Connect with us
[adrotate group="1"]

Keuangan

Pembukaan Pasar Awal Pekan, Rupiah Stagnan di Posisi Rp 14.445

Published

on


Pembukaan Pasar Awal Pekan, Rupiah Stagnan di Posisi Rp 14.445

Finroll.com – Di perdagangan pasar spot hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sudah tidak melemah. Namun bukan berarti rupiah sudah menguat.

Pada Senin, 20 Mei 2019, US$ 1 ditransaksikan Rp 14.445 kala pembukaan pasar spot. Sama seperti posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu alias stagnan.

Sepanjang minggu kemarin, rupiah melemah 0,87% di hadapan dolar AS, dilansir CNBC Indonesia.

Pelemahan yang sudah lumayan dalam tersebut membuat tren pelemahan rupiah terhenti, karena investor kemungkinan kembali melirik mata uang Tanah Air yang sudah murah.

Apalagi secara year-to-date rupiah sudah melemah 0,49%. Sementara secara year-on-year, depresiasi rupiah mencapai 1,87%.

Selain itu, sepertinya pelemahan rupiah juga tertahan oleh intervensi yang dilakukan oleh Bannk Indonesia (BI).

Pekan lalu, bank sentral melakukan stabilisasi pasar secara masif sehingga depresiasi rupiah bisa ditahan di bawah 1%.

Intervensi BI terlihat mampu menjaga rupiah tidak sampai melemah seperti mayoritas mata uang utama Asia lainnya.

Ya, pagi ini sebagian besar mata uang utama Benua Kuning terdepresiasi di hadapan dolar AS, mulai dari yen Jepang, rupee India, ringgit Malaysia, sampai yuan China.

Jika Voltron adalah penjaga alam semesta (defender of the universe), maka BI adalah penjaga rupiah. Sejauh ini, Gubernur Perry Warjiyo dan kolega melakukan tugasnya dengan baik.

Hari Ini Tak Akan Mudah Buat BI

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi gerak rupiah hari ini. Pertama adalah perkembangan harga minyak dunia.

Pada pukul 08:21 WIB, harga minyak jenis brent melesat 1,45% sementara light sweet melejit 1,37%.

Tensi geopolitik Timur Tengah yang memanas membuat harga minyak bergerak naik.

Gontok-gontokan Arab Saudi cs versus Iran belum mereda, di mana masing-masing pihak sudah siap jika sampai terjadi konflik bersenjata alias perang.

“Kerajaan Arab Saudi tidak ingin ada perang di kawasan ini, dan tidak ingin mencari perang. Kami akan melakukan sebisa mungkin untuk mencegah perang. Namun pada saat yang sama, Kerajaan akan merespons dengan segenap kekuatan serta melindungi diri dan kepentingannya,” jelas Adel Al Jubeir, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, dikutip dari Reuters.

Pernyataan senada dikemukakan oleh Teheran. Mayor Jenderal Hossein Salami, Komandan Korps Penjaga Revolusi Islam Iran, menegaskan pihaknya tidak mencari perang tetapi tidak takut kalau itu sampai terjadi (amit-amit).

Ketegangan di Timur Tengah dikhawatirkan bisa mempengaruhi harga minyak. Konflik (kalau berkepanjangan) bisa membuat pasokan si emas hitam dari kawasan tersebut terhambat.

Timur Tengah adalah daerah penghasil minyak terbesar di dunia, sehingga saat pasokan dari sana berkurang maka harga bisa naik cukup signifikan.

Jika tren ini berlanjut, maka bisa menjadi alamat jelek buat rupiah. Pasalnya, kenaikan harga minyak akan membuat biaya impor komoditas ini semakin mahal.

Padahal Indonesia mau tidak mau harus mengimpor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri karena produksi yang belum juga memadai.

Artinya, akan ada tekanan bagi neraca perdagangan dan transaksi berjalan. Ini bukan berita baik buat rupiah dan aset-aset berbasis mata uang Tanah Air.

Kedua, investor sepertinya masih wait and see jelang pengumuman hasil Pemilu 2019 pada 22 Mei mendatang. Semakin dekat ke Hari H, situasi bukannya tenang tetapi malah semakin gaduh.

Kubu pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terus menyuarakan dalam Pemilu sehingga hasilnya tidak sah. Artinya, ada delegitimasi atas keputusan KPU.

Rencana aksi massa besar-besaran pada 22 Mei pun kian santer terdengar. Bahkan kepolisian mengendus upaya teror yang akan menunggangi aksi tersebut.

Menuju 22 Mei, pelaku pasar sepertinya memilih untuk menunggu terlebih dulu. Ada kemungkinan investor menunda rencana masuk ke pasar keuangan Indonesia sebelum situasi agak tenang.

Dua sentimen tersebut menjadi tantangan bagi BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Bukan tugas yang ringan, dan tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Cadangan devisa menjadi taruhannya.

Keuangan

Rabu 22 Juli, Rupiah Unjuk Gigi ke Rp 14.607

Published

on

Finroll – Jakarta, Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.607 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (22/7) pagi. Mata uang Garuda menguat 0,91 persen dari Rp14.741 pada hari sebelumnya.

Rupiah menguat bersama mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan menguat 0,34 persen, peso Filipina 0,14 persen, baht Thailand 0,16 persen, ringgit Malaysia 0,16 persen, yen Jepang 0,03 persen, dan yuan China 0,19 persen.

Hal yang sama juga terjadi pada mayoritas mata uang di negara maju. Tercatat, dolar Kanada menguat 0,07 persen, dolar Australia 0,13 persen, euro Eropa 0,1 persen, dan franc Swiss 0,11 persen.

Sementara, rubel Rusia minus 0,02 persen dan poundsterling Inggris minus 0,05 persen.

Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong memprediksi rupiah kembali menguat hari ini. Optimisme pasar terhadap perkembangan vaksin virus corona memberikan sentimen positif bagi rupiah.

“Secara fundamental, rupiah berpotensi menguat dengan optimisme pasar terhadap vaksin virus corona serta pelemahan mata uang AS,” ungkap Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Ia optimistis rupiah tetap bergerak di bawah Rp15 ribu per dolar AS hingga sore nanti. Tepatnya, Lukman memproyeksi rupiah berada dalam rentang support Rp14.600-Rp14.700 per dolar AS dan resistance Rp14.900 per dolar AS.

“Saya kira rupiah akan berkonsolidasi di bawah Rp15 ribu per dolar AS,” imbuh Lukman.

Sebagai informasi, PT Bio Farma (Persero) akan melakukan uji klinis tahap ketiga pada vaksin virus corona. Tahapan uji klinis itu dijadwalkan mulai Agustus 2020 dan berjalan selama enam bulan.

Jika sesuai target, uji klinis tahap ketiga akan selesai pada Januari 2021. Kemudian, Bio Farma akan mulai memproduksi vaksin tersebut pada kuartal I 2021.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Keuangan

Pupuk Indonesia Rilis Surat Utang Rp2,5 T

Published

on

By

Pupuk Indonesia menerbitkan surat utang Rp2,5 triliun untuk refinancing obligasi di Petrokimia Gresik. Selain itu, surat tang juga dirilis untuk modal kerja. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino).

Finroll.com, Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) menerbitkan surat utang (obligasi) senilai Rp2,5 triliun. Penerbitan melalui Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) obligasi berkelanjutan II tahap I 2020, yang merupakan bagian dari PUB II senilai Rp8 triliun.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat mengatakan tujuan penerbitan surat utang untuk refinancing atau pembiayaan utang kembali, baik utang induk maupun entitas anak. Namun, ia tidak merincikan total refinancing tersebut.

“Dana ini digunakan untuk refinancing obligasi di Petrokimia Gresik, untuk menutup sebagian kredit investasi dan Pupuk Iskandar Muda terkait dengan modal kerja,” ujarnya dalam paparan virtual, Senin (20/7).

Perseroan menerbitkan obligasi dalam tiga seri. Pertama, seri A memiliki tenor 3 tahun dengan kupon 6,25 persen-7,5 persen. Kedua, seri B memiliki tenor 5 tahun dengan kupon 7 persen-8,3 persen.

Ketiga, seri C memiliki tenor 7 tahun dengan kupon 7,5 persen-8,75 persen. Sementara itu, pembayaran bunga dilakukan setiap kuartal.

Aas menuturkan perseroan berharap kupon dalam obligasi ini lebih murah, sehingga perusahaan pelat merah itu bisa melakukan efisiensi pembiayaan.

“Kami harapkan bunga yang diperoleh di sini relatif lebih murah, sehingga kami ada efisiensi dalam pembayaran bunga di Pupuk Indonesia Group,” katanya.

Masa penawaran awal obligasi berlangsung pada 16-30 Juli 2020. Sedangkan penawaran umum dijadwalkan pada 14-18 Agustus 2020.

Dalam hajatan ini, perseroan menunjuk PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai Joint Lead Underwriters (JLU). Semantara itu, PT Bank Mega Tbk bertindak sebagai wali amanat.

Obligasi berkelanjutan Pupuk Indonesia mendapat peringkat AAA dari PT Fitch Ratings Indonesia.

Kinerja Kinclong

Selama masa pandemi Covid-19, Aas mengklaim Pupuk Indonesia tetap membukukan kinerja yang baik. Bahkan, cenderung mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kalau kita lihat performa produksi, penjualan, dan laba ini terpengaruhnya tidak terlalu besar. Performa penjualan, produksi, dan laba Januari-Mei 2020 dibandingkan 2019 periode yang sama ini relatif lebih bagus,” ucapnya.

Data perseroan menyebutkan, penjualan pupuk PSO pada Januari-Mei 2020 sebesar 3,93 juta ton. Sedangkan volume penjualan pupuk komersil melonjak 47,45 persen dari 1,37 juta ton pada periode yang sama tahun lalu, menjadi 2,01 juta ton.

Secara pendapatan, penjualan pupuk komersial meningkat 38,35 persen Rp5,45 triliun menjadi Rp7,54 triliun dari. Sementara itu, laba tahun berjalan tumbuh 11,7 persen dari Rp1,43 triliun menjadi Rp1,6 triliun dari triliun.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Keuangan

Rupiah Melemah Tipis ke Rp14.453 per Dolar AS

Published

on

Finroll – Jakarta, Nilai tukar rupiah berada di level Rp14.453 per dolar AS pada Rabu (15/7) pagi. Posisi tersebut melemah 0,02 persen dibandingkan perdagangan Selasa (14/7) sore di level Rp14.450 per dolar AS.

Pagi ini, mata uang di kawasan Asia terpantau terpantau menguat terhadap dolar AS. Dolar Taiwan menguat 0,23 persen, dolar Singapura menguat 0,09 persen, won Korea Selatan menguat 0,42 persen, peso Filipina menguat 0,17 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,17 persen. Sementara, Yen Jepang terkoreksi 0,01 persen.

Hal yang sama juga terjadi pada mayoritas mata uang di negara maju yang terlihat perkasa terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,2 persen, dolar Kanada menguat 0,15 persen, dolar Australia menguat 0,42 persen. Namun, franc Swiss terpantau minus 0,03 persen.

Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan rupiah berpotensi melaju di zona hijau hari ini. Pasar merespons positif perkembangan penelitian vaksin virus corona.

“Perusahaan Bioteknologi AS, Moderna, melaporkan hasil pengujian vaksin yang sukses memproduksi antibodi di tubuh manusia subjek penelitian. Vaksin merupakan solusi untuk menghentikan penyebaran virus corona,” ungkap Ariston kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/7).

Selain vaksin, pasar juga akan memperhatikan data neraca perdagangan Indonesia periode Juni 2020. Data itu akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pukul 11.00 WIB.

“Pasar akan memperhatikan data neraca perdagangan Juni 2020 yang diperkirakan surplus. Hasil yang surplus bisa mendukung penguatan nilai tukar rupiah,” terang Ariston.

Untuk itu, ia optimistis rupiah terus menguat hingga sore ini. Ariston memproyeksi rupiah bergerak dalam rentang support Rp14.350 per dolar AS dan resistance Rp14.500 per dolar AS.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending