Connect with us

Komoditi

Pegang Dolar AS vs Investasi Emas, Pilih Mana?

Published

on


Kondisi perekonomian yang tak menentu membuat pelaku pasar melirik instrumen investasi aman (save haven) untuk mengamankan hartanya.

Ada dua instrumen investasi termudah yang dapat dijadikan sarana investasi di kala kondisi tak menentu, yakni dolar Amerika Serikat (AS) dan emas.

Para investor tentu telah berbondong-bondong mendiversifikasi sebagian dari investasi mereka ke kedua instrumen tersebut sejak akhir tahun lalu ketika api perang dagang AS-China berkobar panas-panasnya.

Lalu bagaimana kinerja dua instrumen sepanjang setahun berjalan ini (year to date)?

Sejak awal tahun, harga emas Antam ukuran 1 gram mengalami kenaikan sebesar Rp 85.000/gram atau 12,74% menjadi Rp 752.000/gram dari posisi penutupan akhir tahun lalu pada Rp 667.000/gram.

Sementara itu, berinvestasi pada dolar AS justru tidak memberikan apa-apa karena rupiah menguat 1% sejak awal tahun dengan perdagangan terakhir berada di Rp 14.085/Dolar AS.

Artinya, berinvestasi pada logam mulia, khususnya emas produksi Antam ternyata lebih menguntungkan dari pada berinvestasi pada dolar AS.

Sepanjang tahun ini, dolar AS terhadap rupiah bergerak volatil dengan pelemahan terdalam terjadi pada 22 Mei lalu di level Rp 14.520/dolar AS, sedangkan penguatan terkuat terjadi pada 15 Juli pada level Rp 13.915/dolar AS.

Penguatan rupiah lebih banyak disumbang investasi portofolio alias hot money yang masuk ke Indonesia. Di pasar obligasi, investasi asing yang masuk mencapai Rp 126,3 triliun. Sedangkan di pasar saham mencapai Rp 54,7 triliun.

Masuknya investor asing ke obligasi tidak lain karena tingkat imbal hasil (yield) yang masih menarik di tengah mata uang rupiah yang cukup stabil.

Sebagai acuan, suku bunga obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dihargai 1,76% setahun, bandingkan dengan obligasi pemerintah Indonesia yang berimbal hasil 7,21% dengan tenor yang sama.

Komoditi

Emas Antam Naik Lagi, Sentuh Rp924 Ribu per Gram

Published

on

By

Harga jual emas PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam berada di posisi Rp924 ribu per gram pada Kamis (26/3) atau naik Rp5.000 dari Rp919 ribu per gram pada Selasa (24/3) pagi. Sementara harga pembelian kembali (buyback) hanya naik Rp1.000 dari Rp836 ribu menjadi Rp837 ribu per gram pada hari ini.

FINROLL.COM — Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp486,5 ribu, 2 gram Rp1,79 juta, 3 gram Rp2,67 juta, 5 gram Rp4,44 juta, 10 gram Rp8,81 juta, 25 gram Rp21,93 juta, dan 50 gram Rp43,78 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp87,5 juta, 250 gram Rp218,5 juta, 500 gram Rp436,8 juta, dan 1 kilogram Rp873,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX berada di posisi US$1.631,1 per troy ons atau melemah 0,2 persen. Begitu pula harga emas di perdagangan spot anjlok 0,7 persen ke US$1.605,51 per troy ons pada pagi ini.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan pergerakan harga emas di pasar internasional masih dipengaruhi oleh sentimen stimulus ekonomi dari berbagai negara, khususnya Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menjanjikan bakal menggelontorkan anggaran mencapai US$2 triliun untuk mengatasi tekanan ekonomi di Negeri Paman Sam akibat penyebaran pandemi virus corona atau Covid-19.

Namun, kepastian stimulus ini masih menunggu Kongres AS. Bila disetujui, ia memastikan harga saham dan emas akan menguat.

“Sebelum persetujuan keluar, harga emas bisa tertekan ke kisaran US$1.585 per troy ons. Tapi setelah persetujuan, harga emas berpotensi menguat ke area US$1.660 per troy ons,” kata Ariston kepada CNNIndonesia.com.

Di sisi lain, ia mengatakan pelaku pasar keuangan juga masih dibayangi kekhawatiran penyebaran virus corona. Apalagi, sejumlah lembaga ekonomi internasional memperkirakan corona akan menekan pertumbuhan ekonomi dunia dan sejumlah negara. (CNN/GPH)

 

Continue Reading

Komoditi

Wow, Harga Emas Antam Tembus Rp 919.000

Published

on

By

Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terbang tinggi pada Selasa (24/3). 

Mengutip
situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp
919.000 pada pukul 09.07 WIB. Harga emas Antam ini melesat Rp 28.000 per
gram dari harga Senin (23/3) sore pada Rp 891.000.

Sementara, harga pembelian kembali atau buyback emas Antam juga melonjak Rp 26.000 jadi Rp 836.000 dari posisi tadi pagi.

Berikut harga emas batangan Antam dalam pecahan lainnya per hari ini dan belum termasuk pajak:  

Harga emas 0,5 gram: Rp 484.000

Harga emas 1 gram: Rp 919.000

Harga emas 5 gram: Rp 4.415.000

Harga emas 10 gram: Rp 8.765.000

Harga emas 25 gram: Rp 21.805.000

Harga emas 50 gram: Rp 43.535.000

Harga emas 100 gram: Rp 87.000.000

Harga emas 250 gram: Rp 217.250.000

Harga emas 500 gram: Rp 434.300.000

Harga emas 1.000 gram: Rp 868.600.000

Continue Reading

Ekonomi Global

Terbang Tinggi! Harga Emas Tembus US$ 1.700/Oz

Published

on

Harga emas dunia melesat pada perdagangan Senin (9/3/2020) hingga melewati level US$ 1.700/troy ons.

Begitu perdagangan hari ini dibuka, harga emas melesat 1,2% ke US$ 1.694/troy ons. Tidak perlu waktu lama, logam mulia ini langsung mencapai level US$ 1.702,56/troy ons atau menguat 1,72% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Desember 2012.

Posisi emas sedikit terkoreksi pada pukul 9:03 WIB berada di level US$ 1.699/troy ons, atau menguat 1,49%.

Aksi jual di bursa saham, serta peluang bank sentral Amerika Serikat/AS atau Federal Reserve/The Fed akan memangkas suku bunga kembali pada pekan depan.

Bursa saham Asia kembali “kebakaran” pagi ini, indeks Nikkei Jepang anjlok nyaris 6%, sementara Hang Seng Hong Kong dan Kospi Korea Selatan merosot lebih dari 4%. Indeks Shanghai Composite China sedikit lebih baik, “hanya melemah” 1,85%.

Tidak hanya itu, indeks berjangka (futures) Wall Street juga jeblok pagi ini. Dow Jones futures sudah ambles nyaris 1.200 poin. Ini mengindikasikan bursa saham AS berisiko merosot saat pembukaan perdagangan nanti.

Aksi jual di bursa saham mengindikasikan memburuknya sentimen pelaku pasar akibat wabah virus corona yang meluas di luar China. Wabah tersebut diprediksi akan menekan pertumbuhan ekonomi global, sehingga pelaku pasar keluar dari aset-aset berisiko, dan masuk ke aset aman (safe haven).

Selain itu pelambatan ekonomi global juga memaksa bank sentral di berbagai negara memangkas suku bunga, termasuk The Fed.

Seperti diketahui sebelumnya, pada Selasa (3/3/2020) malam (Selasa pagi waktu AS), The Fed tiba-tiba mengumumkan memangkas suku bunga acuannya atau Federal Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 1%-1,25%. Pemangkasan mendadak sebesar itu menjadi yang pertama sejak Desember 2008 atau saat krisis finansial. Kala itu The Fed memangkas suku bunga sebesar 75 bps.

Bank sentral paling powerful di dunia ini seharusnya mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17-18 Maret waktu AS, tetapi penyebaran wabah corona virus menjadi alasan The Fed memangkas suku bunga lebih awal dari jadwal RDG.

Dalam konferensi pers setelah pengumuman tersebut, pimpinan The Fed Jerome Powell mengatakan keputusan pemangkasan suku bunga diambil setelah para anggota dewan The Fed melihat wabah virus corona mempengaruhi outlook perekonomian.

“Besarnya efek virus corona terhadap perekonomian AS masih sangat tidak menentu dan berubah-ubah. Melihat latar belakang tersebut, anggota dewan menilai risiko terhadap outlook perekonomian telah berubah secara material. Merespon hal tersebut, kami telah melonggarkan kebijakan moneter untuk memberikan lebih banyak support ke perekonomian” kata Powell sebagaimana dilansir CNBC International.

Pemangkasan tersebut sudah diprediksi oleh pelaku pasar, hanya saja terjadi lebih cepat dari jadwal RDG pekan depan.

Pelaku pasar memprediksi The Fed masih akan memangkas suku bunga lagi saat mengumumkan suku bunga 18 Maret (19 Maret waktu Indonesia) nanti. Kamis kemarin, pelaku pasar memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga 25 bps 18 Maret nanti, tapi kini prediksi tersebut bertambah menjadi 50 bps.

Berdasarkan data dari piranti FedWatch milik CME Group, pelaku pasar melihat adanya probabilitas sebesar 77,5% The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 50 bps menjadi 0,5-0,75%. Selain itu pelaku pasar melihat 22,5% suku bunga akan dipangkas 75 bps menjadi 0,25%-0,5%, dan tidak ada probabilitas suku bunga dipangkas 25 bps atau dipertahankan.

Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, suku bunga rendah di AS membuat opportunity cost atau atau biaya yang ditanggung karena memilih investasi emas, dibandingkan investasi lainnya, misalnya obligasi AS, sehingga ketika suku bunga di AS turun, harga emas cenderung menguat.

Sumber Berita : CNBCIndonesia.com

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending