Connect with us
[adrotate group="1"]

Kuliner

Rasakan Kenikmatan Sajian Barbeque di Swiss-Belresidences Rasuna Epicentrum

Published

on


Finroll.com — Swiss-Belresidences Rasuna Epicentrum kembali berkreasi dengan ragam kulinernya lewat sajian barbeque yang dapat dinikmati setiap hari Jumat pada pukul 18:00 hingga 21:00 di Swiss-Cafe Restaurant.

Di area luar Swiss-Cafe Restaurant, berhadapan langsung dengan kolam renang, yang menjadi salah satu spot favorit tamu yaitu Pool Terrace, dengan pemandangan langit Jakarta.

Disinilah tamu dapat menikmati live cooking ragam menu barbeque seperti ayam bakar dengan bumbu Taragon, sayap ayam dengan saus barbeque, sate sosis daging sapi dan ayam, daging sapi bakar dan masih banyak lagi yang disajikan secara buffet sepuasnya dengan harga Rp 198.000net/orang.

Selain aneka sajian barbeque, live music juga tersedia untuk menghibur pengunjung hingga pukul 21:00 WIB.

“Kami sengaja menampilkan menu barbeque setiap hari Jumat yang merupakan akhir pekan bagi kebanyakan para pelaku bisnis dimana biasanya mereka akan berkumpul sejenak bersama sahabat ataupun rekan kerja sebelum kemudian kembali ke rumah.

Namun tentu saja, kehadiran paket ini pun dapat menjadi pilihan bagi mereka yang ingin berkumpul bersama keluara sambil menikmati pemandangan langit jakarta atau sekedar alunan musik dimana tamu dapat merequest lagu kesukaan mereka,” Kata Nurhayati Basir, General Manager Swiss-Belresidences Rasuna Epicentrum.

“Selain itu, kehadiran kolam renang kami yang iconic ini menjadi area instagrammable untuk berfoto selfie maupun bersama sahabat dan keluarga selepas menikmati berbagai sajian kuliner di Swiss-Cafe Restaurant.

Kami juga menyediakan doorprize berupa voucher menginap di kamar Deluxe yang diundi pada saat event berlangsung,” Tambahnya.

Swiss-Cafe Restaurant sendiri terletak di lantai 1 hotel menawarkan berbagai menu tradisional hingga internasional.

Dengan tata dekor yang simpel dan perabotan bergaya retro-modern, menambah suasanaapik saat matahari terbenam, dengan sentuhan lampu gantungnya.

Sementara itu, Epic Lounge and Bar yang terinspirasi oleh gaya 60an dengan kursi bergaya lounge individual serta bangku di konter barmenampilkan ragam koktail dan camilan ringan.

Memiliki 323 kamar mulai dari tipe kamar Deluxe hingga Suite, fasilitas hotel pun dilengkapi dengan pusat kebugaran, kolam renang dan layanan spa.

Sebagai hotel di area bisnis, tersedia 18 ruangan MICE dengan fasilitas modern untuk menyelenggarakan berbagai pertemuan bisnis maupun jamuan sosial.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungihttps://www.swiss-belhotel.com/id-id/swiss-belresidences-rasuna-epicentrum.(red)

Advertisement Valbury

Kuliner

Nikmat Group Gandeng Jovi Adhiguna Launching Gildak

Published

on

Finroll.com — Sukses dengan brand kedai kopi Lain Hati dan Street Boba, kini Nikmat Group kerja sama dengan Influencer papan atas Tanah Air, Jovi Adhiguna kembali menghadirkan brand terbarunya Gildak K – Street Snack.

Deo Cardi Nathanael, selaku Vice President of Marketing Nikmat Group mengatakan, Kali ini Nikmat Group luncurkan Brand yang berbeda, kalau sebelumnya kita buat brand dengan konsepnya jepang, kali ini kita luncurkan produk dengan konsepnya Korea,” katanya saat Grand Launching Gildak di Krekot Bundar Pasar Baru Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2020).

Deo menjelaskan bahwa Nikmat Group terus berusaha untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. “Kita tau bahwa banyak masyarakat yang suka dengan jajanan snack Korea, hanya mereka tidak tau mau belinya dimana?. Gildak adalah merupakan brand makanan dengan konsep menu Korea, dengan bumbu – bumbu rasa nasional dan Korea. Kita hadir disini,” jelasnya.

“Konsep ini berawal dari Street Boba yang sudah mencapai Store yang ke 43, dimana para pelanggan banyak yang menanyakan kenapa kok tidak ada makanan yang asin -asin, disinilah awalnya tercetus ide ini,” ungkap Jovi Adhiguna.

Saat ini lanjut Jovi, Gildak telah menyajikan 10 varian menu seperti nasi, kulit ayam, ayam goreng dengan bumbu – bumbu dari rasa nasional sampai rasa Korea, dan tingkat kepedesannya pun bisa dipilih sesuai selera.

“Sampai hari ini kita baru menghidangkan sampai 10 menu saja, mudah – mudahan kedepannya kita sudah banyak menu korea lainnya,” lanjut Jovi.

“Gildak artinya ayam jalanan, sama seperti Street Boba pinggir jalan sehingga ditempat ini lengkap sudah, kita mau makan bisa, mau minum juga bisa, tempat nongkrongnya pun enak dan banyak tempat photo – photonya,” tambahnya.

Harga yang ditawarkan dari Gildak ini mulai dari harga 18ribu hingga 30ribuan. Gildak juga mempunyai makanan favorit yaitu Itawoen cryspy chiken yaitu ayam yang diberikan bumbu dan mozarela serta menu favorit lainnya.

Khusus besok pada 12 September 2020 Gildak juga akan memberikan promo spesial dengan By One Get One, Selain itu Gildak juga melakukan promo secara online melalui Grab dan Gojek yang sudah mulai Aktif Sore ini.

Dalam waktu dekat Gildak juga akan segera membuka cabang diseluruh kota – kota besar di Indonesia dan akan membuka lapangan pekerjaan.

Selain itu dalam lima hari kedepan Gildak juga akan membuka store keduanya yang berlokasi di seputaran Rawamangun,” Pungkas Deo

Continue Reading

Kuliner

Korean Garlic Bread, dari Kaki Lima sampai Viral di Indonesia

Published

on

Finroll – Jakarta, Setelah kopi dalgona, kini muncul kuliner Korea Selatan lainnya yang viral di Indonesia yakni Korean garlic cheese bread atau cream cheese garlic bread.

Jangan salah, Korean garlic cheese bread berbeda dengan garlic bread ala Eropa. Garlic bread Korea memiliki tekstur yang empuk dan creamy sedangkan garlic bread Eropa punya tekstur yang renyah dan gurih.

Sejumlah sumber menyebut Korean cheese garlic berawal dari Kota Gangneung yang berada di Provinsi Gangwon. Makanan ini awalnya merupakan kuliner kaki lima Korea atau street food.

Toko roti Pain Famille membuat olahan roti menyerupai bawang putih yang terdiri dari enam siung, dikenal juga dengan bawang putih enam sisi. Ada juga yang mengirisnya melintang seperti sosis dengan menggunakan roti yang agak panjang. Namun yang populer saat ini adalah roti bulat dengan irisan yang seperti bintang.

Dari Kota Gangneung, roti krim keju bawang putih itu dibawa ke pusat kuliner Gangnam, sebuah distrik hype dan terkenal di Seoul. Dari situ cheese garlic bread semakin diminati orang Korea dan masuk dalam daftar menu baru di banyak cafe.

“Dari tahun lalu sudah tren dan ada toko yang sampai jualan di mal-mal besar Korea. Sampai sekarang masih tren, di cafe-cafe lain juga mulai jualan,” kata salah seorang warga Korea Selatan Ryu Hanna kepada CNNIndonesia.com, Kamis (16/7).

Cream cheese garlic bread merupakan olahan roti, seperti roti burger, tapi dipotong enam sisi yang saling menyilang menyerupai siung bawang putih yang diberi keju dan dilumuri bumbu dan dipanggang. Krim keju yang meleleh dengan sensasi rasa bawang putih yang gurih memberikan sensasi yang berbeda dengan jenis roti lainnya.

Alasan Korean Garlic Cheese Bread jadi tren

Sebagai warga Korea, Hanna mengungkapkan ada beberapa alasan mengapa roti ini jadi tren di negaranya.

Alasan pertama adalah karena berbagai varian roti merupakan panganan yang sudah lama akrab dengan orang Korea Selatan. Sedangkan bawang putih adalah bumbu wajib yang tak pernah absen dalam setiap makanan baik dimakan mentah atau dipanggang.

“Roti sudah lama disukai orang Korea. Bawang putih banyak digunakan di masakan Korea jadi sudah sangat akrab, apalagi kalau panggang daging selalu ada entah dimakan mentah atau dipanggang juga.”

Begitu pula dengan keju yang kerap ditambahkan pada setiap makanan, seperti tteokbokki, ramen, dan ayam. Perpaduan roti, bawang putih, dan keju ini menciptakan rasa gurih yang nikmat.

Selain rasa yang nikmat dan bentuk yang unik, pemasaran yang tepat membuat kuliner ini semakin populer. Pemasaran yang mengandalkan media sosial seperti Instagram juga membuat panganan ini viral bahkan sampai ke Indonesia. Apalagi kini Korea tengah menjadi sorotan di dunia hiburan lewat K-Pop.

Di Indonesia, Korean cream cheese garlic banyak dijajakan di media sosial dan semakin diminati banyak orang. Selain itu Anda juga bisa membuatnya sendiri di rumah.

Proses membuatnya tak rumit, Anda hanya butuh butter, saus keju, roti bun, dan bawang putih.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading

Kuliner

Kenangan akan Mbah Lindu Penjual Gudeg Legendaris Yogyakarta

Published

on

Finroll – Jakarta, Penjual gudeg legendaris di Yogyakarta, Setyo Utomo atau dikenal dengan Mbah Lindu berpulang pada Minggu (12/7). Mbah Lindu meninggal di usia 100 tahun.

Terhitung puluhan tahun sudah ia menjual gudeg di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Pakar kuliner, William Wongso kagum akan konsistensi Mbah Lindu menekuni kuliner gudeg.

“Aku ini sampai bilang, apa yang dilakoni Mbah Lindu itu mestinya sudah masuk ke Guinness World Records. Berarti kan kalau dia meninggal sekarang, 100 tahun, dia berarti kan sudah kira-kira 85 tahun itu masak gudeg. Nggak ada itu di dunia itu begitu, nggak pernah ada,” ungkap William kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (13/7).

Saat masih berjualan di kawasan Malioboro, Mbah Lindu memulai lapak sejak pagi. Dalam film dokumenter produksi Lumix Indonesia pada 2017, Mbah Lindu bercerita mulai berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00 WIB.

Dagangan akan ditutup sekitar pukul 9 hingga 10 pagi. Siang harinya, ia akan mulai memasak lagi untuk keesokannya. Gudeg yang biasanya sudah matang sekitar pukul 7 malam itu lantas ditutup dan didiamkan.

“Pukul dua dini hari saya mulai bangun, menanak nasi dan membuat bubur,” tutur Mbah Lindu yang saat itu ketika diwawancara berusia 97 tahun.

Dalam film dokumenter itu pula Mbah Lindu mengungkapkan, alasan mengapa ia betah berjualan gudeg hingga puluhan tahun.

“Menerima. Nerima, ya seadanya, nggak ada [keinginan] apa-apa, enggak macam-macam, nggak ada yang pengen yang gimana. Menerima milik sendiri, dan melihat anak dan cucu sehat,” kata Mbah Lindu saat diwawancara pada usia 97 tahun.

William Wongso mengaku takjub terhadap kegigihan Mbah Lindu melakoni hidup. Mbah Lindu bagi William, merupakan sosok perempuan yang mencurahkan hidup untuk keluarga.

“Aku melihat ibu itu, perempuan Jawa banget, yang menurutku prigel, tabah dan, pede. Yang memikirkan hidupnya itu bukan untuk diri sendiri, tapi selalu untuk anak dan cucu. Itu tampak ketika ngobrol, dari cerita,” kata William.

Ia pun mengingat kesempatannya bertandang ke rumah Mbah Lindu. Setiap kali mampir, William tak absen memesan bubur gudeg sebagai menu langganan.

“Kan dia bukanya pagi. Kalau aku itu, selalu beli bubur gudeg itu racikannya nggak mau pakai ayam. Hanya gudeg, sama krecek sama tahu,” William mengenang.

Makanan khas Yogyakarta bikinan Mbah Lindu menurut William, tak bisa dibandingkan dengan gudeg lain. Kata dia, masing-masing gudeg memiliki karakter dan khas sendiri-sendiri.

“Kalau Yu Djum itu kan kering, kalau Mbah Lindu itu nggak terlalu kering dan nggak terlalu basah. … Gudeg di Yogya itu tidak bisa dibandingkan satu sama lain karena masing-masing itu punya rasa,” tutur dia.

William yakin seraya berharap, usaha kuliner gudeg ini kelak diteruskan oleh anak Mbah Lindu. “Pasti ada yang meneruskan anaknya, yang perempuan itu,” sambung dia.

Sumber : CNN Indonesia

Continue Reading
Advertisement

Advertisement
Advertisement

Trending