Connect with us

Cover Story

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Published

on


Finroll.com — Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata Indonesia? Tentu jawabannya bisa bermacam, ada yang bilang eksotisme pariwisata lengkap beserta lanskap alamnya, ada yang menyebut kayanya kebudayaan nusantara, atau mungkin keramahan para penduduknya?

Semua ini sah-sah saja, karena Indonesia memang se-kaya itu. Begitu juga dengan anugerah yang Tuhan berikan pada alam di Indonesia, dalam hal ini spesies binatang yang amat beragam.

Berbicara soal keanakeragaman hayati, membuat saya terpikir pada seorang sosok lelaki yang mendedikasikan separuh hidupnya keluar masuk hutan Indonesia, untuk menggali dan menunjukan bahwa alam dan hewan di Indonesia sangat lah berharga untuk kita ketahui. Sosok itu adalah Riza Marlon, sang fotografer alam liar senior Indonesia.

Tanpa pikir panjang, saya pun mengontaknya dan membuat janji dengan beliau. Maklum, di tengah kesibukan mengabadikan eksistensi spesies hewan asli Indonesia lewat lensa kameranya, saya harus mengatur waktu dengannya agar bisa berbincang santai sembari menyeruput teh hangat.

Dua minggu berlalu, akhirnya pagi ini saya bisa bertemu dengan Riza Marlon di kediamannya, di kawasan Cimanggu Perikanan, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Momen yang saya tidak ingin sia-sia kan untuk bertemu empat mata dengannya.

Ketika masuk, saya disambut oleh istri beliau Wita Marlon, atau yang akrab disapa mba Wita. “Silahkan masuk mas,” ujarnya sambil membuka pintu gerbang rumah dengan senyuman. Rumahnya begitu asri, rindang dahan pepohonan meneduhkan saya di cuaca Bogor yang agak panas pagi itu. Tak berapa lama, Riza pun keluar dan langsung menyalami saya.

“Halo mas, apa kabar?” ucapnya sambil tersenyum. Kesan pertama bertemu dengan Riza, ternyata ia adalah orang yang sederhana dan ramah, saya sangat takjub dibuatnya meski perawakannya terlihat sangar hehehe.

Obrolan kami pun dimulai di beranda rumahnya yang berbentuk bale sederhana yang bermaterial kayu-kayuan. Suasananya adem sekali, saya serasa ada di rumah.

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Sejumlah bingkai foto hasil karyanya yang terpajang di dinding, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Sedikit berbincang, Riza yang akrab disapa Om Caca ini mempersilahkan saya masuk kedalam rumah. Kami duduk berhadapan, dan benar saja di sekeliling dinding rumahnya terpajang beberapa foto hasil jepretannya di alam liar. Pikiran saya pun terbang, menelisik jauh kedalam tiap foto yang ada di bingkai itu, kenapa seorang Riza Marlon begitu antusiasnya keluar masuk hutan Indonesia? Apa tujuannya mengabadikan eksistensi hewan-hewan liar yang ada di Indonesia?

Seakan mendengar pertanyaan yang ada di hati saya, Riza pun mulai mengisahkan perjalanan hidupnya.

“Disini saya ingin memperkenalkan satwa Indonesia dengan fotografi. Supaya awalnya masyarakat kenal dulu, kemudian sayang dan akhirnya peduli,” ungkapnya. Bagi Riza, inilah esensi dari profesi yang ia jalani selama 25 tahun lebih, yang saat ini sudah dituangkannya dalam tiga buku yakni “Living Treasury of Indonesia”, “107+ Ular Indonesia”, dan “Wallace’s Living Legacy”

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Buku-buku karya Rizal Marlon, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Apa yang Riza lakukan ini bukan tanpa alasan, baginya fotografi dan dunia hewan adalah dua unsur utama hidupnya. Selain dengan minatnya di bidang travelling.

“Aahh awalnya, dulu sekali saya ini adalah anak kecil yang suka lihat buku bergambar binatang. Seperti hewan dari Afrika, Australia dan semacamnya. Hal itu berlanjut sampai saya SMP tahun 1975-an, nah pas SMA saya sudah mulai megang kamera dan suka fotografi,” imbuh bapak dua anak ini.

Romansanya pada dunia hewan terus bersemi hingga bangku kuliah. Ia pun masuk Universitas Nasional dan mengambil jurusan biologi. Pada masa ini, Riza tumbuh menjadi pemuda yang makin haus untuk dekat dengan alam, dan binatang. Ia berkisah, tiap ada praktek mata kuliah, dirinya rutin mengunjungi kebun binatang dan Taman Nasional/Cagar Alam yang ada di Jawa Barat.

Berbekal kamera pinjaman, Riza pun mulai memotret satu demi satu satwa liar yang ia temui. Tanpa rasa malu, ia terus mengukir namanya di masa depan, yang akhirnya dikenal menjadi seorang fotografer hewan liar Indonesia.

Menjadi Pionir Fotografer Alam Liar Indonesia

Setelah bertahun-tahun memfoto satwa liar, Riza pun mulai berpikir kenapa belum ada buku yang khusus membahas keanekaragaman satwa Indonesia. Akhirnya setelah lulus di tahun 1990-an, ia memutuskan untuk menjadi seorang wildlife photographer.

Perjalanan karirnya pun dimulai. Keluar masuk hutan di Sulawesi, Sumatera, Jawa dan Kalimantan pun ia jalani. Meski pada awalnya ia masih menggunakan dana pribadi.

“Setelah beberapa lama mulai ada LSM luar negeri yang berbasis di Indonesia, yang membutuhkan foto stok hewan di lapangan, terkait dengan proyek yang mereka kerjakan. Nah dari situ saya mulai dapat uang dan terus bekerja di bidan ini,” tambahnya.

Riza menceritakan, pada awal karirnya sebagai wildlife photographer di tahun 90-an, ia masih menggunakan kamera analog. Tentu, segala sesuatunya jauh berbeda dengan jaman sekarang yang serba digital.

“Oh ya (ada keterbatasan), karena analog dulu diminati pasar ya. Karena saya hidup dari foto, makanya saya sewa menyewa kamera hingga keluar negeri. Dulu yang dituntut saya kerja dengan ISO yang rendah. Kalau bisa 50 artinya film yang tidak terlalu peka terhadap cahaya, dan ISO 100,” pungkasnya.

“Itu masalah sebenarnya, motret di hutan Indonesia dengan ISO rendah karena hutan yang gelap kan karena umumnya hutan hujan. Antisipasinya ya tunggu binatangnya diem atau tunggu cuaca cerah,” kenangnya sambil tertawa.

Setelah 27 tahun berkarir sebagai fotografer alam liar Indonesia, Riza mengaku suka duka menjalani pekerjaan tersebut sudah tidak terhitung karena saking banyaknya. Mulai dari disergap lintah, akses lokasi yang sangat sulit, hingga uniknya kebudayaan di daerah yang ia jumpai ketika hendak memotret.

Ia juga bersyukur, selama puluhan tahun keluar masuk hutan ia tidak pernah menemui atau mengalami keadaan gawat yang sampai mengancam keselamatan nyawanya.

“Saya menerapkan bekerja secara safety ya, tidak pernah sendirian masuk hutan. Pasti ada teman, ada porter, ada orang lokal untuk memandu. Jika itu kawasan konservasi pasti saya buat surat izin dulu, atau jika bukan kawasan konservasi saya izin kepada kepala desa, atau kepala suku disana. Jadi jarang saya mengalami keadaan yang membahayakan,” tuturnya.

Merasakan Langsung Perubahan Habitat Hewan di Indonesia

Selama puluhan tahun menjalani pekerjaan wildlife photographer, Riza mengaku merasakan sendiri bagaimana hancurnya habitat satwa liar di Indonesia.

“Berjalanannya waktu dari tahun 80-an ketika saya masih penelitian (mahasiswa) hingga menjalani profesi ini, habitat satwa itu banyak yang hancur. Binatang juga banyak diburu, jadi mereka (hewan) saat ini sangat ketakutan dengan keberadaan kita,” katanya.

“Jadi sebenarnya sekarang saya mau cari hewan untuk di foto di hutan lebih susah dibanding dulu. Meski dulu alat saya lebih sederhana, tapi saya lebih mudah memfoto hewan. Nah sekarang alatnya canggih, kemampuan mumpuni, binatangnya susah ketemu. Kemarin saya ke TN Wasur di Merauke, bawa lensa 500mm susah ketemu binatang. Sementara saya tahun 1995 kesana bawa lensa 300mm saya sudah dapat banyak. Ini terasa banget, meski saya bawa teknologi canggih tapi binatangnya gaada, kita bisa apa?” jawabnya pelan.

Riza Marlon: Kenapa Wildlife Photography di Indonesia Sepi?

Riza mengatakan, salah satu alasan mengapa ia akhirnya berani terjun pada profesinya karena sepinya minat fotografer Indonesia untuk berani turun ke hutan dan menjadi fotografer alam liar.

“Saya menekuni ini karena saya liht gaada orang Indonesia yang mau terjun kesini. “Kenapa” wildlife photography itu di Indonesia sepi, dan kering. Karena itu duitnya ngga instan, perputaran bisnisnya engga cepet. Tapi kan harus ada orang Indonesia yang ngerjain ini, karena selama ini kan yang masuk itu asalnya dari orang asing. Bikin buku dan film, kita beli mahal pula,” paparnya.

Baginya, bekerja sebagai wildlife photography bukan hanya soal tuntutan pekerjaan, namun harus didasari rasa suka kepada binatang dan passion. Hal yang menurut saya cukup langka di negeri ini.

Meski demikian, Riza menyebutkan saat ini sudah mulai bermunculan komunitas-komunitas fotografer alam liar walaupun basisnya masih reginonal di berbagai daerah.

Membuat Buku Satwa Liar di Indonesia

Dengan segala kegelisahannya, Riza akhirnya memilih buku sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya, untuk mengenalkan satwa liar di Indonesia. Lebih jauh dari itu, ia berharap nantinya masyarakat yang membaca dan melihat buku-bukunya bisa tertular semangat yang sama dengan dirinya untuk terus melestarikan, dan membuka cakrawala pengetahuan alam Indonesia yang amat kaya dan beragam.

“Saya akhirnya lari ke buku, daripada saya ngajak-ngajak jadi wildlife pphotographer tapi akhirnya kecewa karena buang uang yang cukup besar, buang tenaga yan banyak dan pikiran, akhirnya saya bikin buku biar mudah diakses seluruh pihak,” pungkasnya.

“Sebetulnya saya juga menyasarkan kepada anak-anak, seperti saya dulu yang kecilnya suka sama binatang. Jadi dengan sendirinya dia udah terobsesi untuk peduli satwa ketika dewasa,” sambungnya.

Ia meyakini, dengan buku-buku karyanya bisa menembus batas etnik, budaya, suku, daerah, hingga usia untuk memperkenalkan dunia satwa Indonesia. Dengan buku, ia percaya bahwa secercah asa untuk melestarikan hewan di hutan dan habitat aslinya tidak akan sirna.

Bertekad Terus Jadi Wildlife Photographer Hingga Tutup Usia

27 tahun keluar masuk hutan, jutaan foto hewan liar yang diambil, miliaran kenangan yang diingat, buku-buku yang ia susun sebagai warisannya kepada anak cucu, saya pun bertanya apa seorang Riza Marlon telah mencapai puncak hidupnya sebagai wildlife photographer. Mengingat, fisik juga semakin menurun dan jaman sudah berganti. Namun dengan jawaban tegas ia berkata.

“Kalau ditanya sampai kapan, jelas sampai mati lah jadi wildlife photographer. Sampai kaki ini ga kuat, tapi kan otak masih kuat, tangan masih bisa, saya masih bisa menulis dan foto masih banyak. Mumpung fisik semua masih kuat, saya makanya terus ke lapangan dan keliling Indonesia,” tandasnya.

“Kita ini kurang masif memperkenalkan alam Indonesia, kita perlu bantuan semua pihak baik itu media dan masyarakat. Harapannya mereka bisa menekan pemerintah untuk menerbitkan sebuah kebijakan terkait pelestarian alam,” tutupnya.

Obrolan kami pagi itu pun berakhir, sembari menyeruput teh manis hangat yang tadi sudah disediakan mba Wita. Momen yang hangat dan dekat, seakan saya bisa menjalani puluhan tahun hidup Riza berkecimpung di dunia wildlife photography, yang awalnya berawal dari seorang anak kecil biasa yang amat menyukai dunia binatang liar. Obrolan kami berlanjut pada topik-topik yang lebih santai, seperti membahas perkembangan jaman kamera, hingga kesamaan hobi kami pada dunia ikan air tawar.

Momen yang saya tidak akan lupakan, untuk bertemu salah satu sosok hebat di negeri ini, yang masih peduli akan kelestarian alam bumi pertiwi. Terimakasih Om Caca!

Advertisement

Cover Story

Jack Ma dan Dua Dekade Jatuh Bangun Alibaba

Published

on

By

Finroll.com – Dua dekade lalu, Jack Ma tak berpikir akan memiliki raksasa e-commerce seperti sekarang. Pendiri Alibaba Group Jack ma mengungkap tantangan pembangunan bisnis Alibaba pada 1999. Dia mengisahkah jatuh bangunnya tahun lalu ketika bertandang ke Bali, Indonesia.

Bermula sebagai perusahaan kecil, Ma bekerja siang dan malam mengembangkan Alibaba Grup. Menurutnya, semua orang perlu percaya dengan masa depan yang lebih baik.

“Seorang pengusaha harus memiliki kepercayaan sehingga tidak memiliki ketakutan kalau Anda memiliki masalah,” ucap Jack Ma di Bali, Jumat (12/10/2018).

Tak hanya cukup dengan kepercayaan, seorang pengusaha juga perlu memiliki prinsip hidup yang kuat. Sebagai pemilik e-commerce, Ma sadar dirinya perlu menomorsatukan konsumen namun tak melupakan karyawannya.

“Jadi konsumen nomor satu, karyawan nomor dua, dan kepercayaan dari kedua-duanya adalah nomor tiga,” jelas Ma.

Pemilik nama asli Ma Yun ini yakin saat memiliki 30 karyawan pertamanya bisa bekerja bersama-sama mengembangkan perusahaan. Namun, ia tak menyebut jika 30 orang tersebut sebagai yang terbaik.

“Memang tidak ada yang terbaik, tapi mereka berlatih untuk menjadi yang terbaik,” imbuhnya.

Pria berusia 55 tahun ini mengaku optimis dalam menjalani hidup. Menurutnya, tidak ada orang yang ahli masa depan karena semua orang adalah ahli masa lalu. Dengan kata lain, ia menyebut tak ada satu pihak pun yang bisa meramalkan nasib seseorang.

“Saya tidak menjanjikan bahwa bergabung dengan kami akan kaya, ini bukan Jack Ma, Anda sendiri yang membuat peluang itu ada,” ujarnya.

Hari ini, Jack Ma akan mundur dari perusahaan yang telah dia besarkan selama dua puluh tahun. Namun, Ma akan berada dalam jajaran dewan direksi Alibaba hingga 2020.

Posisi puncak Alibaba akan diisi oleh Daniel Zhang. Zhang bukan wajah baru dalam grup Alibaba. Saat ini dia menjabat sebagai CEO Alibaba Group.

Sepak terjang Zhang di Alibaba Group dimulai pada 2007, saat ia bergabung di Taobao sebagai Chief Financial Officer (CFO).

Taobao merupakan salah satu anak usaha Alibaba yang menyerupai situs lelang eBay dengan fokus kepada barang elektronik. Pada 2008, Zhang digeser menjadi Chief Operating Office Taobao.

Karier Daniel melesat pada 2011, ia didapuk sebagai Presiden Tmall, platform business-to-consumer (B2C) milik Alibaba.

Saat menjabat sebagai Presiden, ia mempelopori sebuah terobosan yang membuat ia semakin dikenal. Ia menciptakan 11 November Shopping Festival (Single’s Day). Acara sangat populer di China khususnya untuk yang masih single.

Tanggal event ini didominasi angka 1, angka 1 ini merepresentasikan kesendirian. Pada 2017, pembeli menghabiskan sekitar US$25 miliar atau Rp372 triliun dalam event belanjan ini. Event tahunan ini menjadi hari belanja offline dan online terbesar di dunia.

Continue Reading

Cover Story

Belajar dari Garasi, Noni Purnomo Warisi Kendali Blue Bird

Published

on

By

Finroll.com –  Terlahir sebagai putri seorang pengusaha taksi ternama, PT Blue Bird Tbk tak membuat Noni Sri Aryati Purnomo tumbuh menjadi remaja yang manja. Putri pertama dari pasangan purnomo Prawiro dan Endang Basuki ini justru menempa diri untuk terus banyak belajar tentang pengelolaan bisnis, hingga akhirnya dipercaya meneruskan tongkat estafet perusahaan keluarga.

Noni bercerita, pelajaran pertama berbisnis justru datang dari garasi rumahnya. Saat itu, Blue Bird mulai didirikan pada 1 Mei 1972.

“Karena mulai dari garasi dan saya juga tinggal di situ, sehingga involvement (keterlibatan) saya terhadap bisnis itu juga sudah terjadi dari waktu saya masih kecil. Banyak sekali hal-hal yang saya pelajari justru pada saat saya waktu kecil,” tuturnya kepada CNNIndonesia.com.

Perempuan yang lahir pada 20 Juni 1969 silam ini banyak belajar tentang kejujuran, integritas, disiplin, kerja keras, hingga kekeluargaan dari orang-orang terdekatnya. Ia mengaku justru mendapatkan pelajaran tentang hidup dari sang nenek, almarhumah Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono yang merupakan pendiri Blue Bird. Tentu pula kedua orang tua turut mendukungnya.

Kakak dari Sri Adriyani Lestari Purnomo dan Adrianto Djokosoetono ini bahkan tak malu-malu untuk mulai bekerja di perusahaan sebagai pekerja paruh waktu sejak duduk di bangku SMA. Hal itu dilakukan untuk melakukan input data.

Noni tak lantas puas dengan kemampuan yang ia miliki. Ia memutuskan untuk meninggalkan tanah air guna mengenyam pendidikan di University of Newcastle, Australia. Tak tanggung-tanggung, ia mengambil Jurusan Teknik Industri sehingga ia banyak belajar mengenai bisnis transportasi.

Hidup di luar negeri memberikan tantangan tersendiri bagi Noni. Ia tak hanya menghadapi tantangan berpisah jauh dari keluarga, tetapi juga dituntut beradaptasi dengan jurusan yang mayoritas diisi para lelaki.

“Di teknik industri saya banyak belajar bagaimana mengefisienkan proses bisnis, tesis saya yang terakhir adalah proyek efisiensi di bengkel,” katanya.

Setelah kembali ke Tanah Air, Noni belajar tentang pemasaran di Jakarta Convention and Exhibition Bureau. Jiwa pekerjanya makin terasah.

Pagi hari, ia bekerja di Jakarta Convention and Exhibition Bureau, sedangkan malam harinya ia bekerja di Blue Bird.

Setelah 1,5 tahun menjalani kehidupan dengan pekerjaan ganda, Noni kembali terbang ke luar negeri untuk belajar University of San Francisco, Amerika Serikat. Demi mendukung kelancaran bisnis Blue Bird, ia mengambil Master of Business Administration (MBA), dengan dua konsentrasi yakni finance (keuangan) dan marketing (pemasaran).

Babak baru kehidupan dimulai ketika ia menamatkan S2. Noni mengaku ingin bekerja di luar negeri, bahkan ia sudah diterima di salah satu perusahaan multinasional di New York, AS. Namun, panggilan hatinya menuntunnya untuk pulang ke tanah air dan meneruskan usaha keluarga.

“Waktu saya mau berangkat satu minggu sebelum pindah dari San Fransisco ke New York, nenek saya telpon. Nenek saya bilang kamu mendingan balik saja, karena kamu bisa kontribusi lebih banyak kalau kamu kembali ke perusahaan pada saat ini. Saya pikir oke, itu namanya juga panggilan. Jadi saya kembali ke Jakarta dan mulai bekerja full time di Blue Bird sampai sekarang,” tuturnya.

Setelah itu, ia mengabdikan dirinya untuk membesarkan Blue Bird. Tahun 2013, Noni dipercaya sebagai Direktur Utama Blue Bird Grup. Tepat pada 22 Mei 2019, Noni diberikan amanah untuk menggantikan ayahnya Purnomo Prawiro sebagai Direktur Utama PT Blue Bird Tbk.

Bagaimana tantangan yang dihadapi Bos Taksi Blue Bires dalam menjalankan bisnisnya. Berikut cuplikan wawancara khusus CNNIndonesia.com dengan Noni Purnomo.

Belajar dari Garasi, Noni Purnomo Warisi Kendali Blue Bird
Apa tantangan memimpin bisnis keluarga, industri transportasi yang mayoritas di kelilingi praktisi laki-laki?

Saya pikir mau perusahaan keluarga ataupun bukan, pasti mempunyai tantangan sendiri-sendiri. Tahun 2015, PT Blue Bird Tbk sudah menjadi perusahaan publik sehingga tata kelola itu sudah lebih terbuka dan transparan. Di dalam keluarga sendiri kami sudah bersatu menjaga kelestarian dari perusahaan itu sendiri.

Waktu almarhumah (Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, nenek dari Noni Purnomo) meninggal, pesan beliau kepada generasi saya adalah, kamu harus ingat bahwa tanggung jawab kamu adalah bukan hanya kepada keluarga kami, tetapi justru lebih kepada keluarga semua pengemudi dan karyawan.

Positifnya, karena perusahaan keluarga, kami mempunyai pandangan yang lebih panjang, jadi lebih mudah mengambil decision-nya. Kuncinya adalah bagaimana kami bisa saling hormat terhadap sesama yang lain.

Intinya, kami harus menghargai orang itu, dari keseluruhan orang itu, as a person, sebagai manusia seutuhnya bukan dilihat dari bentuk luarnya, apakah orang itu perempuan atau laki-laki.

Tentu saja setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Nah kami diajarkan untuk melihat hal itu, karena setiap orang memiliki sisi feminim dan sisi maskulin. Nah tinggal kita menentukan kapan kita menggunakan sisi feminim kapan kita menggunakan sisi maskulin. Laki-laki pasti harus pernah menggunakan sisi feminimnya, jadi tidak harus selalu sisi maskulin.

Kalau kami pergi ke suatu tempat dengan banyak laki-laki, kadang-kadang memang terintimidasi. Tapi seiring berjalannya waktu, lama-lama terbiasa. Apalagi industri taksi bukan industri yang tinggal di belakang meja. Jadi kami harus turun ke lapangan, bertemu dengan banyak orang, kadang harus bertemu orang lain di jalan.

Jadi saya pikir, justru itu merupakan pembelajaran. Bagaimana kami bisa belajar dari setiap kejadian yang ada. Saya melihat itu sebagai kelebihan, bahwa kadang-kadang berbeda itu malah baik.

Apa kuncinya agar bisa bertahan ketika merasa terintimidasi?
Kalau buat saya, saya justru tidak pernah merasa jadi number one (nomor satu). Jadi semua itu about team work. Mungkin saya justru merasa, ini kembali lagi kepada ayah dan nenek saya. Mereka selalu mengajarkan bahwa pada saat kami di atas, justru kami harus berpikir bagaimana kami bisa membantu bawahan kami untuk bisa bekerja lebih baik.

Saya pikir yang paling utama sebagai CEO atau pemegang puncak pimpinan adalah soal tanggung jawab. Tanggung jawabnya besar sekali, tetapi sebagai manusia biasa, tidak selalu benar. Menurut saya pemimpin yang sukses justru orang yang bisa melihat kekurangan dan kelebihan diri sendiri serta timnya, sehingga kami semua bisa bersatu untuk memajukan perusahaan secara sustainable.

Apa ada cita-cita lain yang ingin ibu capai?
Saya sebenarnya ingin bekerja di perusahaan multinasional di New York, tetapi pada akhirnya harus kembali ke Tanah Air. Memang pada saat itu ada perasaan ‘wah kok gini sih’. Tapi nenek saya selalu bilang, segala sesuatu itu terjadi untuk sesuatu yang lebih baik. Kenyataannya kami tidak pernah tahu, kalau saya ambil jalur itu, terus akhirnya jadi seperti apa. Hal yang penting adalah kami fokus kepada jalur yang ada sekarang.

Soal keinginan, saya pikir yang paling penting long time purpose (tujuan jangka panjang) dahulu. Saya waktu itu pernah membuat visi hidup yang sebetulnya sering saya baca lagi supaya mengingatkan diri saya lagi. Karena apapun yang kami lakukan sekarang itu jangan hanya dilakukan hanya untuk saat ini saja. Karena nanti kami gampang frustasi dan gampang bosan.

Tujuan hidup saya itu adalah satu saya ingin dianggap sebagai ibu yang baik, karena itu buat saya adalah penting. Kemudian saya juga ingin dianggap sebagai anak yang baik, karena itu penting juga. Ketiga sebagai partner yang baik.

Karakteristik yang ada sebagai ibu yang baik itu kan nurturing (mengasuh), tidak hanya untuk anak sendiri, bisa untuk tim di perusahaan juga.

Untuk sebagai anak, it’s about respect (menghormati). Saya pikir itu kuncinya, kalau kami ingin dihargai kami harus pertama menghargai dulu. Saya pernah ditanya juga, dulu bagaimana waktu masuk bengkel pertama kali, kembali lagi karena ini perusahaan keluarga, jadi waktu saya kecil banyak sekali mekanik kami yang saya panggil om. Nah begitu saya secara formal, masuk ke perusahaan dan bekerja di bengkel itu agak bingung juga, kalau dulu saya suka dipangku-pangku kan, sekarang saya harus punya formal relationship. Tetapi kembali lagi, hal-hal seperti itulah yang membuat kami bisa berkembang dengan menghargai.

Jadi waktu saya masuk pertama kali, meskipun saya lulusan S1 teknik saya tidak jadi sok tahu, saya tidak berusaha untuk mengajarkan ilmu yang saya dapat di luar negeri. Tetapi saya belajar dulu, apa yang mereka lakukan, karena yang mereka lakukan selama ini adalah pengalaman yang luar biasa. Jadi saya belajar dulu sehingga kami bisa bertukar pikir. Nah dengan kami mulai bertukar pikiran itulah respect mulai terbentuk

Ketiga adalah to be a good partner, ini dasarnya adalah simbiosis mutualisme. Jadi bagaimana kami bisa saling memberi kepada sesama saling belajar. Jadi kalau kami partnering dengan orang, saya tidak melihat harus win lose ataupun istilahnya lose-lose atau win-win tetapi adalah sinergi.

Dengan sinergi kami tidak selalu win-win tidak selalu lose-lose tidak selalu win lose tetapi tergantung dari apa yang kami bisa sinergikan, Jadi itu yang saya pikir menjadi tujuan akhir saya. Nanti bentuknya apa, jabatannya apa, itu hanya bagian dari perjalanan.

Bagaimana membagi waktu sebagai istri, ibu rumah tangga, dan direktur utama?
Orang kadang-kadang berbicara mengenai work life balance kenapa itu menjadi stresfull karena itu dipisahkan antara work dan life. Seakan akan work itu bukan part of life padahal realitanya work itu part of life. Nah jadi mungkin defisini pertama itu dulu yang harus diubah.

Dulu saya sangat perfeksionis, jadi saya beranggapan saya harus pegang minumum tiga bola begitu seperti pemain sirkus. Tetapi kadang-kadang atau menjadi seringkali bola itu berjatuhan. Setiap kali bolah jatuh saya menjadi kesal.

Akhirnya setelah saya pikir-pikir kenapa juga saya kesal begitu. Akhirnya dengan kami mengerti bahwa life is not perfect and its not mean to be perfect jadi kita harus secara sadar, kita tahu bola mana yang perlu kami taruh pada saat tertentu dan bola mana yang harus kami mainkan di udara.

Nah salah satu yang saya lakukan contohnya saya senang kumpul kelaurga bersama anak-anak, sedangkan waktunya terbatas. Jadi saya mencari hobi yang saya bisa lakukan di rumah. Jadi akhirnya saya belajar masak. Jadi akhirnya kami kalau Sabtu-Minggu bisa masak bersama di rumah dan itu menjadi suatu kegiatan yang bounding.

Jadi kami harus pintar-pintar memilih saja hobi apa yang cocok. Nah di luar itu saya pikir yang paling penting adalah menjaga kesehatan dengan makan.

Soal olah raga, saya senang olahraga bela diri, karena dulu saya kecilnya tidak percaya diri. Ibu saya membantu saya meningkatkan rasa percaya diri saya dengan mengenalkan saya dengan dunia drama. Dengan saya naik panggung belajar drama, meskipun awalnya di ujung tidak berani maju tetapi dengan begitu kepercayaan diri saya terbangun.

Siapa tokoh yang menjadi inspirasi?
Role model saya banyak, jadi tidak satu role model, jadi banyak sekali. Jadi saya punya banyak sekali role model mulai dari almarhumah nenek saya, ayah dan ibu saya. Kemudian saya juga tertarik terhadap Margareth Thatcer, kemudian saya belajar memberi dari Ibu Theresa, jadi banyak sekali. Jadi banyak sekali perempuan yang sangat kuat termasuk juga CEO Bank Dunia Christian Lagarde itu kan sangat cerdas.

Tetapi saya juga mengagumi guru power swing saya, dia bisa cantik dan pintar. Saya juga suka mengagumi anak-anak saya sendiri, karena mereka sangat kreatif, kemudian mereka memberikan support ketika saya sedang down. Jadi role model saya banyak sekali dan bisa dari mana saja.

Dari pengemudi perempuan kami, karena sebagian besar pengemudi perempuan itu adalah single mother jadi mereka harus menghidupi anak-anaknya itu juga seorang role model untuk kami pelajari. Jadi yang ingin saya dapatkan dari role model ada dua hal pertama kami harus bersyukur dengan apa yang kami punya begitu juga harus banyak belajar dari role model tersebut.

Bagaimana strategi sebagai Direktur Utama Blue Bird menghadapi tantangan transportasi ke depan?
Saya beranggapan mau jenis teknologi seperti apapun akan menunjang bisnis kami, karena manusia itu perlu bergerak. Dan bisnis kami adalah bisnis layanan transportasi. Menurut saya tinggal kami mencoba untuk lebih sensitif dan juga lebih mengenal needs (kebutuhan) dari pelanggan kami.

Kami sekarang mempunya slogan baru, adalah dari rumah ke rumah dengan aman. Tujuan kami adalah menjadi bagian besar dari perjalanan satu orang tersebut, mulai dari rumah hingga pulang ke rumah.

Nah caranya ke sana tentu saja kami harus lebih cepat beradaptasi dengan teknologi terutama untuk Blue Bird karena asetnya itu adalah milik kami, maka kami yang harus bisa menggunakan teknologi sehingga kita bisa bekerja lebih efisien dan produktif.

Continue Reading

Cover Story

Konservasi Karya Seni Rupa Di Ruang Publik Apresiasi 3 Karya Seni Relief Eks Bandara Kemayoran 

Published

on

Finroll.com — Konservasi Karya Seni Rupa di Ruang Publik adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran (PPK Kemayoran) dalam rangka mengimplementasikan UU No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan.

Karya seni ruang publik merupakan sebuah karya yang secara khusus diciptakan pada ranah publik. Karya ini tampil pada ruang-ruang publik untuk memberikan pesan, menambah nilai estetika, edukasi maupun merespon atau bahkan memberikan kritik terhadap berbagai persoalan yang menjadi keresahan publik.

Salah satu karya seni rupa yang diciptakan pada ruang publik adalah karya fenomenal yang berada di kawasan eks Bandar Udara Kemayoran, Jakarta. Kawasan tersebut saat ini berada pada wilayah pengelolaan PPK Kemayoran. Ada tiga buah relief yang terdapat pada dinding ruang tunggu VIP Bandara. Karya ini dibuat oleh Harijadi Sumodidjojo, Sindoesoedarsono Soedjojono, dan Soerono yang kemudian dalam pengerjaannya didukung oleh Seniman Indonesia Muda (SIM).

Relief ini dibuat dengan mengusung tema tentang kekayaan Indonesia atas gagasan Presiden Soekarno pada tahun 1957 untuk menyambut tamu negara kala itu.

Kemudian masing-masing seniman meresponnya dengan cerita yang berbeda. Harijadi Sumodidjojo menggambarkan kekayaan Indonesia dalam rancangan karyanya yang bertema “Flora dan Fauna”. S. Soedjojono menggambarkannya dalam tema “Manusia Indonesia”.

Sedangkan Soerono menceritakan sebuah legenda yang terkenal di tanah Pasundan yaitu “Sangkuriang”. Letak karya Surono berada pada dinding lantai satu ruang tunggu VIP. Sedangkan letak karya Harijadi dan S. Soedjojono saling berhadapan pada dinding lantai dua ruang tunggu VIP eks Bandara Kemayoran.

Karya fenomenal yang berada di Eks Bandara Internasional Kemayoran tersebut hingga kini memang masih kurang dikenal oleh masyarakat, bahwa Kemayoran selain dikenal sebagai tanah asli betawi juga merupakan kawasan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi khususnya sejarah penerbangan Indonesia.

Melalui kegiatan apresiasi tiga karya relief eks Bandara Kemayoran ini Kemendikbud bersama PPK Kemayoran berupaya untuk memperkenalkan kepada publik karya seni rupa terlebih terhadap karya yang memiliki nilai sejarah penerbangan Indonesia. Kegiatan ini direncanakan akan dirangkaikan pula dengan kegiatan pendokumentasian, penulisan buku, apresiasi (Pameran), publikasi, dan lomba vlog tentang ketiga relief.

Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk turut mengapresiasi, memahami dan memaknai betapa pentingnya menjaga dan melestarikan karya seni dan sejarah penerbangan yang pernah eksis di Kemayoran

Pendokumentasian telah dilaksanakan pada tanggal 19 – 20 Mei 2019.

Sedangkan kegiatan Apresiasi 3 Karya Seni Relief Eks Bandara Kemayoran dilaksanakan pada tanggal 17-21 Juli 2019 dengan mengundang para keluarga seniman pembuat relief, masyarakat secara umum, dan pelajar SMP/SMA sebagai apresiator sekaligus sebagai peserta lomba vlog untuk tingkat pelajar.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Trending