Connect with us

Keuangan

Pelantikan Jokowi Beri Berkah ke Saham Sektor Konstruksi

Published

on


Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin resmi menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024. Upacara pelantikan pasangan Jokowi-Ma’ruf pada Minggu (20/10) terpantau berjalan lancar.

Kepala Riset PT Koneksi Kapital Alfred Nainggolan menilai pelantikan Jokowi-Ma’ruf bisa menjadi katalis positif di pasar ekuitas. Pasalnya, pelantikan makin memberikan kepastian atas kondisi politik dan ekonomi Indonesia saat ini.

Ia memprediksi pasar cenderung bergerak lebih stabil usai pelantikan ini. Bahkan, sambung dia, sambutan positif pelaku pasar sudah tampak sejak sepekan sebelum pelantikan.

Kondisi ini tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat sebesar 1,41 persen dari level 6.105 menjadi 6.191.

“Artinya ini melihat mereka sudah mulai inisiatif lebih dulu dengan ekspektasi pelantikan akan jalan dengan baik,” katanya kepada CNNIndonesia.com.

Agak berbeda dengan Alfred, pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo mengatakan sentimen global masih mendominasi pasar ekuitas. Meluasnya perang dagang akan menambah ketidakpastian di pasar setelah sebelumnya AS juga masih bersitegang dengan China.

Tak hanya itu, ia bilang penguatan dolar AS juga berpotensi menekan nilai tukar rupiah. Sepanjang pekan lalu, rupiah melemah tipis sebesar 0,04 persen ke posisi Rp14.145 per dolar AS.

Ia meramalkan IHSG hanya mampu menguat terbatas di bawah tekanan sentimen global. “Jadi dua sentimen negatif dibandingkan satu sentimen positif yaitu pelantikan sendiri masih terbatas karena ada sentimen lain jadi indeks cenderung menguat terbatas,” tuturnya.

Di tengah stabilitas pasar usai pelantikan, Alfred merekomendasikan untuk mengoleksi saham sektor infrastruktur dan konstruksi. Ini sejalan dengan salah satu strategi pembangunan Jokowi dalam lima tahun mendatang; mendorong kembali pembangunan infrastruktur.

Berbeda dengan periode pertama, kepala negara bilang pembangunan infrastruktur akan menghubungkan kawasan produksi dengan kawasan distribusi, mempermudah akses ke kawasan wisata, sehingga mampu mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat.

“Kemungkinan sektor infrastruktur dan konstruksi relatif cukup bagus, melalui berlanjutnya program infrastruktur,” tuturnya.

Dari sektor infrastruktur ia merekomendasikan saham PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Sedangkan, dari sektor konstruksi ia merekomendasikan saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON).

Selain kelanjutan pembangunan infrastruktur, ia menuturkan saham Telkom mendapat sentimen positif dari peresmian proyek infrastruktur ‘langit’ yaitu Palapa Ring pada Senin (14/10). Dalam jangka panjang, Alfred meyakini Palapa Ring akan berdampak positif bagi kinerja perusahaan pelat merah itu.

Melalui Palapa Ring, Telkom bisa memperluas akses jaringannya. Menurut informasi dari Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Indonesia (BAKTI), Telkom tengah dalam proses uji coba Palapa Ring bersama PT. Primacom Interbuana.

Dari sisi kinerja saham, perusahaan dengan kode saham TLKM itu berhasil mengantongi kenaikan 0,48 persen dalam sepekan. Saham Telkom ditutup di posisi Rp4.190 naik 0,48 persen pada perdagangan Jumat (18/10). Sementara sejak awal tahun, sahamnya berhasil naik 11,73 persen. Hingga akhir tahun, Alfred memprediksi saham Telkom mampu mencapai posisi Rp4.580 per saham.

Tindak lanjut pembangunan infrastruktur, sambung dia, menjadi katalis positif bagi BUMN karya maupun anak usahanya yang notabene mendukung bisnis perusahaan. Dalam hal ini, Wijaya Karya dapat dipastikan kembali kecipratan proyek pembangunan infrastruktur jilid II.

Proyek baru Wijaya Karya berpotensi mengerek kinerja Wika Beton sebagai entitas anak yang memasok beton untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur. Dari sisi kinerja saham, Wijaya Karya tercatat naik signifikan pada perdagangan Jumat (18/10) sebesar 5,26 persen menjadi Rp2.000 per saham.

Dalam sepekan saham Wijaya Karya naik 7,24 persen serta sebesar 20,85 persen sejak awal tahun. Saham Wijaya Karya diramal akan menembus level Rp2.310 per saham. Sementara itu, saham Wika Beton naik 6,11 persen dalam sepekan dan sebesar 29,26 persen sejak awal tahun.

Pada perdagangan pekan lalu, saham Wijaya Karya Beton naik 3,4 persen menjadi Rp486 per saham. Alfred meyakini saham Wika Beton bisa menembus posisi Rp960 per saham.

Namun demikian, katanya, pelaku pasar perlu mencermati utang-utang BUMN khususnya BUMN karya. Pasalnya, total liabilitas BUMN karya terbilang naik lebih tinggi dibandingkan BUMN di sektor lainnya.

Tak heran, karena Jokowi memang menggenjot pembangunan infrastruktur salah satunya melalui peran BUMN. “Dari catatan saya utang BUMN karya rata-rata naik hampir lima kali lipat atau 47 persen per tahunnya dari periode 2014-2018,” katanya.

Wijaya Karya sendiri tercatat memiliki total liabilitas sebesar Rp41,83 triliun pada semester I 2019. Jumlah kewajiban Wijaya Karya konsisten tumbuh tiap tahunnya.

Pada 2015, liabilitas Wijaya Karya tercatat sebesar Rp14,16 triliun, lalu naik tipis menjadi Rp14,6 triliun di tahun 2016. Utang Wijaya Karya makin meroket hingga Rp31,05 triliun di 2017 dan Rp42,01 triliun tahun lalu.

Meskipun utang naik, Alfred bilang pasar tak perlu khawatir. Pasalnya, kenaikan utang itu disertai dengan kenaikan profitabilitas. Dibandingkan dengan BUMN karya lain, kinerja Wijaya Karya terpantau paling moncer.

Kontraktor proyek Tol Balikpapan-Samarinda ini mengantongi kenaikan laba bersih 72,23 persen secara tahunan dari Rp517,25 miliar menjadi Rp890,88 miliar. Akan tetapi, sambung dia, jika BUMN karya kembali menjalankan tanggung jawab pembangunan infrastruktur, ia menyarankan untuk mengurangi penggunaan liabilitas.

Pasalnya, dalam satu hingga dua tahun kemungkinan akan ada tekanan perlambatan ekonomi, sehingga meningkatkan risiko utang.

“Sekarang posisinya belum ada masalah karena utang diikuti kemampuan menghasilkan laba. Hanya saja ke depan kalau tetap ingin ekspansi lebih baik kurangi porsi penggunaan utang dan perbesar porsi ekuitas seperti Penanaman Modal Negara (PMN),” katanya.

Sementara itu, Lucky merekomendasikan saham-saham sektor tambang di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia. Pada Jumat (18/10), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) terpantau naik US$0,57 menjadi US$53,93 per barel dan Brent menguat US$0,49 ke level US$59,91 per barel.

“Penguatan harga minyak akan mendorong harga komoditas lainnya seperti nike, batu bara, baja, dan timah,” katanya.

Atas pertimbangan itu, ia merekomendasikan beli untuk saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Menariknya, Alfred mengatakan pelaku pasar bisa mencermati saham-saham emiten yang memiliki afiliasi dengan nama-nama yang santer disebutkan sebagai calon menteri Jokowi-Ma’ruf. Ia menyarankan pelaku pasar menanti pengumuman resmi susunan kabinet yang rencana akan disampaikan Jokowi pada Senin (21/10) pagi.

“Dengan posisi menteri, akan ada nilai tambah yang lebih bagus pada perusahaan walaupun ini masih sebatas ekspektasi dan persepsi,” tuturnya.

Namun demikian, sentimen positif itu hanya bersifat jangka pendek. Artinya, jika afiliasi dengan menteri nantinya tak terimplementasi pada kinerja keuangan emiten, maka sentimen tersebut hanya sebatas euforia. Pelaku pasar, kata dia, diminta untuk mempertimbangkan kepemilikan sahamnya pada emiten tersebut. Sebaliknya, jika pengaruh afiliasi emiten dengan menteri cukup kuat hingga mendongkrak kinerja, maka pelaku pasar bisa berinvestasi lebih lama.

“Jadi harus menunggu kabinet, tapi ada potensi positif menteri yang memiliki afiliasi dengan emiten,” katanya.

Advertisement

Keuangan

Bank Muamalat Perlu Diselamatkan Segera, Ada Apa?

Published

on

By

Upaya penyelamatan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk tampaknya sedang menjadi fokus banyak pihak. Sejak 2015, bank syariah pertama di Indonesia ini dirundung masalah kekurangan modal.

Penyebabnya, pemegang saham lama enggan menyuntikkan dana segar. Puncaknya terjadi pada 2017.

Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) turun menjadi 11,58%. Angka itu masih dalam batas aman namun dalam konsesi Basel III untuk CAR minimal 12% guna menyerap risiko countercyclical.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa Countercyclical Buffer adalah tambahan modal yang berfungsi sebagai penyangga (buffer) untuk mengantisipasi kerugian apabila terjadi pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan yang berlebihan sehingga berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.

Kinerja Bank Muamalat tergerus lonjakan pembiayaan bermasalah (non-performing finance/NPF). NPF bank syariah itu sempat di atas 5%, lebih tinggi dari batas maksimal ketentuan regulator.

Data terakhir, laba bersih Bank Muamalat hanya tersisa Rp 6,57 miliar pada periode Januari-Agustus 2019.

Laba bersih itu anjlok 94,07% dibandingkan dengan periode yang sama setahun lalu yang tercatat Rp 110,9 miliar.

Berdasarkan publikasi laporan bulanan, pendapatan setelah distribusi bagi hasil Bank Muamalat pada periode itu tercatat Rp 415,57 miliar, turun dibandingkan setahun lalu Rp 857,27 miliar.

Bank Muamalat mencatatkan pendapatan operasional lainnya sebesar Rp 698,85 miliar yang didominasi oleh pemulihan atas cadangan kerugian penurunan nilai.

Sementara itu, beban operasional lainnya mencapai Rp 1,08 triliun, yang didominasi oleh beban tenaga kerja dan beban lainnya.

Beberapa kali dilakukan upaya penyelamatan, dengan cara menambah modal melalui rights issue dengan mengundang investor baru maupun sekuritisasi kredit milik Bank Muamalat. Namun upaya-upaya tersebut tampaknya mentok dan belum bisa jadi solusi.

Bahkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) digadang-gadang akan menjadi penyelamat bank ini. Terakhir PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang disebut akan bekerjasama melakukan penyehatan Bank Muamalat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK Heru Kristiyana membenarkan bahwa rencana tersebut masih berlangsung. Pada waktunya, OJK akan menyampaikan hal tersebut secara rinci bila sudah ada kepastian.

“Nah itu nanti kita ngomong, karena itu lagi berlangsung. Kalau saya ngomong nanti mereka pada lari,” ujar Heru di Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Menurutnya, OJK akan terus mengawasi dan mengevaluasi seluruh proses penyelamatan Bank Muamalat yang sedang berlangsung.

“Nanti kita lihat, kita lagi evaluasi itu. Supaya nanti semuanya bisa bertanggung jawab. Kalau semuanya masih berjalan, saya gak mau ngomong duluan di muka. Nanti malah investor lari kalau namanya disebut,” ujar Heru.

Isu uji tuntas suntikan modal ke Bank Muamalat oleh Bank BUMN beredar setelah ada riset dari sebuah sekuritas swasta pada awal Oktober lalu. Riset tersebut menyatakan bahwa ada bank BUMN yang mengonfirmasi untuk melakukan due diligence dalam rangka suntikan modal ke Bank Muamalat.

Meski kemudian dibantah oleh seluruh bank BUMN termasuk Bank Mandiri, namun isu tersebut kembali menguat setelah manajemen Bank Muamalat bertemu dengan Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada pekan lalu. Dikabarkan, ada pejabat bank BUMN yang ikut dalam pertemuan tersebut.

Kementerian BUMN mengakui telah mengadakan diskusi dengan OJK untuk membicarakan misi penyelamatan Muamalat. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan meski sudah diadakan diskusi dengan pihak BUMN, namun hingga saat ini kepastian masih berada di tangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Diskusi ada, tapi kan koridornya kalau bank yang tengah proses perbaikan dari masalah prosesnya, opsinya dari OJK. Kita lihatnya ada UU OJK dan UU PPKSK (UU Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan) ada opsi-opsinya, sesuai koridor kita tunggu OJK seperti apa tindakannya. Kita diajak diskusi beberapa kali, ada opsi-opsi tapi kan bukan ranah kita menyampaikan opsi-opsinya,” kata Kartika di Kawasan Sarinah, Jakarta, Senin (11/11/2019) malam.

Menurut dia, bank-bank pelat merah dinilai hanya bisa membantu dari segi bisnis saja, sedangkan untuk melakukan penyelamatan dinilai bukan menjadi kewenangannya.

“Di UU ada opsi-opsi penanganan bank. Dipilih dulu opsinya mau apa. Bank Himbara [bank-bank BUMN] itu kalau untuk bisnis murni itu kan bisa untuk melakukan investasi. Tapi kan kalau misalnya untuk penyelematan, kita bukan entitas yang berwenang. Kalau bisnis murni baru kita bisa masuk,” tegasnya.

Erick Bantah
Namun Menteri BUMN Erick Thohir membantah isu BUMN akan menyelamatkan Mulamalat. Pasalnya, Bank Muamalat merupakan bank swasta dan dimiliki investor asing.

“Bukan saya, itu kan enggak ada hubungannya sama BUMN. Bank Muamalat kan bukan BUMN,” tegas Erick di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Pernyataan tersebut membantah informasi yang beredar di pasar bahwa bank BUMN akan menyelamatkan Bank Muamalat. Setidaknya ada dua riset dari sekuritas yang membahas hal tersebut.

Saking gentingnya, Bank Muamalat juga bekerjasama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk mencari investor baru.

Chief Executive Officer Bank Muamalat Achmad K. Permana mengatakan, BKPM merupakan pintu gerbang investasi baik dari dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, Bank Muamalat mengajak BKPM berkolaborasi agar terjalin pertukaran informasi terkait peluang investasi yang potensial.

“Tujuan dari kerja sama ini adalah untuk meningkatkan penanaman modal dan promosi hubungan ekonomi antara Indonesia dan negara lain, khususnya dengan Malaysia di mana kami memiliki full branch di sana,” kata Achmad.

cnbcindonesia.com

Continue Reading

Keuangan

Ekonomi Triwulan III-2019, Ekonomi RI Tumbuh 5,02%

Published

on

By

Foto: Lidya Kembaren

Finroll.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi triwulan III-2019. BPS melaporkan Ekonomi RI tumbuh 5,02% di triwulan III-2019.

Hal tersebut disampaikan Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Selasa (5/11/2019).

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekonomi sepanjang Juli-September tumbuh 5,02% secara tahunan, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 5,05%.

Ekonomi Indonesia tumbuh 3,06% dari triwulan II-2019. Ekonomi Indonesia sejak triwulan I hingga triwulan III-2019 mencapai 5,04%.

BACA JUGA : 

Foto: Lidya Kembaren

Continue Reading

Keuangan

Rupiah Menguat ke Rp 14.005/US$ Pukul 13:00 WIB

Published

on

By

Ilustrasi Rupiah (REUTERS/Thomas White)

Finroll.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Namun dolar AS masih bertahan di kisaran Rp 14.000.

Hari ini, Selasa (4/11/2019) pukul 13:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.005. Rupiah menguat 0,04% dibandingkan posisi penutupan perdagangan kemarin.

BACA JUGA : 

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 12:34 WIB:

Periode Kurs
1 Pekan Rp 14.010,5
1 Bulan Rp 14.041
2 Bulan Rp 14.082,5
3 Bulan Rp 14.126
6 Bulan Rp 14.276
9 Bulan Rp 14.431
1 Tahun Rp 14.601
2 Tahun Rp 15.323,1

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pukul 11:41 WIB:

Periode Kurs
1 Bulan Rp 14.020
3 Bulan Rp 14.110

Berikut kurs dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 12:34 WIB:

Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI Rp 13.940 Rp 14.120
Bank BRI Rp 13.995 Rp 14.065
Bank Mandiri Rp 13.875 Rp 14.125
Bank BTN Rp 13.970 Rp 14.120
Bank BCA Rp 13.964 Rp 14.062
CIMB Niaga Rp 13.770 Rp 14.270
Bank Panin Rp 13.996 Rp 14.025
Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending