Betapa Mengerikannya Magis Kekuasaan

  • Bagikan

Pada peringatan Hari Guru Nasional tanggal 25 November di Palembang, usai mengucapkan selamat kepada para guru, Pak Jokowi mendapatkan sebuah pertanyaan mengejutkan dari salah satu wartawan yang tengah mengerubunginya, “Terkait kesejahteraan guru, khususnya guru honorer itu gimana, Pak? Mereka masih ada yang demo, gitu, Pak?”

“Guru Honorer, seperti sudah sampaikan yang lalu, akan dimasukkan ke.. yang namanya..” Pak Jokowi terlihat agak kesulitan melanjutkan jawabannya, beliau hanya menggoyang-goyangkan telapak tangan kanannya, beberapa saat kemudian berkata, “Nanti tanya Menpan-RB ajalah! Tanya Menpan-RB!”

Cara Pak Jokowi menjawab pertanyaan dari wartawan dengan jawaban yang menggantung seperti itu bukan baru kali itu beliau lakukan. Bahkan dalam sebuah video rekaman yang sempat viral di media sosial, Pak Jokowi pernah mengelabui wartawan yang mengerubunginya dengan menunjuk ke depan sembari berkata, “Sebentar, sebentar, itu anunya!” Saat wartawan lengah beliau langsung kabur.

Entahlah, apa memang selera humor beliau yang memang sudah level advance atau beliau memang tidak siap dengan pertanyaan yang dilontarkan.

Dengan gayanya yang khas dan terkesan santai seperti itu agak janggal memang ketika dalam berbagai kesempatan beliau justru kerap memakai istilah-istilah semisal; sontoloya, genderuwo, dan belakangan kompor, untuk mengkritisi lawan-lawan politiknya, dengan mimik wajah yang seperti tak bisa menyembunyikan kekesalan.

Sepertinya jika sudah berhadapan dengan lawan politik, selera humor Pak Jokowi mendadak lenyap.

Sebaliknya, Pak Prabowo yang berlatar belakang militer dan berwajah serius yang dalam sebuah kesempatan berusaha untuk menyelipkan humor di sela pidatonya untuk sekadar menghangatkan suasana, meskipun sebagian orang gagal memahami guyonannya dan akhirnya beliau malah didemo sebagian warga yang notabene pendukung lawan politiknya, tetap santai dan selo menghadapi langkah-langkah rival politiknya.

Saya belum pernah mendengar Pak Prabowo menggunakan istilah-istilah yang “unik” untuk menyerang lawan politiknya. Yang seringkali terjadi justru lawan politiknya seolah sengaja membiaskan kalimat-kalimat yang beliau lontarkan hingga menimbulkan kegaduhan. Seperti yang baru-baru ini hangat, perihal jawaban beliau ketika ditanya dalam sesi wawancara dengan wartawan usai menjadi pembicara di acara Indonesia Economic Forum di Hotel Shangri-La, Jakarta, pada 21 November 2018 lalu.

Pak Prabowo ditanyai dua buah pertanyaan dalam bahasa Inggris yang terjemahannya kurang lebih seperti ini,

“Dengan latar belakang militer Anda, bagaimana menurut Anda soal dukungan Australia terhadap rencana AS membangun pelabuhan militer di PNG (Papua Nugini, red)? Haruskah Indonesia memberi perhatian khusus? Bagaimana pula tanggapan Anda soal rencana Australia memindahkan kedutaan dari Tel Aviv ke Yerusalem?”

Kemudian Pak Prabowo menjawab pertanyaan tersebut, dengan bahasa Inggris tentu saja, berikut ini versi Indonesinya,

“PNG sangat dekat dengan Australia secara tradisional. Jadi itu urusan Australia dan PNG dan AS. Saya tidak melihat itu menjadi masalah bagi Indonesia. Untuk pemindahan kedutaan, saya belum membaca soal keputusan Australia memindahkan kedutaannya ke Yerusalem. Kita sebagai pendukung Palestina, kita tentu punya pendapat sendiri, tapi Australia juga merupakan negara independen dan berdaulat, maka kita harus menghormati kedaulatan mereka.”

Konyolnya, kedua jawaban Prabowo ini kemudian dicampuradukkan. Jawaban atas pertanyaan tentang dukungan Australia terhadap rencana militer AS membuka pangkalan militer di PNG diracik sedemikian rupa dengan jawaban atas pertanyaan pemindahan Kedubes Australia ke Jerusalem. Jadilah terkesan Prabowo mendukung Australia membuka Kedubes di Jerusalem.

Yang lebih konyol lagi, hampir semua media mainstream memuat judul berita yang nyaris serupa, seperti yang tertulis di laman BBC Indonesia pada 22 November 2018, “Prabowo: Pemindahan Kedutaan Australia Bukan Masalah Bagi RI”

Tak ketinggalan, para politisi turut andil menggoreng isu tersebut. Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto membuat rilis pers, “PDIP: Pernyataan Prabowo Setuju Pemindahan Kedubes Australia ke Yerusalem Ahistoris”.

Tuan Guru Bajang, Politisi Demokrat yang pernah menjadi pendukung Prabowo dan sekarang menyeberang ke kubu Jokowi, juga membuat rilis pers yang disebar ke media. Menurutnya, pernyataan Prabowo itu menafikan jalinan sejarah perjuangan Palestina yang erat dengan perjuangan bangsa Indonesia, “Ini bukan sekadar masalah kedaulatan suatu negara sahabat, tetapi ini isu kebangsaan dan keumatan yang selalu menjadi perhatian kita sebagai bangsa,” tegasnya.

Betapa mengerikannya magis sebuah kekuasaan, jika cuma karena kursi yang paling lama akan diduduki tak lebih dari satu dekade itu, telah membuat; yang lembut berubah menjadi keras, yang alim menjadi pandir, yang tenang menjadi begitu gegas.

Betapa mengerikannya, jika cuma karena dukungan kita yang membabi buta kepada seseorang membuat kita gelap mata dan dengan enteng merenggut selembar nyawa, seperti yang terjadi di Sampit, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

Bukankah sebagai pendukung seharusnya kita tak bosan-bosan mengingatkan orang yang kita dukung agar tak terlena dengan empuknya kursi kekuasaan? Bukankah seharusnya kita sadar, bahwa apapun yang ada di dunia yang kita cintai setengah mati ini tak lebih hanya sehelai fatamorgana belaka?

Sudah saatnya kita merenungkan apa yang dikatakan Eugen Herrigel dengan begitu puitis dalam bukunya Zen in the Art of Archery,

“Semuanya begitu sederhana. Kita dapat belajar dari sehelai daun bambu, tentang apa yang seharusnya terjadi. Daun itu merunduk semakin rendah sesuai dengan salju yang membebaninya. Tiba tiba salju tergelincir jatuh ke tanah tanpa mengusik ketenangan daun bambu itu.”

Saksikanlah, betapa lenturnya daun bambu yang pasrah pada salju yang menindihnya, pada embusan angin yang menggoyangnya. Begitulah sikap kita seharusnya pada apapun yang terjadi pada kita saat ini, harta, tahta, kekuasaan, tak ubahnya salju yang sejatinya tengah membebani kita, biasa saja. Percayalah, pada satu titik, semuanya akan luruh meninggalkan kita!

  • Bagikan
-->