Connect with us

Ekonomi Global

PM China: Ekonomi Tiongkok Akan Menghadapi Masa Suram Tahun Ini

Published

on


PM China: Ekonomi Tiongkok Akan Menghadapi Masa Suram Tahun Ini

Finroll.com – Ekonomi terbesar kedua di dunia, China akan mengalami masa-masa sulit pada periode tahun ini. Tiongkok saat ini sedang mengalami perlambatan ekonomi dan perang dagang dengan Amerika Serikat. China menghadapi tantangan dan risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dinukil laman VOA, Rabu, (6/3/2109), Kondisi ini dipertegas langsung oleh Perdana Menteri China Li Keqiang. Dalam laporan kerja pemerintah tahunannya kepada Kongres Rakyat Nasional China, Li Keqiang mengatakan kepada para delegasi tentang rencana untuk memotong pajak guna mendorong perekonomian dan berfokus pada inovasi. Dia juga menetapkan target pertumbuhan Beijing untuk tahun ini antara 6 hingga 6,5 persen.

Nada bicara Li tenang dan dia menyebut kata “menstabilkan” atau “stabilitas” lebih dari 70 kali. Dia berbicara tentang perlunya menstabilkan pasar saham, sektor keuangan, pengangguran, harapan, investasi asing dan domestik dan tentu saja, gesekan perdagangan dengan Amerika Serikat.

“Sementara kita mengejar pembangunan tahun ini, kita akan menghadapi kondisi yang lebih suram dan lebih rumit serta risiko dan tantangan yang lebih besar dalam jumlah dan ukuran. Kita harus sepenuhnya siap untuk perjuangan yang sulit,” ungkap Li.

Ketegangan perdagangan dan tarif menambah tantangan yang dihadapi Beijing. Permintaan Amerika Serikat untuk mengekstradisi kepala keuangan Huawei dan kekhawatiran tentang perusahaan tersebut serta kaitannya dengan pemerintah otoriter China adalah bagian dari kondisi yang rumit.

Baca Juga: Kalahkan Rusia & China, Amerika Serikat Tetap Jadi Negara Adidaya “Next Indonesia”

Para pejabat di AS dan China optimistis kedua pihak dapat mencapai kesepakatan. Berbicara di sela-sela pertemuan politik tahunan Beijing, Menteri Perdagangan China Zhong Shan mengatakan kedua negara masih perlu menemukan kesamaan.

“Saat ini, tim kerja masih melanjutkan negosiasi, karena masih banyak yang perlu dilakukan. Terlebih lagi, kita membutuhkan China dan Amerika Serikat untuk menemukan jalan tengah dan bekerja sama,” ujar Zhong.

Dalam pertemuan Kongres Rakyat Nasional tahun ini, China diperkirakan akan mengesahkan UU Investasi Asing pertama di negara itu. Untuk mendukung perusahaan domestik pada saat perekonomian melambat, Li mengatakan China akan memotong pajak perusahaan dan kontribusi asuransi sosial hampir $ 300 miliar. Beijing akan meningkatkan pengeluaran militernya sebesar 7,5 persen tahun ini menjadi sekitar $ 177 miliar dolar, tetapi masih jauh di belakang Washington, yang menghabiskan hampir $ 700 miliar untuk pertahanan tahun lalu.

Ekonomi Global

Corona, China Akan Terbitkan Surat Utang 3,75 Triliun Yuan

Published

on

Pemerintah China akan menerbitkan surat utang (obligasi) senilai 3,75 triliun yuan atau US$526 miliar demi mendongkrak belanja atau pengeluaran sebagai pemulihan dampak virus corona.

Perdana Menteri China Li Keqiang menuturkan dana segar dari surat utang khusus itu akan digunakan untuk mengongkosi pengeluaran infrastruktur dalam pembangunan ekonomi setelah dilanda pandemi covid-19.

“China akan menerbitkan 3,75 triliun yuan dalam bentuk obligasi pemerintah khusus tahun ini,” ujarnya mengutip AFP, Jumat (22/5).

Jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun lalu sebesar 1,6 triliun yuan.

Menurut Li, dana yang dihimpun akan digunakan sebagai modal proyek, dengan prioritas, belanja barang untuk infrastruktur baru.

Sebelumnya diberitakan, fokus Pemerintah China dalam rangka pemulihan ekonomi usai covid-19 adalah pengeluaran fiskal. Selain itu, untuk meningkatkan lapangan pekerjaan. Ditargetkan, 9 juta lapangan kerja tercipta melalui program pemulihan.

China sendiri berencana mengerek defisit fiskalnya menjadi 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Defisit itu lebih lebar ketimbang tahun lalu yang sebesar 2,8 persen. (CNN/ADAM)

Continue Reading

Ekonomi Global

Makin Panas! Trump Bakal Beri Sanksi ke China

Published

on

Hubungan Amerika Serikat dan China sepertinya bakal makin panas ke depan.

Para senator AS, dari partai Republik, mengusulkan undang-undang yang akan memberi wewenang kepada

Sanksi akan diberikan jika negeri Panda gagal memberikan laporan lengkap soal asal mula mewabahnya corona jenis baru (COVID-19).

Sanksi bisa berupa pembekuan aset, larangan perjalanan, pencabutan visa, pembatasan pinjaman untuk bisnis asal China oleh lembaga AS dan larangan listing di bursa.

Senator bernama Lindsey Graham itu mengatakan dirinya amat yakin ada manipulasi yang dilakukan Partai Komunis China yang menyebabkan virus masuk ke AS dan menewaskan 80 ribu orang.

“Saya yakin China tidak akan pernah bekerja sama secara serius dengan penyelidikan, kecuali dipaksa melakukannya,” tegasnya dikutip dari Reuters, Rabu (13/5/2020).

Apalagi, klaimnya, China selalu menolak peneliti asing masuk dn mempelajari wabah tersebut. Graham mengatan UU tersebut akan disebut sebagai “UU Pertanggungjawaban COVID-19”.

Jika disahkan, aturan ini akan meminta presiden untuk membuat ‘sertifikasi’ selama 60 hari, yang ditujukan kepada parlemen AS.

Sertifikasi itu berisi jawaban soal apakah benar China telah memberikan data yang lengkap terkait COVID-19 dalam penyelidikan yang dilakukan AS dan negara sekutu atau organisasi PBB yang terkait misalnya WHO.

Rancangan UU (RUU) ini juga akan menekan China untuk menutup semua pasar tradisional basah yang bisa membuat manusia terpapar penyakit.

China juga diminta membebaskan semua pendukung pro-demokrasi Hong Kong yang ditahan. Ini dilakukan sebagai upaya menekan laju penyebaran pandemi.

Sebagaimana diketahui, COVID-19 disebut berasal dari pasar ikan dan hewan langka di Wuhan, Provinsi Hubei, China bagian timur.

Saat ini berdasarkan data Worldometers, COVID-19 sudah menginfeksi 212 negara dan teritori. Jumlah pasien positif secara akumulatif mencapai 4 juta orang lebih.

Continue Reading

Ekonomi Global

Rencana Pelonggaran Lockdown Terbangkan Harga Minyak

Published

on

By

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan Selasa (5/5). Penguatan harga minyak ditopang rencana sejumlah negara di Eropa, Asia, dan negara bagian AS melonggarkan penguncian wilayah (lockdown).

Mengutip Antara, Rabu (6/5), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juli naik US$3,77 atau 13,86 persen ke posisi US$30,97 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik US$4,17 atau 20,45 persen ke US$24,56 per barel.

Reli ini memperpanjang kenaikan minyak mentah Brent menjadi enam hari berturut-turut. Sementara patokan WTI kini menguat selama lima sesi perdagangan berturut-turut. Italia, Spanyol, Nigeria, India, serta beberapa negara bagian AS termasuk Ohio, mulai mengizinkan sejumlah orang untuk kembali bekerja, membuka konstruksi, taman, dan perpustakaan. Namun, para pakar kesehatan memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat menyebabkan infeksi virus corona meningkat kembali.

“Pasar mulai menyadari bahwa kehancuran permintaan mengerikan, tetapi sejumlah pemerintahan membuka kembali (lockdown) dan permintaan akan menjadi lebih baik,” kata analis senior di Price Futures Group Phil Flynn.

Presiden AS Donald Trump memuji langkah-langkah sejumlah negara bagian untuk membuka kembali ekonomi mereka. Lalu lintas kendaraan di sebagian besar AS, telah meningkat. Termasuk, negara bagian yang belum mencabut perintah tinggal di rumah.

Pelonggaran itu sejalan dengan pengurangan produksi. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu seperti Rusia atau OPEC+ memangkas produksi 9,7 juta barel per hari di Mei dan Juni. Imbasnya, ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Mei diperkirakan turun menjadi sekitar 6 juta barel per hari. Jumlah itu merupakan terendah dalam hampir satu dekade.

Namun, Kepala Eksekutif Vitol Russell Hardy memprediksi permintaan puncak minyak akan terkikis secara permanen. Permintaan minyak global merosot 26 juta menjadi 27 juta barel per hari pada April.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending