendapat manfaat berupa biaya pelatihan sebesar Rp1 juta per peserta. Lalu ditambah dana insentif Rp600 ribu per peserta per bulan selama empat bulan dan dana survei Rp50 ribu per survei sampai tiga kali.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Makro Ekonomi

Neraca Dagang RI Defisit US$350 Juta Pada April 2020

Published

on

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit US$350 juta secara bulanan pada April 2020 di tengah wabah virus corona atau covid-19. Posisi ini berbanding terbalik dari Maret 2020 yang surplus US$743 juta.

FINROLL.COM — Jika diakumulasi, neraca perdagangan pada Januari-April 2020 tercatat surplus sebesar US$2,25 miliar. Posisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang defisit sebesar US$2,56 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus terjadi karena nilai ekspor mencapai US$12,19 miliar. Sementara nilai impor lebih besar dibandingkan ekspor, yakni US$12,54 miliar.

“Meski defisit, tapi masih lebih baik dari prediksi awal. Ini juga karena beberapa harga komoditas turun, ekspor turun,” ungkap Suhariyanto melalui video conference, Jumat (15/5).

Ia merinci total ekspor terdiri dari ekspor non minyak dan gas (migas) sebesar US$11,58 miliar atau turun 13,66 persen dari sebelumnya US$13,41 miliar pada Maret 2020. Sementara ekspor migas tercatat turun 6,55 persen dari US$650 juta menjadi US$610 juta.

Pelemahan ekspor nonmigas terjadi karena ekspor industri pertanian minus 6,1 persen menjadi US$280 juta secara bulanan. Sementara, kalau dilihat secara tahunan tercatat meningkat 12,66 persen.

“Sektor pertanian turun di antaranya untuk komoditas tanaman obat dan rempah-rempah,” ujarnya.

Kemudian, nilai ekspor pertambangan turun 22,11 persen secara bulanan menjadi US$1,54 miliar. Lalu, ekspor industri pengolahan turun 12,26 persen menjadi US$9,76 miliar.

Jika ditotal, ekspor Januari-April 2020 sebesar US$53,95 miliar. Kinerja ini meningkat tipis 0,44 persen bila dibandingkan Januari-April 2019 sebesar US$53,72 miliar.

Dari sisi impor, impor migas sebesar US$850 juta atau turun 46,83 persen dari US$1,61 miliar. Sementara impor nonmigas senilai US$11,68 miliar atau turun 0,53 persen dari US$11,75 miliar. Kalau ditotal, nilai impor pada April 2020 minus 6,1 persen menjadi US$12,54 miliar.

Penurunan impor nonmigas berasal dari bahan baku/penolong turun 9 persen menjadi US$9,36 miliar. Hal yang sama terjadi pada impor barang konsumsi sebesar 4,03 persen menjadi US$1,22 miliar, sedangkan barang modal naik 9 persen menjadi US$1,96 miliar.

Secara kumulatif, kinerja impor Januari-April 2020 sebesar US$51,71 miliar atau terkoreksi 7,78 persen. Khusus impor nonmigas, turun 7,25 persen dari US$49,07 miliar menjadi US$45,51 miliar.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending