Connect with us

Peristiwa

PLN Lakukan Dua Strategi Untuk Penormalan Distribusi Listrik

Published

on


Finroll.com — Akibat kerusakan sistem listrik di Jawa-Bali. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) melakukan evaluasi kinerja pasca terjadinya pemadaman total (blackout).

Paling tidak, ada dua strategi yang akan dijalankan perusahaan listrik tersebut

Sripeni Inten Cahyani, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN menyampaikan, pihaknya akan melakukan prosedur yang lebih cepat dan sederhana dalam proses penyaluran maupun penormalan distribusi listrik dari pembangkit ke transmisi, lalu ke pelanggan.

“Kita akan pangkas beberapa proses yang ada di internal PLN, yaitu penyederhanaan antara peran penyalur pembangkit dan pendistribusian ke pelanggan, ini akan kita kombinasikan. Tujuannya untuk kecepatan layanan,” terang Sripeni dalam siaran pers, Selasa (6/8/2019).

Lebih lanjut Sripeni menerangkan penyebab terjadinya blackout yang terjadi sejak Minggu (5/8) kemarin.

Ia menuturkan, beban kebutuhan listrik banyak bertumpuk di Jawa bagian barat, sedangkan pembangkit dengan biaya produksi murah berada di Jawa bagian timur.

Sementara untuk menyalurkan listrik, sistem Jawa-Bali ini disokong melalui empat sirkit distribusi 500 kilo volt (kV). Dua di jalur selatan, dan dua di utara. Sripeni bilang, PLN melakukan perawatan salah satu sirkit di jalur selatan.

Menurutnya, perawatan dilakukan pada akhir pekan lantaran beban listrik sedang rendah.

Malangnya, pada saat yang bersamaan, terjadi gangguan pada dua sirkit sekaligus di jalur utara yaitu di transmisi Ungaran – Pemalang. Alhasil, hanya tersisa satu sirkit yang bisa beroperasi.

“Pada saat dua sirkit utara putus, kemudian daya yang dari arah timur menuju barat otomatis pindah menuju selatan. Karena tinggal satu jalur maka menyebabkan goncangan sistem,” terang Sripeni.

Karena sistem transmisi yang sudah tak lagi mumpuni, maka pembangkit yang terhubung melepaskan daya sebagai proteksi sistem.

“Itu untuk perlindungan juga terhadap sistem dan mesin pembangkit. Kemudian dilepas (daya), jadi terjadi lah pemadaman,” ungkapnya.

Hingga saat ini, sayangnya PLN masih belum bisa memberikan keterangan secara gamblang soal penyebab gangguang di dua sirkit transmisi 500 kV tersebut. Sripeni bilang, jalur transmisi tersebut berada di area terbuka, sehingga banyak kemungkinan yang bisa terjadi.

Sripeni menjelaskan, saat ini pihaknya tengah melakukan investigasi. “Kita tahu bisa ada layangan yang menyebabkan jaringan putus, atau jaringan terkena pohon. Ini memang banyak (penyebab) karena jaringan terbuka, jadi kami dalam proses investigasi,” ujarnya. 

Selain itu di sisi lain, selain proses penyaluran maupun penormalan distribusi listrik yang akan lebih cepat dan sederhana, PLN juga akan menambah jaringan sirkit transmisi yang menopang penyaluran setrum di Jawa Bali.

Sripeni menuturkan, pembangunan sirkit transmisi itu tengah berlangsung dan sudah tertera dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenega Listrik (RUPTL) maupaun rencena kerja perusahaan.

“Jadi kita sedang tambah jaringan 500 kV di utara dan selatan supaya ada back up. Supaya tidak hanya empat line dalam proses transfer (listrik) dari timurke barat.” terang Sripeni.

Sementara Menurut Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Djoko Rahardjo Abumanan, saat ini PLN tengah membangun tambahan dua sirkit transmisi. Jalur transmisi 500 kV itu membentang dari Pemalang-Mandirancan-Indramayu hingga Cibatu Baru.

Djoko menjelaskan, PLN menargetkan sirkit transmisi tersebut sudah bisa beroperasi pada tahun 2020 nanti. Pembangunan transmisi tersebut, kata Djoko, merupakan bagian dari proyek 35.000 MW dan menyesuaikan masa operasional dari pembangkit-pembangkit besar yang akan beroperasi, seperti PLTU Batang dan PLTU Jawa 7.

Hingga Juli, progres pembebasan lahan sudah mencpai 95% dan proses konstruksi pondasi sudah mencapai 60%.

“Pembangkit selesai, transmisi juga harus selesai. Kalau nggak nanti kolaps, jadi ini untuk mengevakuasi (daya dari pembangkit lsitrik baru),” tandas Djoko.(red)

 

Advertisement Valbury

Nasional

Anies Berkeras Tolak Warga Masuk Jakarta Tanpa SIKM

Published

on

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan masyarakat luar Jabodetabek yang hendak masuk ke Jakarta wajib mengantongi surat izin keluar masuk (SIKM). Bagi yang tidak memiliki SIKM, dipastikan tidak dapat masuk ke wilayah Jabodetabek.

“Saya imbau ke masyarakat, bila tidak punya SIKM, kedinasan yang relevan dalam 11 sektor, jangan lakukan perjalanan, tunda, kerja dari jauh pakai video conference,” kata Anies di KM 47 Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Selasa (26/5).

Anies menegaskan pesan ini sudah disampaikan sejak April lalu. Saat itu ia meminta agar warga tidak meninggalkan Jakarta, dan kalaupun sudah terlanjur keluar Jakarta maka proses kembalinya akan dipersulit.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu memastikan, bagi warga yang tidak mengantongi SIKM akan langsung diputar balik kembali ke daerah asal.

“Tunda dulu ke Jakarta. daripada memaksa berangkat dan harus diputar balik,” ujarnya.

Menurut dia, hal ini tentu akan membuat masyarakat yang diputar balik merasa tidak nyaman. Namun, hal ini harus ditegaskan lantaran demi mencegah penyebaran virus corona semakin masif.

“Bagi mereka yang merasa dikembalikan mungkin tidak nyaman, tapi lebih tidak nyaman lagi bagi jutaan warga Jakarta bila kita membiarkan orang keluar masuk, artinya kita tidak menghargai kerja keras jutaan orang yang berada di rumah selama dua bulan,” tuturnya.

Kebijakan pembatasan keluar masuk Jakarta tersebut tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 47 Tahun 2020 tentang Pembatasan Berpergian Keluar dan/atau Masuk Provinsi DKI Jakarta.

Dalam Pasal 4 ayat 3 Pergub tersebut dinyatakan, larangan berpergian keluar atau masuk provinsi DKI Jakarta hanya berlaku bagi masyarakat yang yang tidak memiliki KTP non-Jabodetabek. Sementara itu, bagi warga yang berdomisili dan ber-KTP Jabodetabek masih bisa leluasa berpergian di dalam area Jabodetabek.

“Mereka yang tidak punya surat izin keluar masuk tidak akan diperbolehkan untuk lewat. Dan persyaratan ini harus dipenuhi,” kata Anies saat konferensi pers di Gedung BNPB Jakarta, Senin (25/5). (CNN)

Continue Reading

Nasional

Kasus Positif Akan Naik, BNPB Sebut Puncak Covid-19 Awal Juni

Published

on

Finroll – Jakarta, Kurva puncak penyebaran corona atau Covid-19 di Indonesia diperkirakan kan terjadi pada awal Juni 2020.

Pelaksana tugas Deputi II Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dody Ruswandi mengatakan setelah mengalami puncak Covid-19, kurva akan menurun.

“Kalau puncak di sana (awal Juni), kita juga harus siap dengan kapasitas rumah sakit. Insya Allah nanti kalau semuanya testing ini selesai dan puncaknya bisa tercapai, dan setelah itu mudah-mudahan bisa landai ke bawah,” tutur Dody dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VIII DPR RI yang berlangsung secara daring pada Selasa (12/5).

 Jumlah kasus positif corona atau Covid-19 di Indonesia, Selasa (12/5) mencapai 14.749 kasus, sementara jumlah pasien meninggal berjumlah 1.007 orang, dan pasien sembuh sebanyak 3.063 orang.

Dilansir dari peta sebaran di situs covid19.go.id, terjadi penambahan kasus positif sebanyak 484 orang.

“Jumlah pasien dalam perawatan 10.679 orang,” demikian informasi dari situs covid19.go.id, Selasa (12/5) pukul 15.25 WIB.

Dodi juga mengatakan, pekan depan akan banyak kenaikan jumlah kasus positif karena jumlah orang yang diperiksa juga bertambah.

“Nanti mungkin jangan kaget bapak ibu bahwa minggu depan itu akan cenderung banyak naiknya,” kata Dody.

Menurut Dody, Gugus Tugas Percepatan penanganan Covid-19 sedang meningkatkan kapasitas baik dari segi laboratorium maupun sumber daya manusia. Targetnya, lanjutnya, kenaikan kapasitas pengecekan mulai akhir pekan ini.

Sementara, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita mengungkapkan bahwa Pemerintah Indonesia bahkan dunia, hingga saat ini belum dapat menjawab mengenai pertanyaan kapan pandemi Covid-19 akan berakhir.

Perlu disadari bahwa hingga saat ini memang belum ditemukan vaksin untuk mengobati Covid-19. Kendati demikian, beberapa ahli dan pakar dunia tengah berlomba untuk menemukan ramuan yang tepat untuk mengobati virus SARS-CoV-2 yang utamanya menyerang paru-paru manusia tersebut.

“Seluruh dunia juga tidak tahu, karena virus ini, untuk vaksinnya belum ditemukan. Jadi, maka dari itu, sampai dengan vaksin belum ditemukan, kita harus bisa selalu berhadapan dengan virus ini,” ungkap Wiku dalam dialog di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha BNPB, Jakarta (12/5).

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Nasional

Istana Luruskan Maksud Jokowi Hidup Berdamai dengan Corona

Published

on

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan maksud Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat berdamai dengan virus corona (Covid-19) yang masih mewabah Indonesia dalam dua bulan terakhir.

FINROLL.COM — Bey mengatakan, maksud berdamai dengan corona sebagaimana dikatakan Jokowi itu adalah menyesuaikan dengan kehidupan. Artinya masyarakat harus tetap bisa produktif di tengah pandemi Covid-19.

“Bahwa Covid itu ada dan kita berusaha agar Covid segera hilang. Tapi kita tidak boleh menjadi tidak produktif karena Covid, menjadikan ada penyesuaian dalam kehidupan,” ujar Bey melalui pesan singkat kepada wartawan, Jumat (8/5).

Bey menambahkan, penyesuaian dalam kehidupan itu dilakukan dengan upaya mencegah penularan corona. Di antaranya dengan selalu mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak dari kerumunan.

Penyesuaian hidup ini pula, menurut dia, yang akan membentuk tatanan kehidupan normal baru bagi masyarakat.

“Covid memang belum ada anti virusnya, tapi kita bisa mencegah. Artinya jangan menyerah, hidup berdamai dalam penyesuaian kehidupan. Ke sananya yang disebut the new normal tatanan kehidupan baru,” katanya.

Diketahui Jokowi dalam keterangannya, Kamis (7/5), meminta masyarakat berdamai dengan corona sampai vaksin ditemukan. Ia mengatakan, hingga vaksin belum ditemukan maka tak ada acuan virus corona benar-benar berhenti menyebar.

Pernyataan Jokowi untuk berdamai dengan corona ini sempat mendapat sorotan di media sosial. Pernyataan itu berbeda dengan apa yang disampaikan Jokowi dalam pertemuan virtual KTT G20 pada Maret lalu.

Saat itu Jokowi mengajak negara-negara anggota G20 untuk ‘perang’ melawan virus corona. Ia juga mendorong G20 memimpin upaya menemukan penawar penyakit akibat virus tersebut.

Sebagai informasi, data terbaru kasus positif corona di Indonesia per 7 Mei 2020 mencapai 12.776 pasien. Dari jumlah tersebut 930 orang meninggal dunia dan 2.381 orang sembuh.

Sejak pertama kali diumumkan pada 2 Maret lalu, kasus positif corona di Indonesia terus bertambah. Dari data yang selalu dipaparkan pemerintah, belum pernah sehari pun jumlah kasus positif corona turun. (CNN)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending