Sabtu, 9 Februari 2019

Politik Dan Musik, 11-12 Lah


Musik dan Politik. Dua kata yang tampak sangat jauh perbedaannya kini jelang sebuah pesta demokrasi rakyat Indonesia sangat erat kaitannya bahkan sudah menjadi intim. Memang keduanya juga mempunyai arti yang agak mirip yaitu sama-sama mengandung arti seni.

Politik dalam kajiannya bila dilihat dari wikipedia, berasal dari bahasa Yunani politikos yang berarti dari, untuk atau yang berkaitan dengan warga negara kemudian dari bahasa Inggris politik berarti bijaksana, beradab, berakal. Arti yang elok kedengarannya, namun banyak pakar juga yang mendefinisikan secara berbeda, seperti Max Weber, seorang ahli ekonomi politik dan sosiolog dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern ini berkata lain. “Politik adalah sebuah kekuasaan.”

Quote tersebut sangatlah mempunyai arti, melihat dalam tatanan nilai teori politik yaitu menunjuk pada kemampuan untuk membuat orang lain melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya. Weber menuliskan adanya tiga sumber kekuasaan, yang pertama dari perundangundangan yakni kewenangan, kedua dari kekerasan seperti penguasaan senjata, black campaign, dan ketiga adalah karisma. Dan yang saya simpulkan, politik menjadi sebuah gerbong lokomotif untuk mencapai sesuatu kekuasaan tertentu agar masyarakat melakukan sesuatu yang dikehendakinya.

Kemudian jika dihubungkan dengan industri hiburan [baca: musik] yang mempunyai massa yang massive, maka timbulah sebuah persaingan. Banyak contoh yang bisa diuraikan, seperti perkara urusan mendatangkan Lady “Mother Monster” Gaga ke tanah air, tentunya ajang ini sarat dengan komoditi yang menyebabkan sebuah kekisruhan. Persaingan promotor yang berusaha mendapatkan bidding untuk pelantun lagu poker face tersebut, namun ada hal yang lebih besar dalam persaingan tersebut yaitu ikut campurnya lembaga-lembaga yang turut andil dalam boleh tidaknya Lady Gaga untuk tampil di Indonesia. Ormas Islam, pemerintah, LSM, maupun partai.

Beralih kepada contoh lain, ketika grup band Inggris Oasis, Blur dan Coldplay selama sekitar 15 tahun untuk memperebutkan mahkota ‘Britpop’, penggemarnya dan media menyamakan Oasis dengan The Beatles, Blur dengan Rolling Stones. Memang, kompetisi the Beatles vs Stones berjalan sehat karena mereka akhirnya bersahabat. Sebaliknya, sang temprament Gallagher bersaudara terkenal berlidah amat tajam sampai menyumpahi personel Blur,”Semoga mereka terkena wabah AIDS dan cepat-cepat mati,” ujar mereka.

Atau keyboardis DEWA 19, Ahmad Dhani yang saya lihat di IG pribadinya berubah menjadi Politisi atau Basuki Tjahaja Purnama mantan Gubernur DKI yang katanya sehabis bebas dari rutan, kegiatannya saat ini berubah menjadi youtuber dan ngeband pula. Gokil gak tuh..!! Atau RUU Permusikan yang lagi ramai juga tidak lepas dari Politik saya rasa, mudah-mudahan sih JANGAN yah..

nfimas Mulia

Sementara, persaingan dalam musik lain yaitu antara musik Malaysia dan musik Indonesia, pada era 2000 an pemusik Indonesia mempunyai fan base yang banyak di negeri Jiran, bahkan kepopulerannya melebihi dari musisi negaranya sendiri. Suhaimi Bin Abdul Rahman atau yang dikenal dengan Amy Search juga sempat melakukan keberatan kepada pemerintah kerajaan Malaysia dalam protesnya, penyanyi yang sering manggung di Indonesia ini merasa radio-radio negeri Jiran Malaysia lebih sering memutar lagu-lagu dari band Indonesia dibanding band Malaysia, namun menurut pemerintah Malaysia ini seperti ada yang aneh, pasalnya melihat kenyataan di publik masayarakat Malaysia memang meggandrungi lagu-lagu dari pemusik Indonesia. Jadi tidak terlalu digubris dari pernyataan Amy tersebut.

Politik sangat erat kaitannya dengan masalah kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan publik. Untuk dapat ongkang-ongkang kaki merasakan kekuasaan politik, para caleg atau yang berjuang di dunia politik mereka harus banyak berkorban agar dapat memperoleh banyak suara dan menduduki kursi parlemen.

Hal tersebut bisa sih diselesaikan dengan terjadinya jual beli hak suara masyarakat yang disebut dengan serangan fajar dengan amplop putihnya, begitupun dengan dunia hiburan musik yang erat dengan istilah serangan fajar dalam dunia politik. Jegal menjegal dalam dunia industri musik menjadi hal yang memang terjadi. Politik harusnya menjadi bersih sesuai arti yang diuraikan di awal artikel namun pada kenyataannya menjadi keruh, kotor akhirnya menggenangi sisi-sisi yang lain, mudah-mudahan ketika saya menulis artikel ini pikiran saya tidaklah sedang kotor sekotor dunia politik.

BACAAN TERKAIT