Senin, 1 Februari 2021

Interceptor 001, Robot Canggih Pembersih Sungai Jakarta


Sungai adalah alah satu sumber utama penghasil sampah di lautan. Founder sekaligus CEO dari The Ocean Cleanup, Boyan Slat, mengatakan bahwa 1.000 sungai di dunia bertanggung jawab atas 80 persen sampah di lautan.

“Solusinya ada dua, yaitu membersihkan yang sudah terlanjur masuk ke lautan, dan menutup keran,” tutur Boyan dalam acara “Innovation on Waste Management River Plastic Interception” di Jakarta beberapa waktu lalu.

Istilah “menutup keran” (closing the tap) versi Boyan Slat adalah mencegah agar sampah-sampah di sungai mengalir ke lautan. Oleh karena itulah, Boyan dan tim The Ocean Cleanup menciptakan alat bernama Interceptor.

Alat pertama yaitu Interceptor 001 diluncurkan di Rotterdam, Belanda, dan telah beroperasi di Jakarta. Tepatnya di Cengkareng Drain sejak Mei 2019.

Hadirnya Interceptor 001 merupakan kerja sama antara The Ocean Cleanup, Danone-AQUA, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia.

-->

“Saya rasa Interceptor adalah solusi jangka panjang yang cocok untuk Indonesia. Dengan menaruh (Interceptor) di sungai, akan mencegah sampah-sampah masuk ke lautan,” jelas Boyan.

Saat ini, Ocean Cleanup memiliki 3 Interceptor yang ditempatkan di sungai-sungai yang ada di Malaysia, Indonesia, dan Republik Dominika. Peluncuran Interceptor ke-4 sempat mengalami penundaan namun akan diluncurkan di Vietnam awal tahun depan.

Setelah disebarkan, Interceptor akan berlabuh ke sungai menggunakan bomerang apung panjang untuk mengarahkan sampah plastik ke lubang di depan kapal. Lubang tersebut merupakan sabuk konveyor untuk memindahkan sampah ke tempatnya.

citraland

Kapal juga dilengkapi dengan alat sensor untuk mendekteksi jika tempat sampah sudah terisi penuh dan perlu dikosongkan. Setelah dikosongkan, sampah plastik dibawa ke fasilitas setempat untuk diproses.

Desain Interceptor generasi ketiga akan diluncurkan sebagai bagian dari rencana pembersihan sungai. Beberapa komponen telah diperbarui seperti konveyor, sekoci, tempat pembuangan sampah, dan tongkang.

Memiliki Sistem Kerja Yang Efektif

Untuk sistem kerja alat ini, sampah terlebih dahulu diarahkan menuju Interceptor menggunakan dua tali penjaring. Begitu sampah menuju bibir Interceptor, terdapat conveyor belt untuk mengangkat sampah-sampah tersebut menuju bagian atas Interceptor.

Kemudian jika kontainer penuh, petugas tinggal mengosongkan kembali kontainer-kontainer tersebut. Proses memilah sampah dilakukan di darat secara manual.Oleh karena itu, Interceptor dapat dikatakan bekerja secara otonom hingga penuh dan dapat terus mengekstraksi puing-puing bahkan ketika tempat sampah dikosongkan.

The Interceptor juga tercatat memiliki kapasitas penampungan hingga 50 meter kubik plastik. Setelah penuh, sistem komputer di dalam kapal akan mengirimkan pesan ke operator untuk menepi dan mengosongkan muatan

Dapat menghalau sampah plastik sebelum sampai ke laut, Interceptor digadang-gadang dapat mengangkut sampah sebanyak 100 ton perharinya.Namun, saat ditemui di drainase Cengkareng, sejumlah petugas UPK Badan Air Jakarta Utara mengatakan, jika sejauh ini sampah yang diangkut di lokasi tersebut perharinya sekitar 100 kg.

Sejak empat tahun beroperasi, robot bernama Interceptor itu sudah menampung 50.000 ton sampah Sungai Klang, Malaysia. Hal ini pun diakui oleh Syaiful Azmen Nordin, Direktur Landasan Lumayan, mitra bisnis Ocean CleanUp di Malaysia.

“Kapal tidak bisa lewat karena banyak plastik. Sekarang Anda bisa melihat kondisi sungai yang mulai terbebas dari sampah mengapung.”

BACAAN TERKAIT