Jumat, 10 September 2021

Mobil Daur Ulang, Akankah jadi Masa Depan?


FinrollAuto, JAKARTA — Upaya membuat industri otomotif yang berkelanjutan kian tampak. Tidak hanya fokus pada pengembangan sumber tenaga yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga telah menyentuh komponen-komponen yang digunakan.

Adalah BMW Group, merek premium asal Jerman yang telah mengambil inisiatif pengembangan ekonomi sirkular lebih jauh. Hal ini diterjemahkan untuk memproduksi mobil menggunakan bahan daur ulang dengan tujuan dapat kembali digunakan untuk produksi mobil berikutnya. 

Chairman of the Board, Management BMW AG Oliver Zipse, menyampaikan perusahaan akan menerapkan prinsip ekonomi sirkular secara holistik dengan meningkatkan persentase penggunaan bahan sekunder di kendaraannya. Rata-rata, kendaraan saat ini diproduksi menggunakan hampir 30 persen bahan daur ulang dan dapat digunakan kembali. 

“Dengan pendekatan secondary first, BMW Group berencana untuk tingkatkan angka ini berturut-turut menjadi 50 persen,” kata Oliver, belum lama ini.

Dia bahkan optimistis perusahaan akan mampu mendesain kendaraan visioner bersiklus material tertutup dan mencapai tingkat penggunaan 100 persen bahan daur ulang serta 100 persen dapat didaur ulang. 

Member of Board BMW AG Sales, Brand Pieter Nota memastikan mobil-mobil tersebut tetap dapat mempertahankan kesan premium dan sport.

“Dengan prinsip ini kami justru sangat optimistis memenangkan ceruk pasar yang baru dan dapat meningkatkan market share kami ke depannya,” imbuhnya.

Industri otomotif nasional pun tampaknya perlu mempersiapkan diri untuk pengembangan produksi menggunakan inisiatif ini. Hanya saja, perdebatan pemangku kepentingan sektor ini pun akan menjadi hambatan cukup menantang ke depan.

Langkah strategis untuk menciptakan bumi yang lebih baik ini akan melahirkan banyak potensi ekonomi baru. Namun akan linier untuk mematikan banyak rantai pasok industri yang tidak mendukung prinsip berkelanjutan.

Dalam kesempatan terpisah, pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan Circular economy sesungguhnya merupakan upaya yang digagas oleh negara-negara maju yang Sumber dalam kelompok G-7, yakni Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. 

CIMB NIAGA

Kemudian meluas ke Uni Eropa dengan tujuan politik mereka. Inisiatif ini ingin membuat sistem ekonomi dunia yang sesuai dengan konsep SGDS (Sustainable Development Goals) yang sudah dicanangkan dalam peraturan PBB, yakni membangun dunia yang bersih secara berkelanjutan, melawan pemanasan global, dekarbonisasi, mengurangi emisi partikel yang mengganggu kesehatan, dan melestarikan sumber daya alam.

Yannes menyampaikan konsep yang sangat ideal ini tentunya bagus bagi kelangsungan daya dukung ekosistem bumi yang sudah semakin pekat oleh polusi dan kerusakan lingkungan hidup. 

Ekonomi sirkular akan menghapuskan model ekonomi linier, di mana sumber daya alam mentah diambil, diubah menjadi produk, kemudian dibuang. Circular economy bertujuan untuk menghapuskan kesenjangan antara produksi dan siklus ekosistem alam.

Ini berarti, di satu sisi, menghilangkan limbah dan membuatnya dapat terurai secara hayati atau, jika limbah tersebut tidak dapat terurai, maka ia harus dapat kembali Sumber ke dalam proses produksi.

Lebih jauh, strategi tersebut juga akan menghentikan penggunaan berbagai zat kimia toksik untuk membantu regenerasi sistem alam dan mengubah penggunaan semua sumber energi fosil yang terbatas dan dinilai merusak lingkungan kepada sumber energi terbarukan.

Circular economy dalam ekosistem otomotif, dapat dicapai melalui empat jalur utama yakni mencapai emisi nol karbon di seluruh siklus hidup kendaraan, memulihkan sumber daya dan membuat close-loop penggunaan material, memperpanjang design lifetime mobil dan komponennya, serta mengefisienkan penggunaan kendaraan dari waktu ke waktu. 

“Pada akhirnya, salah satu tujuan ekonomi sirkular adalah untuk mengoptimalkan hasil olahan sumber daya dengan mensirkulasikan produk, komponen, dan bahan yang digunakan pada tingkat utilitas tertingginya setiap saat, baik dalam siklus teknis maupun biologis,” paparnya kepada Bisnis.

Kendati demikian, Yannes menyampaikan beberapa hambatan model circular economy terletak pada belum siapnya kondisi sosial, lingkungan dan suprastruktur banyak negara berkembang yang kini menjadi tempat relokasi industri-industri yang masih menggunakan platform ekonomi linier yang padat buruh, padat limbah, dan padat energi yang sesungguhnya berasal dari investasi negara-negara maju itu sendiri. 

Model yang jamak berlangsung saat ini masih dalam model ekonomi linier yang sekadar mengubah bahan mentah menjadi produk jadi, dijual sebanyak mungkin dengan harga kompetitif, digunakan masyarakat, dan lalu dibuang.

Kultur ekonomi linier ini bertolak belakang dengan kultur circular economy, karena pertama, ekonomi linier tidak mempertimbangkan aspek eksternalitas sosial dan lingkungan pada biaya produksinya. Fokusnya masih kepada menekan biaya produksi semurah mungkin. 

Kedua, hampir semua investasi besar multinational corporation masih menggunakan logika ekonomi linier yang lebih mementingkan profitabilitas. 

Ketiga, permintaan produk hasil circular economy masih rendah. Keempat, belum banyak profesional yang memenuhi syarat dengan pengetahuan teknis yang comply dengan circular economy. Oleh karena itu perlu ada reskilling dan upskilling bersertifikat. 

Kelima, pasar terutama di negara-negara berkembang masih berorientasi pada best product dan best price dengan logika ekonomi linier. 

Keenam, masih banyak sekali industri yang berfokus pada model bisnis pada penciptaan nilai dan profit jangka pendek, bukan benefit jangka panjang seperti pada model circular economy. 

Ketujuh, indeks internasional mengenai Produk Domestik Bruto belum mempertimbangkan aspek-aspek eksternalitas sosial dan lingkungan, sehingga menghambat penciptaan nilai luaran dari konsep circular economy di kedua bidang tersebut. 

Kedelapan, model circular economy akan membuat harga produk menjadi jauh lebih mahal tanpa adanya regulasi negara untuk mendukungnya, sehingga harga produk tidak kompetitif. 

Kesembilan, biaya daur ulang masih lebih tinggi daripada biaya ekstraksi sumber daya yang tersedia melimpah di pasar, karena banyak proses yang diperlukan dalam pemurnian bahan untuk memenuhi standar kualitas yang diharapkan dari produk jadi.

Adapun, bagi industri otomotif multinational corporation yang ada di Indonesia, jelas tidak mudah untuk memenuhi tantangan yang pro kepada lingkungan ini.

“Ini membuat produsen mobil mau tidak mau harus meninjau kembali seluruh lini proses produksi mereka dari hulu hingga hilir. Semua industri yang ada harus di-reenginering. Itu adalah proses yang sulit, mahal, harus membutuhkan reinvestasi sangat besar, dan tidak akan mampu untuk memberikan keuntungan jangka pendek.”

Pengamat Otomotif Bebin Djuana menambahkan BMW Group sudah lama berinisiatif memakai bahan material recycle untuk seri iX dan i4.

“Sebetulnya bukan mono material karena kombinasi beberapa material masih dibutuhkan hanya saja upaya untuk mengurangi variant material jelas terlihat,” imbuhnya.

Kendati demikian, Bebin berpendapat industri otomotif domestik pun akan mengikuti induk prinsipal seperti  kebijakan-kebijakan sebelumnya.

“Bagaimana pun kebijakan ada ditangan prinsipal, kalaupun ada usulan perlu proses yang panjang sampai mendapat persetujuan prinsipal,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik
artikel ini, di sini :

otomotif BMW SDGs



Sumber / Bisnis.com

Komentar

mood_bad
  • Belum ada komentar.
  • Tambahkan komentar

    BACAAN TERKAIT