Connect with us

Ekonomi Global

Nilai Tukar Rupiah Pagi ini Masih Melemah di Rp15.217 per Dolar AS

Published

on


Nilai Tukar Rupiah

Finroll.com – Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada posisi Rp15.213 perdolarAmerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot pagi ini, Senin (29/10). Posisi ini menguat 4 poin dari posisi akhir pekan lalu, Jumat (26/10) di Rp15.216 per dolar AS.

Kendati demikian, hingga pukul 08.50 WIB, rupiah bergerak melemah ke level Rp15.216 per dolar AS.

Bersama dengan rupiah, sejumlah maya uang negara Asia juga  bersandar di zona merah. Mulai dari dolar Singapura melemah 0,07 persen, yen Jepang minus 0,04 persen, peso Filipina minus 0,04 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen. Begitu pula dengan mata uang utama negara maju yang melemah dari mata uang Negeri Paman Sam. Rubel Rusia melemah 0,39 persen, euro Eropa minus 0,1 persen, franc Swiss minus 0,1 persen, dolar Australia minus 0,04 persen, dan poundsterling Inggris minus 0,03 persen. 

Sementara, hanya beberapa mata uang tercatat menguat, seperti won Korea Selatan menguat 0,29 persen, ringgit Malaysia 0,03 persen,  baht Thailand 0,02 persen, dan dolar Kanada 0,02 persen.Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan pergerakan rupiah pada awal pekan ini tidak akan berbeda jauh dengan pekan lalu, yaitu bergerak mendatar (sideways).

“Hal ini karena pergerakan tipis dari rupiah masih mungkin terjadi karena pelaku pasar cenderung menahan diri menyikapi berbagai sentimen yang ada,” ucapnya, Senin (29/10).

Salah satu sentimen yang masih mempengaruhi pergerakan pasar mata uang, yaitu rilis pertumbuhan ekonomi AS pada akhir pekan lalu. Ekonomi AS berada di kisaran 3,5 persen pada kuartal III 2018.

Angka pertumbuhan ini lebih tinggi ketimbang kuartal III 2017 di 2,8 persen, namun tidak lebih tinggi dari kuartal II 2018 sebesar 4,2 persen. Hal ini membuat ekonomi AS tidak sesuai dengan ekspektasi pasar yang memperkirakn pemulihan ekonomi AS bakal lebih cepat.

Sementara di dalam negeri, sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan rupiah pada pekan ini, diperkirakan baru datang pada pertengahan pekan, yaitu rilis data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS). (cnnindonesia)

Baca Juga: Baru Berusia 7 Tahun, Bocah Ini Dirikan Bank Sendiri

Ekonomi Global

Harga Emas Hari Ini 2 Juli, Turun Rp915 Ribu per Gram

Published

on

By

Harga emas Antam berada di posisi Rp915 ribu per gram pada Kamis (2/7). Posisi itu turun Rp4.000 dari Rp919 ribu per gram pada Rabu (1/7).(ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto).

Finroll.com, Jakarta – Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp915 ribu per gram pada Kamis (2/7). Posisi itu turun Rp4.000 dari Rp919 ribu per gram dibandingkan kemarin.

Sementara harga pembelian kembali emas (buyback) turun Rp3.000 per gram dari Rp815 ribu menjadi Rp812 ribu per gram pada hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp487,5 ribu, 2 gram Rp1,77 juta, 3 gram Rp2,63 juta, 5 gram Rp4,35 juta, 10 gram Rp8,64 juta, 25 gram Rp21,48 juta, dan 50 gram Rp42,89 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp85,71 juta, 250 gram Rp214,01 juta, 500 gram Rp427,82 juta, dan 1 kilogram Rp855,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.777,8 per troy ons atau melemah 0,12 persen. Sedangkan harga emas di perdagangan spot turun 0,06 persen ke US$1.769,01 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra melihat harga emas di pasar internasional kemungkinan akan bergerak di kisaran US$1.750 sampai US$1.800 per troy ons pada hari ini. Harga emas masih bergerak di kisaran yang tinggi, meski sedikit tertekan.

“Secara teknikal, harga emas juga masih berpotensi naik harga mungkin masih akan mencoba lagi ke level US$1.789 per troy ons, level tertinggi kemarin,” ungkap Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Ariston, hal ini karena sentimen positif bagi aset berisiko muncul dan bisa memberi tekanan kepada harga emas. Sentimen tersebut adalah sinyal pemulihan ekonomi dari data tenaga kerja dan indeks aktivitas manufaktur AS.

“Pasar juga mendapat kabar baik dari kemajuan penemuan vaksin oleh perusahaan farmasi Pfizer. Ini sempat memberikan tekanan ke emas semalam,” katanya.

Hanya saja, Ariston melihat peluang penguatan harga emas sebenarnya masih ada. Sebab, sentimen kekhawatiran pasar terhadap tingginya kasus virus corona atau covid-19 masih ada.

Begitu pula dengan disetujuinya UU pemberian sanksi bagi perbankan AS yang berbisnis dengan pejabat China yang menerapkan UU Keamanan Hongkong. Ini artinya UU sanksi ini sudah disetujui oleh dua partai yang saling beroposisi di AS.

“UU sanksi ini dikhawatirkan merembet ke urusan dagang kedua negara, AS dan China,” imbuhnya.

Selain itu, bank sentral AS, The Federal Reserve juga memberikan indikasi bahwa kondisi ekonomi masih dalam tekanan untuk jangka waktu yang lama karena covid-19.(cnnindonesia.com)

Continue Reading

Business

Data Ekonomi Asia dan Eropa Cungkil Harga Minyak Dunia

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia naik hingga 3,1 persen pada penutupan perdagangan Senin (30/6). Penguatan harga minyak ini ditopang oleh data ekonomi di Asia dan Eropa.
Mengutip Antara, Selasa (30/6), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik 69 sen atau 1,7 persen menjadi US$41,71 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus menguat US$1,21 atau 3,1 persen menjadi US$39,7 per barel di New York Mercantile Exchange.

Data Komisi Eropa menunjukkan ada perbaikan di seluruh sektor pada Juni 2020. Dari segi sentimen, posisinya naik dari 67,5 pada Mei 2020 menjadi 75,7 pada Juni 2020.

Sementara, keuntungan industri di China meningkat untuk pertama kalinya setelah enam bulan terus menurun. Realisasi ini menunjukkan pemulihan ekonomi sedang terjadi di China.

Ditambah, bursa saham Amerika Serikat (AS) juga menguat pada Senin (29/6). Hal itu menambah sentimen positif bagi harga minyak mentah dunia.

Namun demikian, kenaikan harga minyak mentah dunia terbilang tipis karena pasar masih khawatir dengan gelombang kedua pandemi virus corona. Pasalnya, pasien yang meninggal akibat pandemi itu telah melampaui setengah juta orang di dunia.

Oleh karena itu, beberapa negara bagian di AS memutuskan untuk kembali menerapkan pembatasan di ruang publik setelah ada lonjakan kasus. Salah satunya adalah Pemerintah California yang menutup operasional bar mulai Minggu (28/6).

Hal yang sama juga dilakukan Texas dan Florida usai pemerintah Texas mengeluarkan kebijakan penutupan bar pada akhir pekan lalu. Lalu, Washington dan San Fransisco telah menghentikan rencana pelonggaran pembatasan di ruang publik.

 

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Pangkas Biaya Operasional, Qantas PHK 6.000 Pegawai

Published

on

By

Maskapai Qantas memangkas 6.000 ribu pegawai dan mengandangkan 100 pesawat untuk menghemat biaya operasional di tengah pandemi. Ilustrasi. (AFP Photo/Peter Parks).

Finroll.com, Jakarta – Maskapai terbesar Australia Qantas melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) 6.000 pegawai dan mengandangkan 100 pesawat hingga setahun untuk menghemat biaya operasional US$10 miliar. Langkah itu diambil untuk menyelamatkan bisnis dari pandemi virus corona yang membuat industri penerbangan babak belur.

Dilansir dari AFP, Kamis (25/6), CEO Alan Joyce mengungkapkan dalam upaya penyelamatan maskapai, perusahaan telah menyusun rencana untuk tiga tahun ke depan. Selain melakukan PHK, perusahaan juga merumahkan selama berbulan-bulan lebih dari sebagian karyawannya yang tersisa.

“Tahun ini seharusnya menjadi salah satu tahun perayaan bagi Qantas. Ini ulang tahun seabad kami. Jelas, yang terjadi tidak sesuai rencana,” ujar Joyce.

Pemangkasan pegawai dilakukan pada maskapai Qantas dan lini penerbangan berbiaya murah, Jetstar. Di saat yang sama, perusahaan berharap dapat memanggil kembali separuh dari 15 ribu pekerja yang dirumahkan sejak Maret lalu pada akhir tahun.

Ia memahami rencana pemulihan perusahaan akan berdampak besar pada ribuan orang pegawai. Namun, ia mengaku tidak punya banyak pilihan mengingat pendapatan perusahaan anjlok karena pandemi.

Wabah virus corona membuat perusahaan membatalkan hampir seluruh rute penerbangan internasional, setidaknya hingga Oktober. Rute penerbangan domestik juga dipangkas.

Penerbangan domestik memang mulai bangkit seiring pelonggaran pembatasan antarwilayah. Namun, Australia diperkirakan akan tetap membatasi akses pendatang dari luar negeri hingga tahun depan.

“Kami harus memposisikan di mana pendapatan perusahaan akan berkurang jauh selama beberapa tahun ke depan. Itu artinya, kami menjadi maskapai dengan skala yang lebih kecil dalam jangka pendek,” jelas Joyce.

Selain melakukan penghematan operasional, perusahaan juga berencana menambah permodalan hingga 1,9 miliar dolar Australia.

Perusahaan juga akan memperpanjang kontrak Joyce, CEO dengan bayaran termahal di Australia, hingga seluruh rencana perusahaan dieksekusi.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyebut pemangkasan jumlah pegawai Qantas sebagai sesuatu yang menyedihkan. Pemerintah Australia sendiri sudah menggelontorkan miliaran dolar untuk memitigasi dampak pandemi terhadap perekonomian.

“Hari-hari yang berat, Australia. Hari-hari yang sangat berat,” kata Morrison.

Dewan Serikat Pekerja Australia (ACTU) mengecam kebijakan Qantas dan meminta Morrison memperpanjang program subsidi gaji untuk mencegah PHK karyawan (JobKeeper Program).

“Jika program itu cukup untuk mengamankan pekerjaan Alan Joyce, mengapa tidak cukup baik untuk membatalkan keputusan (PHK) itu, duduk dengan serikat pekerja, yakinkan pemerintah federal memperpanjang program JobKeeper dan selamatkan lapangan kerja,” ujar Ketua ACTU Michele O’Neil.(cnnidonesia.com)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending