Connect with us

Ekonomi Global

Pukul 12.00 WIB: Rupiah Masih Tertahan di Rp 14.120/US$

Published

on


Finroll.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di perdagangan pasar spot hari ini, berada di atas level Rp 14.100/US$.

Pada Rabu (4/12/2019), US$ 1 dibanderol Rp 14.120/US$ di pasar spot. Rupiah melemah 0,14% dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan Selasa kemarin. Sebelumnya rupiah melemah ke Rp 14/125/US$

Berikut kurs dolar AS di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) pada pukul 11:50 WIB:

 

Periode Kurs
1 Pekan Rp 14.119
1 Bulan Rp 14.155
2 Bulan Rp 14.198,5
3 Bulan Rp 14.248
6 Bulan Rp 14.407
9 Bulan Rp 14.565
1 Tahun Rp 14.730
2 Tahun Rp 15.508

Berikut kurs Domestic NDF (DNDF) pukul 11:50 WIB:

Periode Kurs
1 Bulan Rp 14.143
3 Bulan Rp 14.220

Berikut kurs dolar AS di sejumlah bank nasional pada pukul 11:45 WIB:

Bank Harga Beli Harga Jual
Bank BNI 14.093 14.148
Bank BRI 14.060 14.200
Bank Mandiri 14.100 14.160
Bank BTN 14.035 14.185
Bank BCA 14.114 14.132
CIMB Niaga 14.118 14.128

TIM RISET CNBC INDONESIA  (pap/pap)

Ekonomi Global

Harga Minyak Dunia Turun Karena Lonjakan Baru Kasus Corona

Published

on

Finroll – Jakarta, Harga minyak mentah dunia turun tipis pada akhir perdagangan Selasa (7/7), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu oleh kekhawatiran turunnya permintaan karena lonjakan baru kasus virus corona. Kondisi itu diimbangi oleh proyeksi produksi AS yang lebih rendah.

Mengutip Antara, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September kehilangan dua sen, menjadi ditutup pada 43,08 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun hanya satu sen menjadi 40,62 dolar AS per barel.

Sebelumnya, 16 negara bagian AS telah melaporkan rekor peningkatan kasus baru Covid-19 dalam lima hari pertama Juli. Hal tersebut membuat Florida memberlakukan kembali pembatasan aktifitas ekonomi, sementara California dan Texas juga melaporkan tingkat infeksi yang tinggi.

Berbagai negara lain dunia, seperti Australia, juga dilanda dengan gelombang infeksi baru.

Analis senior di Price Futures Group di Chicago Phil Flynn menuturkan meski di awal sesi pasar bangkit karena perkiraan permintaan yang lebih tinggi, tapi pasar menghapus keuntungan ketika fokus kembali ke kasus virus corona yang meningkat.

Badan Informasi Energi AS (EIA), meramalkan bahwa permintaan minyak global akan pulih sampai akhir tahun 2021, memperkirakan permintaan 101,1 juta barel per hari (bph) pada kuartal keempat tahun depan.



“Permintaan minyak global terus pulih lebih cepat dari perkiraan sebelumnya,” kata Linda Capuano, administrator EIA. Ia mencatat bahwa konsumsi bahan bakar cair global pada kuartal kedua turun rata-rata 16,3 juta barel per hari dari tahun sebelumnya.

Arab Saudi memang sempat menaikkan harga jual resmi minyak mentah Agustus pada Senin (6/7/2020) sebagai tanda ia melihat permintaan meningkat. Tetapi beberapa analis mengatakan langkah itu dapat membebani margin yang sudah buruk untuk para penyuling.

Sementara itu, awal pekan lalu pasar minyak mentah AS menghadapi beberapa ketidakpastian dari keputusan pengadilan yang memerintahkan penutupan pipa Dakota Access, arteri terbesar yang mengangkut minyak mentah dari lembah serpih Bakken di North Dakota ke wilayah Midwest dan Gulf Coast, karena masalah lingkungan.

Sumber pasar di Bakken mengatakan terjadi penutupan pipa 570.000 barel per hari, sementara jika pernyataan dampak lingkungan selesai, kemungkinan akan mengalihkan beberapa aliran minyak ke transportasi dengan kereta api.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

Kasus Corona Meningkat, Harga Minyak Dunia Bervariasi

Published

on

By

Harga minyak Brent naik 11 sen menjadi US$42,91 per barel, sedangkan harga minyak WTI turun 30 sen karena bayang-bayang kenaikan kasus corona. Ilustrasi. (Dok. Pertamina).

Finroll.com, Jakarta – Harga minyak mentah bervariasi pada perdagangan Asia, Senin (6/7) pagi. Harga minyak berjangka Brent, misalnya, meningkat ditopang pengetatan pasokan.

Namun, harga minyak mentah WTI turun karena kekhawatiran lonjakan kasus virus corona yang dapat melemahkan permintaan minyak di Amerika Serikat.

Mengutip Antara, minyak mentah Brent naik 11 sen atau 0,3 persen menjadi US$42,91 per barel setelah naik 4,3 persen pada pekan lalu. Sementara, minyak mentah WTI berada di US$40,35 atau turun 30 sen atau 0,7 persen.

Di tengah meningkatnya jumlah kasus virus corona di 39 negara bagian AS, sebuah penghitungan Reuters menunjukkan bahwa dalam empat hari pertama pada Juli, 15 negara bagian melaporkan peningkatan rekor infeksi baru covid-19.

“Meningkatnya jumlah kasus di beberapa negara bagian AS masih membayangi prospek permintaan energi,” kata analis ANZ dalam sebuah catatan.

Namun, beberapa di pasar tetap fokus pada pengetatan pasokan ketika produksi oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) turun ke level terendah dalam beberapa dekade dengan produksi Rusia turun mendekati pemotongan yang ditargetkan.

OPEC dan sekutu termasuk Rusia, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, telah berjanji untuk memangkas produksi pada rekor 9,7 juta barel per hari (bph) untuk bulan ketiga pada Juli. Setelah Juli, pemotongan akan turun menjadi 7,7 juta barel per hari hingga Desember.

Produksi AS, terbesar di dunia, juga jatuh. Jumlah rig minyak dan gas alam yang beroperasi di AS turun ke level terendah sepanjang masa untuk pekan kesembilan, meskipun pengurangan telah melambat karena harga minyak yang lebih tinggi mendorong beberapa produsen untuk memulai pengeboran lagi.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Ekonomi Global

OPEC+ Pangkas Produksi, ICP Juni Naik ke US$36,68 per Barel

Published

on

By

Harga minyak Indonesia (ICP) naik ke level US$36,68 per barel pada Juni 2020. Ilustrasi. (iStock/bomboman).

Finroll.com, Jakarta – Kementerian ESDM mencatat harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar US$36,68 per barel pada Juni 2020. Angka itu melonjak US$11,01 per barel atau 42 persen dibandingkan Mei, US$25,67 per barel.

Peningkatan juga dialami ICP SLC sebesar USD 11,60 per barel, dari USD 27,44 per barel menjadi USD 39,04 per barel.

Tim Harga Minyak Indonesia Kementerian ESDM menilai kenaikan ICP mengikuti perkembangan harga-rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional.

Bulan lalu, harga minyak internasional menanjak antara lain disebabkan oleh kesepakatan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) untuk melanjutkan pemangkasan produksi sebesar 9,7 juta barel per hari (bph) hingga Juli 2020.

Berdasarkan laporan OPEC Juni lalu, produksi minyak mentah dari negara-negara non OPEC tahun ini diperkirakan sebesar 61,8 juta bph atau menurun sebesar 3,8 ribu bph dibandingkan perkiraan Mei 2020.

Kondisi itu seiring dengan penurunan produksi beberapa negara, seperti Rusia, Oman, Meksiko, Kazakhstan dan Azerbaijan. Bulan lalu, ekspor minyak mentah Rusia mencapai angka terendah dalam 10 tahun terakhir.

“Disampaikan pula bahwa terjadi penurunan penggunaan oil rig di AS sebesar 71 persen (690 unit) selama tahun 2020, menjadi 279 oil rig, seiring dengan tidak diproduksikannya sumur-sumur minyak akibat rendahnya harga minyak, penurunan permintaan minyak dan keterbatasan tangki penyimpanan minyak mentah,” imbuh Tim Harga Minyak.

Selain itu, laporan Badan Energi Internasional (EIA) pada Juni lalu memperkirakan permintaan minyak mentah tahun ini sebesar 91,7 juta bph atau lebih tinggi 500 ribu bph dibandingkan perkiraan Mei 2020. Kenaikan itu berasal dari peningkatan permintaan BBM di beberapa kota besar dunia yang telah kembali mencapai level permintaan 2019, seiring dengan pelonggaran kebijakan penutupan wilayah (lockdown) di sejumlah negara.

Kenaikan harga minyak mentah internasional juga disebabkan laporan Energy Information Administration (EIA) mengenai penurunan stok produk gasoline AS pada Juni 2020 sebesar 2,5 juta barel menjadi sebesar 255,3 juta barel dibandingkan Mei 2020.

Terakhir, peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) AS dan beberapa negara Eropa yang meningkatkan sentimen positif pasar terkait perbaikan ekonomi global.

Untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan minyak Arab Saudi dan Irak di Asia seiring peningkatan kepatuhan anggota OPEC+ atas kesepakatan pemangkasan produksi.

Tak hanya itu, peningkatan harga minyak di Asia Pasifik juga dipengaruhi oleh kenaikan tingkat pengolahan kilang di Cina dan Korea Selatan, perbaikan permintaan minyak mentah yang cukup signifikan di Cina dan India, serta sejumlah negara di Asia mulai melonggarkan kebijakan lockdown untuk menggerakkan kembali perekonomian.

Berikut perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada Juni 2020 dibandingkan Mei 2020:

– Dated Brent naik 38,3persen menjadi US$40,07 per barel

– WTI (Nymex) naik 34,3 persen menjadi US$38,31 per barel

– Basket OPEC naik 46,9 persen menjadi US$36,99 per barel

– Brent (ICE) naik 25,79 persen menjadi US$40,77 per barel.

Sumber : Cnnindonesia.com

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending