Connect with us

Business

Meski Ekonomi Dunia Melambat, AKI Optimistis Sektor Konstruksi Bakal Tumbuh Dan Berkembang

Published

on


Finroll.com — Meski saat ini terjadi perlambatan perekonomian dunia akibat perang dagang AS-China. Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) cukup optimistis sektor konstruksi tetap akan tumbuh dan berkembang.

Budi Harto selaku Ketua Umum AKI mengatakan, optimisme tersebut didasari oleh komitmen pemerintah yang dalam rencana pembangunan lima tahun kedepan masih memprioritaskan pembangunan infrastruktur, disamping juga pembangunan sumber daya manusia.

“Kita tahu Pak Jokowi (Presiden RI Joko Widodo) punya program ibukota baru. Itu jelas merupakan pasar bagi kami yang bergerak di jasa konstruksi,” ujar Budi Harto dilansir dari Ipotnews, Jumat (13/9/2019).

Budi Harto yang juga merupakan Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk itu mengatakan, pemerintah sendiri saat ini cukup memberikan kemudahan-kemudahan bagi pelaku jasa konstruksi, termasuk juga investor yang akan membangun infrastruktur. Kemudahan-kemudahan itu antara lain dalam bentuk insentif melalui skema Viability Gap Fund (VGF) dalam investasi pembangunan infrastruktur yang dari sisi kelaikan bisnis dianggap kurang memadai.

“Pemerintah akan memberikan jaminan kelaikannya. Jadi pemerintah kalau kelaikan (proyek) itu kurang, maka pemerintah yang akan menutup dengan VGF,” jelasnya.

Lebih lanjut Budi Harto menjelaskan selain itu, dalam lima tahun kedepan, proyek-proyek pembangunan jalan tol juga masih cukup banyak. Hal itu menurutnya juga merupakan peluang, khususnya bagi Adhi Karya yang juga bertindak sebagai investor, tak hanya sebagai kontraktor saja.

“Saat ini Pak Menteri (PUPR Basuki Hadimuljono) juga baru saja menyelesaikan proyek jalan tol, 1500 km. Dan di Sumatera (Tol Trans Sumatera), itu juga banyak sekali kontribusinya bagi kami dan menumbuhkan pasar konstruksi. Kami optimis lima tahun kedepan, meski ada perlambatan, jasa konstruksi tidak khawatir,” tuturnya.

Sementara terkait pembiayaan proyek, Budi Harto mengatakan bahwa saat ini pemerintah membuka pintu selebar-lebarnya bagi perusahaan BUMN seperti Adhi Karya untuk sekreatif mungkin menciptakan financial closing bagi proyek yang dikerjakannya.

“Dari pembiayaan kami didorong untuk melakukan kreatifitas. Sehingga kami bisa berkontribusi meringankan pemerintah dari pembiayaan proyek-proyek ini,” pungkasnya.(red)

Advertisement

Business

Pemerintah Memacu Ekspor Dari Sektor Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki

Published

on

Finroll.com — Melalui salah satunya industri tekstil, kulit dan alas kaki. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berusaha memacu ekspor dari sektor industri manufaktur.

Achmad Sigit Dwiwahjono, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, mengatakan, pada tahun 2018 lalu sektor ini menyumbang devisa negara sebesar USD18,96 miliar atau berkontribusi hingga 10,52 persen dari total ekspor nasional.

Selain itu, sektor yang tergolong padat karya tersebut, telah menyerap tenaga kerja sebanyak 4,65 juta orang. Oleh karena itu, sektor ini perlu untuk terus didukung pengembangannya agar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional.

“Industri tekstil, kulit dan alas kaki menjadi sektor yang tertua di Indonesia, yang telah mempunyai struktur yang kuat dari hulu sampai hilir, dan produknya memberikan kontribusi nomor tiga dari seluruh komoditas ekspor kita,” kata Sigit yang dilansir dari Ipotnews, di Jakarta, Selasa (22/10/2019).

Sementara untuk menggenjot daya saing industri tekstil, kulit dan alas kaki di dalam negeri, pihaknya juga berupaya menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten.

Misalnya melalui peluncuran kegiatan pendidikan vokasi yang  link and match  antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri serta program Diklat 3 in 1.

“Seiring dengan implementasi industri 4.0, kami juga mendorong pelaku industri kita agar dapat memanfaatkan teknologi modern. Karena dengan restrukturisasi mesin dan peralatan, produksi bisa menjadi lebih efisien,” paparnya.

Lebih lanjut Sigit menambahkan Kemenperin akan memfasilitasi pelaku industri tekstil, kulit dan alas kaki di dalam negeri untuk ikut serta pada ajang pameran skala internasional, yakni Hannover Messe 2020 di Jerman.

Indonesia secara resmi telah terpilih sebagai partner country Hannover Messe 2020. Keikutsertaan Indonesia pada ajang internasional ini diharapkan akan semakin lebar membuka pasar ekspor, sehingga defisit perdagangan bisa lebih ditekan.

Partisipasi pada Hannover Messe 2020 juga diyakini dapat membuka pintu akselerasi adopsi teknologi pada sektor industri tekstil, kulit dan alas kaki sebagai implementasi dari program Making Indonesia 4.0.

Di samping itu, diharapkan terjadi kesepakatan investasi dan pengembangan pasar, mengingat Eropa merupakan importir terbesar dunia untuk produk apparel dan alas kaki dari Indonesia.

“Momen Hannover Messe 2020 ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh industri apparel dan alas kaki nasional dan sekaligus memperkenalkan kemampuan pasoknya,” imbuh Sigit.(red)

Continue Reading

Keuangan

Rupiah di Level 14.059 per Dolar AS, IHSG Dibuka Menguat

Published

on

By

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada pembukaan saham Selasa pekan ini. Nilai tukar rupiah berada di level 14.059 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pada pra pembukaan perdagangan, Selasa (22/10/2019), IHSG naik 8,50 poin atau 0,14 persen ke level 6.207,49. Pada pembukaan pukul 09.00 waktu JATS, IHSG melanjutkan penguatan dengan naik 13,22 poin atau 0,21 persen ke 6.212,17.

Sementara itu, indeks saham LQ45 juga menguat 0,23 persen ke posisi 977,98. Seluruh indeks saham acuan bergerak di zona hijau.

Pada awal pembukaan perdagangan, IHSG level tertinggi berada di 6.214,44 dan terendah di 6.207,45.

Sebanyak 134 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau dan 39 saham melemah. Sedangkan 120 saham diam di tempat.

Adapun total frekuensi di awal perdagangan saham 10.801 kali dengan volume perdagangan 137,7 juta saham. Nilai transaksi harian saham Rp 99,4 miliar.

Investor asing beli saham Rp 2,39 miliar di pasar reguler dan posisi rupiah di angka 14.059 per dolar AS.

Dari 10 sektor pembentuk IHSG, seluruhnya berada di zona hijau. Sektor yang menguat dipimpin oleh sektor infrastruktur yang melesat 0,72 persen. Kemudian disusul sektor aneka industri yang naik 0,52 persen dan sektor konstruksi naik 0,33 persen.

Saham-saham yang menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau antara lain KRAH melonjak 23,48 persen ke Rp 1.420 per saham, CASS naik 15,60 persen ke Rp 630 per saham, dan IBFN naik 9,17 persen ke Rp 238 per saham.

Sementara saham-saham yang melemah antara lain MYTX yang turun 14,52 persen ke Rp 53 per saham, AHAP turun 4,48 persen ke level Rp 64 per saham dan GDST turun 4,44 persen ke Rp 86 per saham.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan dalam skenario (bullish) untuk perdagangan saham hari ini.

Dari sisi teknikal, IHSG diprediksi akan diperdagangkan ke zona hijau pada rentang support 6.178 dan resistance 6.230.

“Masih ada potensi bullish continuation di pasar saham hari ini,” ungkap Analis PT Binaartha Parama Sekuritas Nafan Aji Gustama dalam risetnya Selasa (22/10/2019).

Seirama, sinyal positif masih terlihat pada indeks untuk hari ini. Tetapi, potensi aksi profit taking tetap ada mengiringi pergerakan IHSG.

“Keberhasilan kaum banteng untuk menahan gempuran penjualan kaum beruang akhirnya membuahkan hasil dengan mendorong IHSG untuk tembus resistance 6.200 secara intraday,” tutur Analis PT KGI Sekuritas Yuganur Wijanarko.

“Jadi risiko koreksi ke 6.020 mengecil dan skenario menjadi bullish untuk rally menuju 6.300-6.350,” tambah dia.

Adapun saham rekomendasi hari ini menurutnya PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), hingga saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA).

Sementara itu, Nafan menganjurkan saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), serta saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Continue Reading

Business

Harga Minyak Anjlok Hampir 1% Ditengah Keperihatinan Perang Dagang

Published

on

Finroll.com — Setelah komentar dari pejabat AS menyuarakan keprihatinan seputar perang perdagangan AS-China. Memicu harga minyak anjlok hampir 1%, Senin.

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup turun 46 sen, atau 0,8%, menjadi USD58,96 per barel, demikian laporan  Reuters , di New York, Senin (21/10) atau Selasa (22/10) dini hari WIB.

Harga patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menyusut 47 sen, atau 0,9%, menjadi menetap di posisi USD53,31 per barel.

Meski Presiden Donald Trump mengatakan dia ingin menandatangani kesepakatan ketika dia bertemu dengan mitranya dari China pada KTT APEC November, Menteri Perdagangan AS mengatakan kesepakatan perdagangan awal tidak perlu diselesaikan bulan depan.

Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer mengatakan kepada wartawan bahwa target pemerintah masih akan menyelesaikan fase pertama pada saat pertemuan APEC berlangsung di Cile, 16 dan 17 November. Dia menambahkan ada masalah luar biasa untuk diselesaikan.

Menambah ketegangan, China mencari sanksi pembalasan senilai USD2,4 miliar terhadap Amerika Serikat karena ketidakpatuhannya terhadap putusan WTO dalam kasus tarif yang berasal dari era Presiden Barack Obama, sebuah dokumen menunjukkan.

“Kompleks ini tetap terperangkap dalam kisaran perdagangan yang ketat di tengah tarik ulur antara pengaruh dukungan dari perdagangan ekuitas yang stabil dan pengaruh  bearish  dari kekhawatiran yang berkelanjutan atas perang dagang, yang dapat memaksa perlambatan lebih lanjut dalam pertumbuhan ekonomi global,” kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates.

Di sisi pasokan, Rusia, produsen minyak terbesar kedua di dunia, Minggu, mengatakan pihaknya tidak memenuhi komitmen pengurangan pasokan pada September karena peningkatan  output  kondensat gas alam menjelang musim dingin.

Organisasi Negara Eksportir Minyak, Rusia dan produsen minyak lainnya, aliansi yang dikenal sebagai OPEC +, Desember lalu sepakat untuk memotong pasokan sebesar 1,2 juta barel per hari (bph).

“Rusia bermaksud untuk sepenuhnya mematuhi pemotongan produksi yang disepakati pada Oktober, meski masuk akal untuk meragukan apakah ini benar-benar akan tercapai,” kata analis Commerzbank, Carsten Fritsch.

Produksi kilang Eropa pada September turun 4% dari bulan sebelumnya dan 4,2% ( year-on-year ), menurut data Euroilstock, Senin. Produksi mencapai 10,451 juta barel per hari (bph), dengan  output  menurun di semua produk olahan.

Menawarkan beberapa dorongan, saham Eropa menguat karena investor tetap berharap Inggris akan terhindar dari Brexit tanpa kesepakatan.

Analis mengatakan perjanjian Inggris-Uni Eropa yang menghindari Brexit tanpa kesepakatan bakal mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan minyak.(red) sumber Ipotnews

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending