Connect with us

Komoditi

Pemerintah Resmi Hentikan Ekspor Bijih Mineral

Published

on


  1. Finroll.com — Pemerintah resmi menghentikan ekspor bijih mineral. Implementasi kebijakan ini lebih cepat dari ketentuan larangan ekspor yang sebelumnya baru akan diterapkan mulai 1 Januari 2020.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, “Mulai hari ini sudah disepakati tidak ada lagi ekspor ore. Ini berlaku mulai besok, malam ini mereka (pengusaha ore) pulang dan tinggal perintahkan kapal mereka untuk tidak perlu berangkat (untuk mengekspor ore ke luar negeri),” ucap Bahlil.

Bahlil mengatakan keputusan ini sengaja diambil pemerintah dalam bentuk kesepakatan yang dihasilkan dari proses diskusi dengan para pengusaha mineral. Bersamaan dengan bentuk kesepakatan itu, pemerintah tidak merilis aturan baru yang menyatakan perubahan ketentuan larangan sekaligus penghentian ekspor ore.

Artinya, larangan ekspor ore tetap mengikuti dasar hukum berupa Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Kemudian, Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2014 tentang Kriteria Peningkatan Nilai Tambah juga tetap berlaku.

“Pemberlakuan bukan atas surat negara atau aturan kementerian teknis, tapi kesepakatan bersama antara pemerintah dan pengusaha nikel. Ini lahir dalam hal yang bijak karena sayang dengan negara untuk memberi nilai tambah,” tuturnya yang dilansir dari CNN Indonesia, Senin (28/10/2019).

Keputusan ini juga dibarengi dengan kesepakatan bahwa pengusaha mineral akan mendapat kepastian pembelian ore di dalam negeri oleh para pengusaha yang sudah memiliki fasilitas pemurnian mineral alias smelter. Bahlil mencatat setidaknya ada 14 smelter yang siap menyerap berapa pun volume ore saat ini agar tidak dijual ke luar negeri.

Sayangnya, ia tidak memegang data pasti mengenai volume ore yang semula harus diekspor pengusaha mineral ke luar negeri dan nantinya dialihkan ke smelter di dalam negeri. “Ini bukan masalah jumlahnya, tapi ada kepastian bahwa yang semula ekspor bisa ditampung atau tidak. Iya bisa ditampung,” tekannya.

Bahkan, sambung Bahlil, kesepakatan turut menjamin bahwa ore yang semula harusnya diekspor ke luar negeri dan dialih ke smelter di Tanah Air akan dibeli dengan harga yang sama ketika pengusaha mengekspornya. Ore akan dibeli sesuai dengan ketentuan harga acuan di pasar internasional yang berbasis di China.

Selain itu, pembelian ore juga akan dikurangi pungutan pajak dan biaya transit, sehingga harga jual yang didapat pengusaha ore dipastikan jauh lebih menguntungkan ketika mengalihkan ekspor ke smelter nasional.

Tak hanya itu, Bahlil turut menjamin proses surveyor dalam rangka mengukur kadar oreakan dilakukan dengan adil dan terbuka.

“Agar tidak ada dusta di antara kita,” celetuknya.

Kemudian, pemerintah akan turut memediasi soal sistem pembayaran antara pengusaha ore dengan pengusaha smelter yang membeli ore yang dialihkan itu. “Kami berusaha menjaga semua, sehingga ke depan negara akan lebih baik dan investasi ada kepastian,” katanya.

Di sisi lain, Bahlil menekankan percepatan larangan sekaligus penghentian ekspor ini dalam rangka meningkatkan industri hilirisasi nasional. Selain itu, guna memberikan keuntungan yang lebih besar bagi pengusaha dan negara.

Sebab, bila ore dihilirisasi, maka nilai jualnya akan meningkat dari kisaran US$45 per ton menjadi hampir US$2.000 per ton. Dengan begitu, kantong pengusaha akan lebih tebal, namun kekayaan alam Indonesia tidak terjual dengan harga murah.

“Berapa ratus kali lipat keuntungan dan pajak yang bisa didapat nanti? Berapa negara yang nanti akan tergantung dengan kita?” tuturnya.

Selain itu, ia menekankan sekalipun tidak ada produk hukum baru, namun keputusan ini tidak akan mengganggu iklim investasi di Indonesia. Khususnya untuk pengembangan industri mineral.

Pasalnya, pemerintah mengutamakan hilirisasi guna mendongkrak nilai tambah. Ia pun mengaku tak ambil pusing dengan perjanjian kontrak bisnis antara pengusaha mineral nasional dengan pihak luar negeri. Misalnya, kelanjutan PT Aneka Tambang Tbk alias Antam, yang merupakan salah satu pemain di industri ini.

“Bisnis itu negosiasi, fleksibel. Saya yakin Antam punya 1.001 cara agar tidak kena penalti (karena mengubah ketentuan ekspor). Jadi tidak harus semua kaku, bisnis itu dinamis, apalagi Antam BUMN, masa Antam tidak cinta negaranya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan segera mengumumkan keputusan akhir tentang larangan ekspor bijih mineral. Pemerintah disebut-sebut bakal mempercepat pelaksanaan kebijakan dari rencana awal yang tercantum dalam aturan yakni pada 2022 mendatang.

Menurutnya, percepatan larangan ekspor bijih mineral ini demi menarik investasi smelter di dalam negeri. Ia juga memastikan industri smelter dapat menyerap komoditas tersebut.

“Kami perlu menarik investor sebanyak mungkin,” imbuh Luhut.

Namun, wacana percepatan itu saja setidaknya sudah membuat khawatir pelaku industri mineral. Salah satunya dari Asosiasi Pertambangan Nikel Indonesia (APNI).

Sekretaris Jenderal APNI Meidy Katrin Lengkey menilai percepatan larangan ekspor bijih nikel itu akan menimbulkan kerugian bagi pelaku usaha pertambangan. Menurut dia, ketidakpastian pemerintah dalam menetapkan kebijakan akan mematikan aliran investasi di sektor pertambangan.

Dia mencontohkan, pemerintah mewajibkan pelaku usaha pertambangan membangun smelter sebagai sarana mengolah bahan baku mineral. Dengan perubahan kebijakan, menurut dia, rencana kinerja perusahaan tambang kembali berubah, termasuk soal investasi pembangunan smelter. Pada akhirnya, devisa yang masuk ke Indonesia akan hilang.

“(Kewajiban) harus membangun smelter itu kami lakukan. 31 perusahaan sudah ada proses pembangunan. Apakah bisa dipikirkan yang lagi bangun dihentikan? (aturannya) 5 tahun sejak diterbitkan. Kalau dihentikan banyak investasi yang mati, devisa hilang,” ujar Meidy.

Meidy mengklaim larangan ekspor bijih nikel akan menyebabkan devisa hilang mencapai US$97 juta. Di sisi lain, progres pembangunan smelter belum signifikan.

Tak hanya kehilangan devisa, lanjut dia, percepatan larangan ekspor nikel ini juga akan menghilangkan lapangan kerja. Aktivitas dalam satu smelter paling tidak membutuhkan 500 tenaga kerja.(red)

Advertisement

Komoditi

Harga Emas Naik, Ketakutan Virus Kembali Meningkat

Published

on

By

FINROLL.com – Harga emas mencapai level tertinggi dalam 10 hari pada Jumat (14/02) pagi lantaran buyer kembali berpindah hati ke logam kuning di tengah laporan lonjakan baru jumlah kematian dan infeksi epidemi virus Covid-19 di Cina.

Emas berjangka COMEX untuk penyerahan April di New York ditutup naik $7,70, atau sebesar 0,5%, di $1,575.10 per ons. Emas ini memuncak ke $1.581,35 sebelumnya, tingkat tertinggi sejak 3 Februari.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, naik $10,58, atau sebesar 0,7%, ke $1.575,91 pada pukul 02:30 PM ET (19:30 GMT).

Cina pada Kamis melaporkan lonjakan besar jumlah kematian dan infeksi dari virus baru setelah Provinsi Hubei, yang menderita serangan virus paling parah, menerapkan sistem klasifikasi baru yang memperluas cakupan diagnosa untuk wabah tersebut dan telah menyebar ke lebih dari 20 negara.

Korban tewas di Cina mencapai 1.367 orang, bertambah 254 orang dari hari sebelumnya. Jumlah kasus yang dikonfirmasi melonjak 15.152 menjadi 59.804. Peningkatan yang luar biasa besar ini disebabkan oleh perubahan metode diagnosa tim medis di Hubei.

Jepang melaporkan kematian pertamanya yakni seorang wanita berusia 80-an yang telah dirawat di rumah sakit sejak awal Februari. Korban tersebut merupakan kematian ketiga yang dikonfirmasi di luar Cina, setelah kematian di Filipina dan Hong Kong.

TD Securities mengatakan dalam catatan bahwa perdagangan emas yang terbatas baru-baru ini hampir seluruhnya dikaitkan dengan perkembangan virus Covid-19.

“Memang, kami yakin pembalikan arus safe haven ini, didorong oleh kekhawatiran bahwa virus Wuhan dapat mencemari kebijakan reflasi global, tampaknya menjadi kandidat (pendorong) yang jelas untuk pembalikan yang didorong oleh narasi,” katanya.

“Emas adalah perdagangan yang ramai, meskipun aliran kecil sehari-hari tampaknya didorong oleh perubahan sentimen risiko seiring kaitannya dengan permintaan safe haven.” (Investing)

Continue Reading

Komoditi

Kasus Virus Korona Bertambah Dorong Kenaikan Emas

Published

on

By

Jakarta, FINROLL — Emas menguat pada Kamis (13/02) pagi di tengah tanda-tanda aksi penghindaran risiko di pasar ekuitas. Tetapi tren positif pasar komoditas ini semakin ditantang oleh kurangnya faktor aksi pembelian besar.

Emas berjangka COMEX untuk penyerahan April di New York ditutup naik $1,50, atau sebesar 0,1%, di $1,571.60 per ons.

Emas spot, yang mencerminkan perdagangan langsung fisik emas, turun $1,30, atau sebesar 0,1%, di $1,566.12 pada pukul 2:38 PM ET (19:48 GMT).

S&P 500 berjangka saat ini turun 0,30% di 3,370.62. Indeks Nikkei Jepang juga melemah sebesar 0,10% di 23,854.50 menurut laporan yang dilansir FXStreet Kamis (13/02) pagi.

Sentimen aksi jual ini dapat dikaitkan dengan ketakutan terbaru virus covid-19 yang dipicu kenaikan kasus virus ini dalam jumlah besar di Cina.

Pemerintah Provinsi Hubei melaporkan 14.840 kasus baru sebelumnya hari ini – naik signifikan dari angka hari Rabu 1.638. Namun, peringatan kondisinya adalah bahwa jumlah sekarang itu termasuk pasien yang didiagnosis secara klinis – pasien yang memiliki gejala, tetapi belum diuji positif.

“Di antara semua insiden signifikan mulai dari potensi perang dengan Irak dan rapat dengar pendapat pemakzulan presiden AS, hingga pecahnya virus covid-19, pasar ini telah naik dan turun oleh tajuk berita utama dan masih belum berhasil menentukan arah yang jelas untuk jangka pendek hingga jangka menengah,” urai Eric Scoles, ahli strategi komoditas RJO Futures di Chicago.

“Ada posisi beli bersih yang besar dari trader emas yang telah membatasi reaksi kenaikan harga dan menciptakan risiko pembersihan posisi beli untuk waktu yang lama, tetapi ada juga banyak katalis potensial bagi banyak trader yang bersedia mengambil risiko posisi jual pada emas.”

Ketakutan terhadap virus korona, yang sekarang dikenal sebagai Covid-19, pada awalnya mendorong emas mendekati tingkat tertinggi tujuh tahun di Januari di atas $1.600 per ons. Tetapi dalam beberapa minggu terakhir, status logam kuning sebagai lindung nilai yang lebih disukai terhadap virus telah sedikit berkurang.

Cina mengatakan Rabu bahwa jumlah kasus baru virus covid-19 yang dikonfirmasi di dalam negeri telah menurun selama dua hari berturut-turut. Pada hari Rabu, Cina mencatatkan 1.114 kematian akibat penyakit ini. Satu-satunya kematian lainnya adalah di Filipina.

Tatkala penurunan tingkat infeksi di Cina ini dapat menunjukkan bahwa tindakan pengendalian tegas yang dilaksanakan oleh negara itu membantu, kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa masih mungkin bahwa banyak kasus yang bersembunyi tidak terdeteksi di seluruh dunia, sehingga wabah yang lebih lokal dapat muncul. Jika itu terjadi, apa yang masih dianggap sebagai epidemi Cina dapat tumbuh menjadi pandemi global.

“Investor mungkin akan melakukan bargain hunter (berburu di harga murah, red) pada emas segera jika kita melihat harga melemah,” ungkap George Gero, analis logam mulia RBC Wealth Management di New York.

Continue Reading

Komoditi

Gapmmi : Produksi Industri Mamin Bakal Terancam Karena Stok Gula Rafinasi Menipis

Published

on

Finroll.com — Adhi S Lukman selaku Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), menyebutkan stok Gula Kristal Rafinasi (GKR) sebagai bahan baku industri makanan dan minuman di Indonesia telah menipis dan sebagian telah habis.

Seperti di lansir dari Antara, ” Bahwa stok bahan baku (raw sugar) telah menipis dan sebagian telah habis,” kata Adhi dalam surat kepada Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, di Jakarta, Jumat (31/1/2020).

Pada surat tertanggal 16 Januari 2020 dan bernomor 007/DPP/GAPMMI/IX/2019 itu, Adhi menegaskan pihaknya mengkhawatirkan pasokan yang akan terhenti dengan habisnya stok bahan baku anggotanya.

Adhi memprediksikan bahwa pada semester I 2020 ini, khususnya mendekati bulan Ramadhan, tepatnya April 2020, akan terjadi peningkatan kebutuhan gula rafinasi.

Adhi tidak merinci posisi stok gula kristal rafinasi saat ini. Hanya saja, dia mengharapkan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dapat mempertimbangkan surat Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Nomor 007/AGRI/I/2020 tentang Penerbitan Persetujuan Impor Gula Mentah (raw sugar).

“Itu demi terjaganya ketersediaan pasokan bahan baku guna mencukupi kebutuhan industri makanan dan minuman anggota kami, terutama peningkatan produksi menjelang persiapan Lebaran,” katanya.

Sebelumnya, Adhi menyebut sedikitnya empat pabrik makanan dan minuman berhenti produksi karena kehabisan stok gula kristal rafinasi.
“Stok di pabrik, gula sudah habis. Hari ini sudah empat pabrik yang habis,” kata Adhi (21/1).

Kekurangan stok tersebut disebabkan belum adanya persetujuan impor (PI) gula mentah (raw sugar) untuk semester I tahun 2020. Padahal kuota impor bahan mentah sudah dikeluarkan dalam rapat koordinasi terbatas sebelumnya.

Kebutuhan gula kristal rafinasi industri makanan dan minuman pun mendesak seiring mendekati bulan puasa. Konsumsi yang meningkat pada bulan puasa membuat produksi harus bertambah.

“Kebutuhan semester I tahun ini sekitar 1,9 juta ton hingga 2 juta ton,” kata Adhi.

Saat ini penerbitan persetujuan impor masih dalam pembahasan bersama dengan Kementerian Perdagangan (Kemdag).

Diharapkan persetujuan impor segera keluar karena memerlukan waktu agar gula mentah yang diimpor bisa digunakan oleh industri.

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending