Connect with us

Ekonomi Global

Negara-Negara G20 Diprediksi Bakal Masuk Resesi

Published

on


Pandemi Corona atau Covid-19 akan menyebabkan seluruh negara yang tergabung dalam G20 masuk ke jurang resesi, kata Lembaga konsultan Economist Intelligence Unit (EIU).
FINROLL.COM — Lembaga konsultan Economist Intelligence Unit (EIU) menyatakan pandemi Corona atau Covid-19 akan menyebabkan seluruh negara yang tergabung dalam G20 masuk ke jurang resesi.
EIU juga telah memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi negara-negara dunia menjadi kontraksi minus 2,2 persen dari prediksi awal sebelum terjadi pandemi yang seharusnya masih bisa tumbuh 2,3 persen. “Hasilnya kurang menunjukkan harapan positif. Di antara negara G20, semua akan mengalami resesi tahun ini kecuali tiga negara,” ucap keterangan tertulis dalam situs eiu.com dikutip Tirto, Rabu (1/4/2020).
Kabar baiknya, Indonesia masuk dalam deretan tiga negara yang belum tentu mengalami resesi akibat Corona. EIU memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa bertahan pada angka 1 persen turun dari estimasi tanpa Corona 5,1 persen. India diprediksi masih bertahan di 2,1 persen yang turun dari estimasi tanpa Corona di kisaran 6 persen.
Negara ketiga yang masih juga bertahan adalah Cina yang mampu bertahan dengan pertumbuhan 1 persen atau turun dari estimasi awal tanpa Corona di kisaran 5,9 persen. EIU menuturkan prediksi 1 persen bagi Cina itu dihitung dengan asumsi bila Corona tidak memburuk lagi. Dengan demikian perlambatan hanya terjadi di Q1 dan Q2 tahun 2020, lalu membaik mulai semester II 2020.
Nasib berbeda bagi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang diprediksi mengalami kontraksi 2,8 persen tahun 2020 dari estimasi tanpa Corona 1,7 persen. EIU menilai terpuruknya kondisi AS disebabkan karena penanganan pandemi yang buruk dan ditambah dampak anjloknya harga minyak dunia karena Rusia dan Arab Saudi.
“Respons awal pemerintah terhadap Corona sangat buruk, membiarkan penyakit menyebar sangat cepat,” ucap EIU. Sementara itu, dampak lebih berat akan diterima oleh negara di benua Eropa. EIU menyatakan selama setahun mereka akan mengalami resesi di kisaran 5,9 persen. Kontraksi, katanya, sudah membayangi Jerman dengan minus 6,8 persen, Perancis dengan minus 5 persen, dan Italia minus 7 persen.
Sejalan dengan prediksi EIU, Menteri Keuangan Sri Mulyani juga telah memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2020. Dalam skenario berat, ia menyatakan ekonomi Indonesia masih tumbuh 2,3 persen dan bila keadaan masuk skenario “sangat” berat maka pertumbuhan akan kontraksi minus 0,4 persen. (Tirto.id)

Iwan Hidayat Bergabung Dengan Finroll Media Group Tahun 2012

Ekonomi Global

Akibat Tarik Menarik Sentimen Harga Minyak Dunia Stabil

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak berjangka bergerak stabil pada akhir perdagangan Senin (1/6) waktu AS atau Selasa (2/6) pagi WIB akibat tarik menarik sentimen. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun tipis lima sen atau 0,1 persen ke US$35,44 per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus naik tipis US$0,48 atau 1,3 persen ke US$38,32 dolar AS per barel.

Minyak pada awal pekan mendapatkan tekanan dari peningkatan ketegangan hubungan antara AS dengan China. Tekanan meningkat setelah China memperingatkan akan melakukan pembalasan atas langkah AS di Hong Kong.

China telah meminta perusahaan milik negara untuk menghentikan pembelian kedelai dan babi dari Amerika Serikat. Langkah itu mereka lakukan setelah Washington mengatakan akan menghilangkan perlakuan khusus AS bagi Hong Kong demi menghukum Beijing.

“Kemungkinan meningkatnya ketegangan memang menimbulkan risiko bagi kenaikan harga minyak baru-baru ini,” kata Harry Tchilinguirian, kepala penelitian komoditas di BNP Paribas seperti dikutip dari Antara, Selasa (2/6).

Namun, di tengah tekanan tersebut, minyak mendapatkan angin segar dari kabar bahwa OPEC dan Rusia hampir mencapai kesepakatan memperpanjang pemangkasan produksi.

Harga minyak mendapat dukungan setelah berita bahwa Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, bergerak lebih dekat ke kompromi pada perpanjangan pemotongan produksi minyak dan sedang membahas perpanjangan pembatasan satu hingga dua bulan.

Aljazair, yang memegang jabatan presiden OPEC telah mengusulkan agar OPEC+ memajukan pertemuan dari yang awalnya akan dilaksanakan pada 9-10 Juni menjadi 4 Juni.

OPEC+ sepakat pada April untuk memangkas produksi sebesar 9,7 juta barel per hari untuk Mei dan Juni karena pandemi COVID-19 merusak permintaan. Cadangan di Cushing, Oklahoma, turun menjadi 54,3 juta barel dalam seminggu yang berakhir 29 Mei, kata para pedagang, mengutip laporan Genscape pada Senin (1/6) kemarin.

Bank of America mengatakan pada Senin (1/6/2020) bahwa mereka percaya bahwa penutupan minyak Amerika Utara memuncak pada Mei. “Harga minyak telah menguat ke tingkat di mana penutupan tidak lagi masuk akal dan seharusnya benar-benar mendorong produsen untuk segera mengembalikan produksi,” menurut laporan BofA Global Research.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Akibat Konflik AS-China Soal Hong Kong Minyak Dunia Anjlok

Published

on

Finroll – Jakarta, Minyak berjangka jatuh pada akhir perdagangan Rabu (27/5) waktu AS atau Kamis pagi waktu Indonesia. Kejatuhan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan sedang memikirkan respons kuat terhadap undang-undang keamanan yang diusulkan China di Hong Kong.

Kejatuhan juga dipicu keraguan pasar atas komitmen Rusia memangkas produksi minyak. Dikutip dari Antara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun US$1,54 atau 4,5 persen jadi US$32,81 per barel.

Sementara itu minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun US$1,43 atau 4,6 persen ke level US$34,74 dolar AS per barel.

Kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ ini memangkas produksi hampir 10 juta barel per hari (bph) pada Mei dan Juni. Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman setuju melanjutkan koordinasi lebih erat dan lanjut dalam membatasi produksi minyak.

Namun banyak yang merasa Rusia mengirimkan sinyal beragam menjelang pertemuan antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya dalam waktu kurang dari dua minggu mendatang.

“Kedengarannya hebat di atas kertas, tetapi pasar menahan kegembiraan sampai kami mendapatkan rincian lebih lanjut tentang apakah akan ada pemotongan, berapa banyak barel akan dipotong dan lamanya pemotongan,” kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn.

Sementara itu ketegangan antara Amerika Serikat dan China terus meningkat. Peningkatan terjadi setelah China mengumumkan rencana untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional baru di Hong Kong.

Pengumuman itu memicu protes di jalan-jalan. Tak hanya itu, dari AS, Menteri Luar Negeri Negeri Paman Sam Mike Pompeo mengatakan Hong Kong tidak lagi memerlukan perlakuan khusus berdasarkan hukum AS.

Pernyataan itu memberikan pukulan terhadap Hong Kong terkait status mereka sebagai pusat keuangan utama. Selain dua faktor tersebut, penurunan harga minyak juga terjadi akibat dampak ekonomi pandemi virus corona.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Corona, China Akan Terbitkan Surat Utang 3,75 Triliun Yuan

Published

on

Pemerintah China akan menerbitkan surat utang (obligasi) senilai 3,75 triliun yuan atau US$526 miliar demi mendongkrak belanja atau pengeluaran sebagai pemulihan dampak virus corona.

Perdana Menteri China Li Keqiang menuturkan dana segar dari surat utang khusus itu akan digunakan untuk mengongkosi pengeluaran infrastruktur dalam pembangunan ekonomi setelah dilanda pandemi covid-19.

“China akan menerbitkan 3,75 triliun yuan dalam bentuk obligasi pemerintah khusus tahun ini,” ujarnya mengutip AFP, Jumat (22/5).

Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu sebesar 1,6 triliun yuan.

Menurut Li, dana yang dihimpun akan digunakan sebagai modal proyek, dengan prioritas, belanja barang untuk infrastruktur baru.

Sebelumnya diberitakan, fokus Pemerintah China dalam rangka pemulihan ekonomi usai covid-19 adalah pengeluaran fiskal. Selain itu, untuk meningkatkan lapangan pekerjaan. Ditargetkan, 9 juta lapangan kerja tercipta melalui program pemulihan.

China sendiri berencana mengerek defisit fiskalnya menjadi 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Defisit itu lebih lebar ketimbang tahun lalu yang sebesar 2,8 persen. (CNN/ADAM)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending