Connect with us

Business

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Kembali Loyo

Published

on


Rupiah Dibuka Menguat

Finroll.com  – Kurs rupiah tergelincir pada perdagangan pagi ini, Jumat (17/5/2019), setelah kearin sempat menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS)

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka terdepresiasi 8 poin atau 0,06 persen di level Rp14.460 per dolar AS.

Mata uang garuda berhasil bergerak berbalik menguat pada perdagangan Kamis (16/5) seiring dengan melemahnya dolar AS akibat data penjualan ritel AS yang lebih rendah dibandingkan dengan ekspektasi pasar.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan kemarin, Kamis, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 11 poin atau 0,08 persen ke level Rp14.452 per dolar AS.(bisnis)

Business

Pemerintah RI Optimis Paviliun Indonesia Expo 2020 Dubai Bakal Sukses

Published

on

Finroll.com — Pemerintah Indonesia menyatakan optimis terhadap kesuksesan Paviliun Indonesia pada Expo 2020 Dubai. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Dody Edward saat peluncuran Paviliun Indonesia pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2019 di ICE BSD City, Tangerang Selatan, Jumat (18/10/2019).

“Hari ini, hampir setahun lagi tepatnya 20 Oktober 2020, Paviliun Indonesia akan beroperasi selama 173 hari di expo terbesar di dunia, Expo 2020 Dubai.

Peluncuran Paviliun Indonesia ini membawa optimisme bahwa segenap pemangku kepentingan akan bekerja optimal untuk bersinergi menampilkan paviliun yang menggambarkan Indonesia masa depan, Indonesia Emas 2045,” ujar Dody Edward.

Sebelumnya, Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla didampingi Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengunjungi stand Paviliun Indonesia seusai membuka ajang pameran perdagangan internasional, Trade Expo Indonesia 2019.

Dalam kunjungannya itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla sekaligus membubuhkan tanda tangan pada board digital sebagai tanda resmi keikutsertaan Indonesia dalam ajang Expo 2020 Dubai.

“Kami juga mengajak seluruh masyarakat baik itu perusahaan, kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah untuk berpartisipasi mengharumkan nama dan potensi Indonesia di tingkat dunia,” tambah Dody Edward.

Pemerintah memperkirakan keikutsertaan Indonesia di Expo 2020 Dubai ini akan memerlukan biaya hingga Rp400 miliar. Untuk itu, selain dana berasal dari pemerintah, pihak swasta digandeng untuk berkontribusi menjadi sponsor untuk Paviliun Indonesia pada Expo 2020 Dubai.

Saat ini tercatat sudah 5 (lima) perusahaan yang telah menjadi sponsor yaitu PT Astra International Tbk sebagai sponsor utama, kemudian PT Gajah Tunggal Tbk, Grup APRIL, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), dan Citarasa Prima (CRP) Group selaku pengelola restoran di Paviliun Indonesia.

Optimisme juga terlihat dari pernyataan Boy Kelana Soebroto, General Manager Corporate Communications PT Astra International Tbk yang mewakili pihak sponsor.

“Kami optimis dengan keikutsertaan Astra sebagai sponsor utama akan memperkuat konsep Indonesia Emas 2045. Kami berharap dapat turut mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Semangat ini sejalan dengan cita-cita Astra yaitu sejahtera bersama bangsa,“ kata Boy Kelana Soebroto.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Uni Emirat Arab, Husin Bagis, memaparkan perkembangan pembangunan Paviliun Indonesia di Dubai.

“Setelah Groundbreaking 9 September lalu, pembangunan Paviliun Indonesia terus berjalan. Saya optimis, Expo 2020 Dubai dapat meningkatkan perdagangan, pariwisata dan investasi untuk Indonesia khususnya dari negara Timur Tengah maupun negara lainnya,” ujar Husin.

Press conference ini juga menampilkan pembicara Ridwan Hassan, Konsul Jenderal RI di Dubai dan Hariman Zagloel, President Director PT Samudra Dyan Praga selaku operating agency Paviliun Indonesia.

Uniknya Paviliun Indonesia di Expo 2020 DubaiStand Paviliun Indonesia didesain secara futuristik dan dipadukan dengan berbagai motif traditional. Diharapkan paviliun ini akan menjadi wajah Indonesia masa depan dengan berfondasikan berbagai inovasi, beyond technology dan tetap selaras dengan berbagai kearifan lokal bangsa Indonesia.

Paviliun Indonesia terletak di jalur utama di distrik “Opportunity” yang strategis dengan luas lahan 1.860 m2. Paviliun bertema “Transforming Future Civilization Through Innovations and Diversity” ini akan terdiri dari 3 lantai.

Setiap lantai akan memiliki cerita yang berbeda-beda tapi saling terkait dan berkelanjutan. Semua cerita yang ada di tiap lantai akan ditampilkan secara Entertainment, Interaktif  dan Futuristik.

Lantai 1 yang bertema “To Build World A New” akan memberikan gambaran tentang Indonesia dalam kemasan “Connecting Yesterday – Today & Tomorrow” dengan menampilkan sekilas sejarah Indonesia (15%), Indonesia hari ini (25%) dan Indonesia Masa Depan (60%).

Lantai 2 akan menampilkan berbagai inovasi dan Konsep Indonesia Emas 2045. Tema di lantai ini adalah “Celebrating you, me together we transform the future”. Selain menampilkan instalasi yang canggih, lantai ini juga memiliki studio bioskop layar lebar berkualitas tinggi (high quality cinema) sebagai tempat pemutaran film pendek yang menarik tentang bagaimana Indonesia menciptakan masa depan bervisi global namun tetap berlandaskan kearifan lokal. Area ini juga digunakan sebagai sarana presentasi untuk menarik investasi.

Di akhir cerita, pengunjung akan disajikan suasana “Night Market” yang kental dengan berbagai keragaman budaya, keramahan dan kehangatan khas masyarakat indonesia yang bertema Welcome  to Majestic Land of Diversity. Dengan mengunjungi Paviliun Indonesia, pengunjung akan merasakan Home of Diversity, A Feeling of Tomorrow.

Untuk mendapatkan informasi terbaru seputar Pavilun Indonesia di Expo 2020 Dubai, kunjungi
expo2020indonesia.id. Situs resmi ini berisi informasi tentang persiapan Pavilion Indonesia dengan menu antara lain Home of Diversity, Count Down, Ayo Dukung Paviliun Indonesia, Connecting: Yesterday, Today, and Tomorrow, dan Road To Dubai. Situs tersebut juga dilengkapi akun media sosial resmi seperti Instagram, Facebook, Youtube, dan Twitter.

Continue Reading

Keuangan

Sentimen Positif Brexit Kerek Rupiah ke Rp14.144 per Dolar AS

Published

on

By

Nilai tukar rupiah berada di level Rp14.144 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (18/10) pagi. Posisi tersebut menguat 0,08 persen dibandingkan Kamis (17/10) kemarin, Rp 14.155 per dolar AS.

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Tercatat, won Korea menguat 0,57 persen, rupee India 0,38 persen, yuan China 0,22 persen, dolar Hong Kong 0,02 persen, baht Thailand 0,05 persen, dolar Singapura 0,01 persen, dan lira Turki 0,19 persen.

Sementara itu, kurs ringgit Malaysia dan yen Jepang masing-masing terpantau melemah 0,06 dan 0,01 persen terhadap dolar AS.

Sementara, nilai tukar peso Filipina terpantau stagnan.

Di negara maju, pergerakan mata uang juga terpantau bervariasi terhadap dolar AS. Penguatan terjadi pada dolar Australia sebesar 0,14 persen dan euro 0,02 persen. Namun, poundsterling Inggris melemah 0,22 persen.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan penguatan rupiah disebabkan sentimen positif dari potensi terjadinya kesepakatan Brexit antara Inggris dan Irlandia.

“Ada potensi rupiah menguat lagi karena sentimen positif dari potensi tercapainya kesepakatan Brexit,” kata Ariston saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (18/10).

Selain itu, lanjut Ariston, penguatan rupiah juga dipengaruhi potensi pemangkasan suku bunga acuan AS akibat melemahnya data penjualan ritel AS pada bulan September, yang dirilis Rabu (16/10) lalu.

“Data indeks manufaktur AS bulan Oktober yang di bawah ekspektasi yang dirilis tadi malam juga menjadi penopang penguatan rupiah,” ucapnya.

Lebih lanjut, Ariston berpendapat rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp14.100 sampai dengan Rp14.190 per dolar AS pada akhir pekan ini.

Continue Reading

Business

‘Jauh Panggang dari Api’ Realisasi 5 Janji Ekonomi Jokowi

Published

on

By

Joko Widodo (Jokowi) akan kembali dilantik menjadi Presiden Indonesia untuk periode kedua pada Minggu (20/10) mendatang. Segudang janji untuk mengerek laju ekonomi sudah diucapkan, mulai dari tiga kartu sakti hingga infrastruktur langit.

Sebelum membuka lembaran baru, tak ada salahnya melihat kembali realisasi dari target di bidang ekonomi yang telah dijanjikan Presiden ketujuh Indonesia itu pada periode pertama pemerintahannya. Hasilnya, pencapaian target masih jauh panggang dari api.

Pertumbuhan Ekonomi Tak Capai Target

Pada kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 lalu, Jokowi berjanji akan membawa Indonesia mencicipi pertumbuhan ekonomi di angka 7 persen. Bahkan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) menargetkan ekonomi mencapai 8 persen. Nyatanya, realisasi target masih di bawah harapan.

Tercatat, laju ekonomi Indonesia masih terjebak di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir, meski trennya cenderung meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekonomi hanya tumbuh 4,79 persen pada 2015, jauh di bawah target yang dipatok 5,7 persen kala itu.

Pada 2016, pertumbuhan ekonomi tercatat membaik ke posisi 5,02 persen. Kemudian, naik menjadi 5,07 persen di 2017 dan 5,17 persen di 2018. Sementara per semester I 2019, ekonomi berada di angka 5,06 persen atau lebih rendah dari target pertumbuhan ekonomi tahun ini, 5,3 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah sulit mewujudkan janji pertumbuhan ekonomi karena kondisi global berubah di tengah jalan. Misalnya, harga komoditas di pasar dunia tidak setinggi periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang kala itu masih mampu membawa Indonesia menggenggam pertumbuhan ekonomi hingga kisaran 6 persen.

Lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba-tiba melakukan proteksi terhadap perdagangan dengan sejumlah negara. Bahkan, Trump tak segan memulai perang dagang dengan China.

Selain itu, berbagai konflik geopolitik turut memberi warna pada kondisi ekonomi global. Tak ketinggalan, kebijakan moneter berbagai bank sentral di dunia ikut memberi andil pada ekonomi global yang pada akhirnya berimbas ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Situasi internasional tidak kondusif. Kalau tidak kondusif, yang terjadi negara emerging market dirugikan seperti tahun lalu,” ujar Darmin, beberapa waktu lalu.

Setumpuk masalah itu kemudian membuat ekonomi Tanah Air sulit melaju. Dampak utamanya langsung terasa ke kinerja ekspor dan investasi.

Padahal, kedua indikator itu justru ingin pemerintah tingkatkan agar konsumsi rumah tangga tak ‘kelelahan’ menopang perekonomian. Hasilnya, ketika impor meningkat, ekspor melempem, dan minim devisa masuk ke dalam negeri, maka neraca pembayaran dan transaksi berjalan jadi bermasalah.

“Kami semua tahu, di bidang perdagangan internasional, indikator neraca pembayaran saya kira menjadi titik lemah yang utama,” ucapnya.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan Jokowi gagal mewujudkan janjinya karena kebijakan reformasi struktural dan perencanaan pembangunan tidak dijalankan dengan benar. Misalnya, pembangunan infrastruktur hanya dirancang dengan masif tanpa perhitungan keekonomian yang jelas.

Hasilnya, tak jarang infrastruktur yang telah dibangun justru tidak memberi dampak ekonomi yang besar kepada Indonesia. Padahal, ketika kondisi ekonomi global tidak cukup mendukung, pemerintah seharusnya bisa melakukan pembangunan dengan realistis yang memberikan dampak ke pertumbuhan dengan cepat.

Begitu pula dengan pelaksanaan kebijakan reformasi struktural melalui penerbitan 16 paket kebijakan yang berisi soal deregulasi perizinan. “Paket kebijakan tidak dimonitor dan dievaluasi agar benar-benar efektif. Sementara kebijakan yang bisa dengan cepat memacu konsumsi dan investasi sebagai mesin utama pertumbuhan tidak banyak dilakukan,” tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah masih belum bisa benar-benar menjaga daya beli masyarakat, sehingga pertumbuhan konsumsi rumah tangga hanya bertahan di kisaran 5 persen. Padahal, suka tidak suka, Indonesia masih harus bergantung pada indikator tersebut. Untungnya, inflasi mampu dijaga rendah di kisaran 3 hingga 4 persen.

“Konsumsi rumah tangga seharusnya minimal 6 persen dan investasi sekitar 8 persen. Tapi konsumsi masih di kisaran 5 persen dan investasi justru menurun. Akibatnya, pertumbuhan tidak mencapai target,” ungkapnya.

Daya Saing Merosot

Jokowi sejatinya tidak memiliki target khusus dalam hal peringkat daya saing. Namun, ia ingin Indonesia memiliki daya saing yang tak kalah dari negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Hanya saja, peringkat daya saing Indonesia masih tertinggal, khususnya dengan Singapura dan Malaysia. Singapura bahkan berhasil berada di puncak peringkat negara paling berdaya saing pada tahun ini versi World Economic Forum (WEF).

Sementara, prestasi Indonesia justru turun naik. Ibu Pertiwi berada di peringkat ke-37 pada 2015, lalu turun ke-41 pada 2016. Kemudian naik ke posisi 36 pada 2017. Namun, turun lagi ke posisi 45 pada 2018 dan merosot ke peringkat 50 pada 2019.

Darmin berkilah dan menyatakan pemerintah sebenarnya sudah berhasil melakukan berbagai perbaikan pada indikator daya saing Indonesia. Misalnya, reformasi kebijakan secara struktural melalui percepatan izin investasi dengan sistem perizinan yang terintegrasi dalam jaringan (Online Single Submission/OSS).

Selain itu, melalui berbagai penyederhanaan izin, syarat, prosedur, hingga penghapusan kriteria khusus ketika dunia usaha ingin melakukan kegiatan investasi dan perdagangan. Bahkan, saat ini pemerintah tengah menyiapkan penyatuan undang-undang alias omnibus law untuk kian meningkatkan percepatan perizinan.

Sayangnya, kata Darmin, Indonesia kalah cepat dari negara-negara tetangga, sehingga peringkat daya saing cenderung turun. Di sisi lain, di saat peringkat daya saing Indonesia merosot, peringkat daya saing Vietnam tahun ini berhasil melompat 10 peringkat dari posisi 77 ke 67.

Ekonom Senior Faisal Basri menilai peringkat daya saing Indonesia wajar turun karena minimnya perbaikan yang dilakukan pemerintah. Hal ini tercermin dari beberapa indikator penilaian daya saing yang memang rendah.

Misalnya, indikator kemampuan inovasi hanya mendapat skor 37,7. Lalu, indikator transparansi hanya mendapat skor 38. Begitu pula dengan indikator pasar tenaga kerja, adopsi informatika, komputer, dan teknologi, produk pasar, hingga institusi cukup rendah.

Artinya, kata Faisal, penurunan peringkat daya saing tak semata-mata karena negara lain berhasil melaju lebih cepat dan tinggi. Toh, Indonesia seharusnya bisa mengantisipasi cepatnya langkah para negara tetangga.

Dari kondisi ini, Faisal pun memberi ‘lampu kuning’ kepada pemerintah agar segera melakukan perbaikan. Sebab bila tidak, Indonesia bisa saja disalip Vietnam.

“Perbaikan di Indonesia perlu diakselerasikan agar tidak disusul oleh Vietnam yang belakangan ini menunjukkan perbaikan pesat di berbagai bidang,” tuturnya.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Trending