Connect with us

Keuangan

Pemerintah Masih Berupaya Cari Solusi Kendalikan Defisit CAD

Published

on


Pemerintah Masih Berupaya Cari Solusi Kendalikan Defisit CAD

Finroll.com – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Salah satu hal yang menjadi perhatian pemerintah saat ini disebut Perry adalah memperbaiki neraca perdagangan yang defisit. Beberapa langkah yang diambil yakni mendorong ekspor dan meningkatkan investasi asing ke Indonesia.

“Yang jadi fokus stabilitas eksternal. Itu gimana terus mengendalikan CAD (Current Account Defisit) dan menaikkan surplus dari neraca modal. Kita masih negatif,” ujar Perry dalam acara CNBC Economic Outlook 2018 di Hotel Westin Jakarta, Kamis (28/2).

Ia menegaskan, upaya menekan defisit neraca perdagangan harus dilakukan pada beberapa sektor. Mulai dari ekspor produk otomotif hingga pariwisata.

Baca Lainnya: Defisit Neraca Perdagangan RI Tahun Ini Disebut Jadi “Sejarah Baru”

“Menurunkan CAD, dorong ekspor otomotif, elektronik, garmen, dan juga aset-aset, bagaimana dorong pariwisata dan memperkuat industri dalam negeri. Bagaimana naikkan FDI (Foreign Direct Investment),” paparnya.

Untuk memperkuat hal itu, Perry menyebut BI sudah memiliki “jamu khusus”. Beberapa diantaranya adalah pendanaan makro sampai ekonomi keuangan syariah.

“Dalam konteks kebijakan internasional, bagaimana arah kebijakan BI? Kami itu punya 5 instrumen, ada jamu,” imbuhnya.

“Kebijakan pendanaan makro prudential dan ekonomi keuangan syariah. Dari 5 jamu harus mengalahkan kebijakan moneter untuk perkuat stabilitas eksternal,” tandasnya.

Sumber: Detik Finance

Business

Rupiah Lemas ke Rp13.873 Karna Virus Corona

Published

on

By

Finroll – Jakarta,  Nilai tukar rupiah melemah ke Rp13.873 per dolar AS atau sebesar 0,01 persen pada perdagangan pasar spot, Selasa (25/2) pagi. Sebelumnya, mata uang rupiah berada di Rp13.872 per dolar AS pada penutupan pasar, Senin (24/2).

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar AS. Terpantau, won Korea menguat 0,66 persen, dolar Singapura 0,19 persen, dan dolar Taiwan 0,18 persen.

Selanjutnya, ringgit Malaysia juga menguat 0,18 persen, diikuti baht Thailand 0,16 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen. Di sisi lain, pelemahan terjadi pada yen Jepang sebesar 0,23 persen, peso Filipina 0,18 persen, yuan China 0,04 persen, serta lira Turki 0,03 persen.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar juga melemah terhadap dolar AS. poundsterling Inggris dan euro sama-sama melemah dengan nilai 0,03 persen. Sementara, dolar Australia menguat 0,14 persen, dan dolar Kanada di posisi stagnan terhadap dolar AS.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai pelemahan rupiah masih disebabkan oleh sentimen negatif wabah virus corona.

“Sepekan terakhir, kekhawatiran pasar kembali meningkat karena penyebaran virus corona menunjukkan kenaikan di beberapa lokasi atau negara di luar pusat wabah, provinsi Hubei China, seperti di Korea, Jepang, Iran, Italia,” ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (25/2).

Menurut Ariston, kekhawatiran tersebut mendorong pasar masuk ke aset safe haven, seperti emas dan obligasi pemerintah AS, sehingga harga emas melejit dan terus naik.

Selain itu, yield obligasi pemerintah AS yang tenor 10 tahun terus turun ke area 1,47 persen setelah sebelumnya berkonsolidasi di kisaran 1,6 persen juga turut menjadi sentimen negatif.

“Harga aset berisiko bisa lanjut tertekan, termasuk rupiah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ariston berpendapat rupiah bergerak di kisaran Rp13.760 hingga Rp13.900 per dolar AS pada hari ini.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Pada Jumat Pagi Ini Rupiah Terkerek ke Rp13.730 per Dolar AS

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Nilai tukar rupiah menguat ke Rp13.730 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Jumat (21/2) pagi. Posisi rupiah menguat 0,15 persen pada penutupan pasar Kamis (20/2).

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia melemah terhadap dolar AS. Terpantau, won Korea melemah 0,5 persen, yuan China 0,35 persen, dan bath Thailand 0,29 persen.

Selanjutnya, ringgit Malaysia keok 0,19 persen, rupee India 0,14 persen, peso Filipina 0,8 persen, dan dolar Hong Kong 0,07 persen.

Sementara, penguatan terhadap dolar AS terjadi pada dolar Singapura 0,06 persen dan yen Jepang 0,04 persen.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia menguat 0,09 persen, euro 0,08 persen, dolar Canada 0,06 persen, dan poundsterling Inggris 0,03 persen.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai rupiah berpeluang melemah pada perdagangan hari ini. Sebab, pasar kembali mengkhawatirkan soal penyebaran virus corona yang meningkat di beberapa negara, termasuk China di luar Provinsi Hubei, serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global.

“Kekhawatiran ini berpotensi menekan rupiah hari Jumat ini dan mungkin bisa menahan rupiah di atas Rp13.700 per dolar AS,” Jumat (21/2).

Sepanjang hari, Ariston memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp13.700 hingga Rp13.780 per dolar AS.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Keuangan

Digempur Pasukan Asia, Dolar AS Ambruk Parah!

Published

on

Jakarta, FINROLL — Nilai tukar dolar AS bergerak penuh tekanan pada perdagangan spot, Rabu (12/02/2020). Wabah virus corona yang kian meburuk menjadi amunisi utama bagi mata uang global untuk menekan dolar AS, termasuk di antaranya dolar Australia, poundsterling, dolar Kanada, dolar New Zealand, dan franc.

Baca Juga: Emas Dunia Bersinar Terang, Bye-Bye Dolar AS Sayang!

Ikut memanfaatkan momen, sebagian besar mata uang Benua Kuning juga ikut menyerang dan membuat mata uang Paman Sam ambruk signifikan, misalnya dolar Taiwan, baht, dolar Singapura, won, dolar Hong Kong, yuan, dan rupiah. Hanyalah yen yang saat ini enggan masuk dalam pasukan.

Asal tahu saja, kala pembukaan pasar spot pagi tadi, rupiah mampu mengukir apresiasi 0,15% ke level Rp13.665 per dolar AS. Kendati mulai menipis, hingga pukul 09.57 WIB, rupiah masih unggul 0,07% ke level Rp13.655 per dolar AS. Mata uang Garuda itu juga terpantau menguat terhadap euro sebesar 0,09%, namun terkoreksi -0,23% terhadap dolar Australia dan -0,02% terhadap poundsterling.

Pergerakan rupiah di Asia variatif dengan kecenderungan menguat. Sang Garuda perkasa terhadap yen (0,19%), ringgit (0,18%), dolar Hong Kong (0,06%), yuan (0,05%), dan dolar Singapura (0,02%), namun melemah terhadap dolar Taiwan (-0,18%), won (-0,17%), dan baht (-0,14%).

Sumber Berita : Wartaekonomi.co.id

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending