Connect with us

Ekonomi Global

Minyak Terus Menguat Didorong Ketakutan Seputar Pasokan Saudi

Published

on


Finroll.com — Karena berlarutnya kekhawatiran atas pasokan global, minyak dunia terus menguat, Senin, setelah melambung hampir 7% pekan lalu, setelah serangan 14 September terhadap fasilitas minyak Saudi mengimbangi prospek untuk pemulihan lebih cepat dari perkiraan output  Kerajaan itu dan tanda-tanda perlambatan ekonomi Eropa.

Menurut sumber, yang memberikan penjelasan singkat tentang perkembangan terbaru dalam serangan terhadap fasilitas minyak Saudi, kepada Reuters. Arab Saudi memulihkan sekitar 75% dari produksi minyak mentah yang hilang dalam serangan yang melumpuhkan 5,7 juta barel per hari, atau lebih dari setengah produksi minyak Kerajaan itu.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, naik 40 sen menjadi USD64,68 per barel, sementara patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), meningkat 0,95% untuk menetap di posisi USD58,64 per barel.

Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates mengatakan, “Meski pasar relatif tenang dalam sesi baru-baru ini, kami masih merasa bahwa itu telah melayang ke kisaran perdagangan yang baru dan lebih tinggi mengingat hilangnya produksi Saudi yang telah berkembang, dan kebutuhan untuk premi risiko yang cukup besar untuk memperhitungkan kemungkinan bahwa serangan  drone  lainnya bisa saja terjadi lagi,” katanya di Galena, Illinois.

Survei yang menunjukkan pertumbuhan bisnis zona euro terhenti pada bulan ini, terseret oleh penyusutan aktivitas di Jerman di mana resesi manufaktur di luar dugaan semakin dalam, juga membebani minyak dan pasar lainnya seperti ekuitas.

“Harga minyak mengikuti pasar Eropa yang lebih rendah…dimengerti terpukul oleh data manufaktur menyedihkan dari blok itu dan implikasinya untuk pertumbuhan dan permintaan global,” kata Craig Erlam, analis OANDA.

Namun, Brent masih meningkat lebih dari 19% tahun ini, dibantu oleh pakta pembatasan pasokan yang dipimpin Organisasi Negara Eksportir Minyak, meski kekhawatiran tentang melambatnya pertumbuhan ekonomi membatasi penguatannya.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak serangan terhadap Saudi. Pentagon memerintahkan pasukan tambahan AS untuk dikerahkan ke kawasan Teluk guna memperkuat pertahanan udara dan rudal Arab Saudi.

Inggris yakin Iran bertanggung jawab atas serangan itu dan akan bekerja sama dengan Amerika Serikat dan sekutu Eropa dalam tanggapan bersama, kata Perdana Menteri Boris Johnson. Amerika Serikat dan Arab Saudi juga menyalahkan Iran, yang menyangkal bertanggung jawab.

Serangan Saudi itu memfokuskan kembali perhatian investor pada prospek gangguan pasokan di produsen OPEC lainnya. Investor kurang peduli tentang risiko pasokan karena persediaan yang mencukupi.(red)

Advertisement

Ekonomi Global

Ketika Bayang-Bayang Resesi Ekonomi Kini Menghantui Dunia

Published

on

By

“Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi lebih lambat di hampir 90 persen dunia pada 2019,” ucap Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, dalam pertemuan tahunan IMF pada Selasa (8/10/2019).

Dalam pidato perdana pasca pengukuhannya di lembaga pemberi pinjaman krisis global itu, Georgieva menyatakan ekonomi global saat ini berada dalam kondisi perlambatan yang tersinkronisasi. Perlambatan yang meluas ini dapat diartikan bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini akan turun ke tingkat terendah sejak awal dekade.

Karena itu, IMF merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi dunia 2019 dan 2020 dalam laporan “Global Economic Outlook” yang akan dirilis pekan depan. “Angka-angka utama (dalam laporan tersebut) mencerminkan situasi yang kompleks,” imbuh Georgieva.

Analisis terbaru IMF juga menunjukkan bahwa efek kumulatif dari perang dagang dapat mengurangi output produk domestik bruto (PDB) global sebesar USD700 miliar atau sekitar 0,8 persen tahun depan. Angka ini, dalam hitungan IMF, sekitar ukuran seluruh perekonomian negara Swiss.

Bank Dunia (PDF) juga telah merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,6 persen dari sebelumnya 2,9 persen.

Jurang Resesi di Berbagai Negara
Resesi merupakan periode jatuhnya seluruh kegiatan ekonomi secara signifikan dan berlangsung lebih dari beberapa bulan, yang tampak melalui penurunan produk domestik bruto (PDB) riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan grosir maupun eceran, sebagaimana definisi dari National Bureau of Economic Research (NBER).

Penurunan PDB riil menjadi indikator paling penting dan menjadi bobot penentu yang cukup besar saat resesi terjadi.

Dalam dua tahun terakhir, eskalasi perang dagang yang semakin meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan Cina mengakibatkan aktivitas manufaktur dan investasi di seluruh dunia melemah secara substansial. Dampaknya, pelbagai data yang dibeberkan kementerian keuangan dan badan statistik sejumlah negara memperlihatkan pelemahan ekonomi dan ancaman resesi.

Jepang, misalnya, menunjukkan tanda-tanda perlambatan di Kuartal II/2019, terlihat dari pertumbuhan ekonomi April-Juni 2019 hanya 1,3 persen secara tahunan atau melambat dibanding proyeksi awal yang mencapai 1,8 persen.

Ekonomi Jepang diperkirakan memburuk seiring minimnya ekspor, belanja modal, dan konsumsi rumah tangga. Tekanan meluas di sektor manufaktur, berkurangnya produksi besi dan baja, produksi peralatan pabrik dan kendaraan bermotor, dan juga bahan kimia.

“Kurangnya pertumbuhan ekspor karena perlambatan global berdampak besar,” sebut Ekonom Senior Shinkin Central Bank Research Institute Takumi Tsunoda, sebagaimana dilansir Reuters.

Jepang bisa sedikit bernapas lega sebab Presiden AS Donald Trump sepakat untuk memangkas tarif impor bagi peralatan mesin Jepang dan produk lainnya. Ini artinya ancaman terhadap ekspor mobil Jepang ke AS bisa dihindari karena AS tidak akan mengenakan tarif keamanan nasional ‘Section 232’ terhadap kendaraan impor asal Jepang.

Namun hal ini tidak serta merta bisa menyelamatkan kinerja ekspor Jepang. Sebab, para pembuat kebijakan di Negeri Sakura itu tetap khawatir tentang prospek ekonomi Jepang yang semakin gelap mengingat lemahnya permintaan eksternal dan risiko resesi global.

Ekonomi Inggris pun tidak menggembirakan. Pada Kuartal II/2019, Negeri Ratu Elizabeth ini hanya mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 1,2 persen, melambat dibanding kuartal sebelumnya yang menyentuh 1,8 persen. Capaian ini sekaligus menjadi angka terendah sejak 2018.

Sektor konstruksi dan manufaktur Inggris mengalami kontrasi dengan skor indeks masing-masing 49,7 poin. Ini sekaligus menandakan kontraksi ke dua dalam tiga bulan. Sebagai catatan, angka indeks di bawah 50 menandakan kontraksi.

Dilansir BBC, Ekonom HIS Markit Chris Williamson mengatakan ketidakpastian tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau British Exit (Brexit) dan biaya bisnis yang tinggi menjadi biang keladi dari pelemahan pertumbuhan ekonomi Inggris. Dilaporkan Guardian, akhir Oktober menjadi penentuan untuk Brexit dan diperkirakan hal ini akan memberikan dampak yang nyata terhadap perekonomian Inggris, Uni Eropa, dan seluruh dunia.

“Kurangnya pertumbuhan berarti meningkatkan kemungkinan ekonomi Inggris tergelincir ke dalam resesi,” kata Williamson, masih dari BBC.

Ekonomi Jerman pun berada di lampu merah dengan anjloknya produksi manufaktur dalam negeri. New York Times melaporkan, ekspor produksi mesin Jerman ke Cina susut signifikan sejak perang dagang terjadi. Indeks PMI manufaktur Jeman yang menyumbang seperlima pertumbuhan ekonomi Jerman turun menjadi 41,7 poin pada September dibanding 43,5 poin pada Agustus 2019, dilansir Reuters.

Indeks tersebut merupakan angka terendah yang pernah dicapai Jerman sejak 2009 saat terjadi krisis keuangan global. “Tren penurunan pesanan baru, yang merupakan pelemahan terburuk selama lebih dari 10 tahun terakhir, sangat mengkhawatirkan, dan terus menyumbang penurunan produksi, lapangan kerja, serta harga,” ucap Ekonom HIS Markit, Phill Smith, masih dari Reuters.

Masih dari Guardian, merosotnya kinerja ekspor membuat PDB Jerman turun 0,1 persen pada Kuartal II/2019. Perusahaan-perusahaan Jerman enggan berinvestasi karena ancaman Trump untuk memperluas jangkauan perang dagang dengan mengenakan tarif pada mobil-mobil pabrikan Jerman yang dijual di AS, masih dari New York Times.

Akibatnya, dilansir Guardian, banyak perusahaan Jerman yang mengurangi produksi dan memangkas ekspor. Tak sedikit pula perusahaan yang memangkas jumlah karyawan. Indeks kepercayaan bisnis di Jerman pun turun drastis dan mencapai level terendah sejak resesi pada 2008.

Ekonomi Singapura terpangkas jadi minus 3,3 persen secara triwulanan. Angka itu turun dari pertumbuhan 3,8 persen pada kuartal I/2019. Menurunnya wisatawan asal Cina juga menekan perdagangan grosir dan eceran Singapura.

“Dengan segala sesuatu yang kita lihat, sangat mungkin akan ada resesi pada Kuartal III/2019 ini,” kata Ekonom Coface, Carlos Casanova, dikutip dari SCMP.

Amerika Semi-Resesi
CNBC melaporkan, Credit Suisse, manajemen sekaligus bank investasi terkemuka di dunia, menilai AS sudah memasuki masa semi-resesi. Melemahnya manufaktur AS menjadi alasan, dengan indeks PMI hanya 47,8 poin pada September yang merupakan level terendah sejak Juni 2019.

“Risiko resesi jelas meningkat,” ungkap Kepala Strategis Ekuitas Credit Suisse AS Jonathan Golub, masih dari CNBC. “Indikator-indikator resesi telah melemah tapi tidak menunjukkan kecenderungan penurunan yang besar.”

Sebelumnya, Nouriel Roubini, professor di NYU Stern School of Business sekaligus ekonom senior urusan internasional di Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih era Clinton, mengidentifikasi 10 risiko penurunan potensial yang dapat memicu resesi di AS dan juga global tahun 2020 mendatang.

Dilansir Guardian, menurut Roubini, perang dagang yang melibatkan AS dan Cina turut menyeret negara-negara lain yang ‘tidak berdosa.’ Sebab, perang dagang dan larangan dalam foreign direct investment (FDI), migrasi dan transfer teknologi dapat memberikan implikasi mendalam pada rantai pasokan global dan meningkatnya ancaman stagflasi (melambatnya pertumbuhan ekonomi seiring dengan peningkatan inflasi).

“Lebih buruk lagi, di negara maju, kebijakan untuk merespons krisis masih terbatas. Intervensi moneter dan fiskal di sektor swasta yang digunakan setelah krisis keuangan pada 2008 tidak bisa digunakan untuk mengatasi efek resesi yang sama saat ini,” tulis Roubini.

Continue Reading

Ekonomi Global

Saham Boeing hingga Data Ekonomi China Negatif, Wall Street Anjlok

Published

on

By

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street jatuh pada penutupan akhir pekan lalu. Berita negatif tentang Johnson & Johnson dan Boeing, ditambah dengan data ekonomi China yang suram memberikan dampak negatif pada investor.

Dilansir Reuters, Senin (21/10), Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 255,68 poin atau 0,95 persen menjadi 26.770,2, indeks S&P 500 (SPX) kehilangan 11,75 poin atau 0,39 persen menjadi 2.986,2 dan Nasdaq Composite (IXIC) turun 67,31 poin atau 0,83 persen menjadi 8.089,54.
Saham Boeing Co (BA.N) dan Johnson & Johnson (JNJ.N) memimpin penurunan S&P 500 dan Dow.

Boeing turun 6,8 persen, setelah Reuters melaporkan adanya pesan teks antara dua karyawan yang menyarankan pembuat pesawat itu menyesatkan administrasi penerbangan terkait keselamatan pesawat 737 MAX.

Sementara Johnson & Johnson mengumumkan akan menarik produk bedak bayi di AS setelah regulator menemukan adanya asbes dalam sampel, mengirimkan sahamnya turun 6,2 persen.
Pertumbuhan ekonomi China sebesar 6 persen di kuartal III 2019, melambat ke laju terendahnya dalam hampir 30 tahun. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh perang dagang dengan AS.

“Kelemahan pasar hari ini berkaitan dengan berita dari pertumbuhan ekonomi China, Boeing, dan Johnson & Johnson,” kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities di New York.

Musim pendapatan kuartal III hampir selesai, dengan 73 perusahaan di S&P 500 telah melaporkan kinerjanya. Sebanyak 83,6 persen emiten mencatatkan kinerja di atas perkiraan rata-rata.

Namun, analis saat ini melihat laba S&P 500 turun 3,1 persen dibandingkan dengan tahun lalu, yang akan menandai kontraksi pertama sejak resesi pendapatan yang berakhir pertengahan 2016.

Pendapatan Coca-Cola Co (KO.N) mengalahkan ekspektasi analis dan sahamnya naik 1,8 persen.
Kansas City Southern (KSU.N) melonjak 7,3 persen setelah operator kereta api itu juga mengalahkan ekspektasi laba analis, akibat peningkatan pengiriman minyak bumi ke Meksiko.
American Express Co (AXP.N) melaporkan laba kuartal ketiga yang lebih baik dari perkiraan karena konsumen meningkatkan pengeluaran mereka. Namun, saham penerbit kartu kredit ini turun 2,0 persen.

Volume perdagangan di Wall Street mencapai 6,24 miliar saham, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata 6,55 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Continue Reading

Ekonomi Global

Bekraf : Perlu Regulasi Agar Pengembangan Pengembangan Ekonomi Kreatif Bisa Optimal

Published

on

Finroll.com — Perlu ada suatu regulasi yang menjembatani kegiatan kreatif untuk pengembangan ekonomi kreatif yang saat ini hanya dinaungi oleh sebuah badan, bukan kementerian teknis, belum mampu memaksimalkan potensi ekonomi kreatif di Indonesia.

“Sebagai badan selama 4-5 tahun ini, kami tidak bisa mengeluarkan regulasi, yang kami lakukan adalah fasilitasi, yang membawa mereka ke grup promosi dan lain-lain,” ujar Kepala Bekraf, Triawan Munaf, di Ice BSD, Tangerang, Rabu (16/10/2019).

Triawan menuturkan, beberapa regulasi saat ini diperlukan untuk mendorong ekonomi kreatif, terutama di sektor jasa agar bisa berkembang sehingga hasilnya optimal bagi perekonomian RI.

“Kalau ada perubahan nomenklatur mungkin kedepannya (Bekraf) akan jadi Kementerian. Kami akan ikut membuat regulasi.

Tapi dimanapun juga di berbagai negara, terutama di Indonesia, semua regulasi itu tidak dapat dikerjakan sendiri, harus berkolaborasi dengan Kementerian lain,” tambah Triawan.

Lebih lanjut Triawan mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir, sektor ekonomi kreatif telah berkontribusi sekitar Rp 1.105 triliun bagi perekonomian Indonesia.

Dengan melakukan pembenahan, dukungan regulasi hingga program sertifikasi, maka potensi kontribusi pengembangan sektor ekonomi kreatif terhadap perekonomian akan lebih besar lagi.

“Tapi itu juga tergantung bagaimana mengelolanya, apakah akan berdiri sendiri atau digabung dengan lembaga lain. Kita tahu masalah mereka, kita bisa bantu.

Bagi saya mau berbentuk badan atau kementerian, yang penting kerja keras dan bisa koordinasi dengan kementerian lain,” ujarnya.(red)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending