Connect with us

Cover Story

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Published

on


Finroll.com — Apa yang Anda pikirkan jika mendengar kata Indonesia? Tentu jawabannya bisa bermacam, ada yang bilang eksotisme pariwisata lengkap beserta lanskap alamnya, ada yang menyebut kayanya kebudayaan nusantara, atau mungkin keramahan para penduduknya?

Semua ini sah-sah saja, karena Indonesia memang se-kaya itu. Begitu juga dengan anugerah yang Tuhan berikan pada alam di Indonesia, dalam hal ini spesies binatang yang amat beragam.

Berbicara soal keanakeragaman hayati, membuat saya terpikir pada seorang sosok lelaki yang mendedikasikan separuh hidupnya keluar masuk hutan Indonesia, untuk menggali dan menunjukan bahwa alam dan hewan di Indonesia sangat lah berharga untuk kita ketahui. Sosok itu adalah Riza Marlon, sang fotografer alam liar senior Indonesia.

Tanpa pikir panjang, saya pun mengontaknya dan membuat janji dengan beliau. Maklum, di tengah kesibukan mengabadikan eksistensi spesies hewan asli Indonesia lewat lensa kameranya, saya harus mengatur waktu dengannya agar bisa berbincang santai sembari menyeruput teh hangat.

Dua minggu berlalu, akhirnya pagi ini saya bisa bertemu dengan Riza Marlon di kediamannya, di kawasan Cimanggu Perikanan, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor. Momen yang saya tidak ingin sia-sia kan untuk bertemu empat mata dengannya.

Ketika masuk, saya disambut oleh istri beliau Wita Marlon, atau yang akrab disapa mba Wita. “Silahkan masuk mas,” ujarnya sambil membuka pintu gerbang rumah dengan senyuman. Rumahnya begitu asri, rindang dahan pepohonan meneduhkan saya di cuaca Bogor yang agak panas pagi itu. Tak berapa lama, Riza pun keluar dan langsung menyalami saya.

“Halo mas, apa kabar?” ucapnya sambil tersenyum. Kesan pertama bertemu dengan Riza, ternyata ia adalah orang yang sederhana dan ramah, saya sangat takjub dibuatnya meski perawakannya terlihat sangar hehehe.

Obrolan kami pun dimulai di beranda rumahnya yang berbentuk bale sederhana yang bermaterial kayu-kayuan. Suasananya adem sekali, saya serasa ada di rumah.

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Sejumlah bingkai foto hasil karyanya yang terpajang di dinding, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Sedikit berbincang, Riza yang akrab disapa Om Caca ini mempersilahkan saya masuk kedalam rumah. Kami duduk berhadapan, dan benar saja di sekeliling dinding rumahnya terpajang beberapa foto hasil jepretannya di alam liar. Pikiran saya pun terbang, menelisik jauh kedalam tiap foto yang ada di bingkai itu, kenapa seorang Riza Marlon begitu antusiasnya keluar masuk hutan Indonesia? Apa tujuannya mengabadikan eksistensi hewan-hewan liar yang ada di Indonesia?

Seakan mendengar pertanyaan yang ada di hati saya, Riza pun mulai mengisahkan perjalanan hidupnya.

“Disini saya ingin memperkenalkan satwa Indonesia dengan fotografi. Supaya awalnya masyarakat kenal dulu, kemudian sayang dan akhirnya peduli,” ungkapnya. Bagi Riza, inilah esensi dari profesi yang ia jalani selama 25 tahun lebih, yang saat ini sudah dituangkannya dalam tiga buku yakni “Living Treasury of Indonesia”, “107+ Ular Indonesia”, dan “Wallace’s Living Legacy”

Misi Mulia Riza Marlon, Kenalkan Alam Indonesia Kepada Dunia

Buku-buku karya Rizal Marlon, Foto: Finroll.com/Ihsan Maulana

Apa yang Riza lakukan ini bukan tanpa alasan, baginya fotografi dan dunia hewan adalah dua unsur utama hidupnya. Selain dengan minatnya di bidang travelling.

“Aahh awalnya, dulu sekali saya ini adalah anak kecil yang suka lihat buku bergambar binatang. Seperti hewan dari Afrika, Australia dan semacamnya. Hal itu berlanjut sampai saya SMP tahun 1975-an, nah pas SMA saya sudah mulai megang kamera dan suka fotografi,” imbuh bapak dua anak ini.

Romansanya pada dunia hewan terus bersemi hingga bangku kuliah. Ia pun masuk Universitas Nasional dan mengambil jurusan biologi. Pada masa ini, Riza tumbuh menjadi pemuda yang makin haus untuk dekat dengan alam, dan binatang. Ia berkisah, tiap ada praktek mata kuliah, dirinya rutin mengunjungi kebun binatang dan Taman Nasional/Cagar Alam yang ada di Jawa Barat.

Berbekal kamera pinjaman, Riza pun mulai memotret satu demi satu satwa liar yang ia temui. Tanpa rasa malu, ia terus mengukir namanya di masa depan, yang akhirnya dikenal menjadi seorang fotografer hewan liar Indonesia.

Menjadi Pionir Fotografer Alam Liar Indonesia

Setelah bertahun-tahun memfoto satwa liar, Riza pun mulai berpikir kenapa belum ada buku yang khusus membahas keanekaragaman satwa Indonesia. Akhirnya setelah lulus di tahun 1990-an, ia memutuskan untuk menjadi seorang wildlife photographer.

Perjalanan karirnya pun dimulai. Keluar masuk hutan di Sulawesi, Sumatera, Jawa dan Kalimantan pun ia jalani. Meski pada awalnya ia masih menggunakan dana pribadi.

“Setelah beberapa lama mulai ada LSM luar negeri yang berbasis di Indonesia, yang membutuhkan foto stok hewan di lapangan, terkait dengan proyek yang mereka kerjakan. Nah dari situ saya mulai dapat uang dan terus bekerja di bidan ini,” tambahnya.

Riza menceritakan, pada awal karirnya sebagai wildlife photographer di tahun 90-an, ia masih menggunakan kamera analog. Tentu, segala sesuatunya jauh berbeda dengan jaman sekarang yang serba digital.

“Oh ya (ada keterbatasan), karena analog dulu diminati pasar ya. Karena saya hidup dari foto, makanya saya sewa menyewa kamera hingga keluar negeri. Dulu yang dituntut saya kerja dengan ISO yang rendah. Kalau bisa 50 artinya film yang tidak terlalu peka terhadap cahaya, dan ISO 100,” pungkasnya.

“Itu masalah sebenarnya, motret di hutan Indonesia dengan ISO rendah karena hutan yang gelap kan karena umumnya hutan hujan. Antisipasinya ya tunggu binatangnya diem atau tunggu cuaca cerah,” kenangnya sambil tertawa.

Setelah 27 tahun berkarir sebagai fotografer alam liar Indonesia, Riza mengaku suka duka menjalani pekerjaan tersebut sudah tidak terhitung karena saking banyaknya. Mulai dari disergap lintah, akses lokasi yang sangat sulit, hingga uniknya kebudayaan di daerah yang ia jumpai ketika hendak memotret.

Ia juga bersyukur, selama puluhan tahun keluar masuk hutan ia tidak pernah menemui atau mengalami keadaan gawat yang sampai mengancam keselamatan nyawanya.

“Saya menerapkan bekerja secara safety ya, tidak pernah sendirian masuk hutan. Pasti ada teman, ada porter, ada orang lokal untuk memandu. Jika itu kawasan konservasi pasti saya buat surat izin dulu, atau jika bukan kawasan konservasi saya izin kepada kepala desa, atau kepala suku disana. Jadi jarang saya mengalami keadaan yang membahayakan,” tuturnya.

Merasakan Langsung Perubahan Habitat Hewan di Indonesia

Selama puluhan tahun menjalani pekerjaan wildlife photographer, Riza mengaku merasakan sendiri bagaimana hancurnya habitat satwa liar di Indonesia.

“Berjalanannya waktu dari tahun 80-an ketika saya masih penelitian (mahasiswa) hingga menjalani profesi ini, habitat satwa itu banyak yang hancur. Binatang juga banyak diburu, jadi mereka (hewan) saat ini sangat ketakutan dengan keberadaan kita,” katanya.

“Jadi sebenarnya sekarang saya mau cari hewan untuk di foto di hutan lebih susah dibanding dulu. Meski dulu alat saya lebih sederhana, tapi saya lebih mudah memfoto hewan. Nah sekarang alatnya canggih, kemampuan mumpuni, binatangnya susah ketemu. Kemarin saya ke TN Wasur di Merauke, bawa lensa 500mm susah ketemu binatang. Sementara saya tahun 1995 kesana bawa lensa 300mm saya sudah dapat banyak. Ini terasa banget, meski saya bawa teknologi canggih tapi binatangnya gaada, kita bisa apa?” jawabnya pelan.

Riza Marlon: Kenapa Wildlife Photography di Indonesia Sepi?

Riza mengatakan, salah satu alasan mengapa ia akhirnya berani terjun pada profesinya karena sepinya minat fotografer Indonesia untuk berani turun ke hutan dan menjadi fotografer alam liar.

“Saya menekuni ini karena saya liht gaada orang Indonesia yang mau terjun kesini. “Kenapa” wildlife photography itu di Indonesia sepi, dan kering. Karena itu duitnya ngga instan, perputaran bisnisnya engga cepet. Tapi kan harus ada orang Indonesia yang ngerjain ini, karena selama ini kan yang masuk itu asalnya dari orang asing. Bikin buku dan film, kita beli mahal pula,” paparnya.

Baginya, bekerja sebagai wildlife photography bukan hanya soal tuntutan pekerjaan, namun harus didasari rasa suka kepada binatang dan passion. Hal yang menurut saya cukup langka di negeri ini.

Meski demikian, Riza menyebutkan saat ini sudah mulai bermunculan komunitas-komunitas fotografer alam liar walaupun basisnya masih reginonal di berbagai daerah.

Membuat Buku Satwa Liar di Indonesia

Dengan segala kegelisahannya, Riza akhirnya memilih buku sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya, untuk mengenalkan satwa liar di Indonesia. Lebih jauh dari itu, ia berharap nantinya masyarakat yang membaca dan melihat buku-bukunya bisa tertular semangat yang sama dengan dirinya untuk terus melestarikan, dan membuka cakrawala pengetahuan alam Indonesia yang amat kaya dan beragam.

“Saya akhirnya lari ke buku, daripada saya ngajak-ngajak jadi wildlife pphotographer tapi akhirnya kecewa karena buang uang yang cukup besar, buang tenaga yan banyak dan pikiran, akhirnya saya bikin buku biar mudah diakses seluruh pihak,” pungkasnya.

“Sebetulnya saya juga menyasarkan kepada anak-anak, seperti saya dulu yang kecilnya suka sama binatang. Jadi dengan sendirinya dia udah terobsesi untuk peduli satwa ketika dewasa,” sambungnya.

Ia meyakini, dengan buku-buku karyanya bisa menembus batas etnik, budaya, suku, daerah, hingga usia untuk memperkenalkan dunia satwa Indonesia. Dengan buku, ia percaya bahwa secercah asa untuk melestarikan hewan di hutan dan habitat aslinya tidak akan sirna.

Bertekad Terus Jadi Wildlife Photographer Hingga Tutup Usia

27 tahun keluar masuk hutan, jutaan foto hewan liar yang diambil, miliaran kenangan yang diingat, buku-buku yang ia susun sebagai warisannya kepada anak cucu, saya pun bertanya apa seorang Riza Marlon telah mencapai puncak hidupnya sebagai wildlife photographer. Mengingat, fisik juga semakin menurun dan jaman sudah berganti. Namun dengan jawaban tegas ia berkata.

“Kalau ditanya sampai kapan, jelas sampai mati lah jadi wildlife photographer. Sampai kaki ini ga kuat, tapi kan otak masih kuat, tangan masih bisa, saya masih bisa menulis dan foto masih banyak. Mumpung fisik semua masih kuat, saya makanya terus ke lapangan dan keliling Indonesia,” tandasnya.

“Kita ini kurang masif memperkenalkan alam Indonesia, kita perlu bantuan semua pihak baik itu media dan masyarakat. Harapannya mereka bisa menekan pemerintah untuk menerbitkan sebuah kebijakan terkait pelestarian alam,” tutupnya.

Obrolan kami pagi itu pun berakhir, sembari menyeruput teh manis hangat yang tadi sudah disediakan mba Wita. Momen yang hangat dan dekat, seakan saya bisa menjalani puluhan tahun hidup Riza berkecimpung di dunia wildlife photography, yang awalnya berawal dari seorang anak kecil biasa yang amat menyukai dunia binatang liar. Obrolan kami berlanjut pada topik-topik yang lebih santai, seperti membahas perkembangan jaman kamera, hingga kesamaan hobi kami pada dunia ikan air tawar.

Momen yang saya tidak akan lupakan, untuk bertemu salah satu sosok hebat di negeri ini, yang masih peduli akan kelestarian alam bumi pertiwi. Terimakasih Om Caca!

Advertisement Valbury

Cover Story

Eddy Kusnadi Sariaatmadja, Orang ke 20 Paling Kaya di Indonesia yang Semakin Kaya Kala Pandemi

Published

on

By

Finroll.com – Eddy Kusnadi Sariaatmadja menduduki peringkat 20 dalam jajaran orang terkaya di Indonesia versi Forbes. Ditopang gurita bisnis Emtek di berbagai bidang.

Pada pengujung 2020, Forbes merilis daftar 50 pengusaha dengan kekayaan kolektif tertinggi di Indonesia. Selain menyorot para penghuni peringkat atas macam Hartono bersaudara, keluarga Widjaja, hingga Prajogo Pangestu, Forbes juga menyinggung beberapa nama yang mengalami kenaikan harta signifikan di tengah pandemi COVID-19. Satu di antara nama tersebut adalah Eddy Kusnadi Sariaatmadja.

Sepanjang 2020, menurut hitung-hitungan Forbes, kekayaan kolektif Eddy mengalami kenaikan hampir 80 persen. Tepatnya, dari US$800.000 juta menjadi US$1,4 miliar atau setara Rp19,89 triliun.

Kenaikan kekayaan itu mengantarkan Eddy ke peringkat 20 dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. Itu sebuah lompatan besar karena dia menduduki peringkat 41 pada tahun sebelumnya. Posisi kekayaan Eddy pun menyalip nama-nama macam Mochtar Riady, Sukanto Tanoto, hingga Keluarga Ciputra yang terlempar dari peringkat 20 teratas.

Rapor hijau Eddy tak lepas dari capaian PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (Emtek), grup konglomerasi rintisannya yang kini menaungi perusahaan-perusahaan media seperti SCTV, Indosiar, O Channel, Kapanlagi Network hingga Vidio.

Sepanjang 2020, saham Emtek yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode EMTK tercatat mengalami akumulasi penguatan 147,7 persen, dari posisi Rp5.650 per saham pada awal tahun menjadi Rp14.000 di akhir tahun. Lonjakan itu tak pelak bikin nilai kekayaan Eddy di perusahaan ikut mengembang.

Porsi saham EMTK yang saat ini masih dimiliki Eddy secara pribadi berkisar 24,9 persen alias 1.405.156.497 lembar. Dengan asumsi harga akhir tahun, saham milik Eddy bernilai Rp19,67 triliun atau setara 98 persen dari kekayaan kolektif Eddy versi Forbes.

Naiknya daya pikat Emtek di lantai bursa terjadi seiring kemampuan perusahaan bertahan di tengah pandemi. Mengacu laporan keuangannya di BEI, Emtek mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp8,51 triliun sepanjang sembilan bulan awal 2020. Angka ini naik dibandingkan capaian Rp8,11 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja apik itu kemudian bikin Emtek mendulang laba bersih Rp476,57 miliar hingga 30 September 2020, berbalik dari posisi rugi Rp959,44 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Rumus Bisnis Baru
Di atas kertas, bisnis media sebenarnya merupakan salah satu lini yang mengalami pukulan telak sejak meledaknya pandemi COVID-19. Terbatasnya acara-acara off air membuat kue iklan ikut tergerus. Ini terlihat dari data Nielsen Indonesia yang salah satunya menyimpulkan bahwa slot iklan cenderung mengalami penurunan hingga pengujung kuartal II/2020 dan baru berangsur normal setelah bulan Juli.

“Di minggu terakhir Mei drop lagi. Padahal itu minggu lebaran, 24 Mei. Kita lihat drop banget,” kata Direktur Eksekutif Nielsen Media Hellen Katherina seperti dilansir Liputan6.

Dampak kondisi itu juga dirasakan Emtek. Seturut laporan keuangan perusahaan di BEI (PDF, hlm. 130), sepanjang sembilan bulan awal 2020, pemasukan iklan Emtek dari bisnis-bisnis medianya susut 20,7 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Tepatnya, dari Rp4,17 triliun menjadi Rp3,30 triliun.

Meski ditopang kinerja anak usaha di sektor produksi dan agregator konten, seperti Sinemart dan Screenplay, pendapatan dari segmen operasi keseluruhan Emtek dari lini media cuma mentok di Rp3,61 triliun. Angka ini berjarak jauh ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya, ketika perseroan mampu mendulang pemasukan hingga Rp4,19 triliun (hlm. 133).

Namun, tekanan itu seolah tak mengganggu neraca keuangan lantaran Emtek mampu menggenjot pendapatan mereka dari bisnis-bisnis lain.

Selain berbisnis media, Emtek memang memiliki sejumlah anak usaha di beberapa sektor. Mulai dari jasa kesehatan dan rumah sakit, jasa layanan transaksi, VSAT, hingga penjualan barang dan jasa lainnya. Kinerja segmen-segmen ini terbukti mampu menjadi penopang pemasukan perusahaan di tengah tekanan yang dialami sebagian besar bisnis media.

Pendapatan Emtek dari bisnis penjualan barang, misalnya, naik paling pesat dari Rp3,44 triliun pada sembilan bulan awal 2019 menjadi Rp4,51 triliun pada sembilan bulan awal 2020 (hlm. 130).

Kemudian di jasa kesehatan dan rumah sakit, Emtek yang menaungi jaringan Rumah Sakit EMC mampu mengeruk pendapatan Rp189,53 miliar hingga akhir kuartal III/2020. Catatan ini naik 23,4 persen dari posisi Rp153,47 miliar secara year over year.

Sementara itu, pendapatan Emtek dari jasa layanan transaksi, naik dari Rp78,7 miliar menjadi Rp93,45 miliar. Kenaikan ini terjadi seiring kian kuatnya posisi tawar PT Espay Debit Indonesia Koe (EDIK).

EDIK merupakan perusahaan yang menaungi platform dompet digital DANA. Perusahaan ini berdiri atas kerja sama antara Emtek dan Ant Financial—entitas yang dikendalikan Grup Alibaba rintisan orang terkaya China Jack Ma.

Emtek dan Ant Financial mendirikan EDIK pada medio 2018. Laporan kinerja Emtek menunjukkan bahwa jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) alias dana simpanan para pengguna DANA berada di angka Rp487,86 miliar per 30 September 2020. Jumlah ini naik signifikan dibandingkan total DPK DANA yang masih di kisaran Rp384 miliar per 30 September 2019.

Akankah Terus Naik?
Menariknya, penguatan bisnis Emtek yang mengerek kekayaan Eddy tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat. Ini setidaknya terindikasi dari manuver Emtek yang makin agresif untuk melebarkan bisnisnya.

Salah satu langkah itu, misalnya, tampak dari keberanian perusahaan mengakuisisi saham mayoritas PT Sarana Metropolitan Tbk. (SAME). SAME adalah emiten yang mengendalikan jaringan rumah sakit internasional Omni. Emtek mencaplok 71,88 persen saham jaringan RS Omni yang bernilai Rp581 miliar lebih.

Padahal, bisnis Omni sedang tak bagus-bagus amat. Ini setidaknya tampak dari penurunan pendapatan dan laba perusahaan hingga akhir kuartal III/2020. Meski demikian, Emtek optimistis bisa membenahi kinerja perusahaan tersebut. Akuisisi jaringan RS Omni juga dimaksudkan untuk menopang kinerja jaringan RS EMC yang sudah lebih dulu dimiliki Emtek.

“Emtek bermaksud untuk memperluas dan memperkuat lini usaha eksisting di bidang jasa pelayanan kesehatan. Akuisisi ini akan menjadikan Grup Emtek menjadi perusahaan lebih besar,” tulis pihak Emtek dalam keterangan resminya (PDF).

Dalam beberapa tahun terakhir, Emtek juga makin agresif mencaplok saham sejumlah perusahaan dan start-up lewat anak perusahaannya, PT Kreatif Media Karya (KMK). Berdiri sejak 2012, KMK kini tercatat memiliki 50 persen saham anak usaha Kalbe Farma PT Medika Komunika Teknologi; 50 persen saham perusahaan riset media PT Home Tester Indonesia; 50 persen saham perusahaan agensi PT Suitmedia Kreasi Indonesi.

Di lini start-up, Emtek juga telah memiliki 50 persen saham PT Nusa Satu Inti Artha yang mengelola platform dompet digital DOKU, serta 34,88 persen saham platform e-commerce PT Bukalapak.com (PDF, hlm. 90).

Untuk nama perusahaan terakhir, KMK berinvestasi lewat putaran pendanaan bersama Ant Financial yang juga mitra mereka dalam membangun platform DANA.

Sejauh ini, kepemilikan saham di berbagai platform itu memang belum menguntungkan secara finansial. Namun, dari waktu ke waktu, KMK dan Emtek semakin mampu memangkas kerugiannya. Sepanjang sembilan bulan awal 2020, misalnya, KMK membukukan kerugian periode berjalan Rp613,25 miliar. Itu membaik dari kerugian periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp795,19 miliar (hlm. 126).

Kekayaan Eddy juga berpotensi terus meningkat lantaran kinerja Emtek pada 2021 akan ditopang potensi pemulihan pendapatan iklan yang notabene kontributor terbesar neraca perusahaan.

Mirae Asset Sekuritas, misalnya, memproyeksikan PT Surya Citra Media Tbk. (SCTV) akan mengalami penguatan laba hingga kisaran Rp5,49 triliun, naik dari torehan pada akhir 2020 yang mereka perkirakan cuma mentok di kisaran Rp5,06 triliun.

Tambahan pendapatan pelanggan dari platform Vidio juga akan memperkuat pulihnya kinerja Emtek dan SCTV. Terutama, karena hak siar liga sepak bola Indonesia (Liga 1) yang dimiliki platform SVOD tersebut. Faktor hak siar ini juga akan mengerek kinerja anak usaha Emtek lainnya, seperti Indosiar dan O Channel yang juga kebagian jatah hak siar.

“Dengan Liga 1 diperkirakan bisa dimulai Februari [2021], ini tentu akan mempengaruhi penguatan pendapatan dari pelanggan langsung,” tulis analis Mirae Asset Christine Nataysa dalam publikasi risetnya.

Pada pemeringkatan terakhir Forbes, kekayaan Eddy memang masih jauh di bawah bila dibandingkan dengan harta Hartono bersaudara yang mencapai US$38,8 miliar atau keluarga Widjaja yang mencapai US$11,9 miliar. Namun, Eddy hanya berjarak tipis dengan nama-nama kondang penghuni 20 besar lain, seperti T.P. Rachmat (peringkat 16 dengan kekayaan US$1,6 miliar) atau Garibaldi Thohir (peringkat 15, dengan kekayaan US$1,65 miliar).

Maka, patut dinanti sampai sejauh mana Eddy dan gurita bisnisnya di Emtek akan mampu bikin kejutan lanjutan.

Continue Reading

Cover Story

Adinda Bakrie: Saya Ibu, Pengusaha, dan Sosialita

Published

on

By

Di sebelah meja kerja Adinda Bakrie, terdapat treadmill yang siap digunakan kapan saja. Ada juga selimut tebal di sofa, dan beberapa buku yang tergeletak di dekatnya.

“Saya selalu punya prinsip 50: 10, jadi 50 menit bekerja harus diselingi dengan 10 menit break. Ini bagus supaya kita tetap fresh dan optimal waktu bekerja,” ujar Adinda Andarina Bakrie, atau lebih dikenal sebagai Dinda Bakrie, saat disambangi CNBC Indonesia, Rabu pekan lalu.

Memiliki hampir 300 ribu pengikut di akun sosial media instagram, Dinda lebih dikenal publik sebagai sosialita. Apalagi ia sering tampak memajang fotonya bersama Ramadhania Bakrie, dan mejeng dalam berbagai acara kelas menengah atas.

Tak banyak yang tahu, bahwa Adinda kini sudah kembali ke Jakarta dan dipercaya mengelola bisnis strategis keluarganya di sektor sumber daya alam. Tampilan Adinda saat di kantornya jauh berbeda dengan gaya santainya di instagram, meski begitu ia tetap bisa terlihat modis dan jauh dari kata kaku.

Kami berbincang cukup lama dengan Adinda, mengupas lapis demi lapis sisi lain dirinya yang jarang diketahui publik. Misalnya, ia sangat memberikan perhatian soal peran wanita dan emansipasi.

Tak akan ada yang bisa menduga bahwa thesis yang ia ajukan untuk meraih gelar master psikologinya di Amerika Serikat bertema tentang perjuangan kaum wanita muslim di negeri paman sam. “Mereka menceritakan tekanannya, dan kuncinya memang satu untuk bisa kuat. Selama masih ada dukungan dari orang terdekat, itu sudah cukup untuk mereka tetap bergerak maju,” cerita Adinda, bersemangat.

Tiga gelar sarjana kini ia sandang sekaligus, yakni di bidang ekonomi, marketing, dan psikologi. Kembali ke Jakarta, ia dipercaya sebagai Direktur EMP Mining Overseas Pte Ltd yang merupakan anak usaha dari Energi Mega Persada. Bisnisnya akan fokus dengan memburu mineral yang memiliki nilai tambah dan bisa mendukung industri kendaraan listrik.

“Berbulan-bulan ini saya terus belajar, dan ini sangat menantang. Menurut saya tidak ada kata terlambat, prinsipnya selama ada keinginan untuk menyerap dan belajar pasti bisa,” jelasnya.

Siapa sebenarnya Adinda Bakrie, status apa yang lebih cocok ia sandang dengan namanya?

Kepada Gustidha Budiartie, Thea Fathanah Arbar, dan fotografer Tri Susilo dari CNBC Indonesia, Adinda Bakrie buka-bukaan tentang minatnya, keluarganya, bisnis, dan gaya hidupnya. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana ceritanya bisa masuk sektor migas dan energi, apa tantangannya dalam bidang ini?

Tantangannya saat pertama kali masuk dalam bidang ini, saya tahu dunia ini sangat lain. Apalagi ini disebut man’s world yang isinya kebanyakan laki-laki. Justru karena saya berbeda (wanita), ini jadi keuntungan saya.

Menurut saya, kalau kita masuk dengan percaya diri dan positif, yang lain juga akan melihatnya sebagai hal yang segar dan baru. Memberikan ide lebih bervariasi, jadi saya yakin mereka juga akan tertarik dengan sudut pandang baru. Kalau orang yang sama semua kan mirip, mungkin pengalamannya yang mirip. Jadi mereka belajarnya di situ-situ aja.

Tetapi kalau ada sesuatu yang baru, seperti ibaratnya saya juga diajarkam dalam sekolah psikolog: lebih baik aktif mendengarkan daripada bercerita terus. Kalau kita lebih condong mendengar akan lebih maju.

Jadi di minyak dan gas ini, saya masuk dengan pemikiran seperti itu. Saya mencoba seperti spons yang menyerap ilmu sebanyak-banyaknya. Baik itu dari karyawan, direksi, stakeholder, semua informasi saya serap. Takes time, tapi tidak perlu merasa insecure atau takut karena kan baru mulai.

Tantangan-nya sampai saat ini sih pasti ada, tapi saya melihat itu semua layaknya pertualangan, journey. Terus belajar technical dari oil dan gas. Itu semua sangat menarik dan tidak perlu menghafal, karena ini kan logika berbisnis saja jadi bisa dijelaskan. Semuanya juga membimbing, tak ada yang arogan. Justru saya masih sangat penasaran dengan sektor ini.

Kami sempat lihat postingan Mbak Dinda ngobrol dengan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, apa aja yang dibahas?

Kemarin itu kunjungan kerja ke Pagerungan. Jadi EMP itu memiliki 50% working interest di bloknya. Pak kepala SKK Migas datang, juga datang mitra kita dari JAPEX bapak Tanaka yaitu presiden direktur di Kangean Energy Indonesia yang merupakan operator blok.

Jadi mereka datang dan kita mendengar cerita kepala SKK Migas, kita jadi lebih semangat untuk terus menaikkan cadangan , kunjungannya itu juga berhubungan dengan kelarnya pahse kedua dari lapangan terang sirasun.

Karena sudah masuk phase 2, alhamdulillah produksi kita mencapai average per hari 200 MMSCFD. Di sana kita juga mencicip kuliner khas yang lezat sekali. Kami juga bertemu dengan TNI AL, semuanya indah sekali. Saya juga dapat jaket dari situ.

Jadi kalau dibilang tantangan, naik kapal lihat gas plant saya pikir saya beruntung bisa mempunyai pengalaman seperti itu. Enggak semua orang bisa dapat pengalaman itu sambil belajar.

Tanggung jawabnya sendiri di EMP seperti apa?

Kalau mau bercerita tentang EMP, jadi saya itu tanggung jawab saya di bagian komersil, lalu juga acceleration dan korporat communication serta business development.

Karena itu kita ada acara demo di Afrika. Kita punya 7 blok minyak bumi dan gas di Indonesia, 1 blok di Afrika di Mozambique. Itu gas sudah sampai di sana. Tapi fokus saya, karena saya menjabat di EMP mining overseas dibuat untuk menjalani kegiatan pertambangan, mineral. Jadi kita fokus sekarang di mineral graphite.

Sebenarnya graphite di Indonesia ada tapi kualitasnya beda. Graphite itu ada di benua-benua tua. Jadi ada di benua Afrika dan China yang besar-besarnya. Graphite itu untuk semi conductor sebagai gantinya litium yang daya tahannya lebih lama. Untuk mobil listrik nanti akan bisa sangat bagus. Apalagi ke depannya mobil listik akan meningkat permintaanya. Dan kenapa Mozambique karena dia paling banyak punya cadangan di dunia.

Ini sudah sampai fase apa?
Kita sekarang sudah sampai fase pertama. InsyaAllah bulan Oktober sudah mulai eksplorasi. Kalau yang gas sudah sampai di sana.

Berapa target produksi?
Rencananya kita punya 3 tempat di Mozambik yang sudah kita mau eksplor. Jadi 3 tempat itu setelah elsplorasi, baru kita bisa membagi targetnya berapa. Tapi sudah terbukti di sekitar situ sudah banyak.

Kemarin di Afrika juga sempat ngomong kalau kita ke arah situ juga. Soalnya untuk seluler bagus ya. Tapi sekarang kita fokus ke graphite dulu sih. Cuma memang pengen ke situ juga nanti.

Kenapa masih mau terjun ke bisnis pertambangan, ini kan bisnis old school?
Saya setuju. Benar memang bisnis ini tuh bisnis old school. Tapi ada dua hal yang selalu bikin saya semangat dan passionate, pertama adalah belajar terus tanpa berhenti. Lalu, kedua adalah keluarga saya.

Papa saya (Indra Bakrie) sudah bangun bisnis ini dari 2001, dan pesan papa serta almarhum Atuk yakni kakek saya (Achmad Bakrie), semua yang dihasilkan keluarga Bakrie harus bermanfaat buat banyak orang. Makanya dari kecil saya terus diceritakan dan diingatkan seperti itu, walaupun saya sudah merantau ke Amerika. Akhirnya keinginan saya memang bersama keluarga, ikut membantu bisnis Papa dengan cita-cita bisa menciptakan lapangan kerja dan keluarga komunitas yang lebih besar. Dan ini baru 2 bulan saja saya sudah berasa di sini.

Walaupun old school tetapi harus sadar tak boleh stuck di sini, apalagi sekarang sudah ada energi baru seperti solar panel, yang ini mulai kami pikirkan. Semuanya dinamis, tidak ada yang stagnan. Terus membangun apa yang kita punya, tetapi juga harus mindful dan alert apa yang bisa dipanjangkan ke depan.

Jadi dengan adanya ini bukan berarti kita tenang. Terus membangun tetapi juga maklum dengan kedinamisan. Makanya kita ada pertambangan dan energi terbarukan itu masih kita bahas dengan orang-orang di sini apa yang bisa dikerjakan.

Regenerasi tak bisa dihindari, jadi kita lebih alert, tapi bukan alert ketakutan. Tapi lebih kayak mindful. Saya kini generasi ketiga, anak saya generasi keempat.

cnbcindonesia.com

Continue Reading

Cover Story

Jack Ma dan Dua Dekade Jatuh Bangun Alibaba

Published

on

By

Finroll.com – Dua dekade lalu, Jack Ma tak berpikir akan memiliki raksasa e-commerce seperti sekarang. Pendiri Alibaba Group Jack ma mengungkap tantangan pembangunan bisnis Alibaba pada 1999. Dia mengisahkah jatuh bangunnya tahun lalu ketika bertandang ke Bali, Indonesia.

Bermula sebagai perusahaan kecil, Ma bekerja siang dan malam mengembangkan Alibaba Grup. Menurutnya, semua orang perlu percaya dengan masa depan yang lebih baik.

“Seorang pengusaha harus memiliki kepercayaan sehingga tidak memiliki ketakutan kalau Anda memiliki masalah,” ucap Jack Ma di Bali, Jumat (12/10/2018).

Tak hanya cukup dengan kepercayaan, seorang pengusaha juga perlu memiliki prinsip hidup yang kuat. Sebagai pemilik e-commerce, Ma sadar dirinya perlu menomorsatukan konsumen namun tak melupakan karyawannya.

“Jadi konsumen nomor satu, karyawan nomor dua, dan kepercayaan dari kedua-duanya adalah nomor tiga,” jelas Ma.

Pemilik nama asli Ma Yun ini yakin saat memiliki 30 karyawan pertamanya bisa bekerja bersama-sama mengembangkan perusahaan. Namun, ia tak menyebut jika 30 orang tersebut sebagai yang terbaik.

“Memang tidak ada yang terbaik, tapi mereka berlatih untuk menjadi yang terbaik,” imbuhnya.

Pria berusia 55 tahun ini mengaku optimis dalam menjalani hidup. Menurutnya, tidak ada orang yang ahli masa depan karena semua orang adalah ahli masa lalu. Dengan kata lain, ia menyebut tak ada satu pihak pun yang bisa meramalkan nasib seseorang.

“Saya tidak menjanjikan bahwa bergabung dengan kami akan kaya, ini bukan Jack Ma, Anda sendiri yang membuat peluang itu ada,” ujarnya.

Hari ini, Jack Ma akan mundur dari perusahaan yang telah dia besarkan selama dua puluh tahun. Namun, Ma akan berada dalam jajaran dewan direksi Alibaba hingga 2020.

Posisi puncak Alibaba akan diisi oleh Daniel Zhang. Zhang bukan wajah baru dalam grup Alibaba. Saat ini dia menjabat sebagai CEO Alibaba Group.

Sepak terjang Zhang di Alibaba Group dimulai pada 2007, saat ia bergabung di Taobao sebagai Chief Financial Officer (CFO).

Taobao merupakan salah satu anak usaha Alibaba yang menyerupai situs lelang eBay dengan fokus kepada barang elektronik. Pada 2008, Zhang digeser menjadi Chief Operating Office Taobao.

Karier Daniel melesat pada 2011, ia didapuk sebagai Presiden Tmall, platform business-to-consumer (B2C) milik Alibaba.

Saat menjabat sebagai Presiden, ia mempelopori sebuah terobosan yang membuat ia semakin dikenal. Ia menciptakan 11 November Shopping Festival (Single’s Day). Acara sangat populer di China khususnya untuk yang masih single.

Tanggal event ini didominasi angka 1, angka 1 ini merepresentasikan kesendirian. Pada 2017, pembeli menghabiskan sekitar US$25 miliar atau Rp372 triliun dalam event belanjan ini. Event tahunan ini menjadi hari belanja offline dan online terbesar di dunia.

Continue Reading

Trending