Connect with us

Science & Technology

Quipper Hadirkan Aplikasi Belajar Online Versi Terbaru

Published

on


Finroll.com — Bagi sebuah produk digital atau aplikasi, ulasan pengguna adalah hal yang utama. Dari para pengguna kita dapat mengetahui keunggulan dan kekurangan dari sebuah produk.

Selain konten yang lengkap dan berkualitas, dalam sebuah aplikasi pendidikan, kenyamanan dan tampilan yang menarik juga sangat penting.

Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat penggunanya nyaman dan betah berlama-lama dalam menggunakan aplikasi tersebut.

Menanggapi masukkan dan saran dari para penggunanya, pada tahun lalu tim Quipper Indonesia melakukan riset sederhana terkait User Experience (UX) dan User Interface (UI), serta pembaharuan dari sisi teknologi.

Kombinasi tersebut menghasilkan aplikasi belajar online Quipper versi terbaru yang berbeda dan memberikan tambahan fitur-fitur baru yang dapat meningkatkan kenyamanan belajar online agar siswa dapat meraih hasil yang maksimal.

Dalam press conference yang bertema The All-New Quipper di kawasan Thamrin, Ruth Ayu Hapsari – Business Development Manager Quipper Indonesia mengatakan “Berdasarkan riset kami, pelajar menginginkan tampilan desain aplikasi belajar yang lebih fun karena dapat meningkatkan motivasi belajar.

Namun perlu dipastikan elemen dan teknologi di dalam aplikasi sesuai dengan kegunaan dan fungsi aplikasi belajar supaya siswa dapat belajar dengan nyaman. Oleh karena itu kami menyajikan The All-New Quipper bersama dengan beberapa fitur baru dan tentunya Masterclass, sehingga kini siswa dapat langsung berdiskusi dan berkonsultasi dengan Tutor dan Coach di aplikasi yang sama.”

Selain itu, dalam sesi talkshow yang menghadirkan Quipper Super Teachers yang terdiri dari artis berprestasi seperti Febby Rastanty, Vidi Aldiano, Tasya Kamila dan Gita Gutawa mereka juga menyampaikan kebanggaannya atas konsistensi yang dilakukan oleh Quipper dalam menyajikan aplikasi belajar online yang berkualitas. Menurut Gita Gutawa, “Aplikasi Quipper yang baru ini gampang banget digunakannya.

Misalnya aku mau belajar pelajaran yang kemarin aku pelajari tapi lupa cari dimana, aku bisa tinggal lanjutin dengan fitur resume learning.

Bahkan bisa dilakukan meskipun aku ganti device dari hp ke laptop. Ditambah lagi ada fitur Tanya Tutor dan Bimbingan Online langsung di aplikasi, aku yakin pengguna Quipper jadi makin terbantu lagi proses belajar online-nya .“

Tidak hanya menampilkan update terkait aplikasi dan para Quipper Super Teachers dari kalangan artis berprestasi, Quipper juga memberikan penghargaan bagi sekolah dan siswa di Jakarta yang paling aktif menggunakan layanan Quipper dalam mengoptimalkan kegiatan belajar mengajar. Sekolah yang menerima penghargaan antara lain SMAN 3 Jakarta, SMAN 98 Jakarta dan SMAN 39 Jakarta.

Dalam pidatonya Country Manager Quipper Indonesia – Yuta Funase mengatakan, “Penting bagi kami untuk mengetahui bahwa pengguna Quipper benar-benar aktif dan memanfaatkannya untuk memaksimalkan belajar.

The All-New Quipper kami persembahkan bagi mereka yang mengutamakan pengalaman belajar yang berkualitas dan nyaman sehingga dapat memberikan hasil belajar yang lebih baik bagi siswa.”

Sebagai pionir aplikasi belajar online berbasis video pada tahun 2015, Yuta menambahkan bahwa di tengah derasnya arus informasi teknologi dan ribuan produk yang menjamur, kita harus berani untuk menjadi unik dan menonjol.

Namun harus selalu fokus pada tujuan utama, dalam hal ini Quipper selalu berupaya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi seluruh pelajar di Indonesia.(red)

Advertisement

Science & Technology

Prototipe Airbus Model Baru Mengangkasa

Published

on

By

Pesawat komersial Maverick Airbus dengan bodi dan sayap menyatu (airbus.com)

Airbus memamerkan prototipe pesawat komersil anyar di ajang Singapore Airshow. Tampilan pesawat ini berbeda dari pesawat komersial yang saat ini umum dipakai. Sebab, pesawat anyar ini menempatkan mesin jet dibagian ekor. Selain itu, tempat duduk penumpang ditempatkan di badan hingga sayap pesawat.

FINROLL.com — Bentuk pesawat ini pun nyaris seperti segitiga, lantaran bentuk bagian badan dan sayap yang hampir menyatu. Pesawat ini dinamakan MAVERIC (Model Aircraft for Validation and Experimentation of Robust Innovative Controls). Sebelumnya, Airbus juga sudah mengeluarkan helikopter inovatif yang juga dinamakan Maverick.

Perubahan bentuk pesawat komersial ini cukup signifikan. Sebab, sejak pertama dikembangkan, bentuk pesawat terbang komersial tidak pernah berubah. Selalu berbentuk tabung panjang yang ditempeli sayap dan ekor.
Lihat juga: Eks Bos Maskapai Sri Lanka Ditangkap Terkait Suap Airbus

Pesawat prototipe ini memiliki panjang 2 meter dan lebar 3,2 meter. Dari tampilannya, MAVERIC memiliki kemiripan dengan pesawat Stealth Bomber.

Ini adalah jenis pesawat keluaran Northrop Grumman B-21 Raider, Xian H-20, atau Tupolev PAK DA. Tipe pesawat ini berbentuk nyaris serupa segitiga di mana badan pesawat dan sayap berbaur tanpa garis pemisah yang jelas antara keduanya.

Dengan struktur segitiga ini, bisa menghemat konsumsi bahan bakar hingga 20 persen. Keuntungan lain adalah strukturnya yang lebih kuat, bobot pesawat yang lebih ringan, dan mesin yang lebih tenang.

Pesawat Maverick ini pertama diluncurkan pada 2017 dan pertama mengangkasa pada Juni 2019. Sejak saat itu, pesawat ini terus melakukan uji terbang hingga akhir kuartal dua 2020.

“Masih belum jelas kapan pesawat ini akan digunakan secara komersial,” jelas Jean-Brice Dumont, EVP Engineering Airbus, seperti tertulis dalam situs resmi.

Untuk kabin penumpang MAVERIC, Airbus mengklaim akan menawarkan ruangan besar berbeda dari pada kabin pesawat komersial saat ini. Sebab, tata letak kabin MAVERIC memungkinkan penumpang mendapatkan ruang yang lebih luas di bagian kaki dan lorong sehingga bakal lebih nyaman bagi penumpang.

Namun, janji serupa sempat ditawarkan juga oleh Boeing 747 dan Airbus A380. Namun, kenyataannya ruangan yang lebih lega malah membuat maskapai penerbangan menjejalkan lebih banyak kursi di dalam pesawat alih-alih membuat ruangan lebih lega buat penumpang.
Lihat juga: Pesawat Antariksa NASA-ESA Terbang Ambil Foto Matahari

Kelemahan lain, pesawat ini dirancang tanpa jendela. Sehingga penumpang hanya akan duduk diruangan tertutup selama penerbangan berlangsung, seperti ditulis CNet.

Selain Airbus, sebelumnya Boeing juga sudah membuat prototipe pesawat dengan bentuk serupa. Pesawat dengan sayap yang menyatu dengan badan pesawat itu dinamakan X-48. Pesawat tanpa pilot besutan Boeing ini dibangun dengan kerjasama bersama NASA. Pesawat itu diuji pada tes penerbangan antara Agustus 2012 dan April 2013.

Selain itu, tahun lalu maskapai Belanda KLM bermitra dengan Universitas Teknologi Delft. Kerjasama keduanya dilakukan untuk mengembangkan pesawat dengan sayap yang menyatu dengan badan bernama Flying-V. (jps/eks)

Continue Reading

Science & Technology

Spek & Harga Samsung Galaxy A71, Sudah Bisa Dipesan Gaes!

Published

on

By

Jakarta — Pre-order Samsung Galaxy A71 resmi dibuka hari ini (20/1/2020) hingga 27 Januari 2020. Ponsel ini menyasar para pecinta fotografi.

Berikut spesifikasi lengkap dari Samsung Galaxy A71:

  • Layar: 6,7 inch Super AMOLED FHD+ (1080×2400) , 16 M colors, 20:9 ratio
  • Berat: 179 gram.
  • Prosesor: Qualcomm Snapdragon 730 (8nm), CPU (2×2.2 GHz Kryo 470 Gold & 6×1.8 GHz Kryo 470 Silver), GPU Adreno 618.
  • Sistem operasi: Android 10.0, One UI 2.
  • Kamera: kamera belakang terdiri dari 64 MP, f/1.8, 26mm (wide), 1/1.7″, 0.8µm, PDAF 12 MP, f/2.2, 13mm (ultrawide), 1.12µm 5 MP, f/2.4,
  • 40mm (telephoto), dedicated macro camera 5 MP, f/2.2, (wide), 1/5.0″, 1.12µm, depth sensor.
  • Kamera depan terdiri dari 32 MP, f/2.2, 26mm (wide), 1/2.8″, 0.8µm
  • Memori: RAM 8GB, ROM 128 GB MicroSD (up to 512 GB).
  • Baterai: 4.500 mAh, fast charging 25W.
  • Fitur lain: Supports multi-functional NFC, USB Type-C, in-screen fingerprint sensor, face unlock.

Ponsel ini hadir dengan tiga pilihan warna yaitu, Prism Crush Black, Prism Silver dan Prism Blue dna dijual dengan harga Rp 6,1 juta.

Untuk menarik minat konsumen, Samsung mengiming-imingi bahwa setiap pembelian ponsel Galaxy A71 akan mendapatkan Galaxy Buds seharga Rp 1.799.000 dengan cuma-cuma.

Continue Reading

Science & Technology

Imbas Konflik Natuna, RI Harus Siap Serangan Siber China

Published

on

By

Jakarta — Eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran serta konflik Natuna antara Indonesia dan China dikhawatirkan merambah ke peperangan siber hingga berdampak ke Indonesia.

Pengamat keamanan siber dari Cyber Security Forum Satriyo Wibowo mendesak pemerintah Indonesia untuk bersiap dan mempertahankan diri dari serangan siber peretas China dalam krisis Natuna.

“Pemerintah juga harus bersiap akan risiko peretasan dan pencurian informasi rahasia negara akibat krisis Natuna, serta memperkuat perlindungan akan infrastruktur informasi kritis nasional,” ujar Satriyo dalam keterangan kepada CNNIndonesia.com.

Satriyo mengakui perang siber merupakan salah satu metode atau sarana untuk berperang di mata para ahli mengenai hukum internasional dalam Talinn Manual 1.0.

“Suatu serangan siber yang dilakukan langsung atau tidak langsung oleh satu negara kepada infrastruktur siber negara lain dengan tujuan politik, didefinisikan sebagai suatu tindakan perang oleh NATO,” kata Satriyo

Satriyo menjelaskan China dikenal memiliki banyak kelompok peretas yang sangat aktif melakukan kegiatan spionase dan pencurian data. Tiap kelompok memiliki target industri tertentu di negara tertentu pula.

Industri yang menjadi target seperti industri dirgantara, satelit, pertahanan, konstruksi, energi, telekomunikasi, teknologi tinggi, maritim, finansial, kesehatan, pertambangan, serta pemerintahan di hampir semua negara di seluruh kawasan.

Terkait kemampuan perang siber Iran, negara telah belajar banyak dari serangan oleh malware Stuxnet yang melumpuhkan sentrifugal pengayaan uranium di Natanz.

“Kemampuan hacking-nya juga terbukti dengan keberhasilan mengambil alih drone RQ-170 milik Amerika pada 2011. Apabila dilihat dari aktifitas kelompok hacker, mereka berhasil melakukan penghancuran data, spionase, dan serangan DDoS ke berbagai target di Amerika, Arab Saudi, Israel, dan Eropa,” ujar Satriyo.

Serangan Malware: Dari Hapus Data sampai Mati Listrik

Satriyo kemudian memberi contoh serangan yang terjadi dalam krisis Georgia pada Agustus 2008. Sehari sebelum serangan militer, gelombang DDoS menghantam 38 situs, termasuk di antaranya Kementerian Luar Negeri, Bank Nasional, parlemen, Mahkamah Agung, kedutaan, situs berita, dan situs kepresidenan.

Serangan tersebut terjadi terus menerus sampai kemudian terjadi black out akibat sabotase listrik.

Saat itu, Talinn Manual menyatakan senjata siber adalah malware. Senjata siber ini didesain dan digunakan untuk merusak, menyakiti, hingga membunuh objek. Beberapa malware bahkan khusus dirancang untuk target tertentu.

Satriyo kemudian memberi contoh malware, yakni Stuxnet. Malware ini berhasil melumpuhkan 2.000 dari 8700 sentifugal uranium di Natanz, Iran. Fasilitas ini memisahkan uranium -235 dari isotop uranium -238 dengan PLC (Programmable Logic Controller) yang mengendalikan alat pemutar berkecepatan sangat tinggi.

Hanya berukuran 500kb, Stuxnet menggunakan 4 zero-days (celah keamanan piranti lunak yang tidak diketahui pengembangnya) untuk mengambil alih sistem, menyebar lewat jaringan untuk mencari komputer yang terinstal program STEP7 yang terhubung dengan PLC, dan menginfeksinya.

Stuxnet kemudian akan memodifikasi proses yang merusak mesin sentrifugal dari dalam dengan mempercepat putarannya tanpa diketahui oleh petugas.

Satriyo kemudian memberi contoh malware lainnya, yakni BlackEnergy yang didesain untuk mengambil alih ICS (Industrial Control System) dari infrastruktur kelistrikan. Malware berhasil dua kali mematikan listrik Ukraina pada 2015 dan 2016.

Serangan pertama ditujukan kepada tiga pembangkit (Kyivoblenergo, Prykarpattyaoblenergo, dan Ukrenergo) dengan memutus sirkuit, merusak konverter analog ke digital, menghapus data, dan menghancurkan backup baterei

“Serangan kedua ditujukan kepada pusat transmisi Ukrenergo yang memutus 200MW listrik ke Utara Ukraina,” kata Satriyo. (CNN/GPH)

Continue Reading
Advertisement

Advertisement

Trending