Sabtu, 19 Juni 2021

Diskon PPnBM Bikin Pengiriman Mobil ke Konsumen Lama, Ini Penyebabnya


FinrollAuto, JAKARTA – Di balik riuh rendah perpanjangan insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), konsumen terpaksa harus menunggu lama pengiriman kendaraan pesanannya, karena pabrik kewalahan menuruti tingginya permintaan.

Berdasarkan penelusuran Bisnis, sejumlah tenaga penjual dari berbagai merek mobil mengaku pengiriman mobil ke konsumen inden hingga dua bulan bahkan lebih. Sejumlah faktor melingkungpi hal tersebut. Berikut rinciannya:

1. Protokol Kesehatan

Upaya pabrikan untuk memenuhi tingginya permintaan kendaraan mesti terseok-seok oleh penerapan protokol kesehatan di area produksi. Langkah ini dilakukan para pabrikan guna meminimalkan dampak penyebaran Covid-19.

PT Astra Daihatsu Motor (ADM), contohnya, menyesuaikan takt time produksi mobilnya dari semula 1,5 menit menjadi 3,1 menit. Takt time adalah waktu yang dibutuhkan oleh produksi dalam menghasilkan setiap unit produk agar dapat memenuhi permintaan pelanggan.

Penyesuaian takt time ini mengikuti protokol kesehatan, yakni jaga jarak antarkaryawan bagian produksi minimal 1,5 meter.

“Kenapa suplai masih belum bisa memenuhi demand? Satu, karena protokol kesehatan, maka mereka mesti mengatur pabrik,” ujar Marketing & Customer Relations Division Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation (AI-DSO) Hendrayadi Lastiyoso.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM), Yusak Billy. Dia mengatakan, bahwa perpanjangan diskon PPnBM 100 persen akan membuat permintaan mobil kembali meningkat.

Namun, pada saat bersamaan, tantangan terbesar perusahaan adalah memproduksi kendaraan semaksimal mungkin agar konsumen dapat menerima mobil secepatnya.

Billy menuturkan, bahwa meski pabrik Honda di Karawang saat ini sudah beroperasi dengan kapasitas penuh, tetapi operasional pabrik diklaim menerapkan protokol kesehatan ketat untuk menghindari penyebaran Covid-19.

Jababeka industrial Estate

2. Kendala Pasokan Semikonduktor

Faktor kedua terlambatnya pengiriman mobil ke konsumen adalah kendala pasokan semikonduktor atau cip. Tak cuma di Indonesia, persoalan ini turut memengaruhi industri otomotif dalam skala global.

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam mengatakan langkah pemerintah untuk memperpanjang insentif merupakan langkah tepat.

Namun, dia juga mengungkapkan tantangan yang akan dihadapi oleh para pelaku industri otomotif, yakni kurangnya pasokan semikonduktor. “Kendala kami masih menghadapi kekurangan pasokan semikonduktor,” ujarnya.

Marketing Director dan Corporate Planning & Communication Director ADM Amelia Tjandra turut mengonfirmasi kelangkaan semikonduktor tersebut. Akan tetapi, dia menjelaskan bahwa perseroan belum mendapat dampak dari krisis chip saat ini.

“Bahwa ada kelangkaan [cip] memang benar tetapi produksi kami masih berjalan normal hal itu karena alokasi prinsipal kami yang untuk Indonesia,” pungkasnya.

Amelia mengemukakan perseroan akan terus memonitor dan menggalang kerja sama dengan prinsipal untuk mendapatkan alokasi yang cukup. Hal serupa juga dilakukan Toyota untuk memenuhi persediaan semikonduktor.

Terhambatnya pasokan untuk industri otomotif terjadi karena pada produsen cip tengah berjuang memenuhi tingginya permintaan dari perusahaan elektronik global. Alhasil, produsen mobil berisiko tidak mendapatkan pasokan yang cukup.

Kondisi itu kian sulit setelah pabrik semikonduktor otomotif terbesar kedua di dunia, Renesas Electronics, mengalami kebakaran pada Maret 2021. Insiden ini pun semakin memperuncing krisis pasokan cip di seluruh dunia.



Sumber / Bisnis.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT