Connect with us

Batam

Pengacara Ungkap Saham PT. Taindo Citratama 100 Persen Milik Taher Ferdian

Published

on


Pengacara terdakwa Taher Ferdian Alias Lim Chong Peng, Supriyadi, SH, MH. membeberkan fakta baru atas dakwaan yang dialamatkan kepada kliennya. Ia menjelaskan, PT. Taindo Citratama ini sejak 2003 lalu sudah mati akta kepengurusannya, alias fakum. dan baru dilakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 2016 lalu.

Pasal 78 Undang-undang ini kata Supriyadi, huruf (1) menyebut RUPS terdiri atas RUPS tahunan dan RUPS lainnya, (2) RUPS tahunan wajib diadakan dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan setela tahun buku berakhir. Dalam RUPS tahunan, harus diajukan semua dokumen dari laporan tahunan Perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2). (4) RUPS lainnya dapat diadakan setiap waktu berdasarkan kebutuhan untuk kepentingan Perseroan.

“Artinya, jika mengikuti Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas ini tidak pernah ada RUPS selain 2016 itu. Itu pan ada, karena ada kuasa jual yang diberikan klien kami kepada Ludijanto Taslim sebagai saksi atau pelapor dalam perkara ini,” jelas Supriyadi.

Masih dengan Supriyadi. Katanya, Saham 100 persen PT. Taindo Citratama adalah milik Tahir. Bukan tanpa alasan. Supriyadi merincikan, selain rekan bisnis, antara kliennya dengan Ludijanto Taslim pelapor dalam perkara ini memiliki hubungan lain yakni hutang piutang. Yakni, Ludijanto Taslim memiliki hutang kepada Tahir.

“Sebenarnya, saham Perusahan itu 100 persen punya pak Tahir. Karena pak Tahir ini rekan pengen mengusahakan supaya jalan lagi perseroan. Ya sudah lah, saya kasih saham itu dipegang. Dalam perjalannya, pelapor meminjam uang pak Tahir. Digadai lagi. Diputar-putar aja gitu lah. Jadi penelaah kasusnya tak rumit. Jelas saham itu milik siapa?” jelas Supriyadi.

Dalam perkara bernomor 731/Pid.B/2019/PN Btm tersebut, kembali disidangkan oleh Pengadilan Negeri Batam Senin (21/10) pagi. Dipimpin Ketua Majelis Hakim Dwi Nuramanu. Didampingi anggota majelis hakim Taufik Nainggolan dan Yona Lamerossa Ketaren. Sementara jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri Batam dihadiri Rosmarlina Sembiring dan Samsul Sitinjak.

Advertisement

Batam

Ekonomi Batam Bangkit, Ini Pemicunya

Published

on

By

Finroll.com, Batam — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat pertumbuhan ekonomi Batam hingga triwulan akhir 2019 mencapai 4,72 persen.

Angka tersebut naik jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 4,5 persen.

Kepala BPS Kota Batam, Rahyuddin, menyampaikan hal ini membuktikan ekonomi Batam tidak terlalu terdampak resesi ekonomi global.

“Buktinya ekonomi Batam tumbuh,” ujar Rahyuddin, Rabu (13/11/2019).

Ia memaparkan, ekonomi Batam pernah terpuruk hingga di angka 2,19 persen pada 2017. Kemudian naik di 2018 hingga dua kali lipat yakni 4,5 persen.

“Secara nasional angkanya sekarang 5,01 persen. Kami berharap ekonomi Batam pertumbuhannya di atas nasional ini,” terangnya.

Lanjut Rahyuddin, Batam pernah mencatat sejarah manis dengan pertumbuhan ekonomi di atas nasional.

Sebut saja di 2014 sebesar 7,16 persen. Namun, turun menjadi 6,87 persen di 2015, lalu turun lagi menjadi 5,43 persen pada 2016. Kemudian merosot di 2017 dengan angka 2,19 persen.

“Memang tidak naik signifikan, namun yang terjadi sudah mulai merangkak naik,” ucapnya.

Ia menyebutkan, sektor pariwisata merupakan andalan baru perekonomian. Menurutnya, sumbangsih sektor tersebut sifatnya universal.

“Ini contohnya, kalau satu orang datang bawa uang ke Batam kan makan, minum, belanja juga bisa jadi uang untuk hiburan. Sektor transportasi juga dapat,” papar Rahyuddin.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam, Ardiwinata, mengaku pariwisata merupakan sektor andalan baru untuk mengerek naik pertumbuhan ekonomi nasional, tak terkecuali Batam.

Untuk itu, ke depan sektor pariwisata akan terus dikembangkan dengan meningkatkan desnitasi dan event.

“Tahun ini kita ada yang baru seperti Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah. Kami optimis wisata kita akan terus meningkat,” katanya.

Sumber Berita : BatamPost.co.id

Continue Reading

Batam

Pengacara Taher Ferdian Ragu Keaslian Surat Sakit Saksi Korban Ludijanto Taslim

Published

on

By

Pengacara terdakwa Taher Ferdian alias Lim Chong Peng, Supriyadi, SH, MH mempertanyakan alasan ketidakhadiran saksi korban Ludijanto Taslim. Sebab, berdasarkan Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Batam sudah delapan kali persidangan tak pernah hadir.

Menurut Supriyadi, seharusnya sidang tersebut sesuai pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah Dalam Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (”KUHAP”) disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

“Runutannya adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. Nah sekarang sudah masuk ke keterangan ahli, Tapi saksi korban tak pernah nongol. Ini lompatan logika menurut kami,” ujar Supriyadi di hadapan persidangan Senin (28/10) siang.

Kemudian, oleh JPU Samsul Sitinjak, Rosmalina Sembiring, dan satu JPU dari Kajati Kepri mengatakan, saat ini saksi korban Ludijanto Taslim masih berada di negeri Paman Sam, Amerika Serikat berobat karena sakit.

“Jadi majelis, Pasal 162 ayat (1) KUHAP berbunyi, “Jika saksi sesudah memberi keterangan dalam penyidikan meninggal dunia atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir di sidang atau tidak dipanggil karena jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya atau karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan negara, maka keterangan yang telah diberikan itu dibacakan. Jadi kami rasa begitu,” ujar JPU itu.

Kemudian, Ketua Majelis Hakim Dwi Nuramanu yang didampingi Yona Lamerosa Ketaren dan Taufik Abdul Halim Nainggolan menyela perkataan JPU. Katanya, memang sesuai KUHAP runutan keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa. “Tapi karena kemaren itu kita sepakat melahirkan asas sederhana, cepat, dan biaya ringan makanya kita lanjutkan. Tapi jangan juga tak dihadirkan. Alasannya apa,” tanya Dwi Nuramanu.

Dwi Nuramanu memerintahkan, agar JPU dapat menghadirkan saksi Ludijanto Taslim pada sidang Selasa 5 November 2019 mendatang. Pantauan, saat JPU memberikan salinan surat kepada hakim soal penguatan ketidakhadiran Ludija

“Ini kok tak ada stempelnya ini? Kalau sakit riwayat sakit karena apa? Apakah tak bisa berjalan atau tidak, Kalau surat itu berbahasa asing harus diterjemahkan oleh orang yang bersertfikat dan di bawah sumpah, KUHAP tak mengenal bahasa asing selain Bahasa Indonesia. Semua surat ini harus asli,” tegas Dwi.

Continue Reading

Batam

Sidang Taher Ferdian, Saksi : Tidak Ada Jual Beli Mesin

Published

on

By

Dakwaan pasal 374 KUHP yang dialamatkan kepada Taher Ferdian alias Lim Chong Peng semakin terang. Usai persidangan Kamis (24/10), sejumlah wartawan mencerca pengacara Supriyadi SH MH. Mesin yang merupakan objek dalam perkara ini tidak lah dijual. Hal tersebut terungkap saat saksi , Kia Sai alias Willian memberikan saksi di Pengadilan Negeri Batam.

“Tadi sama-sama kita sudah mendengarkan keterangan saksi Willian. Yang dalam dakwaan sebagai pembeli mesin itu.Dan kami sudah bongkar kebenaran materil di muka persidangan. Tinggal kebijaksanaan hakim. Kami yakin, klien kami bebas demi hukum,” katanya Kamis.

Lanjut Supriyadi, mesin plastik tersebut sudah berumur 30 tahun. Oleh kliennya Tahir pernah menguasakan kepada Willian. Untuk dicari calon pembeli. Hanya saja karena kondisi mesin rusak dan berkarat, maka otomatis mesin itu dipindahkan dari gudang.

“Mau diperbaiki makanya dipindahkan. Jadi tidak dijual oleh klien kami, itu yang benar. Selain itu, atap perusahaan yang ada di Sekupang itu sudah bocor-bocor. Nah untuk mengantisipasi agar tak rusak berkepanjangan maka dipindahkan. Jadi mohon ansumsi di luar sana yang mengatakan klien kami jual, sama sekali tidak lah benar,” ucap pengacara ternama asal Jakarta itu.

Selain itu, ketidakhadiran Ludijanto Taslim sebagai saksi korban tidak pernah hadir dalam persidangan. Menurut Supriyadi, jika merujuk pada pasal 184 ayat (1) KUHAP disebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

“Jadi keterangan saksi yang menjadi korban dulu diperiksa.Tapi ini ada lompatan logika menurut kami. Bahwa saksi korban ini patut kami duga memberikan keterangan palsu sejak awal perkara ini,” katanya.

Sebelumnya,Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (24/10) pagi. Dengan agenda pemeriksaan saksi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Empat saksi yang diajukan antara lain Andreas, Benny, Maman, Kia Sai alias Willian,Suarianto. Saksi Andreas merupakan calon pembeli aset PT Taindo Citratama, Benny perwakilan dari Bank BCA, Suarianto Direktur pelaksana PT. Taindo Citratama, Willian saksi calon pembeli. Sedangkan Maman saksi dari kantor jasa penilaian publik (KJPP).

Willian merupakan saksi yang pertama diperiksa Ketua Majelis Hakim Dwi Nuramanu. Yang didampingi Yona Lamerosa Ketaren dan Taufik Abdul Halim Nainggolan. Di depan majelis hakim, Willian menceritakan tentang aset perusahaan sesuai dakwaan JPU. Dalam keterangannya, aset tersebut belum dibeli dari Tahir. Sebagaimana dakwaan JPU.

“Jadi mesin plastik dari PT Taindo Citratama itu tidak benar kalau saya itu membelinya. Benar mesin itu sudah dibawa ke gudang saya yang ada di Bukit Senyum (Batam). Tujuannya adalah, untuk mau disservice. Karena mesin pak Tahir itu sudah rusak karena lama tidak beroperasi,” kata Willian.

Atas kesaksi Willian, hakim dan pengunjung sidang kaget. Pasalnya, dalam BAP pemeriksaan polisi semula dan dilanjutkan dalam dakwaan, mesin yang menjadi objek perakara dijual Tahir kepada Willian.

“Wah, sebentar-sebentar. Tadi saudara bilang tidak ada penjualan mesin. Loh, sekarang kenapa sampai ke persidangan ini kalau tak ada penjualan mesin itu. Apakah saudara yakin atas keterangan ini?,” tanya Nuramanu.

Willian lagi-lagi menjawab, bahwa mesin dan aset lain yang dimaksud dalam perkara ini belum terjadi jual-beli antara dia dengan Tahir. “Tidak ada pak terjadi jual-beli. Sekali lagi saya tegaskan, mesin itu dipindahkan karena mau diperbaiki,” tegas Willian.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Asco Global

Trending