Connect with us

Ekonomi Global

Perang Dunia III, Sofjan Wanandi: Kalau Perang Celaka Kita!

Published

on


Jakarta,  – Ancaman perang dunia atau World War III buntut dari tak hanya jadi kekhawatiran pemerintah tapi juga pengusaha. Bagi Indonesia, ancaman paling ngeri bila terjadi benar-benar perang adalah soal harga minyak dan subsidi energi.

“Oh iya pasti ini akan terjadi, cuma saya harapkan, jangan perang betul, kalau perang betul kita juga susah. Subsidi kita, kita punya harga minyak kalau naik kan kita impor minyak banyak sekali,” kata Ketua Dewan Pertimbangan Apindo Sofjan Wanadi di Jakarta, Selasa (7/1).

“…Rugi kita jangan perang, kalau dia perang kita celaka, subsidi tambah besar,” katanya.

Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara sempat mengatakan bila perang dunia ketiga meletus karena peristiwa tersebut, perekonomian Indonesia terancam.

Melihat proyeksi ekonomi dalam APBN 2020, harga minyak diprediksi US$ 63 per barel. Tentunya, harga minyak yang sudah melampaui prediksi APBN 2020 ini bisa meningkatkan harga bahan bakar minyak (BBM), terutama non subsidi.

“Dampak ketegangan AS dan Iran paling cepat dirasakan ke harga minyak mentah dunia yg meroket lebih dari 4% dan berimbas pada beban subsidi BBM dan tarif listrik yang bengkak di awal 2020. Di sisi lain, harga bbm non subsidi jenis Pertamax, Pertalite maupun Dex pun berisiko mengalami penyesuaian,” kata Bhima kepada detikcom, Minggu (5/1/2020). (CNBC/GPH)

Advertisement

Business

AS Angkat Harga Minyak Dunia

Published

on

By

Harga minyak naik tipis pada penutupan perdagangan Kamis (20/2), waktu AS. (Realita Rakyat)

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia menguat tipis pada perdagangan Kamis (20/2), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan minyak ditopang perlambatan pertumbuhan pasokan AS.

Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent naik 19 sen atau 0,32 persen menjadi US$59,31 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) bertambah 49 sen atau 0,90 persen di level US$59,31 per barel.

Badan Informasi Energi AS (EIA) menuturkan persediaan minyak mentah AS hanya naik 414 ribu barel pekan lalu. Angka itu jauh lebih rendah dari prediksi analis yakni 2,5 juta barel.

Data juga menunjukkan tingkat pemanfaatan kilang pantai timur AS turun menjadi 59,2 persen pekan lalu. Angka itu adalah yang terendah sejak November 2012. Namun, tingkat pemanfaatan kilang AS secara keseluruhan naik 1,4 persen.

“Sentimen fundamental hari ini terutama melesetnya rilis data EIA mingguan dari prediksi,” kata Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch.

Namun, virus corona masih membayangi pasar sehingga membatasi kenaikan harga minyak. Kematian pertama di Korea Selatan memicu ketakutan terhadap pandemi global karena penelitian menunjukkan bahwa virus itu lebih menular daripada prediksi.

Korban meninggal akibat terinfeksi Virus Corona terus melonjak hingga mencapai 2.120 orang di seluruh dunia hingga Kamis (20/2). Virus itu menginfeksi 76.262 orang di sejumlah negara.

China telah menurunkan suku bunga guna menopang perekonomian. Langkah China itu mengurangi kekhawatiran melambatnya permintaan.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Pada Jumat Pagi Ini Rupiah Terkerek ke Rp13.730 per Dolar AS

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Nilai tukar rupiah menguat ke Rp13.730 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Jumat (21/2) pagi. Posisi rupiah menguat 0,15 persen pada penutupan pasar Kamis (20/2).

Pagi ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia melemah terhadap dolar AS. Terpantau, won Korea melemah 0,5 persen, yuan China 0,35 persen, dan bath Thailand 0,29 persen.

Selanjutnya, ringgit Malaysia keok 0,19 persen, rupee India 0,14 persen, peso Filipina 0,8 persen, dan dolar Hong Kong 0,07 persen.

Sementara, penguatan terhadap dolar AS terjadi pada dolar Singapura 0,06 persen dan yen Jepang 0,04 persen.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia menguat 0,09 persen, euro 0,08 persen, dolar Canada 0,06 persen, dan poundsterling Inggris 0,03 persen.

Kepala Riset PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai rupiah berpeluang melemah pada perdagangan hari ini. Sebab, pasar kembali mengkhawatirkan soal penyebaran virus corona yang meningkat di beberapa negara, termasuk China di luar Provinsi Hubei, serta dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global.

“Kekhawatiran ini berpotensi menekan rupiah hari Jumat ini dan mungkin bisa menahan rupiah di atas Rp13.700 per dolar AS,” Jumat (21/2).

Sepanjang hari, Ariston memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp13.700 hingga Rp13.780 per dolar AS.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Imbas Virus Corona, Singapura Pangkas Proyeksi Laju Ekonomi

Published

on

By

Singapura memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi kisaran -0,5 hingga 1,5 persen untuk tahun ini. Estimasi itu lebih buruk dibandingkan dengan proyeksi November lalu, di rentang 0,5 hingga 2,5 persen.

FINROLL.COM — Pemerintah Singapura mengungkapkan lesunya pertumbuhan ekonomi merupakan dampak dari penyebaran wabah virus corona. Penyebaran virus sangat mempengaruhi sektor pariwisata dan perdaganga mengingat China merupakan tujuan ekspor dan sumber utama turis mancanegara bagi Singapura.

Selain itu, konsumsi domestik juga semakin melandai. Masyarakat mulai mengurangi kebiasaan untuk berbelanja dan membeli makanan di luar rumah.

“Di Asia, wabah ini sangat mungkin mengurangi prospek pertumbuhan di China dan negara-negara terdampak lainnya untuk tahun ini,” ungkap Kementerian Perdagangan Singapura, seperti dikutip dari AFP, Selasa (18/2).

Ekonom Perbankan Swasta Song Seng Wun juga mengatakan lesunya ekonomi China dan rantai pasokan global yang saling terintegrasi berpengaruh besar pada ekonomi negara yang berorientasi pada perdagangan, seperti Singapura.

Apabila terjadi krisis global, negara seperti Singapura akan cepat terdampak. Meski begitu, jika kondisi mulai membaik, ekonomi negara mereka juga akan cepat melesat.

Menteri Pembangunan Ekonomi Singapura Lawrence Wong mengungkapkan ekonomi Singapura memang sedang mengalami kontraksi yang tajam. Kondisi ini menurutnya akan berlangsung untuk beberapa kuartal mendatang. Untuk itu, pemerintah Singapura akan mengalokasikan anggaran yang cukup besar demi menanggulangi kemerosotan ekonomi dampak wabah virus corona.

“Saya pikir dampaknya akan signifikan setidaknya dalam beberapa kuartal mendatang. Saya tidak bisa mengatakan apakah kami akan mengalami kemerosotan atau tidak, tapi yang pasti perekonomian kita akan terpukul,” kata Wong.

Hingga Senin (17/2) kemarin, Singapura menjadi negara di luar China yang memiliki kasus terbanyak, yakni 75 kasus. Di China sendiri kasus virus corona telah mencapai 71.204 kasus. Adapun jumlah korban yang meninggal akibat virus corona di seluruh dunia telah mencapai angka 1.770.

Sumber Berita : CNN INDONESIA

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending